You Are Mine

You Are Mine
Part 59


__ADS_3

"Kayaknya gue batalin aja deh, Nyu." Menghela napas lelah, Deva menyandarkan punggungnya pada kursi.


Banyu memicing. "Kenapa? Ada masalah apa emangnya?" tanya Banyu heran.


Saat ini Banyu berada di perusahaan Deva. Ia menemani sekaligus membicarakan sebuah rencana yang akan mereka laksanakan.


Lagi, embusan napas Deva terdengar begitu lelah. "Kemarin dia diemin gue. Selama gue pergi dia juga nggak chat gue. Kayaknya dia lagi marah sama gue," ujarnya lemah.


Deva merebahkan kepalanya di atas meja kerja. Rencana untuk melamar gadis yang ia sukai tinggal beberapa hari, tapi ketakutan ditolak semakin menjadi. Hati yang selama ini ia berikan secara diam-diam untuk gadis itu sepertinya tidak cukup. Nyatanya, beberapa waktu terakhir ini hubungan mereka jauh dari kata dekat.


"Gue yakin dia bakal nerima lo, Dev. Cuma lo cowok yang deket sama dia selain gue. Dan bahkan cuma lo yang tahu setiap apa yang dia rasain. Gue yakin dia bakal luluh dengan itu." Banyu menghisap rokoknya, mengembuskan asapnya ke sembarang tempat. "Sebenarnya dia tu udah lama move on dari gue, cuma dia sendiri yang nutupin itu dan tetep ngeyakinin hatinya untuk tetep suka sama gue. Rasa cemburu dia ke mantan-mantan gue cuma karena kita udah deket banget sejak dulu." Mematikan rokoknya yang tinggal sedikit, Banyu lantas meminum air putih dengan santai.


"Dulu dia pernah cerita ke gue, katanya lo nembak cewek. Dan waktu itu dia cerita sambil emosi, katanya cewek yang lo tembak itu cewek nggak bener dan bla bla bla bla," lanjut Banyu.


Deva mengerutkan keningnya. "Kapan gue nembak cewek?." Banyu mengedikkan bahunya tanda tak tahu.


Hening sesaat. Deva tengah mengingat kapan ia menyatakan cinta pada seorang perempuan.


"Dev," panggil Banyu.


Deva menatap sahabatnya. Mengedikkan dagunya bertanya 'apa' dalam diam.


"Ayah minta gue ikut andil di perusahaan," ucap Banyu. Ia masih memikirkan permintaan ayahnya semalam. Tak pernah ia sangka, ayahnya akan membicarakan masalah ini.

__ADS_1


Dulu ia sudah pernah meminta izin untuk tidak ikut mengurusi perusahaan. Ia lebih suka membangun usahanya sendiri. Dan dengan sedikit paksaan Banyu mendapat izin dari ayah dan ibunya.


Banyu paling tidak suka berurusan dengan orang berusia jauh lebih tua darinya. Menurutnya hal itu sangat merepotkan, karena ia memiliki cara berpikir sendiri dan ia tidak suka dikekang dan dipaksa. Ia juga akan merasa sungkan jika koleganya melakukan kesalahan. Ia takut dikatakan menggurui orang yang lebih tua, tapi nyatanya banyak hal yang tidak selaras yang harus Banyu benarkan dari para orang-orang itu.


"Terus lo gimana?" tanya Deva.


Mengangkat bahunya. "Gue nggak tahu. Dari dulu gue nggak pernah tertarik kerja di perusahaan. Lo juga tahu alesan gue apa," ujar Banyu.


Ya, Deva sangat tahu kenapa Banyu mengambil jalan sendiri dalam karirnya. Tidak seperti dirinya yang lebih memilih mengikuti jejak sang ayah, karena dia satu-satunya pria dari tiga saudaranya.


"Tapi nggak tahu kenapa, rasanya gue nggak tega lihat ayah yang udah tua masih harus megang perusahaan sendiri." Banyu menatap langit-langit ruangan Deva.


"Bukannya ada bang Rega?"


"Kalau udah ada abang lo sama adik lo, kenapa lo harus bingung. Lo bilang aja biar perusahaan dipegang sama mereka," ujar Deva memberikan saran.


"Ya kalau itu gue juga tahu, Dev. Tapi, kata ayah cuma gue satu-satunya harapan dia untuk lebih ngembangin perusahaan. Karena nggak ada perubahan apapun selama bang Rega di perusahaan.


"Karena emang cuma gue yang pernah diajarin ayah, gimana ngejalanin usaha dari nol sampai gede. Waktu ayah tahu gue pengen buka usaha sendiri, ayah ngasih gue buku, ngajarin gue macem-macem. Dan itu bener-bener gue pake buat ngebangun restoran sama kafe." Menghela napas lelah. "Dan bang Rega itu orang yang sulit buat konsen. Dia nggak bisa langsung paham dengan apa yang ayah jelasin. Apalagi dia terjun ke prusahaan masih beberapa tahun ini."


Deva mendengarkan dengan saksama cerita Banyu. Sebagai sahabat ia paham bagaimana perasaan Banyu saat ini. Dilema. Mungkin seperti itu singkatnya.


"Gini aja deh, Nyu. Lo lihat sikon dulu aja. Kalau memang perusahaan lagi ada masalah, ya lo bantu. Tapi, selama perusahaan nggak kenapa-kenapa, ya lo diem aja. Atau, lo bisa ngobrol sama abang lo. Kalian diskusi, gimana supaya bang Rega bisa ngejalanin perusahaan. Lagi pula dia anak tertua, lebih berhak untuk dapet perusahaan itu."

__ADS_1


Banyu ingin menjawab. Tapi urung saat dering ponselnya berbunyi. Melihat nama Dika, membuat alisnya menaut. Tanpa pikir panjang Banyu mengangkat panggilan dari adiknya itu.


"Halo, kenapa, Dik?"


"Nyu, lo di mana? Cepetan ke rumah sakit!" seru Dika.


Banyu semakin bingung, suara adiknya itu seperti orang yang tengah kalut. Dan, untuk apa pergi ke rumah sakit. Siapa yang sakit?.


"Ngapain?"


"Ayah, Nyu."


Banyu menegakkan punggungnya. "Ayah? Ayah kenapa? Yang jelas lo ngomongnya." Banyu ikut panik. Ia segera berdiri mengambil kunci motornya.


"Penyakit asma ayah kambuh!"


"Ok ok, gue ke sana sekarang." Banyu mematikan sambungan teleponnya. Bergegas untuk ke rumah sakit.


"Om Liyas kenapa, Nyu?" tanya Deva. Sejak tadi ia mendengarkan percakapan kakak beradik itu.


"Penyakit asma ayah kambuh." Tanpa menunggu jawaban dari Deva, Banyu keluar dari ruangan tersebut dengan segala kekhawatirannya.


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen❤


__ADS_2