
...Happy reading 🤗...
"Mau sini." ucap Ivan yang sudah berhasil naik ke atas kasurnya dan duduk manis di sisinya.
"Nanti ikutan sakit mau?"
"Kak San sakit?" Lia menganggukkan kepalanya.
"Iya, sana keluar."
"Ndak mau. Mau sini." ucapnya seraya menggelengkan kepalanya.
Menghembuskan napasnya pelan, Lia kemudian mencubit pipi bocah itu. "Adiknya siapa sih. Ngeyel banget di bilangin."
"Adiknya Kak San!" sahut Ivan dengan senyum di wajahnya.
"Ivan! Makan dulu sini!"
"Nah tuh, di panggil Kak cle suruh makan. Sana."
Bocah berusia lima tahun itu tampak beranjak dan berlari keluar kamar. Sesaat setelah Ivan keluar ponsel Lia berdering. Mengambil ponselnya, Lia kemudian menggeser tombol berwarna hijau setelah melihat siapa yang menelponnya.
"Lia gue bosen banget gak ada lo di sini. Gue gak ada temen ngobrol." teriak Alya.
Lia memejamkan matanya begitu mendengar suara Alya yang menggelegar di telinganya . "jangan teriak, Alya."
"Eh, maaf. Lupa, Li heheh."
"Hmm, bukannya jam segini masih pelajaran ya?"
Di sebrang sana Alya terkekeh kecil. "Hehe, gue di kamar mandi ini."
"*Astaga, Al. Bolos mulu. Inget kita udah kelas 12 lho."
"Ya abis gue bosen. Gak ada temen ngobrol*."
"*Hmm, ngapain telpon gue?"
"Gue mau cerita, boleh gak? Kan gue kemarin gak jadi cerita."
"Cerita apa*?"
"Jadi kemarin waktu kita libur 'kan, gue di ajak jalan sama Maykel. Terus dia nembak gue dong, tapi sampai sekarang gue belum kasih jawaban. Menurut lo gue terima apa engga? Gue bingung."
"Tolak!" jawab Lia cepat. "Bukannya lo tau dalam keluarga loh itu di larang pacaran? Terus kenapa lo masih bingung harus jawab apa? Tinggal tolak aja gampang kan?"
"Tapi-"
"Tapi lo suka juga sama dia? Iya? Gini deh gue tanya. Lo pacaran tuh dapet apa sih? Bahagia? Tanpa pacaran juga bisa bahagia kan? Pengen uwu-uwuan kayak yang lain? Lo berarti juga pengen dapet amukan dari orang tua loh ? loh tau kan orang tua loh gimana Al ?"
"Hiks... Li..."
Lia menarik napasnya panjang dan mengeluarkannya perlahan. "Sekarang pilihan ada di tangan lo. Gue sebagai temen cuma bisa kasih saran yang terbaik buat lo. Pikirin baik-baik ucapan gue."
"Lia...hiks... Mau peluk." Di sebrang sana Alya sudah meneteskan air matanya mendegar semua perkataan Lia. Dirinya benar-benar beruntung mendapatkan teman seperti Lia.
"Nanti lo kesini gue peluk. Sekarang gue matiin ya? Gue kebelet nih. Lo juga masuk ke kelas sana. Jangan bolos lagi."
Setelah sambung teleponnya terputus Lia beranjak dari tempatnya untuk ke kamar mandi.
...*****...
Saat ini Lia sedang duduk di ruang tamu. Menemani sang Adik yang sedang menonton kartun upin ipin. Berada di kamar seharian membuatnya bosan. Lagi pula kondisinya sekarang jauh lebih baik.
Melihat adiknya fokus sekali menatap layar TV, timbul ide jahil dalam benak Lia. Meraih remot TV yang tergeletak di atas meja, Lia kemudian menganti chanel TVnya. Hal itu sontak membuat adiknya memekik.
"Kak San! Jangan ganti!" Bocah itu mendelik kearah Lia. Namun bukannya takut Lia malah terkekeh.
"Iklan tadi."
"Gak. Gak iklan. Ganti yang tadi." ucap Ivan mengerucutkan bibirnya lucu.
"Iya, iya nih ganti." Lia segera menganti ke channel TVnya sebelum adiknya menangis. Bisa-bisa dia di marahi olah mamanya.
__ADS_1
"Huaaa....gala-gala Kak San jadi iklan." ucap Ivan saat melihat layar TVnya sekarang menampilkan berbagai iklan.
"Kan tadi udah kakak bilang."
"Tadi belom iklan. Gala-gala Kak San ganti jadi iklan. Huh!" kesalnya dengan hembusan napas kencang di akhir seraya tangan kecilnya ia lipat menyilang di atas dada.
"Iya iya. Maaf ya..." ucap Lia seraya mengacak rambut Ivan dengan sengaja.
