You Are Mine

You Are Mine
Season 2 : Bab 5


__ADS_3

“Silakan dikerjakan di rumah tugas dari saya tadi. Ingat dikumpulkan dalam bentuk softfile, maksimal pengumpulan hari Sabtu jam lima pagi. Oke, sekian dari saya dan selamat beristirahat.”


Guru pengajar berkacamata itu keluar dengan langkah pelan. Meninggalkan kelas yang tadinya senyap berubah heboh seketika.


Setelah memasukkan bukunya ke dalam tas, Ata bergegas keluar untuk mencari teman-temannya. Meskipun ia sudah mengenal teman sekelasnya, tetapi Ata masih terlalu nyaman bersama teman-teman lamanya.


“Hai Rania,” sapa Ata saat gadis berambut hitam legam itu melewati kursi tempatnya makan bersama teman-temannya.


Rania hanya mengulas senyum menanggapi sapaan cowok itu. Sudah satu minggu Ata selalu menyapa Rania di mana pun mereka bertemu. Namun, bukannya berbunga, gadis itu tampak cuek dan tidak peduli.


“Gila, dia Cuma senyum anjir. Pesona lo nggak masuk dalam kategori dia,” ejek Dio disertai tawa kencang cowok itu.


Dua teman Ata yang lain juga ikut tertawa dan menimpali, “Kayaknya pelet yang dulu lo pakek udah nggak mempan deh, Ta.”


“Sialan lo berdua,” umpat Ata membuat ketiga temannya semakin terbahak.


Keempat orang itu menjadi pusat perhatian seluruh kantin. Suara tawa mereka yang menggelegar membuat siswa-siswi yang tengah berada di sana mau tak mau menatap mereka. Namun, Ata dan ketiga temannya yang lain seakan tak peduli dan kembali melanjutkan melahap makanan mereka.


Dari kejauhan seorang teman dekat Rania yang bernama Wina menatap keempat manusia itu. Kemudian mengalihkan pandangan pada Rania setelah beberapa saat.

__ADS_1


“Kayaknya dari kemarin Cakra nyapa lo terus deh, Ran,” ucap Wina.


Rania mengangkat kepalanya. Netranya menatap Wina tanpa emosi.


“Lo nggak pengen gitu deketin dia? Lumayan tahu bisa deket sama cowok terpopuler di sekolah.” Wina menaikturunkan alisnya menggoda.


Tatapan Rania berubah sinis. “Jangan ngadi-ngadi kamu, Win. Fokus belajar, nggak usah mikirin masalah kayak gini,” jawab gadis itu tak suka.


“Ya elah, Ran. Nggak bosen apa belajar terus? Sekali-kali sekolah tu bikin masalah. Biar jadi kenangan,” timpal Wina sembari tertawa kecil.


“Ngaco kamu! Sekolah tu yang bener. Kenangan itu yang baik-baik aja, yang jelek nggak usah jadi kenangan,” sembur Rania membuat Wina mencebik.


“Lo nggak tertarik gitu sama Cakra?” tanya Wina penasaran. Ia bahkan mencondongkan tubuhnya untuk lebih menggoda teman dekatnya itu.


Wina menggelengkan kepala. “Wah, kayaknya lo emang harus diperiksain deh.”


Rania hanya menggeleng menanggapi Wina. Tatapan malasnya mewakili seluruh rasa yang ada dalam benaknya.


**

__ADS_1


“Lo beneran suka sama cewek tadi?”


Ata mengedikkan bahunya sekilas. “Gue demen aja sih liat dia senyum. Nggak cantik banget sih, tapi nyenengin.”


“Wah, selera lo turun, Ta?” tanya Dio menahan tawanya.


Ata berdecak. “Ya, nggak turun juga, Di. Gue bukannya suka dalam artian ke arah pacaran. Gue suka aja lihat dia senyum paksa ke gue,” jawab cowok itu sambil tertawa.


“Ati-ati, Ta, entar jatuh cinta beneran lagi,” peringat Dio pada sahabatnya itu.


“Ngaco!” Ata melempar tatapan tajam pada Dio yang duduk berhadapan dengannya.


Dio terkekeh. Ia menyesap jus alpukat kesukaannya. Saat ini ia dan Ata berada di kafe yang tak jauh dari rumah Dio. Mereka sedang menunggu seseorang.


Tak lama kemudian seorang perempuan berusia satu tahun lebih muda dari Ata menghampiri mejanya.


“Sekarang kamu lihat! Aku juga udah sering denger gosip tentang Ata yang suka gonta-ganti pacar dan pacar dia pasti cantik-cantik. Alasanku nggak terlalu tertarik sama dia salah satunya itu. Aku nggak mau patah hati, karena aku bukan tipe cewek dia,” ucap Rania pada Wina.


Tanpa sengaja, kedua gadis itu memasuki kafe yang sama dengan Dio dan Ata. Rumah Wina yang letaknya juga tak terlalu jauh dari kafe itu membuat mereka berdua juga berada di sana.

__ADS_1


***


Jangan lupa like dan komen❤


__ADS_2