You Are Mine

You Are Mine
Part 60


__ADS_3

"Jadi apa hubungan lo sama Kevin sekarang?"


Keyra menelan ludahnya. Pertanyaan Jingga sedari kemarin tetap sama dan mungkin hari ini dia akan mengungkapkan kebenarannya.


Menatap Jingga sejenak. Memejamkan mata dan mengatur napasnya. Rasanya Keyra sangat gugup kali ini. Ia menggenggam tangan Jingga. "Tapi lo jangan marah, ya?" Keyra sedikit lega saat Jingga mengangguk. "Kevin itu temen gue dari kecil. Dia dulu tetangga gue. Tapi sekarang udah pindah semenjak dia masuk kuliah."


Mengerutkan keningnya. Jingga nampak mengingat sesuatu. "Kok lo nggak pernah bilang sih?."


Keyra menjilat bibirnya. Bingung harus menjawab apa.


"Key, jangan bilang dulu yang selalu ada di belakang Kevin waktu dia deketin gue itu lo?"


Keyra menghela napas. Kepalanya mengangguk lemah. "Sorry ya, Ji. Gue nggak tahu kalau ternyata niat Kevin deketin lo karena taruhan." Ia menatap Jingga sekilas. "Sumpah, demi Tuhan gue nggak tahu masalah itu. Dan waktu Kevin minta maaf di rumah sakit beberapa waktu yang lalu, sebenarnya juga gue di belakangnya."


Jingga menghela napas. Mengusap tangan Keyra. "Jangan tegang, ih." Jingga terkekeh. "Gue udah nggak masalahin itu, Key." Tersenyum. "Gue cuma penasaran aja waktu lihat lo sama Kevin. Kalian keliatan akrab banget. Ya, meskipun gue lihatnya dari jauh. Gue ngrasa aneh aja, kok bisa lo sedeket itu sama Kevin."


Keyra menghela napas lega. Segala ketakutannya hilang bersamaan dengan terbitnya senyum manis sahabatnya.


"Eh, tapi bentar deh, Key."


Keyra kembali menatap Jingga.


"Kevin itu sahabat kecil, lo?" Keyra mengangguk. "Berarti ..." Kata-katanya menggantung seiring menyipitnya mata. "Loh mas Banyu." Jingga memusatkan penglihatannya pada sosok pria yang tengah berlari terburu-buru di koridor rumah sakit.


Ya, mereka sekarang tengah berada di taman rumah sakit. Mereka baru saja menjenguk Riana yang tegah dirawat di rumah sakit.


"Kenapa, Ji?" tanya Keyra penasaran. Ia mengikuti arah pandang sahabatnya.


"Gue kayak liat suami gue." Jingga merogoh tasnya, mengambil ponsel. "Bentar, ya. Gue hubungin dia dulu." Keyra mengangguk.


"Kamu di mana?" tanya Jingga setelah teleponnya tersambung. Suara napas tersenggal-sengal begitu jelas. Memberikan kesimpulan apa yang Jingga lihat tidak salah.


"Aku lagi di rumah sakit. Ayah masuk rumah sakit," jawab Banyu.


Jingga terkesiap. Masih tadi malam mereka bertemu, dan siang ini ayah mertuanya masuk rumah sakit. Bagaimana bisa?, gumamnya.


"Ayah di ruangan apa? Kebetulan aku juga di rumah sakit." Perasaan khawatir mulai menjalari pikiran Jingga.

__ADS_1


Setelah diberitahu di mana ayah mertuanya dirawat, Jingga meminta Keyra untuk pulang terlebih dahulu. Ia meminta maaf, karena harus meninggalkan Keyra.


***


Banyu memasuki ruangan rawat ayahnya. Ia menghampiri sang ibu yang tengah duduk dengan sorot mata khawatir.


"Gimana keadaan ayah, Bun?" tanya Banyu lirih.


"Ayah udah agak mendingan setelah mendapatkan oksigen." Wanita itu menatap putranya.


"Dika sama bang Rega di mana?"


"Dika ngurus administrasi. Rega masih di perusahaan."


Hening. Banyu menatap ayahnya yang tengah terlelap. Ia menimang-nimang penyebab penyakit ayahnya kambuh. Sudah lama sekali ayahnya tidak masuk rumah sakit, karena mereka memiliki dokter pribadi yang tak lain ayah Jingga. Jika ayahnya sedikit kelelahan dan mulai merasa sesak napas, mereka akan memanggil ayah Jingga. Dan dalam hitungan menit ayahnya sudah baik-baik saja. Tapi, kali ini sepertinya berbeda. Dan Banyu akan menanyakannya pada sang bunda.


Tak lama kemudian pintu kembali terbuka. Jingga masuk dengan tergesa. "Gimana keadaan ayah, Mas?" tanyanya khawatir.


