You Are Mine

You Are Mine
Di Antara Kita, Sepertinya Hanya Aku Yang Waras, Kalian Semua Stres 128


__ADS_3

Wajahnya begitu berbinar karena rasa kagum nya pada presiden tersebut.


"Katakan, sebenarnya Lo mau ngapain ke sana?" tanya Qivian penasaran.


"Tidak ada, hanya ingin mempunyai relasi dari Jepang saja." Jawab Kabir berbohong, Qivian membuang jauh usilnya terlebih dahulu, ia menatap Kabir dengan serius, memeluk pelan bahunya.


"Kabir, kata ibu ku, menangis itu tidak apa-apa, akan tetapi dengan satu syarat yaitu, jangan membuang air matamu dengan hal yang tidak berguna, jangan jadikan tangisan mu adalah kelemahan." Kata Qivian dengan bijak. Adiknya sampai terkejut akibat perkataan sang kakak yang sangat bijak. Mungkin hujan akan turun sebentar lagi.


Benar saja, beberapa detik kemudian, hujan akhirnya turun membasahi bumi, Shi Yi menatap air hujan itu, dan berkata: "Wah... kakak ku benar-benar hebat."


"Aku tahu, ibu ku juga pernah berkata seperti itu." Balas Kabir menganggukkan kepalanya.


"Kita akan bekerja sama demi mencapai bibi Aira, ibu ku juga di culik, Kabir. Dia hilang entah kemana, tidak ada yang tahu." Ujar Qivian.


Anak itu adalah seorang kakak yang ingin terlihat baik-baik saja di depan sang adik, karena itulah, Qivian banyak tersenyum di bandingkan menangis ataupun sedih.


"Sekarang katakan apa mau mu dan kau akan melakukan apa?" tanya Qivian lagi.


Kabir menoleh sebelum menjawab, memandang teman-temannya yang juga menguatkan dirinya, ia pun berkata: "Selanjutnya yang akan ku tempuh adalah mencapai batas titik ini, di jepang. Aku harus mencapai puncak kesuksesan dan pergi ke sana. Setelah itu pergi ke pegunungan Fengyuzen lagi untuk mendapatkan obat pembakar hati untuk ibu ku. Dia melupakan semua orang, aku, paman, bibi, kak Dzaky. Semua orang di lupakan olehnya." Bibirnya bergetar saat mengatakannya, dia masih kecil, setiap saat selalu bersama ibunya, namun kedatangan ayahnya merusak kebahagiaan mereka berdua.


Kabir hanya menyesal, namun juga dendam pada ayahnya. Di satu sisi ia ingin mendapatkan seorang ayah, namun di sisi lain dirinya juga tidak mau kehilangan sosok seorang ibu. Mana tahu ketika ayah dan ibunya bersatu, Kabir harus mengorbankan sesuatu yang semua orang tidak akan kuat merelakannya.


"Oke guys, gue bakalan cari informasi tentang presiden Jepang, Maco coy!!!!" teriak Qivian, ucapannya berhasil membuat kedua anak kecil itu tertawa.


Kabir menggelengkan kepalanya, sepertinya Qivian sangat mirip dengan ibunya di banding dengan ayahnya.


"Jangan sedih Kabir, investasi kita akan di mulai." Sahut Shi Yi.


"Investigasi!" ralat kakaknya.


"Bukan, Qivian. Tapi Introgasi." Sahut Kabir yang juga menimpailnya.

__ADS_1


"Di antara kita, sepertinya hanya aku yang waras, kalian semua stres!" cibir Qivian.


Kabir akhirnya tertawa kecil, memiliki teman seperti mereka, sepertinya tidak buruk. Mereka bertiga saling memeluk satu sama lain, ke tiganya tertawa, suara yang cempreng itu memenuhi ruangan yang besar miliknya.


***


"Assalamu'alaikum." Aditya berjalan mendekat pada Aryan yang berlatih terus menerus, seperti tidak ada lelahnya.


"Wa'alaikumussalam." sahut Aryan.


"Setelah semua ini, ternyata kau sudah berada di level ke lima belas." Seru Aditya terkekeh pelan.


"Larisa membantu ku, dan Allah yang menjagaku agar tetap kuat." jawab Aryan.


"Syukurlah." sahutnya dengan berjalan.


Aditya mengedarkan pandangannya, di luar ini, cuaca sangat terik, di ikuti dengan busur panah yang sangat menawan. Aditya mendekat dan mengambilnya.


"15 panah, dalam satu tarikan, bisa membuat pohon besar tertusuk oleh jarum panah itu, jika terkena orang, mungkin jantung mereka lah yang akan keluar." Jawab Aryan.


"Siapa-"


"Putraku." potong Aryan yang tahu Aditya akan bertanya apa.


"Hebat sekali," puji Aditya.


"Kabir mulai bekerja dengan tenang, sejujurnya aku tidak tahu maksudnya melakukan ini semua, sudah satu minggu Kabir mengerjakan semua yang harusnya aku selesaikan sendiri."


Aryan berhenti berlatih, pria itu duduk dan minum air putih yang berada di meja.


Aditya memejamkan matanya dan mencoba busur tersebut, benar yang di katakan Aryan, panah itu melesat hingga 15 panah sekaligus, jika semuanya terkena tubuh manusia sudah di pastikan mereka akan langsung meninggalkan dunia saat itu juga, masih dengan mengucapkan kata Allah dengan kehendaknya.

__ADS_1


"Akeno mengadakan pertemuan malam ini, dia ingin memperkenalkan Aira jika dia adalah istrinya." Kata Aditya menyimpan busurnya kembali. Aryan berhenti, tangannya melayang di udara, perlahan turun.


"Bukan kah mereka belum menikah? kenapa pria itu terburu-buru sekali?" Emosi Aryan memuncak, ia berdiri dengan tegas.


"Jepang dan Amerika, tidak lah sama. Kebiasaan jepang yang tidak pernah menikah namun mempunyai anak, itu sudah di anggap lumrah oleh masyarakat mereka." Jawab Aditya, bahkan dirinya pun sedikit kesal.


"Aku rasanya ingin menghabisi Akeno sekarang juga!" desis Aryan mengepalkan tangannya. Aira masih memiliki suami, dan itu adalah Aryan, dirinya.


***


Larisa masuk ke dalam kamar Aira yang sedang mandi, ia mencelupkan sesuatu ke dalam air minumnya, ini adalah buah jiwa yang bersatu, dengan ini maka reaksi yang di berikan Aira akan memicu pada orang yang meminumnya.


Suara pintu lain terbuka, Larisa berbalik ke arah pintu kamar. Akeno, pria itu malah masuk ke dalam sana. Larisa yang ingin bersembunyi, malah sudah di tangkap basah olehnya.


"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Akeno dengan mengintimidasi, matanya bahkan menyipit. Larisa bereaksi santai, ia kemudian duduk di sofa yang menurutnya sangat nyaman.


"Larisa, jawab aku!" sentak Akeno. Bola mata wanita itu berputar sekilas, "Ini juga rumah ku, kan? kenapa aku harus meminta izin padamu untuk masuk ke sini?" jawab Larisa mendengus kesal.


"Kau boleh kemanapun, tapi kenapa ke kamar ku?" tanya Akeno.


"Akeno! kau berjanji jika kita tidak akan saling bertengkar! lalu apa ini? kenapa masalah kecil saja kau membesarkan nya?" Tuduh Larisa. Akeno menggertak kan giginya kesal, percuma berdebat dengan Larisa, wanita itu tidak akan pernah mau mengakui kesalahannya.


Pintu kamar mandi akhirnya terbuka, menampilkan Aira yang sudah memakai bajunya yang lengkap. Matanya menatap ke arah dua orang yang sedang berhadapan begitu dekat.


"Larisa, kau pergi lah dari sini." Usir Akeno. Ia duduk dengan santai, mengambil air minum di atas meja, mata Larisa langsung membola, itu adalah minuman yang sudah dirinya beri buah jiwa.


Memikirkannya, Larisa tidak punya cara lain, ia harus membuat pria itu gagal untuk minum. Mata Aira tidak pernah lepas dari Larisa, bahkan ia menatap wanita itu dengan rasa curiga.


Bruk! "Awwssss..." ringis Larisa, untunglah, ia melihat Akeno langsung menaruh minumannya kembali dan segera mendekat.


"Larisa?" panggil Akeno heran melihat temannya yang tiba-tiba terjatuh.

__ADS_1


__ADS_2