"Ish. kak san! Belantakan nih. Ivan jadi ndak ganteng lagi."
"Lho emang Ivan ganteng? Enggak tuh." ucap Lia ke adik. yang masih ingin menjahili Sang adik.
"Kak San!!" pekiknya kesal dengan bibir yang kembali mengerucut lucu. Melihat itu Lia langsung terbahak.
"Iya, iya. Adiknya kak San ganteng kok."
-Tok tok
Mendengar suara pintu di ketuk membuat atensi Lia teralih. Ia segera beranjak untuk membuka pintu. "Bentar ya, Kakak buka pintu dulu." ucapnya pada Ivan.
Begitu membuka pintu rumahnya Lia langsung di hadiahi sebuah pelukan. Hingga tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang. "Eh, Al. Jatuh nanti."
Melepaskan pelukannya Alya menatap Lia dengan senyum lebar di wajahnya. "Hehehe. Maaf Li."
Dengan anggukan singkat Lia lalu menyuruh Alya masuk dan duduk di dalam.
"Tau gak sih, Li. Gue bener-bener beruntung banget punya temen kayak lo. Makasih ya, Li udah selalu ngingetin gue kalau gue buat salah. Tadi sebelum ke sini gue juga udah bilang sama Maykel kalau gue gak bisa jadi pacaranya kok." ucap Alya setelah duduk di sofa bersama Lia. Matanya kini sudah berkaca-kaca.
Lia tersenyum mendengarnya. Ia menganggukan kepalanya. "Gue juga beruntung punya temen kayak lo. Lagi pula sesama manusia harus saling mengingatkan 'kan? Sstt... Udah ya. Jangan nangis..." tangan Lia terulur menghapus air mata yang sudah menetes di pipi Alya.
"Hiks...Liaa..." memeluk Lia. ucap Alya yang kembali memelukny.
"Ihh, Kak Alya kok nangis. Kayak anak kecil. Aku aja gak nangis nih." ejek Ivan yang sontak membuat Alya menghentikan tangisannya dan menatap bocah itu. Sedang pia terkekeh dan mengurai pelukannya.
"Nah tuh. Di ejek kan sama Ivan. Makannya jangan nangis."
Alya menekuk wajahnya kesal. "Li, kok lo malah ikut-ikutan ngejek gue sih." kesal Alya seraya menghapus jejak air matanya yang berada di pipi.
"Hii, kak Alya kayak anak kecil. Suka nangiss." ejek Ivan lagi.
Ivan yang mendegar itu langsung memegang kedua pipinya kemudian berlari menjauh. "Huaa... Ndak mau!!!"
Kedua gadis itu langsung tertawa melihat Ivan yang sudah berlari menjauh.
"Takut dia. Hahaha." ucap Alya di sela tawanya.
"Kalau nanti dia beneran nangis. Gue gak ikut-ikut ya." ucap Asha.
Setelah tawanya mereda Alya baru teringat akan sesuatu. Ia mengambil sebuah bingkisan makanan yang tadi di tarunya di atas meja kemudian menyerahkannya pada Lia.
"Nih, dari Kevin."
Dahi Lia mengernyit bingung saat menerimanya. "Dari Kevin?"
"Iya, dia tau kalau gue mau kesini. Jadi dia nintip kasih ini sama lo."
Lia terdiam sesaat sesaat sebelum akhirnya mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Kevin. Ia ingin mengucapkan terima kasih. Tak butuh waktu lama, chat dari Lia sudah di balas oleh pria itu.
From Kevin
Iya, sama-sama Li,Di situ juga ada vitamin, di minum ya Biar lo cepet sembuh Ada yang gak suka lo sakit soalnya.
Dahi Lia kembali mengernyit saat membaca pesan terakhir.
To Kevin
Iya, nanti gue minum Maksud lo ada yang gak suka gue sakit siapa?
Lia tidak mendapat jawaban sama sekali dari Kevin. Pria itu hanya membaca pesannya saja.
"Chatan sama siapa sih?" tanya Alya penasaran.
"Kevin." jawab Lia seraya meletakkan ponselnya ke atas meja.
__ADS_1
"Ngapain? Tanya dia suka sama lo apa enggak?" tanya Alya yang langsung mendapatkan sentilan di dahinya.
"Gue bilang makasih Alya. Otak lo isinya cuma ada itu doang ya?"
Sembari mengusap dahinya, Alya menatap Lia dengan senyum lebar. "Hehehe, ya abis gue pengen tau. Lo sih gak mau tanya si Kevinnya."
Lia menghembuskan napasnya. "Gue cari buktinya dulu. Nanti kalau salah gue yang malu."
"Hmm, gue ada ide, Li. Sini gue bisikin." Alya membisikkan sebuah rencana pada Lia. Begitu mendegarnya, mata Lia langsung melotot.
