You Are Mine

You Are Mine
Part 55


__ADS_3

Beberapa jam sudah berlalu setelah Jingga bertemu dengan ibunya. Tapi rasa sesak masih merayap dalam dadanya. Sejak kejadian tadi, Jingga lebih banyak diam. Bahkan Icha menjadi sasaran keterdiamannya. Jingga mengabaikan gadis kecil itu.


Banyu menyadari perubahan sikap istrinya. Ia pun memutuskan untuk mengantarkan Icha pulang lebih cepat dari rencana mereka.


Jingga tak menolak, karena ia tahu hal itu jauh lebih baik daripada bersamanya dan terabaikan.


***


"Udah, omongan mama nggak usah dipikirin. Yang terpenting kamu nggak seperti itu ke aku," ucap Banyu seraya memeluk Jingga dari belakang.


Sejak sore tadi gadis itu berdiri di balkon. Hanya terdiam menatap langit dan keramaian jalan.


Banyu jadi merasa bersalah sendiri, karena tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan sempat meragukan ucapan istrinya semalam.


"Sekarang kamu percayakan, semua yang aku omongin semalem kenyataan." Suara gadis itu keluar setelah beberapa jam. Ia menatap langit. Berdoa penuh harap untuk bisa segera melupakan setiap ucapan dan perilaku ibunya, baik yang tadi maupun dimasa lalu.


Jingga tahu. Sangat salah jika ia ikut membenci ibunya, seperti ibunya membenci dirinya. Tapi manusia tetaplah manusia, di mana hatinya tak sekuat baja. Diperlakukan seperti itu sejak kecil tidak menjadikannya wanita tangguh yang tak peduli apapun. Ia hanya gadis biasa yang memiliki hati sangat lembut.


"Kamu mau cerita? Siapa tahu kamu jadi lega." Banyu meletakkan dagunya pada bahu sang istri. Terdengar helaan napas yang begitu berat dari gadis itu. "Tapi kalau nggak mau juga nggak papa" imbuhnya.


"Kelahiranku tidak diinginkan mama." Kening Banyu terlipat, tanda ia tidak mengerti. Namun, ia juga tidak menyela. Ia hanya mengeratkan dekapannya.


"Sebenarnya dulu mama hanya ingin memiliki dua anak, mendiang kakakku dan kak Iren." Sorot matanya berubah sendu teringat mendiang kakaknya yang sudah tiada. "Tapi ada satu kesalahan terjadi." Kerongkongan Jingga terasa tercekat mengingat dari mana asal usulnya dulu.

__ADS_1


Jingga menoleh sebentar pada suaminya. "Apa kamu percaya? aku bukan putri kandung papa."


Mata Banyu melebar. Banyak spekulasi muncul ke dalam otaknya. Tapi lagi-lagi Banyu memilih diam dan mengunci rapat mulutnya.


"Dulu sebelum aku lahir, mama dan papa tinggal di rumah kakek. Tidak hanya keluargaku di sana, tapi ada juga adik papa yang ternyata teman sekolah mama. Entah karena apa, adik papa tidak terima dengan satu ucapan mama. Hingga suatu malam... " Jingga menarik napasnya dalam sebelum kembali mengatakan hal yang menurutnya sangat menjijikkan. "Mama diperkosa adik papa." Jingga merasakan dekapan Banyu semakin mengerat. "Semua orang marah termasuk kakekku. Awalnya adik papa akan diusir, tapi papa lebih memilih untuk pergi dari sana dan membuat rumah sendiri yang jauh dari rumah kakek. Semua setuju. Satu bulan setelah kejadian itu mama hamil aku, dari adik papa. Dari situlah mama mulai membenciku." Satu tetes air mata keluar begitu saja dari pelupuk mata Jingga.


Sebuah fakta yang begitu menjijikkan dari seorang gadis pendiam sepertinya. Jingga seringkali merasa malu berhadapan dengan orang lain ketika mengingat bagaimana asal usulnya. Tapi semangat dari beberapa orang yang menyayanginya membawanya untuk tetap mendongak tanpa perasaan malu sedikitpun.


"Tidak perlu dilanjutkan jika kamu tidak ingin melanjutkannya."


Jingga menggeleng. Ia mengusap air matanya. "Kata seorang pengasuhku, dulu mama hampir menggugurkan kandungannya. Tapi papa menolak semua itu. Sebagai seorang dokter papa tentu sangat menolak tegas keputusan mama, meskipun itu bukan anak papa sendiri. Hingga dengan berbagai bujukan mama mau melahirkanku." Jingga tersenyum kecil. "Aku bersyukur papa tidak membenciku, bahkan sangat menyayangiku. Aku hidup dalam pengasuhan papa dan mendiang kakakku. Kata pengasuhku, mama tidak pernah mendekatiku bahkan hanya untuk memberikan ASI. Katanya, aku mengingatkannya pada kejadian menjijikkan itu, hingga mama enggan melihatku. Dan kebencian mama bertambah besar saat mendiang kakakku meninggal karena kecelakaan." Matanya berkaca-kaca. Satu kesedihan terbesar Jingga hanya ini. Ditinggalkan oleh sang kakak yang selalu menyayanginya. Tapi, bukan disitu letak kesedihannya yang lebih dalam.


