
Gelap mulai menjalar pada setiap sudut kota. Banyu dan Jingga baru saja sampai di kediaman keluarga besar mereka.
Sambutan hangat selalu Jingga dapatkan saat langkah kakinya memasuki pelataran rumah besar milik keluarga suaminya. Mendaratkan kenyamanan dalam hatinya setiap ia datang.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Tepat saat makan malam mereka akan segera dimulai. Banyu beserta istrinya ditarik masuk untuk ikut duduk bersama keluarga mereka yang lain.
Berbagai hidangan tertata rapi di atas meja makan. Menggugah selera makan setiap orang yang memandangnya. Tak ingin lebih lama lagi menatap masakan tersebut. Bunda Ika menyuruh seluruh anggota keluarganya yang telah lengkap untuk segera menikmati setiap karya yang telah ia sajikan.
Pertanyaan seputar kabar jelas terlontar untuk pasangan suami istri yang tak tinggal bersama mereka. Membuat suasana meja makan lebih hangat dan menyenangkan.
"Ada perayaan apa, Bun, kok masak banyak banget?" tanya Banyu setelah sekian banyak pertanyaan yang terlontar padanya.
Bunda Ika tersenyum. Kemudian menatap menantu cantiknya Amalia. "Bentar lagi kamu punya keponakan baru," ujarnya.
Senyum Banyu dan Jingga mengembang seketika. Mereka ikut bahagia dengan bertambahnya anggota baru keluarga kakaknya.
"Wah, Shei mau punya adik lagi?" tanya Jingga pada keponakan suaminya yang tengah asik memakan puding strawberry buatan ibunya sendiri.
"Iya, Tan. Shei mau jadi kakak," jawab gadis itu antusias. Jingga ikut tersenyum seperti Sheila.
"Udah berapa bulan, Mbak?" tanya Jingga.
"Masuk dua bulan, Ji," jawab Amalia setelah menelan kunyahannya.
"Selamat ya, Mbak. Semoga sehat terus, dikasih lancar sampai melahirkan."
"Makasih, sayang."
Mereka berdua saling melemparkan senyum penuh kasih sayang.
"Kalian kapan kasih kabar baik seperti ini ke bunda?"
Pertanyaan itu menghentikan mulut Jingga yang tengah mengunyah.
"Doain aja secepatnya, Bun," ujar Banyu enteng.
Jingga menoleh pada suaminya. Ada perasaan tidak nyaman pada benaknya. Ia sangat tahu maksud dari secepatnya yang Banyu ucapkan. Tentu kesiapannya untuk menjadi istri Banyu seutuhnya.
Sejenak Jingga berpikir, apa dia sangat egois? tapi bukankah Banyu sendiri yang mengatakan akan menunggunya hingga ia siap. Tapi ...
Banyak kata tapi tersangkut dalam otaknya. Hingga ucapan ibu mertuanya menyuruhnya menelan ludah dengan susah payah.
"Apa kalian menundanya?"
Tidak, Jingga tidak ingin menunda. Hanya saja ia belum siap.
"Bun, mungkin memang Tuhan belum berkehendak. Bunda jangan seperti itu," tutur ayah Liyas.
__ADS_1
"Tapi, Yah..."
"Bunda, berapa kali ayah katakan. Anak itu sebuah titipan dari Tuhan. Kalau mereka memang belum siap di mata Tuhan untuk dititipi anak, kita sebagai umat manusia bisa apa?" Pria paruh baya itu menjeda sejenak ucapannya sambil menatap wajah manis istrinya. "Bunda juga harus ingat, Banyu dan Jingga menikah karena apa. Mereka tidak saling mengenal sebelumya. Mungkin Tuhan ingin mereka saling mengenal lebih jauh dulu."
Mendengar apa yang ayah mertuanya katakan membuat Jingga lega sekaligus merasa bersalah. Ada benarnya apa yang ayah Banyu katakan, tapi semua itu juga berawal dari mereka yang tak pernah berusaha.
"Maaf, Sayang. Bunda cuma ingin lihat keluarga kalian lengkap," ucap bunda Ika.
Banyu dan Jingga hanya tersenyum memaklumi.
Mereka pun melanjutkan kembali makan malam yang sempat tertunda.
"Oh ya, Nyu. Lusa Dika mau nglamar Erika. Kamu sama Jingga ikut ya."
Banyu mengangguk diikuti istrinya. Ia menepuk bahu adiknya dengan keras sebelum tawanya menggema di ruang makan.
Jingga mencubit lengan Banyu karena suara tawanya sangat mengganggu. Namun, pria itu sama sekali tak terganggu.
"Mas, kamu tuh kenapa?" tanya Jingga bingung.
