
Suara ketikan keyboard menggema di ruang keluarga Banyu. Dengan televisi yang menyala dan ditemani secangkir coklat panas dan juga stoples kue kering buatan sang oma, Caca mengerjakan tugasnya tanpa terburu-buru. Gadis berkacamata itu tampak santai mengetikkan beberapa kata sembari menggigit satu kue kering berwarna coklat dengan taburan choco chips di atasnya.
Sesekali Caca menyandarkan punggungnya pada kaki sofa, melirik televisi yang sejak tadi melihatnya menatap layar laptop. Caca tampak menulis sesuatu di buku catatannya sebelum gadis itu masukkan ke dalam laptopnya sebagai bahan presentasi minggu depan.
Menghirup aroma coklat panas, Caca terlihat sangat menikmati minuman hangat itu. Ia menenggak cairan berwarna coklat itu perlahan, sebelum kemudian kembali meluncurkan jarinya pada keyboard laptop, karena ia berhasil merangkai kata. Ia buru-buru mengetik sederet kalimat yang telah tersusun rapi di dalam otaknya, sebelum kalimat itu kembali tercecer dan membuatnya kembali gundah gulana.
Satu persatu paragraf telah Caca selesaikan dengan baik, hingga pada akhirnya tugas itu selesai setelah ia cicil sejak satu minggu yang lalu. Kegiatan yang mulai padat membuat Caca mau tak mau harus pintar membagi waktunya.
Pada akhirnya gadis itu menerima permintaan sang ayah untuk menjadi manajer kafe yang terletak di dekat kampusnya. Caca berpikir tidak ada salahnya mulai belajar mengurus kafe dari sekarang, karena suatu saat nanti setelah ia lulus kuliah ia harus melakukannya. Daripada saat ini ia terlalu banyak bermain, lebih baik ia gunakan waktunya untuk belajar. Toh, ayahnya tetap mengizinkan dirinya jalan-jalan jika ia sudah jenuh dalam pekerjaan.
“Kak,”
Caca hampir saja menampar pipi adiknya saat tiba-tiba Ata berbisik tepat di samping telinganya. Gadis itu sangat terkejut karenanya.
“Astaga, jahat banget lo sama adik sendiri sampai mau nampar,” ujar Ata sembari membeliakan matanya. Kepalanya menggeleng pelan sembari mengelus dada. Seolah dia adalah korban.
“Lo ngagetin, bambang!” sungut Caca. Ia benar-benar kesal dengan kelakuan adiknya yang memang jail sejak kecil.
Ata hanya terkekeh kecil sebelum duduk di samping sang kakak. Ia meraih cangkir coklat panas Caca yang masih tersisa setengah kemudian menenggaknya tanpa seizin sang empunya.
“Ata kampret! Itu punya gue!” Caca menarik kaus adiknya. Suaranya lantang meneriaki Ata, berharap gendang telinga remaja itu pecah.
Ata mengusap telinganya cepat. “Gila, suara lo kek toa tahu nggak?” sungut remaja itu.
“Biarin!” Netra Caca membuka lebar. Kesal dengan kelakuan adiknya. Bahkan kini kekesalannya bertambah, karena coklat panasnya ternyata dihabiskan oleh Ata.
“Ta! Itu punya gue!” Teriak Caca lagi.
“Bagi dikit lah. Pelit banget lo jadi orang. Pelit-pelit kuburan lo sempit!” Ata terbahak melihat wajah kakaknya memerah, karena marah. Ia memang paling suka melihat saudaranya kesal.
“Bodo amat! Bikinin gue coklat lagi, cepet!” Caca memerintah dengan seluruh emosi yang telah terkumpul menjadi satu. Suara gadis itu menggema di seluruh ruangan, bahkan sampai di lantai dua.
“Ini apa sih, Kak Caca kok teriak-teriak?” Jingga menuruni tangga dengan langkah pelan. Wanita itu sejak tadi mendengar putri sulungnya itu berteriak tak jelas, seperti memarahi seseorang. Hingga akhirnya Jingga memilih untuk melihat bersama siapa putri sulungnya itu.
“Ini ni, Ma, Ata jailin aku. Dia minum coklat panas aku, padahal masih banyak,” adu Caca pada sang ibu. Raut wajahnya terlihat sekali berkerut kesal.
“Ya ampun, Kak. Coklat panas lo tinggal separuh gelas dan lo bilang masih banyak?” Ata menggelengkan kepala pelan. Lantas menatap ibunya sejenak untuk membela diri.
“Kak Caca pelit banget, Ma,” ujar remaja itu menatap sang ibu, berharap wanita itu mengerti.
__ADS_1
Jingga hanya menatap datar pada kedua anaknya. Ia mendekati mereka, lalu duduk di sofa yang ada di belakang Caca. Ia memperhatikan kedua anaknya itu dengan saksama.
“Ata, nggak boleh gitu. Mama nggak suka kalau kamu kayak gitu. Kan kamu bisa bikin sendiri, atau minta baik-baik ke Kakak. Pasti dikasih,” nasihat Jingga pada Ata.
Remaja itu diam saja. Ia memang paling tak berani jika sang ibu sudah bersuara.
“Kak Caca juga nggak boleh pelit dong sama adiknya sendiri.” Jingga menasihati kedua orang itu seperti menasihati anak kecil.
Keduanya sama mencebik mendengar nasihat Jingga. Namun, mereka masih sama-sama tak mau mengalah dan masih mempertahankan ego masing-masing.
Jingga terkekeh melihat kelakuan anak-anaknya itu. Mereka tak pernah berubah, masih sama seperti dulu saat mereka kecil. Selalu bertengkar untuk hal sepele dan akan berbaikan dalam waktu kurang dari lima jam.
Berusaha mencairkan suasana yang cukup panas, Jingga menanyakan kegiatan keduanya hari ini. Ada banyak pertanyaan yang Jingga lontarkan untuk Caca dan Ata. Mulai dari apa kegiatan mereka di sekolah sampai tugas apa yang mereka kerjakan saat ini.
Jingga tersenyum melihat respons keduanya yang sama-sama baik. Mereka terlihat sangat jujur saat menceritakan kejadian-kejadian lucu di sekolah. Tentang gadis-gadis yang suka mengejar-ngejar Ata, atau tentang Caca yang suka berdebat dengan teman satu kelasnya.
**
“Yah, nanti Bia berangkat sama Kak Caca, ya?”
Jingga mengerutkan keningnya heran. Tak biasanya putri bungsunya itu mau berangkat bersama kakaknya. Biasanya dia hanya mau berangkat bersama sang ayah saja.
“Naik mobil,” jawab Bia riang.
Jingga memutar bola matanya dengan seulas senyum di bibir. Pantas saja, batin wanita itu.
“Ya, Yah?” tanya Bia lagi. Sebelum menggigit sandwich-nya.
“Terserah kamu,” jawab Banyu.
“Hari ini lo naik mobil, Kak? Wah, sekalian gue juga mau bareng kalau gitu,” timpal Ata yang baru saja datang.
“Ini kenapa tumben mau berangkat sama Kak Caca semua?” tanya Jingga heran.
Ketiga manusia bersaudara itu hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Jingga.
Sebelum berangkat Caca menyalami tangan kedua orang tuanya. Ia sekalian pamit mengajak kedua adiknya pergi nanti.
“Ke mana, Kak?” tanya Jingga.
__ADS_1
“Ya, jalan-jalan, Ma. Boleh kan?” tanya gadis itu memastikan.
“Boleh, asal nanti pulang dulu, ganti baju. Pulangnya jangan malem-malem,” nasihat Jingga pada putrinya.
Caca hanya tersenyum, kemudian melenggang pergi membawa mobil barunya bersama kedua adiknya.
**
Langit telah menggelap. Bulan mulai menampakkan diri, meskipun tidak sempurna.
Jingga menyeret kakinya masuk ke dalam rumah setelah membayar taksi yang telah membawanya pulang. Wanita yang kini telah berkepala empat itu terlihat cukup lelah setelah seharian bekerja. Raut mukanya yang ayu terlihat sedikit sendu. Tampaknya di rumah sakit tadi terjadi sesuatu.
Menyisir seluruh sudut rumahnya. Jingga sama sekali tak mendapati salah satu putranya ada di sana. Tempat itu terasa sangat sepi dan itu membuat Jingga sedikit kebingungan.
Jingga mengangkat pergelangan tangan kirinya untuk memastikan pukul berapa saat ini. Alangkah terkejutnya Jingga saat ternyata waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Wanita itu bergegas naik ke lantai dua mencoba mencari keberadaan anak-anaknya. Sepi. Tak ada tanda-tanda anak-anaknya di sana.
Suara deru mobil masuk ke gendang telinga Jingga. Wanita itu tahu bahwa suaminya yang baru tiba, bukan anak-anaknya. Jingga segera menghampiri Banyu.
“Yah, anak-anak pulang!” seru Jingga saat suaminya baru saja melangkah masuk ke dalam rumah.
Banyu mengangkat pandangannya pada jam dinding. Sudah jam tujuh lebih, dan memang mobil Caca belum kembali.
“Paling bentar lagi juga pulang, Ma,” jawab pria itu. Ia sama sekali tak menampakkan rasa khawatir.
“Ini udah jam tujuh malem, Yah. Mereka belum pulang, mereka bahkan nggak ganti baju. Itu artinya mereka belum pulang sama sekali,” cecar Jingga pada suaminya.
Jingga tadi sempat melihat kamar Ata. Anak laki-lakinya itu memiliki kebiasaan menaruh tas di kursi yang ada di kamarnya dan seragamnya juga akan menggantung di kursi itu. Namun, Jingga tak melihatnya saat tadi ia mengecek kamar Ata.
“Udah lah, Ma. Mereka itu udah gede, pasti pulang, kok.”
“Yah–” Ucapan Jingga terpotong saat mendengar suara mobil putrinya tiba.
Raut mukanya memerah. Ia paling tidak suka saat anak-anaknya pergi tanpa mengganti seragam mereka. Jika kemarin Banyu yang marah, kali ini Jingga yang akan memarahi ketiga anaknya itu.
***
Jangan lupa like dan komen❤
__ADS_1