You Are Mine

You Are Mine
Part 73


__ADS_3

Bahagia dan sedih adalah sebuah rasa yang tak bisa dipisahkan. Mereka akan selalu berjalan beriringan.


Nikmati keduanya tanpa keluhan, jalani keduanya tanpa merasa ada beban.


Syukuri dan hadapi apapun yang sedang didapatkan.


–An Nisa


Surya merangkak ke ufuk barat. Semburat keemasan menghiasi langit dengan awan berjajar.


Menghentikan mobilnya tepat di parkiran rumah sakit. Banyu membuka pintu untuk sang istri dan membantunya keluar. Tangannya yang kosong ia isi dengan telapak tangan istri cantiknya. Membawa wanita yang begitu ia cintai itu untuk pemeriksaan kandungan secara rutin.


Tidak terasa usia kehamilan Jingga sudah masuk usia tiga bulan. Anehnya, ibu hamil satu ini tidak pernah merasakan morning sickness. Pernah satu kali ia mual-mual pada pagi hari, namun tidak berkelanjutan seperti ibu-ibu hamil lainnya. Nafsu makannya juga bisa dibilang normal –hanya bertambah sedikit.


"Kondisi bayi dalam keadaan sehat. Beratnya juga cukup normal meskipun masih berukuran 7,2 gram. Panjangnya 20 cm, cukup normal juga untuk ukuran tiga bulan," jelas seorang dokter perempuan berusia sekitar empat puluh tahunan.


Dokter itu menyuruh seorang perawat untuk membersihkan gel yang ada di perut Jingga. Setelahnya Banyu membantu sang istri untuk berdiri dan membawanya duduk di hadapan dokter tadi.


"Apa Ibu masih tidak merasakan mual?" tanya dokter itu sebelum menuliskan resep.


"Iya, Dok. Saya tidak pernah mual. Pernah mual tapi hanya satu kali, setelah itu tidak pernah lagi. Apa itu wajar, Dok?" tanya Jingga. Banyak artikel kehamilan yang Jingga baca. Di sana tertulis seorang ibu hamil pada trimester pertama mayoritas mengalami morning sickness. Bahkan istri Rega juga selalu mengeluh, karena terlalu sering muntah-muntah pada pagi hari.


Dokter itu tersenyum. "Itu hal yang wajar, Bu. Anda tidak perlu khawatir," ujarnya menenangkan. Mengambil pulpen dan juga kertas resep. "Saya hanya akan memberikan vitamin saja kalau begitu." Dokter itu mulai menggoreskan pulpennya.


"Pada usia tiga bulan, bayi sudah mulai bisa mendengar. Sering-sering diajak komunikasi ya, Pak. Biar nanti anaknya juga dekat ayahnya." Dokter itu memberikan resep yang baru saja selesai ditulis kepada Banyu.


Banyu mengangguk. "Iya, Dok. Terima kasih. Kalau begitu kami permisi," ucapnya seraya menundukkan kepala sebelum berlalu keluar dari sana.


"Ganteng ya, Dok, si Bapak-nya," kata seorang perawat yang tadi membantu Jingga.


"Huss. Udah mau punya anak. Kamu nggak liat istrinya masih muda dan cantik. Nggak mungkin dia nglirik kamu," nasehat si Dokter sambil tertawa.


Perawat tersebut terkekeh mendengarnya. "Kalah saing saya, Dok" Mereka berdua tertawa bersamaan.


***


Setelah menebus vitamin di apotek. Banyu mengajak Jingga untuk segera pulang. Hari sudah mulai gelap dan mereka harus segera makan malam.


"Seneng deh denger adek sehat," ucap Jingga. Kepalanya menoleh pada sang suami.


"Aku juga seneng dengernya," timpal Banyu. "Sehat-sehat ya, Nak. Jangan nyusahin mama kamu," ucap Banyu seraya mengusap perut istrinya.


"Nyusahin juga nggak papa. Kan aku mamanya"


Banyu terkekeh. Ia mengusap kepala istrinya dengan tangan kiri. "Kamu mau makan apa malam ini?" Sudah hampir waktunya makan malam. Banyu ingin memasak sesuatu yang enak untuk istrinya.


