You Are Mine

You Are Mine
Part 41


__ADS_3

"Mbak Kikan!"


Seseorang yang disebut namanya memegangi dadanya. Ia terkejut, saat tiba-tiba Jingga masuk ke dapur dan mengejutkannya.


"Kaget tahu, Ji!" sungut Kikan.


Dan si pelaku hanya nyengir tanpa dosa.


"Seminggu nggak ke sini kamu ke mana?" tanya Kikan sembari sibuk kembali dengan pekerjaannya.


"Ciye, kangen ya?" Jingga menaik turunkan alisnya. Ia terkekeh saat suara decakan terdengar dari mulut Kikan.


"Banyak tugas, Mbak. Jadi ke perpus dulu sampe sore. Abis itu capek, jadi langsung pulang," jelas Jingga ditanggapi dengan anggukan oleh Kikan.


Jingga memang sudah lama tak mampir ke kafe. Tugas kuliah benar-benar menyita waktunya. Membuatnya tak ada waktu untuk berkunjung. Ia lebih memilih untuk langsung pulang dan mengistirahatkan tubuhnya di apartemen.


"Mbak, jalan yuk," ajak Jingga.


Kikan mengerutkan keningnya sembari menatap Jingga. "Jalan ke mana? Tumben ngajak gue."


Sekali lagi Jingga memperlihatkan gigi putihnya. "Pengen aja jalan sama Mbak Kikan. Siapa tahu nanti ditraktir," ucapnya tanpa dosa.


"Yee, harusnya situ yang nraktir gue. Kan suami lo banyak duit." Kikan memukul lengan Jingga dengan pulpennya.


"Mau ya, Mbak?"


"Berdua doang apa sama Banyu? Ogah gue jadi obat nyamuk." Kikan mulai sedikit tertarik. Sudah lama ia tak cuci mata. Kikan juga ingin melepaskan penatnya sebentar saja, meskipun hanya jalan-jalan mengelilingi mal atau sekedar nonton film.


"Terserah sih kalau itu. Kalau Mas Banyu ikut ngajak Bang Deva kan bisa?" Jingga menaik turunkan alisnya.


"Emang Deva bisa?"


Jingga mengedikkan bahunya.

__ADS_1


"Coba lo telepon dia. Pakai ponsel gue aja nggak papa" Kikan memberikan ponselnya pada Jingga.


Dengan senang hati Jingga mencari nomor Deva. Tak sulit bagi Jingga menemukannya, karena ternyata nama Deva berada pada kolom paling atas, meskipun tidak disematkan.


"Halo, Ki. Kenapa?"


Tak perlu waktu lama, telepon mereka telah tersambung.


"Ini aku Jingga, Bang," ucap Jingga.


"Oh, kenapa, Dek?"


"Eh, sejak kapan lo manggil Jingga kayak gitu? Kayak adek lo aja." Sungut Kikan tiba-tiba.


Jingga terkikik bersama Deva meskipun beda tempat.


"Kok sewot, Mbak? Jingga emang adik gue kali. Gue udah kenal dia dari kecil."


Kikan memutar bola matanya. Ia kembali fokus pada pekerjaannya. Tak ingin mendengarkan Deva lagi.


"Bukan gue yang ngajak," saut Kikan.


Deva terkekeh. "Boleh. Bentar lagi kerjaan aku juga selesai, nanti aku mampir ke sana."


Jingga memekik girang. "Ok, aku tunggu, Bang. Bye." Jingga mengembalikan ponsel Kikan setalah sambungan mereka tertutup.


Sedetik kemudian ia tersentak saat tiba-tiba ia merasakan pipinya basah. Wajahnya merona dalam waktu sekejap, menyadari Banyu mengecupnya di depan Kikan. Ia melirik sahabat suaminya. Beruntung Kikan tak melihat apa yang baru saja Banyu lakukan.


"Seneng banget, kenapa?" tanya Banyu. Kikan menoleh karena terkejut mendengar suara suami Jingga.


"Sejak kapan lo di situ?" tanya Kikan.


"Barusan" jawab Banyu singkat.

__ADS_1


"Ini istri gue kenapa, Ki? Kok seneng banget kayaknya."


Kikan menatap Jingga. "Oh, dia ngajak gue jalan. Terus ngajak Deva sekalian dan Deva mau."


"Kamu nggak ngajak aku?" Banyu menaikkan kedua alisnya.


"Ya sama lo juga lah. Dia ngajak Deva karena gue nggak mau jadi obat nyamuk kalian," sahut Kikan yang masih fokus menulis beberapa kebutuhan kafe yang harus segera dibeli.


Banyu hanya ber-oh ria. Kemudian meninggalkan istri dan sahabatnya untuk mengurus beberapa hal yang belum selesai. Tak lupa ia meninggalkan satu kecupan lagi di pipi istrinya. Membuat wajah gadis itu merona kembali. Dan Banyu sangat suka melihatnya.


***


Berjalan sembari bergandengan tangan. Mengukir senyum Banyu secara terang-terangan. Ia dan Jingga tengah berjalan di belakang Kikan dan Deva menuju sebuah bioskop di salah satu mal di dekat kafe Banyu.


Sebagai pria, Banyu dan Deva berbagi tugas. Banyu mengantri tiket dan Deva membeli popcorn dan juga minuman. Sedangkan Jingga dan Kikan asik berfoto sembari menunggu kedua pria tersebut.


Sambil menunggu film diputar. Mereka berempat berfoto bersama. Mengambil beberapa gambar untuk mereka pajang di akun sosial media mereka.


Banyu meminta Deva untuk mengambil gambarnya dan Jingga. Mereka berpose berdiri bersisihan. Terkadang saling pandang. Dan foto terkahir membuat Jingga agak malu. Karena Banyu mencium pipinya.


Deva terkekeh melihat wajah Jingga yang merona bercampur kesal. Awalnya ia sedikit terkejut dengan kenekatan Banyu. Tapi ia memaklumi itu, karena ia tahu Banyu mulai menyukai Jingga.


Bebeberapa waktu yang lalu Banyu menceritakan tentang kecemburuan Banyu. Sebagai seorang pria, ia tentu juga sangat marah mendapati istrinya dicium oleh pria lain. Dan Deva salut pada Banyu yang memilih untuk mendengar penjelasan dari istrinya sebelum menghakimi pria itu.


Deva melirik Kikan. Gadis itu hanya menatap datar Banyu dan Jingga yang tengah foto selfie berdua.


"Lo nggak papa?" bisik Deva lirih.


Kikan menaikan kedua alisnya. Ia tersenyum saat Deva mengedikkan dagunya, menunjuk sepasang suami-istri tersebut.


"Nggak papa" Kikan mengedikkan bahunya tak acuh. "Udah kebal gue sama mereka. Lagian gue juga udah anggep Jingga adik gue sendiri kok. Dia baik. Gue seneng Banyu dapet cewek baik kayak dia." Matanya memandang dua sejoli yang berada tak jauh darinya.


"Syukur kalau gitu," ucap Deva disertai helaan napas lega.

__ADS_1


Seruan pemutaran film akan segera dimulai, menyita perhatian mereka berempat. Mereka kompak saling menghampiri, kemudian memasuki bioskop tersebut bersama-sama.


Jangan lupa like dan komen


__ADS_2