"Ayah udah agak mendingan. Sekarang lagi istirahat," jawab Banyu sembari mendekati Jingga.


"Bun, kenapa ayah bisa sampai seperti ini?"


Bunda Ika terlihat menghela napas panjang. Wajahnya begitu sendu, karena suaminya tengah tak berdaya.


"Ayah terkejut sekaligus emosi."


Banyu mengernyitkan keningnya tak paham.


"Tadi pagi ayah dapet laporan, dana pembangunan hotel di kota XX dikorupsi. Semua yang bekerjasama meminta ganti rugi pada ayah, karena pembangunan ternyata sudah berhenti sejak satu minggu yang lalu. Dan ayah baru tahu hari ini."


Banyu mengepalkan tangannya. Ia geram. Siapa yang sudah berani bermain dengan ayahnya?.


"Bagaimana bisa dananya dikorupsi, Bun? Maksudku, apa ayah tidak membaca seluruh laporannya dengan teliti?" tanya Banyu.


"Beberapa waktu ini ayah jarang ke kantor. Ayah sering masuk angin. Cuma Rega yang ada di sana. Dia juga nggak ikut ngurus proyek ini. Jadi Rega nggak terlalu tahu."


Jingga mengusap bahu ibu mertuanya. Menyalurkan kekuatan melalui telapak tangannya.

__ADS_1


Percakapan mereka terhenti saat pintu kembali terbuka. Kali ini menampakkan Rega dan Dika. Mereka berdua masuk, kemudian menghampiri ibu dan saudaranya.


"Gimana keadaan perusahaan?" tanya Banyu membuka percakapan antara mereka.


"Kacau. Hampir semua investor pembangunan mengundurkan diri. Cuma ada beberapa yang tetap bertahan, itupun mayoritas teman ataupun keluarga ayah," jawab Rega. Pria itu nampak terlihat berantakan. Mungkin pusing menghadapi situasi seperti ini. "Parahnya lagi perusahaan ayah yang ada di Bandung kena imbasnya."


Banyu mendengkus. "Terus rencana kalian gimana?"


Dika dan Rega saling pandang. "Lo harus gantiin posisi ayah untuk sementara. Kita harus cari investor baru dalam waktu singkat." Ucapan Rega mengerutkan kening Banyu.


"Kenapa harus gue sih? 'Kan ada kalian?"


"Nyu, Dika masih belajar begitupun gue. Di sini cuma lo yang bisa menjadi pemimpin seperti ayah," ujar Rega. Ia menatap serius pada adiknya.


"Tapi lo anak pertama dan lo lebih berhak untuk perusahaan ayah."


"Gue emang anak pertama, tapi bukan berarti gue bisa nglakuin semua tugas perusahaan. Lo yang lebih dulu diajarin ayah tentang sistem usaha. Dan gue sangat yakin dengan kejeniusan lo, lo jauh lebih bisa dari gue," kata Rega tegas. Ia sadar diri untuk hal ini. Banyu memang lebih unggul darinya, dan Rega tak ingin menampik bahwa ia belum mampu untuk mengurus perusahaan ayahnya. Apalagi dengan kondisi seperti ini.


Mengusap wajahnya frustasi, Banyu menghela napas panjang. "Lo juga bisa ngurusin ini, Dik." Banyu menatap adik bungsunya.


Dika mengangkat kedua tangannya sebatas dada. "Wait, gue? Are you kidding me? Gue masih belajar di sana. Bahkan gue masih berstatus karyawan biasa. Apa jadinya perusahaan kalau gue yang megang?." Dika menggelengkan kepalanya. "Sinting, lo!" gumamnya.


"Nyu, please. Demi ayah, lo harus mau ngurus perusahaan. Gue akan bantu lo sebisa gue." Rega mengiba pada adiknya. Ia berharap dengan adanya Banyu, masalah di perusahaan cepat terselesaikan.


"****" umpat Banyu.


"Nyu, bunda mohon kamu gantiin posisi ayah untuk sementara waktu." Bunda Ika menggenggam tangan putranya. "Apa kamu tega melihat kondisi ayah seperti ini?." Wanita paruh baya itu menatap putranya sendu. Berharap putranya mau menggantikan posisi sang suami, meskipun untuk sementara waktu.


"Tapi, Bun ..."


"Banyu, kamu nggak usah khawatirin kafe ataupun restoran. Bunda yakin, semua anak buah kamu bisa mengurusnya dengan benar."


Banyu tak tega melihat tatapan kesedihan ibunya. Tapi, juga ada banyak pertimbangan untuk menggantikan posisi sang ayah. Ini terlalu berat. Banyu tak pernah merasakan bagaimana mengurus perusahaan. Ia ragu dengan dirinya sendiri. Tapi, jika ia tidak ikut andil, apa yang akan terjadi di perusahaan ayahnya dimasa depan?.


****


Jangan lupa like dan komen❤

__ADS_1


__ADS_2