
Banyu memandang istrinya dengan perasaan sedih. Ia mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Mencoba untuk kuat supaya bisa menguatkan Jingga saat sudah sadar nanti.
Tangannya menggenggam tangan Jingga dengan hangat. Menempelkannya pada pipi, mengecupnya singkat. Pandangannya tak bisa beralih dari wajah gadis yang begitu ia cintai itu.
Rasa hancur masih menyelimutinya. Mencengkram erat dadanya. Hatinya begitu perih melihat perban terpasang di dahi Jingga. Dan beberapa luka gores yang terpampang pada tangannya.
Banyu ingin marah, tapi pada siapa?. Istrinya sendiri yang memilih menyelamatkan nyawa ibu mertuanya. Tuhan juga tidak mungkin disalahkan. Ia sendiri yakin setiap takdir yang Tuhan tulis pasti sudah dalam perhitungan matang. Tapi hatinya masih tak terima.
"Maafkan, aku," ucapnya lirih. Air matanya kembali mengalir.
***
Tiga jam berlalu, Banyu masih setia menggenggam dan memandangi istrinya. Sama sekali tak beralih dari sana. Hatinya pun sudah mulai tenang.
Banyu menghela napas. Membuangnya perlahan sembari terus memanjatkan doa supaya Jingga segera membuka mata. Kepalanya menengadah menatap langit-langit kamar rawat Jingga, menghalau air mata yang hendak menetes lagi. Dan tepat saat Banyu kembali menatap wajah istrinya, mata gadis itu terlihat bergerak-gerak, seperti mencari kenyamanan dan mencoba menyesuaikan cahaya yang mungkin akan segera masuk ke dalam retina.
Sejenak Banyu terpaku, ia takut matanya salah lihat. Namun, saat suara Jingga keluar meskipun sangat lirih Banyu bisa mengetahui bahwa gadis itu telah kembali.
Secepat mungkin Banyu mendekatkan diri di samping kepala istrinya. Ia mengusap-usap kepala Jingga hingga kedua mata gadis itu terbuka dengan sayu. Banyu mendaratkan bibirnya pada kening gadis itu. Menciumnya bertubi-tubi sebagai rasa syukur atas sadarnya sang istri.
Jingga merasakan kecupan-kecupan dari sang suami, membuatnya sadar akan sesuatu. Ia mengingat apa yang baru saja dia alami. Dan rasa sakit pada seluruh tubuhnya seakan memperjelas bahwa ia telah kehilangan sesuatu. Isakan tangis pun tak lagi bisa terelakkan dari Jingga. Ia berusaha keras untuk menutup mulutnya, namun terhalang dengan rasa sakit saat menggerakkan tangannya.
"Maafkan aku" gumam Jingga. Ia terus saja menangis dan semakin menjadi saat kening suaminya mendarat lembut pada keningnya, dan kata-kata menenangkan keluar dari bibir pria itu tanpa jeda.
"Jangan menangis, Sayang. Tidak apa-apa. Kamu tidak salah. Kamu wanita hebat."
Jingga semakin memejamkan mata. Cairan bening tak sungkan menganak sungai, membasahi pipi mulus gadis itu.
"Maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga dia dengan baik," gumamnya lagi disela isak tangisnya.
"Tidak, Sayang. Dia pasti bangga memiliki ibu seperti kamu," ucap Banyu lagi berusaha menguatkan. Padahal dalam hatinya sendiri ia merasa hancur. Terlebih saat melihat istrinya menangis hingga sedemikian rupa membuat Banyu semakin merasa teriris. Ia merasa gagal menjadi seorang suami.
Banyu mengusap pipi Jingga. Menyingkirkan setiap air matanya yang tak mau berhenti mengalir.
__ADS_1
"Tenang ya, Sayang. Dia pasti sedang membanggakan kamu di hadapan seluruh malaikat yang saat ini sedang menemaninya. Dia pasti bangga pada ibunya yang sangat baik hati ini." Ada senyum paksa yang tersungging pada satu bibir. Memaksa si pemilik untuk kuat dan tak ikut tumbang.
Tangis Jingga masih belum reda. Banyu semakin memeluk kepala Jingga dengan erat. Menyalurkan setiap rasa cinta yang ia miliki untuk pujaan hatinya ini. Kali ini ia membiarkan wanita itu menangis. Namun, dalam hatinya ia berjanji tidak akan membuat Jingga mengeluarkan air matanya lagi selain air mata bahagia.
Cukup lama bagi Jingga untuk menenangkan diri. Hingga akhirnya setelah melewati lima belas menit, tangisnya dapat terhenti.
Banyu mendudukkan diri di samping Jingga. Mengusap surai hitam milik istrinya. Dengan lembut ia mencium kening dan kelopak mata Jingga.
"Jangan nangis lagi, ya. Semua baik-baik saja. Anggap saja ini cara Tuhan untuk lebih mendekatkan kita lagi. Mungkin kita memang sama-sama belum siap untuk merawat titipan-Nya." Seulas senyum Banyu berikan kepada istrinya untuk menenangkan gadis itu.
