
"Aku tahu ini Kak Iren!"
***
Mengaduk-aduk jus alpukat favoritnya. Jingga menatap tajam seorang perempuan yang duduk di depannya. Saat ini mereka ada di sebuah kafe dekat panti.
Tak seperti biasanya, perempuan itu menundukkan kepala. Menautkan jemarinya. Gadis itu sama sekali tak berani menatap Jingga. Benaknya benar-benar ketakutan.
Jingga hanya mengamati gadis itu, tak ingin membuka suara terlebih dahulu. Maka dari itu, ia hanya diam dan menikmati jusnya.
Sepuluh menit terbuang sia-sia. Jingga yang sudah tidak tahan akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Apa hubungan Kak Iren sama Icha?"
Ya, wanita itu adalah Iren. Kakak kandung Jingga. Anak kesayangan ibunya. Seseorang yang sedari dulu tidak menyukai Jingga. Seseorang yang sejak dulu Jingga tahu tidak pernah suka dengan anak kecil.
"Aku tahu Kak Iren nggak suka anak kecil. Dan aku nggak akan percaya kalau Kak Iren deket sama Icha karena Kak Iren iba," lanjut Jingga saat Iren sama sekali tak menjawab.
"Ji ...."
"Atau Kak Iren emang sengaja deketin Icha dan pengaruhi dia biar benci sama aku?"
Iren menggeleng.
"Please, Kak. Aku tahu Kak Iren benci banget sama aku dan Kak Iren nggak pengen lihat aku bahagia. Tapi jangan gini caranya."
"Jingga ... "
"Kalau Kak Iren nggak pengen lihat aku bahagia, aku bisa pergi dari kota ini. Tapi jangan bikin Icha jauh dari aku. Dia satu-satunya cara untuk aku selalu bersyukur." Bayangan masa lalu tentang bagaimana bencinya Iren pada Jingga sekelebat masuk ke dalam kepala. Masa-masa yang sudah hampir terlupakan menguar kembali. Memberikan ketakutan pada diri Jingga.
"Jingga, dengerin gue!" Iren menggengam tangan Jingga.
Kening Jingga berkerut memandang tangannya. Ia menatap aneh kakaknya. Mata Iren mengembun. Tangannya terasa begitu dingin. Pancaran ketakutan menyelimuti wajah Iren.
"Gue bakal jelasin semuanya, tapi lo harus janji nggak akan jauhin gue dari icha," pinta Iren. Suaranya terdengar begitu sunguh-sungguh.
"Buat apa aku janji sama Kakak?" tanyanya tak suka.
Iren menelan ludahnya susah payah. Ia tidak tahu akan menghadapi adiknya yang sudah berubah total. Ia bisa merasakan keberanian Jingga terhadapnya. Tidak seperti dulu yang selalu mengangguk saat diperintah.
__ADS_1
"Ok. Lo nggak perlu janji apa-apa. Tapi, please jangan jauhin gue sama Icha setelah gue cerita sama, lo"
Kening Jingga semakin berkerut. Ia tidak mengerti kenapa sekarang malah Iren yang meminta untuk tidak dijauhkan dengan Icha. Sebenarnya apa hubungan mereka? Dan kenapa Iren terlihat sangat menyayangi Icha?.
Tak mendapati respon apapun dari adiknya. Iren mencoba menetralkan detak jantungnya. Beberapa kali ia menghela napas, kemudian mengembuskannya perlahan.
Setelah dirasa cukup tenang, Iren memberanikan diri menatap adiknya. Mereka beradu pandang.
"Icha itu anak gue," ucap Iren lirih.
Mata Jingga menyipit. Mulutnya terbuka. Sungguh Jingga tidak akan memercayai ucapan kakaknya kali ini.
"Nggak mungkin," sanggah Jingga. Kepalanya menggeleng pelan. "Kak Iren pasti cuma mau nipu aku kan?" Jingga melepaskan genggaman tangan kakaknya.
"Jingga, gue serius. Icha itu anak gue!" ucap Iren lagi, berusaha meyakinkan.
Jingga tetap menggeleng. Ia tetap tidak akan percaya kepada Iren. Dulu kakaknya itu sangat suka bergonta-ganti pacar. Dan hampir semua pacar kakaknya adalah cowok yang mendekati Jingga. Tidak ada yang pernah awet dengan Iren. Mereka menjalin hubungan mungkin hanya berkisar dua sampai tiga minggu. Sangat tidak mungkin mereka berhubungan lebih hingga memiliki seorang anak.
"Ji, lo inget Fino?" tanya Iren tiba-tiba.
Kepala Jingga mencoba mencari nama Fino. Terpaksa ia harus memutar kembali memori lamanya yang hampir terkubur dalam.
"Dia yang hamili gue!" Lirih Iren berkata. Ia bahkan tak mampu untuk menahan laju air matanya kala mengingat sosok Fino.
Suara Jingga tercekat. Ia tidak yakin kakaknya berkata jujur, tapi tidak mungkin juga gadis di depannya berbohong hingga mengeluarkan air mata seperti ini.
Jingga kembali mengingat sosok Fino. Cowok dengan prestasi tinggi di sekolah. Dia bukan cowok nakal, dan tidak mungkin melakukan itu bersama kakaknya.