"Sembilan tahun yang lalu. Kakak mengajakku pergi jalan-jalan. Kami pergi mulai dari jam sembilan pagi hingga sore. Saat kami akan pulang, kami menyebrang jalan untuk memgambil mobil. Saat itu aku berlari tanpa menghiraukan kakakku, hingga tiba-tiba aku merasa ditarik dan... " Jingga terisak. Ia selalu menangis kala mengingat kejadian itu. Hari di mana kakaknya menjadi superhero sesungguhnya. Jingga tak kuasa menahan tangisnya. Air matanya berderai tanpa diperintah sang pemilik.


"Aku masih ingat, saat dalam perjalanan ke rumah sakit kakak masih sempat terseyum padaku, menggenggam tanganku, seolah mengatakan aku harus tetap tenang. Setelah itu kakak mengembuskan napas terakhirnya dipelukanku." Jingga semakin terisak dalam dekapan suaminya.


"Mama menyalahkanku atas kejadian itu. Semakin hari mama semakin membenciku, karena kakak, satu-satunya laki-laki di rumah kami. Mama sangat menyayanginya, tapi kami harus kehilangan kakak karena aku." Isakan tangisnya semakin menjadi kala menceritakan semua itu.


Alasan kenapa sang ibu sangat tidak menyukainya terekam jelas dalam kepalanya. Semakin dewasa Jingga semakin berusaha untuk mengikhlaskan setiap perilaku ibunya. Tak salah ibunya membencinya, ia sangat menerima setiap alasan itu. Tapi hati tetaplah hati. Terkadang sadar terkadang tidak. Tetap ada kalanya ia merasa tidak terima diperlakukan seperti itu oleh ibunya sendiri. Tapi sekali lagi ia mengingat setiap alasan dbalik semua itu. Dan Jingga berusaha untuk menerima.


***


Matahari menjulang tinggi. Memancarkan sinar untuk menghangatkan bumi.

__ADS_1


Jingga mengerjapkan matanya. Terasa sangat berat saat ia membuka mata. Ah, sepertinya matanya membengkak akibat tangisannya semalam. Jingga kembali merapatkan matanya. Kelas hari ini dimulai lebih siang dari biasanya. Masih ada banyak waktu untuk kembali tidur.


Dari ambang pintu Banyu menggeleng melihat istrinya kembali merapatkan selimut. Masih dengan apron yang melekat kuat pada tubuhnya, Banyu mendekati ranjang. Menepuk-nepuk kaki istrinya. Tapi tak ada reaksi sama sekali dari gadis itu.


"Sayang, udah siang lo. Bangun!" seru Banyu sembari menepuk-nepuk kaki istrinya dengan lembut.


"Kalau kamu tidur terus makin jelek lo nanti." Ujarannya diakhiri kekehen, karena istrinya langsung menyingkap selimut.


"Pusing, Mas." Jingga menyenderkan kepalanya pada kepala ranjang.


"Makanya, kalau udah waktunya bangun ya bangun. Jangan kelamaan tidur. Gitu kan jadinya," ucap Banyu tegas. Jingga hanya mencebikkan bibirnya. Membuat mata Banyu melotot.


Layaknya seorang anak kecil, Banyu menyuruh sang istri untuk mandi. "Ayo, sekarang kamu mandi. Biar nggak pusing lagi." Tapi gadis itu malah menggeleng. Banyu tak habis pikir dengan istrinya ini. Ia pun berdiri, memandang istrinya yang juga tengah memandangnya.


"Dalam hitungan ke-tiga kamu nggak mandi... dengan senang hati aku mandiin kamu."


Jingga terbelalak dibuatnya. Yang benar saja, batinnya.


"Satu... "


Jingga beranjak berdiri kemudian berlari menuju kamar mandi. Sebelum menutup pintu ia masih sempat menjulurkan lidah pada suaminya itu.


Banyu menggelengkan kepala untuk kesekian kalinya dipagi ini. Dalam lubuk hatinya ia sangat bersyukur, istrinya kembali seperti kemarin-kemarin, tidak sedih seperti kemarin. Mendengar semua kisah istrinya semalam, Banyu bersumpah dalam hatinya akan membahagiakan Jingga bagaimanapun caranya.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen


__ADS_2