"Gak, Al!. Gak mau gue. Barang-barang yang dia kasih aja mau gue kembalin kok." tolak Lia menjauhkan tubuhnya dari Alya. Merasa tak suka dengan rencana yang di buat Alya.
"Sweater doang ini, Sha. Buat dia mah gampang. Mana cuma 200 ribu. Dia aja bisa beliin lo jam tangan harga dua ratus juta. Nanti sekalian lo kembaliin 'kan juga bisa. Atau kalau enggak lo kasih ke gue aja."
Asha tampak diam dan berpikir. Apakah ia harus mengikuti rencana Gytha atau tidak.
"Gimana? Dari pada lo penasaran 'kan? Lo sakit gini pasti gara-gara mikirin itu."
"Hmm, yaudah iya." pasrah Lia.
-Keesokkan harinya di sekolah tepatnya di kelas
Di kelas kini hanya ada tiga orang yang tersisa. Lia, Alya dan Kevin sedang yang lainnya sudah pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka.
Alya melirik sekilas pada Kevin kemudian mendekat pada Lia. "Li, buruan bilang. Mumpung cuma ada Kevin doang di sini."
Lia terdiam sesaat. "Hmm, jangan deh, Al. Gak mau ah gue."
"Ish, lo kemarin udah bilang iya. Cepetan."
"Tapi-"
"Li, kemarin lo gak jadi beli sweater ya? Padahal sweaternya bagus banget. Sayang sih, kalau lo gak beli. Padahal lo pingin banget 'kan ya? Tapi lo baru gak ada uang sih ya." ." sela Alya dengan sengaja meninggikan suaranya agar Kevin dapat mendengarnya.
Lia mendelik. Mulutnya Alya benar-benar minta di jahit.
"Nih, Li. Yang ini kan yang lo mau? Sumpah ini Bagus banget sih,Li." Alya menujukan layar ponselnya yang menujukan sweater yang waktu itu di tunjukan Lia pada dirinya. Sesekali dirinya melirik Kevin yang sepertinya mulai masuk ke dalam rencananya. Pria itu terkadang melirik ke arah mereka berdua.
Alya tersenyum puas saat melihat Kevin bergerak dan berjalan ke arah mereka berdua. Lia sendiri hanya diam. Namun dalam hatinya dia tidak pernah berhenti meruntuki Alya.
Ketika Kevin tepat berjalan di samping mereka, Alya meletakan ponselnya ke atas meja. Agar Kevin dapat melihat layar ponselnya.
Lia yang melihat Kevin sudah keluar kelas langsung melotot pada Alya. "Lo apa-apaan sih, Al! Sembarangan banget kalau bicara." sentak Lia kesal.
"Lo nya lama sih. Lagi pula lo udah setuju ya kemarin sama rencana gue."
"Kalau nanti dia beneran kasih gue sweaternya gimana coba?!"
"Ya Bagus dong. Kan bisa buktiin kalau si secret admirer lo itu emang Kevin. Lagian ini cuma sweater, Li. Lo tenang aja, okey? Kalau lo emang gak mau nanti kasih ke gue aja."
Lia menghembuskan napasnya. Sudah terlanjur mau bagaimana lagi. Alya memang benar-benar menyebalkan.
...*****...
"Al! Bayar kas lo. Udah nunggak lima minggu nih." sentak seorang gadis bernama Iren, bendahara kelas XII MIPA 5 yang sudah menjabat selama 2 periode berturut-turut.
Iren itu perempuan galak. Banyak di kelas yang takut padanya, termasuk para pria. Di tambah dia jago bela diri. Makannya ia selalu dipilih mejadi bendahara kelas agar semuanya membayar uang kas dengan taat.
"Eng, besok aja gimana? Gak ada uang nih gue." pinta Alya dengan wajah memelas.
"Gak bisa. Bayar sekarang lo!" ucap Iren tegas yang membuat nyali Alya menciut.
Alya menekuk wajahnya kesal. Mau tak mau ia harus mengeluarkan uang sekarang. "Iya. Berapa?"
"30 ribu."
"Kok segitu. Kan harusnya 25 ribu. Korupsi ya lo?!" tuduh Alya.
"Sembarangan, yang 5 ribu dendanya. Salah siapa nunggak. Udah sekarang mana 30 ribunya sini. Atau mau gue tambahin dendanya?"
Alya sontak langsung menggeleng. "Ogah. Gue bayar sekarang." Alya mengambil selembar uang berwarna biru dari dalam dompetnya kemudian memeberikannya pada Iren. "Nih sekalian buat besok-besoknya. Awas lo korupsi. Gue tempeleng kepala lo!"
"Berani lo sama gue?" tantang Iren setelah menerima uang yang diberikan Alya.
__ADS_1
"Eh, becanda, Ren. Becanda." cicit Alya takut.
Bersambung.......