Iren menceritakan semua kejadian lima tahun yang lalu. Saat ia memiliki hubungan dengan Fino. Saat itu mereka melakukannya sama-sama dalam kondisi tidak sadar. Entah siapa yang telah mencekoki mereka berdua dengan alkohol saat pesta ulang tahun teman mereka, Iren lupa.
Yang Iren ingat, ia terbangun dari tidurnya dalam kondisi tak berbusana. Iren juga masih mendapati Fino berada di sampingnya. Iren begitu terkejut dengan apa yang terjadi. Selama menjalin hubungan dengan pria, Iren tak pernah ada niat hingga tidur seperti ini. Ia memang terbiasa berciuman atau pegang-pegangan. Tapi ia masih memegang teguh budaya untuk tidak melakukan hubungan badan sebelum menikah.
Awalnya Iren dan Fino tenang, karena yang mereka tahu, melakukan hubungan sekali tidak akan membuat Iren hamil. Hingga satu bulan kemudian, Iren merasakan gejala kehamilan. Hampir setiap pagi ia muntah di dalam kamarnya. Tidak ada yang tahu, karena Iren memang bungkam. Iren yang merasakan kejanggalan pada dirinya memutuskan untuk membeli testpack. Saat mengetahui hasilnya rasanya Iren seperti ingin mati saja.
Iren yang kala itu kebingungan harus bagaimana, akhirnya menghubungi Fino. Ia menceritakan apa yang terjadi, dan mengatakan bahwa dirinya hamil. Ia meminta pertanggungjawaban Fino.
Tapi nahas. Fino malah menampik kemungkinan bahwa bayi dalam kandungan Iren bukan hasil mereka berhubungan tanpa sadar itu. Ia menuduh Iren pernah melakukan hal itu bersama pria lain. Fino tak ingin bertanggungjawab, apalagi kondisinya mereka masih pelajar. Fino masih memiliki cita-cita kuliah ke luar negeri.
Satu minggu kemudian Iren mendapat kabar Fino pindah sekolah. Pria itu tiba-tiba saja keluar dan pindah ke luar negeri.
__ADS_1
Iren semakin dibuat frustasi. Ia hampir saja menggugurkan kandungannya dengan aborsi. Tapi sisi lain dalam hatinya senantiasa menahan. Hingga akhirnya ia memilih merawat bayi itu tanpa sepengetahuan keluarganya.
"Lo masih ingat waktu kelas tiga gue pernah ninggalin rumah?"
Jingga mengangguk. Ia ingat betul saat Iren meminta izin untuk tinggal di rumah temannya. Bahkan saat itu, hampir setiap hari ibunya menyalahkan Jingga. Katanya gara-gara Jingga, Iren jadi tidak betah di rumah.
Saat itu Iren tinggal di rumah kecil. Di sana ia hidup sendiri dengan uang jajan yang selalu ditransfer oleh orangtuanya. Hingga sembilan bulan berlalu dengan begitu lama, menurut Iren. Ia akhirnya melahirkan sosok gadis kecil di rumahnya sendiri tanpa bantuan siapapun. Saat ia baru saja bertaruh nyawa, ia harus kembali memikirkan bagaimana nasib anaknya. Ia akhirnya memutuskan untuk menaruh anaknya di dekat panti asuhan di mana Icha tinggal saat ini.
"Gue nungguin dia dari jauh, sampai suami lo nemuin dia. Saat itu juga gue merasa tenang, karena dia bakal punya keluarga yang lebih baik," ucap Iren sambil terisak.
Hampir setiap hari ia menangisi perbuatannya. Bahkan saat itu, ia masih sempat menyalahkan Jingga, karena menurutnya jika Fino tidak menyukai dan mendekati adiknya, semua ini tak akan pernah terjadi.
"Gue nggak pernah lagi nemuin dia, sampai setahun yang lalu, gue nekat dateng ke panti untuk mastiin dia masih ada di sana." Iren tiba-tiba tersenyum. "Dan gue merasa bahagia saat gue tahu Icha dalam kondisi baik-baik aja sama suami lo dan mantannya."
"Kakak bilang dia dalam kondisi baik?" tanya Jingga dengan mata menyipit.
"Apa Kak Iren tahu, Icha memiliki penyakit leukimia. Dia menderita, Kak!" Jingga membentak diakhir katanya.
Iren membelalakkan matanya. Ia tidak pernah tahu gadis kecil itu memiliki penyakit. Yang ia tahu gadis itu selalu terlihat ceria. Selalu menceritakan kegiatannya di sekolah. Dan menceritakan ayahnya yang tak lain adalah Banyu.
"Apa kakak tahu gimana rasanya nggak punya orang tua? Apa kakak tahu gimana perasaan mereka yang sebenarnya?"
"...."
"Sakit, Kak!" Jingga menunjuk dadanya sendiri.
"Kakak nggak akan pernah tahu gimana rasanya kesepian tanpa orang tua. Dan aku tahu rasanya, Kak!"
"...."
"Coba Kak Iren bayangin, gimana rasanya jadi kami. Aku dan Icha. Kita sama-sama nggak dapet kasih sayang yang sempurna. Sedangkan Kakak? Kakak selalu dapet apa yang kakak mau. Kasih sayang mama dan papa."
Jingga memandang Iren tajam. "Aku kecewa dengan apa yang kakak lakuin ke Icha. Aku benci sama Kakak!"
Gadis itu berdiri meninggalkan Iren sendiri dengan tangisnya.
*****
Jangan lupa like dan komen❤
__ADS_1