"Apa aja deh, Mas. Lagi nggak pengen apa-apa," jawab Jingga.


Satu lagi yang menurut Jingga aneh. Ia tidak terlalu kenal dengan yang namanya ngidam. Ia hanya ingin lebih dekat dengan suaminya saja selama kehamilannya tiga bulan ini. Dan mungkin perubahan suasana hati yang sangat cepat saja yang selalu mengganggunya.


"Ok, nanti kita lihat apa saja isi kulkas kamu," ucap Banyu dengan seulas senyum.


***

__ADS_1


Keesokan harinya


"Selamat pagi sayang, bagaimana tidurmu? Nyenyak?" Banyu berjongkok di depan perut sang istri. Sejak semalam ia tidak henti-hentinya berbicara dengan bayi yang ada dalam kandungan Jingga.


"Tentu Ayah. Selama mama meluk Ayah, adek pasti tidur nyenyak" Jingga menirukan suara khas anak kecil. Membuat mereka berdua terkekeh bersama.


"Ayah mau kerja, mama juga harus kuliah. Jangan nakal ya, Sayang." Banyu mencium perut istrinya dengan mesra. Kemudian berdiri mensejajarkan wajahnya dengan sang istri. Ia mencium kening Jingga kemudian beralih pada bibirnya.


"Mas masih lama ya ngurusin perusahaan ayah?" tanya Jingga. Tangannya dengan terampil memasang simpul dasi suaminya.


"Kenapa memangnya?" Banyu bisa menangkap gurat kesedihan dari Jingga.


"Ya tanya aja"


Banyu menghela napas panjang. Ia tangkup wajah istrinya, membawanya untuk bersitatap dengan matanya. "Aku sebenarnya juga udah capek. Tapi sepertinya ayah memang belum ingin mengurus perusahaan lagi," jelasnya. Ia kembali mencium kening Jingga. "Sabar ya, mungkin nanti kalau dedek udah lahir, aku akan keluar lagi dari perusahaan."


Jingga memeluk Banyu. Bukannya Jingga tidak mendukung adanya Banyu membantu sang ayah mertua di perusahaan. Bukankah dulu dirinya juga yang meminta Banyu untuk menerima permintaan dari keluarganya. Hanya saja semakin ke sini, ia merasa Banyu semakin sibuk dan waktu untuk mereka berdua juga semakin berkurang.


"Ya udah yuk berangkat. Nanti kamu telat lagi." Banyu mengurai pelukan istrinya. Ia tarik kedua sudut bibir Jingga dengan ibu jarinya. "Senyum dong, Sayang, biar keliatan cantik"


Jingga tersenyum dengan sendirinya. Perasaan hangat selalu hadir setiap kali Banyu berada di dekatnya.


***


Jingga melambaikan tangan pada suaminya setelah keluar dari mobil. Ia baru menurunkan tangannya saat mobil Banyu sudah tidak terlihat lagi.


Gadis itu berbalik, masuk melalui pintu gerbang yang terbuka lebar. Ia menyapa siapapun yang berpapasan dengannya. Saat berjalan di dekat taman, Jingga melihat seseorang yang begitu ia kenal tengah bersandar pada satu pohon sambil memainkan ponselnya.


"Kevin," panggil Jingga.


Jingga mengangguk. "Kamu nggak sama Keyra?"


"Key lagi ke toilet"


Kepala Jingga manggut-manggut. Ia kembali mengangguk saat Kevin menawarinya untuk duduk di sebuah kursi panjang yang tak jauh dari mereka.


"Gimana hubungan kamu sama Key?"


Kevin tampak mengernyitkan kening tak paham. "Maksudnya?"


"Kalian belum pacaran?" tanya Jingga dengan santainya. Ia sudah bersuami dan sangat mencintai suaminya, tentu tak berat bertanya seperti itu pada sang mantan kekasih.


Kevin tersenyum canggung. Tangannya menggaruk tengkuk belakangnya padahal tidak gatal. "Emangnya dia mau sama aku?" Ada nada ragu yang terdengar dari ucapan Kevin.