Jingga hanya diam, menatap mata suaminya yang sama menyimpan luka. Namun, pria itu tetap berusaha menguatkannya. Jingga berusaha untuk duduk, Banyu membantu hingga gadis itu bisa duduk dengan benar. Jingga segera menghamburkan tubuhnya pada Banyu. Melawan rasa remuk pada sekujur tubuhnya. Ia peluk erat suaminya, seakan mencari sebuah kekuatan.
"Apa mama baik-baik saja?," tanya Jingga. Ia masih memeluk Banyu. Dan kepalanya berada di ceruk leher pria itu.
"Ya, berkat kamu dan kuasa Tuhan. Mama selamat. Hanya ada beberapa luka tapi tidak parah. Mama juga tidak perlu melakukan rawat inap," jawab Banyu sembari mengusap kepala dan juga punggung Jingga.
"Syukurlah, setidaknya usahaku tidak sia-sia."
Banyu tersenyum. Merasa bangga memiliki istri seperti Jingga. Seorang gadis yang memiliki hati begitu baik. Bahkan dia masih memikirkan keadaan ibunya, padahal dia sendiri tidak dalam kondisi baik-baik saja.
Jingga mengangguk. Kemudian kembali merebahkan diri dengan bantuan Banyu.
***
Dokter telah selesai memeriksa Jingga. Ia mengatakan tidak ada luka serius, kecuali tentang keguguran yang telah Jingga alami. Sebagai seorang dokter, dia mengucapkan kata maaf beberapa kali, karena tak bisa menyelamatkan bayinya.
Mertua Jingga masuk setelah para tim dokter keluar. Mereka memasang senyum manis supaya Jingga tak kembali bersedih. Ayah dan ibu Banyu duduk di kursi samping ranjang Jingga. Sedangkan Banyu duduk di tepi ranjang di sebrang kedua orang tuanya.
"Ada yang sakit, Sayang?" tanya ibu Banyu sembari mengusap kepala menantunya.
"Badan aku cuma pegel semua, Bun. Efek jatuh kata dokter. Sama perih aja sih di beberapa tempat."
Bunda Ika tersenyum. "Syukurlah kalau begitu. Bunda seneng denger kamu selamat. Ya walaupun ... "
__ADS_1
"Bun ... " Banyu memperingati ibunya agar tidak membahas soal Jingga yang keguguran.
Bunda Ika kembali tersenyum. Ia paham maksud Banyu. Sebagai seorang ibu, ia tentu tahu bagaimana perasaan Jingga saat ini. Sangat berat pasti, terlebih mengingat bagaimana raut wajah bahagia kedua anaknya ini saat memberinya kabar tentang kehamilan Jingga beberapa waktu yang lalu.
"Oh, ya. Papa lagi nggak enak badan, jadi mungkin besok baru bisa ke sini," ujar Banyu memberitahu.
Jingga hanya mengangguk saja tanpa menjawab apapun.
Mereka kembali larut dalam obrolan. Meskipun lebih didominasi dengan perdebatan antara ibu dan anak laki-lakinya saja.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam saat ayah dan ibu Banyu berpamitan. Tak lama kemudian Deva dan Kikan masuk untuk melihat kondisi Jingga juga.
"Hai," sapa Kikan setelah mendudukkan diri di samping Jingga.
Entah karena apa, tapi mata Jingga kembali berkaca-kaca saat bertatapan dengan Kikan. Ia langsung memeluk sahabat suaminya itu dan menangis dalam dekapannya.
"Hei, jangan nangis. Nanti cantiknya ilang, Sayang." Kikan mengusap kepala Jingga, berusaha menenangkannya. "Dengerin gue, Jingga! Lo nggak boleh terus-menerus sedih kayak gini. Lo harus bangkit. Lo nggak boleh larut dalam penyesalan, ok!" Kikan tersenyum meskipun Jingga tak dapat melihatnya. "Mungkin akan ada hikmah besar untuk kejadian ini. Ingat, semua yang kita alami, pasti ada campur tangan Tuhan. Dan semua itu pasti ada maksud lain."
Setelah mendengarkan penuturan Kikan, Jingga mengurai pelukannya. Ia menatap mata hazel gadis yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Ada pancaran keyakinan dalam tatapan Kikan, membuat Jingga akhirnya merasa lebih tenang.
Benar apa yang Kikan katakan. Tidak boleh ada penyesalan yang terus berlarut, karena sejatinya setiap hal yang kita lakukan pasti ada campur tangan Tuhan. Dan setiap apapun yang terjadi pasti memiliki hikmah di dalamnya.
Belum sempat Jingga menjawab, pintu kamar kembali terbuka. Menampakkan seseorang yang begitu Jingga rindukan.
"Mama"
****
Haloooo, aku kembali setelah beberapa menghilang seperti biasaš¤£
Ada yang nungguin nggak sih?
Yang nungguin jangan lupa like dan komen ya
__ADS_1
Sampai ketemu part selanjutnya ā¤