
Seperti yang Rania dan Wina rencanakan semalam. Siang itu mereka menonton film di mal setelah pagi harinya mereka joging mengelilingi taman yang ada di kompleks perumahan Rania.
Setelah dua jam menikmati film terbaru yang ternyata memang sangat menarik, Wina mengajak Rania pergi ke toko pakaian. Ia ingin membelikan adiknya hadiah atas nilainya yang meningkat drastis. Wina meminta pendapat Rania akan model baju terbaru yang sekiranya cocok dengan karakter adiknya yang bisa dibilang tomboi.
Dengan senang hati Rania membantu Wina mencarikan pakaian untuk adiknya itu. Mereka berkeliling ke sebuah toko yang cukup ramai. Toko itu sangat terkenal, karena selalu memberikan kualitas yang terbaik. Tak kaget jika toko tersebut memiliki banyak peminat.
Rania menyibak satu persatu pakaian kasual yang ia pikir cocok untuk adik Wina. Kaus polos berwarna coklat tua dan satu kemeja polos berlengan pendek berwarna coklat muda juga Rania ambil. Ia menimang-nimang pakaian tersebut sebelum akhirnya ia kembalikan ke tempat semula. Rania baru ingat, bahwa gadis remaja yang sangat ia kenal itu membenci warna coklat.
Setelah beberapa kali menyibak kaus-kaus yang menggantung di sana, Rania menemukan kaus lengan pendek berwarna hijau army. Rania ingat, beberapa waktu yang lalu, adik Wina memposting sebuah pakaian berwarna sama. Dalam postingan itu, adik Wina mengatakan ingin membeli pakaian dengan warna seperti itu, tetapi masih belum memiliki uang. Rania pun mengambilnya dan kembali mencari pakaian lain.
Setelah tiga puluh menit berlalu, Rania dan Wina berhasil menemukan satu set pakaian yang bisa Wina berikan untuk adiknya. Satu kaus yang tadi Rania ambilkan, satu celana joger berwarna navy, dan bucket hat berwarna putih. Mereka pun segera mengantre untuk membayar barang-barang tersebut sebelum keluar dari sana.
Wina yang sudah merasa amat kelaparan mengajak Rania mencari restoran terdekat di dalam mal setelah akhirnya bisa keluar dari toko tersebut. Beruntungnya di samping toko pakaian yang baru saja mereka masuki, ada sebuah restoran yang tampak cukup ramai. Mereka yang tak peduli apakah ada meja kosong atau tidak memilih untuk masuk begitu saja.
“Win, kayaknya udah nggak ada kursi kosong, deh.” Rania berujar sembari melihat sekeliling, mencoba mencari meja kosong yang bisa mereka tempati.
Wina mengangguk kecewa. Gadis itu hendak mengajak Rania untuk keluar dan mencari tempat lain, meski rasa laparnya sudah tak bisa ditolerir lagi. Namun, seseorang yang begitu mereka kenali tampak berjalan menuju arah mereka. Membuat Wina mengurungkan niatnya.
“Hai, cari maja kosong, ya?”
__ADS_1
“Iya, Cakra. Lo lihat meja kosong di sini nggak?” tanya Wina antusias.
“Ada, kok. Tapi, gabung sama orang tua gue. Gimana?”
Mendengar itu, Rania buru-buru menggerakkan tangannya untuk menolak.
“Nggak usah kalau gitu, kita cari restoran lain aja.” Rania beralih menatap Wina. “Yuk, Win. Kita cari tempat lain aja,” ajak Rania. Namun, Wina tak menyahuti ajakannya dan justru terdiam di tempatnya.
“Ran, kita gabung aja lah. Gue udah laper banget, nih.” Wina memasang tampang melas. Perutnya sejak tadi sudah berbunyi meminta untuk diisi. Rasanya ia sudah tak sanggup lagi untuk berjalan mencari tempat makan lain.
Rania ingin protes pada Wina. Namun, Wina kembali mengatakan bahwa ia sudah sangat lapar dan tak kuasa lagi untuk berjalan lebih jauh. Sehingga dengan sangat terpaksa Rania menerima tawaran Ata bergabung dengan orang tuanya.