Jingga terkekeh bahkan hampir terbahak. "Sejak kapan kamu nggak PD masalah nembak cewek? Bukannya mantan kamu banyak?" Ia menutup mulutnya agar tidak menyemburkan tawa.


"Kalau dulu kan aku deket sama mereka emang sengaja biar bisa pacaran. Kalau ini beda cerita," ujarnya.


Demi Tuhan Jingga ingin sekali tertawa mendengar penuturan Kevin. "Kamu suka nggak sama Keyra?" Ia bertanya dengan susah payah.


Kevin terdiam. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini pada Keyra. Hanya saja, sejak mereka kembali dekat, Kevin selalu ingin menghabiskan waktu bersama gadis itu.


"Hei, lagi ngomongin apa nih?" Keyra mendaratkan bokongnya di antara Kevin dan Jingga.

__ADS_1


"Nggak papa, cuma nanyain kabar" Terpaksa Jingga berbohong. Tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya, atau nanti Keyra akan marah.


"Ji, nanti anterin gue ke mal, ya?" pinta Keyra.


"Mau ngapain?" Alis Jingga tertaut. Meskipun sebenarnya dia juga ingin jalan-jalan sebentar dengan Keyra.


"Disuruh nyokap beli make up. Biasa mau arisan"


"Boleh. Tapi gue izin suami gue dulu ya?"


Keyra mengangkat kedua ibu jarinya.


***


Jingga: Aku diajak Keyra ke mal. Boleh ya?


Banyu: Boleh


Banyu: Nanti biar dijemput Deva ya dari mal. Kita ketemu di kafe.


Jingga: Ok calon ayah. Makasih


Banyu: Hati-hati


Senyum Jingga masih terpajang indah di bibirnya. Sudah lama ia tidak keluar berdua dengan Keyra. Terakhir kali ke mal seminggu sebelum Riana masuk ke rumah sakit untuk terakhir kalinya.


Ah, jadi rindu Riana


Kedua gadis itu asik mengelilingi mal. Melihat barang-barang terbaru. Menikmati siang berdua. Saling memotret diri saat mendapatkan spot foto yang bagus. Toko terakhir yang mereka kunjungi adalah toko buku. Keduanya baru teringat harus membeli sebuah buku tentang sejarah ilmu kedokteran. Setelah mendapatkannya mereka memutuskan untuk pulang.


"Key, gue pengen makan itu deh" Jingga menunjuk seorang pedagang batagor. Melihat gerobak dengan tulisan batagor yang cukup besar tiba-tiba menggugah selera makan Jingga.


"Lagi ngidam ni ceritanya" Keyra terkekeh melihat kelakuan sahabatnya itu. Ia pun menyetujui permintaan Jingga. Sepertinya lidahnya juga sedang ingin makan batagor.


Mereka berdua duduk setelah memesan satu porsi batagor. Mereka sama-sama menatap jalanan, bercerita ini itu sambil tertawa riang.


Netra Keyra menyipit saat melihat seseorang yang ia kenali berjalan dari sebrang.


"Itu bukannya nyokap lo, Ji?"


Jingga menaikkan sebelah alisnya. Lantas menolehkan kepala, mencari sosok ibunya.


"Ji, nyokap lo nekat banget main ponsel sambil nyebrang," ucap Keyra.


Seketika ia melihat ke arah jalan. Benar di sana ibunya tengah berjalan dengan ponsel dalam genggamannya. Jingga lantas berdiri, melihat sekitar. Ia terkesiap ketika netranya menangkap sebuah mobil melaju dengan kecepatan cukup tinggi ke arah ibunya.


Jingga berlari ke jalan tanpa bisa dicegah. Ia memanggil sang ibu dengan cukup keras. Tapi, ternyata wanita itu memasang headset bluetooth pada kedua telinganya.


"MA ... MAMA... "


Jingga masih berusaha memanggil ibunya. Suara bising kendaraan dan konsentrasi ibunya yang masih pada ponsel menulikan pendengaran wanita itu. Hingga ...


"MAMA AWAS!"

__ADS_1


***


Jangan lupa like dan komen❤


__ADS_2