You Are Mine

You Are Mine
Season 2 : Bab 12


__ADS_3

Brak!


Suara pintu terbanting dari lantai dua membuat Jingga yang tengah memasukkan beberapa buah-buahan ke dalam kulkas terlonjak. Wanita yang masih mengenakan celana dan baju kerjanya itu melonggokkan kepala mencari tahu siapa yang sudah dengan berani menutup pintu sekencang itu. Dan tanpa harus bertanya, Jingga sudah tahu pelakunya saat nyatanya Bia masuk ke dapur.


“Pesanan Bu Ratna udah dianter?” tanya Jingga.


Bia menghadapkan tubuhnya pada sang ibu yang kini menghampirinya.


“Udah, Ma. Kata Bu Ratna makasih udah dianter sekalian.” Bia melempar senyum sebelum menuangkan air putih ke dalam gelas.


“Kak Ata kayaknya lagi marah, kenapa?”


Hampir saja Bia menyemburkan airnya ketika pertanyaan sang ibu membawa ingatannya pada beberapa saat yang lalu.


Tentang Banyu yang dengan sengaja duduk di meja Ata dan Rania. Ayah tiga anak itu menginterogasi Rania seperti seorang jurnalis. Banyu juga dengan senang hati membuka semua aib Ata yang hanya keluarganya saja yang tahu.


“Ata itu nggak akan bisa tidur, kalau nggak meluk boneka buayanya.”


“Dia juga susah banget dibangunin. Jadi, bangunin Ata itu harus ekstra sabar.”

__ADS_1


“Ata itu juga nggak pernah mau masuk bimbel. Sukanya belajar sambil ngliatin mamanya jelasin. Dia suka banget liat mamanya ngomel.”


Tawa Bia menular pada sang ibu. Jingga tak habis pikir suaminya akan melakukan hal sekonyol itu pada putranya, padahal usianya sudah memasuki setengah abad.


Sejak dulu Banyu memang suka sekali menjaili anak-anaknya. Tidak ada satu hari anaknya tidak menangis. Bahkan Jingga pernah sampai mendiami Banyu karenanya.


Jingga tidak tahu dari mana sifat jail Banyu diturunkan. Menurutnya, ayah dan ibu pria itu sama-sama kalem. Mereka selalu bersikap tenang dalam setiap kondisi.


**


“Kenapa sih, Kak?” Jingga mengusap rambut Ata yang mulai memanjang.


“Kangen sama Mama,” jawab Ata tanpa membuka matanya.


Jingga mengulas senyumnya. Ia yang sudah tahu penyebab Ata kesal tak ingin lagi bertanya dan kembali fokus pada tayangan televisi. Sesekali Jingga mengusap rambut Ata dengan penuh sayang.


“Kak, bentar lagi Kak Caca lahiran. Kakak pengen ponakan cewek atau cowok?” Jingga mencoba memecah keheningan seraya berusaha mengurai kekesalan Ata dengan membahas putri pertamanya.


Netra Ata terbuka. Dia tampak antusias saat ditanya hal itu. Bola mata Ata bergerak-gerak seakan tengah berpikir.

__ADS_1


“Aku pengen cowok, Ma. Kayaknya bakal seru kalau nanti anak Kak Caca aku ajari main basket,” jawab Ata antusias. Binar matanya tak bisa membohongi betapa Ata bahagia mendengar sang kakak yang sudah akan melahirkan.


Pasangan ibu dan anak itu masih lanjut mengobrol mengenai putri pertama keluarga mereka. Keduanya bahkan berencana untuk memberikan nama pada calon keluarga baru itu. Mereka benar-benar asyik membahas mengenai lahiran Caca. Namun, saat terdengar deru mobil dari luar, bibir Ata membungkam begitu saja.


Jingga mengulum senyum saat Ata tak lagi bersuara dan memiringkan tubuhnya menghadap pada televisi. Wanita itu tahu bahwa putranya masih kesal dengan sang suami. Dan jika sudah seperti ini, Jingga pun tak bisa lagi berbuat apa-apa selain mengusap kepala anaknya penuh kelembutan.


Derap langkah yang begitu Jingga hafal terdengar menghampiri dirinya. Tak bisa menyambut sang suami, Jingga hanya bisa memutar kepalanya untuk menatap Banyu. Senyum wanita itu mengembang saat Banyu mengecup kepalanya. Kebiasaan pria itu sejak dulu saat baru pulang tak bisa hilang hingga sekarang.


“Ngapain kamu?” Banyu menepuk kaki Ata pelan. Tangannya berusaha menyingkirkan kaki anaknya yang mulai tumbuh bulu, tetapi tak bisa. Seakan-akan bocah itu dengan sengaja menahan kakinya agar tidak ada yang bisa duduk di samping ibunya.


“Ta, belajar sana!” suruh Banyu seraya menepuk kembali kaki putranya.


Namun, bukannya mendengarkan. Ata malah bergeming pada posisinya. Cowok itu tak acuh pada sang ayah yang sejak masuk berusaha menyuruhnya pergi.


Ata yang tahu maksud ayahnya yang ingin berduaan dengan sang ibu, tentu saja tak akan membiarkannya dengan mudah. Sore tadi pria itu sudah membuatnya malu di depan Rania. Jadi, sekarang Ata akan membalas pria itu dengan tidak membiarkan Banyu berduaan dengan ibunya.


***


Jangan lupa like dan komen❤

__ADS_1


__ADS_2