Banyu hanya mengibaskan tangannya. Tawanya terasa tak bisa dihentikan.
Raut muka Dika berubah masam.
"Jadi, lo jilat ludah lo sendiri?" ucap Banyu membuat semua mata tertuju padanya.
"Jadi, Yah. Anak Ayah ini .... " Banyu kembali tertawa
"Nyu, diem lo!" sungut Dika kesal.
"Dia dulu nggak suka, Yah, sama si Erika itu. Dulu bilangnya nggak akan suka sama dia. Nggak sudi macarin cewek itu."
"Eh, Air. Diem lo, jangan ngada-ngada!"
Bukannya takut Banyu malah semakin mengeraskan tawanya.
"Cuma karena si Erika itu penampilannya cupu. Setiap hari pakai kaca mata, rambutnya selalu dikuncir dua," ujar Banyu lagi. Ia sama sekali tak menghiraukan tatapan tajam adiknya.
Ayah Liyas tersenyum mendengar cerita putra keduanya. Ia menatap putra bungsunya seraya berkata, "makanya, Dik, jangan suka ngehina orang dari luarnya. Kan sekarang kamu yang tergila-gila sama dia. Sampai kamu mohon-mohon ke ayah untuk nikahin dia. Padahal kamu masih mulai kerja." Pria itu terkekeh diakhir kalimatnya.
Semua orang tertawa geli sambil menatap Dika. Wajah pria tampan itu tampak memerah malu. Ia bersumpah akan menghajar kakaknya satu ini, jika rumah sudah sepi.
***
Taman kota
"Key, lo tahu nggak?... "
__ADS_1
"Enggak"
"Key...,"
"Iya-iya, kenapa?"
"Gue kangen kita kayak dulu. Jalan bareng, makan bareng, ngerjain tugas bareng." Menatap sekilas wajah Keyra. "Kalau aja dulu lo nggak minta buat pura-pura nggak kenal di kampus, pasti kita bisa kek gini setiap hari. Nggak harus sembunyi-sembunyi. Kek selingkuh aja," imbuhnya.
Keyra terkekeh. "Kan kemarin-kemarin ada Jingga." Tiba-tiba saja dadanya terasa penuh saat mengatakan itu.
"Ck, ya beda, Key. Jingga itu pacar dan lo sahabat gue. Nggak sama rasanya." Kesal Kevin. Ia menjauhkan kepalanya dari bahu Keyra. Menatap lekat wajah gadis itu.
Keyra mengangkat kedua alisnya bersamaan. "Lo ngliatin apa sih, Vin?"
"Gue ngerasa ada yang beda dari lo."
Keyra menautkan alisnya. "Apanya yang beda?" tanya Keyra bingung.
"Nggak ketemu lo tiga tahun, gue ngrasa lo makin cantik," ucap Kevin dengan santai.
Semburat merah terbit pada wajah Keyra. Membuat kekehan Kevin terdengar seketika. Pria itu mencubit pipi Keyra kanan kiri.
"Lo tu nggak berubah ya, kalau dipuji cantik pasti langsung merah gini," ujarnya sembari menggerakkan pipi Keyra ke kanan dan ke kiri.
"Gemes gue jadinya. Pengen makan."
"Ish, Kevin ..." Keyra menepis tangan Kevin dari wajahnya.
"Jangan dicubitin, tambah bengkak nanti." Keyra mencebikkan bibirnya, kesal.
"Malah bagus kalau tambah bengkak. Lo tambah cantik dengan pipi chubby." Kevin kembali memegang pipi Keyra. Kali ini menekannya sampai bibir Keyra maju beberapa senti seperti ikan.
"Apalagi kalau gini. Tambah banget cantiknya," ucapnya dengan tawa.
"Kevin!"
"Iya-iya, tuan putri." Kevin melepaskan tangannya. Ia masih saja terkekeh melihat wajah kesal Keyra.
"Udah dong, jangan manyun terus," ucap Kevin kembali. "Pulang sekarang atau nanti?" tawarnya.
"Gue ngikut aja," jawab Keyra.
"Kalau gitu kita pulang aja. Udah malem. Entar gue dimarahin lagi sama om Wira. Dikira bawa kabur anak gadisnya." Kevin beranjak berdiri, mengulurkan tangannya pada Keyra.
Keyra sempat bingung untuk menyambut uluran tangan Kevin. Sudah sangat lama mereka tidak seakrab ini. Apalagi Kevin pernah menjalin hubungan dengan Jingga, membuat Keyra merasa ragu.
"Lama banget sih!" Kevin menarik tangan Keyra. Menggenggamnya dengan erat dan membawanya berjalan menuju mobil yang akan mereka tumpangi
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen