
Menjejakkan kaki di kantin sekolah. Ata dan ketiga temannya tampak memindai setiap sudut tempat itu. Jam istirahat membuat kantin tersebut penuh dengan siswa-siswi yang perlu menambah energi mereka.
Dengan tangan berada dalam saku celananya, Ata melangkah pelan, mencoba mencari tempat duduk yang sekiranya bisa ia tempati bersama ketiga teman yang lain. Netra cowok itu masih berkeliling hingga tatapan matanya tertuju pada satu meja yang telah terisi dua orang gadis yang ia kenali.
Tanpa mengajak ketiga temannya, Ata berjalan menuju meja tersebut dan tanpa permisi ia duduk di salah satu kursi kosong yang ada di sana.
“Gue gabung, ya? Nggak ada tempat lagi soalnya,” izin Ata sembari memandangi dua gadis itu secara bergantian.
“Diem artinya iya,” ucap Ata lagi tanpa menunggu jawaban dua gadis itu. Ia melambai pada ketiga temannya yang masih mematung di ambang pintu. Seketika membuat dua gadis tadi menoleh ke arah pandangan Ata.
“Aku ngajak temen, ya?” izin Ata lagi.
“Cakra, kita itu belum izinin kamu, tapi kenapa kamu tetep duduk di sini, sih. Ngajak temen lagi,” sungut gadis itu kesal.
“Rania, kan tadi gue udah bilang, kalau diem artinya iya,” jawab Ata. Senyum miringnya terbit begitu saja melihat raut kesal Rania, si gadis manis berpenampilan sederhana itu.
“Tapi bukan gitu maksud–”
__ADS_1
“Akhirnya bisa duduk juga.”
Ucapan Rania terpotong oleh Dio yang telah duduk di samping Ata, diikuti Alvin dan Vian. Gadis itu menatap sinis pada ketiga cowok yang baru datang itu.
Tanpa permisi Ata menyambar es teh milik Rania yang ada di atas meja.
“Cakra!” sentak Rania semakin kesal. Gadis itu mengatupkan bibirnya, rahangnya mengeras. Sejak tadi ia merasa Ata telah menguji kesabarannya. Mulai dari pagi tadi cowok itu memergokinya tengah menangis, lalu tragedi menginjak kakinya, dan yang terakhir adalah ini, meminum es teh Rania yang begitu berharga.
“Apa, Sayang?” Dengan santai Ata menopangkan kepalanya pada tangan, menatap Rania menggoda.
Gadis yang sudah tak tahan dengan Ata itu pun berdiri sambil berucap, “Win, kalau kamu masih tetep mau di sini, kamu di sini aja. Aku nggak mau duduk sama dia.” Tanpa menunggu jawaban temannya, Rania sudah melenggang pergi membawa rasa jengkelnya.
Wina yang tak mengerti pun memilih mengikuti Rania, membiarkan Ata dan teman-temannya duduk di tempatnya makan tadi.
Pandangan Ata masih melekat pada sosok Rania hingga tubuh itu hilang, keluar dari kantin sekolah. Ia tersenyum sendiri melihat raut jengkel gadis itu tadi.
“Perasaan dari kemarin lo gencar banget godain itu cewek? Lo suka sama dia?” Vian menaikkan sebelah alisnya, netranya menyipit curiga pada temannya satu ini.
__ADS_1
Ia tahu bagaimana perangai Ata terhadap seorang wanita. Hanya saja jika dilihat lagi, gadis itu bukanlah tipe Ata. Dia terlalu sederhana untuk sosok lelaki playboy seperti Ata.
Tawa Ata meledak mendengar tuduhan Vian. Setelah menyesap kembali es teh milik Rania, cowok itu menjawab, “Gue bukannya suka sama dia dalam artian seperti biasa. Gue cuma seneng aja liat cewek pendiem kesel kayak gitu. Apalagi dia kalau dijailin selalu kepancing.” Ata mengakhiri kalimatnya dengan kekehan.
Sebelum kembali berucap, Vian memesan bakso dan minuman dingin untuk mereka berempat.
“Eh, tapi Ta, gue peringati, ya. Lo jangan terlalu sering jail sama itu cewek kalau lo emang nggak suka. Daripada tiba-tiba timbul rasa, bingung entar, lo,” peringat Vian. Cowok itu menatap serius pada Ata yang kini malah tengah menutup bibirnya dengan tangan mengepal, seolah apa yang Vian katakan hanya candaan semata.
“Nggak usah ngaco deh, Yan. Mana ada kayak gitu,” timpal Ata sebelum menyemburkan tawanya.
“Ya udah kalau lo nggak percaya.” Vian tak peduli dengan tanggapan Ata. Ia memilih mengaduk bakso yang telah ia beri sambal dan juga kecap lalu menyantapnya dengan nikmat.
***
Abi-Caca insyaaAllah besok, ya.
Jangan lupa like dan komen❤
__ADS_1