“Selamat siang Om, Tante,” sapa Wina dan Rania secara bersamaan.
Ata yang baru saja tiba, menarik satu kursi kosong dari meja lain untuk diduduki Wina.
“Kamu temannya Ata yang waktu itu ke kafe saya kan?”
“Iya, Om. Saya Rania,” jawab Rania seraya menganggukkan kepala. Ia mengulas senyum manis pada kedua orang tua Ata.
__ADS_1
Banyu Mengangguk, kemudian meminta kedua gadis itu untuk memesan makanan. Ia memulai perbincangan seperti biasa. Memperkenalkan Jingga sebagai ibunya Ata dan menanyai banyak hal pada dua orang yang baru ia kenal itu.
Rania ingat, pria paruh baya yang masih sangat tampan seperti ayahnya ini begitu ramah. Meskipun kesan pertama yang ia dapat saat bertemu Banyu adalah aneh. Bagaimana tidak aneh?. Beberapa waktu yang lalu saat mereka pertama kali bertemu, Banyu menceritakan tentang kebiasaan buruk Ata saat di rumah. Bahkan Banyu terang-terangan menjelekkan Ata di depannya. Namun, Rania tetap bisa melihat sorot kasih sayang dari pria itu. Dia sosok yang hangat kepada anak-anaknya dan juga orang lain tentunya.
Sesaat rasa ingin menjadi salah satu anak dari pasangan di depannya ini muncul begitu saja di benak Rania. Ia yang sudah lama tak berkumpul bersama keluarganya merasa iri dengan kehidupan Ata yang terlihat sangat sempurna. Namun, sebelum pikiran aneh semakin menjalari kepalanya, Rania sesegera mungkin mengenyahkannya. Membuang jauh-jauh pikiran itu dan kembali mensyukuri takdir yang telah Tuhan tetapkan padanya.
Banyu meminta Ata memanggil pelayan untuk meminta bil. Ia juga menyuruh untuk menotal semua makanan yang ada di meja itu beserta milik Rania dan Wina.
“Eh, nggak usah, Om. Aku sama Wina bawa uang, kok.” Rania tidak ingin merepotkan orang tua Ata. Diberi tempat duduk saja ia sudah sangat berterima kasih. Tidak perlu membayar makanannya juga, ia tidak ingin lebih merepotkan mereka.
“Tidak apa-apa. Anggap saja ini sebagai bentuk traktiran saya untuk pertemuan pertama kita.” Banyu terus memaksa Rania untuk menerimanya sampai akhirnya gadis itu menyerah.
Setelah urusan pembayaran selesai, kelima orang itu keluar dari restoran bersama. Mereka sama-sama menuju pintu keluar pusat perbelanjaan itu. Tak jemu Banyu dan Jingga mengajak bicara Wina dan Rania, meskipun hanya Wina yang cukup cepat dalam menanggapi segala pertanyaan maupun pembahasan orang tua Ata. Hingga saat tiba di pintu keluar, Banyu mencarikan taksi untuk kedua gadis itu dan berpesan kepada sopir agar tidak ngebut dan membawa Rania beserta Wina dengan selamat sampai tujuan.
“Terima kasih, Om, Tante,” ucap Rania sebelum taksi itu pergi meninggalkan Ata dan kedua orang tuanya yang masih setia memandangi kendaraan roda empat yang membawa mereka pulang.
Rania menyandarkan punggungnya. Menatap langit-langit mobil sebelum kemudian terpejam pelan. Rasa haru benar-benar membuncah dalam benaknya. Tak pernah sekali pun ia diperlakukan seperti itu oleh orang tuanya sendiri. Rindu pada ayah dan ibunya semakin merangkak naik ke dalam dadanya hingga membuatnya terasa begitu sesak.
“Ma, Pa, Rania rindu,” batin gadis itu tanpa membuka kelopak matanya.
__ADS_1
***
Jangan lupa like dan komen❤