
"Hari ini saya akan mengawasi kinerja kalian, meskipun saya yakin kalian semua bekerja dengan baik, " ucap Banyu penuh wibawa. Ia berdiri di depan seluruh karyawan restoran yang tengah berbaris rapi.
Semua karyawan tahu, Banyu adalah orang yang tegas. Ia tidak pandang bulu pada siapa saja. Siapa membuat kesalahan dia yang dihukum, meskipun orang yang lebih tua darinya.
Pernah dulu seorang manajer dipecat karena melecehkan salah seorang karyawan wanita. Padahal manajer itu salah satu anggota keluarga Banyu sendiri. Dari situ, semua karyawan yakin, Banyu adalah sosok yang begitu adil. Jadi, mereka semua merasa sungkan sendiri untuk melakukan kesalahan besar. Tidak ada yang berani melanggar aturan bahkan membantah apapun yang Banyu intruksikan melalui manajer.
"Oh ya, dan perkenalkan ... " Banyu menarik pinggang Jingga. "Ini istri saya. Jika suatu saat dia kemari bersama teman-temannya tolong layani sebaik mungkin."
Jingga mengangguk dengan senyuman, menyapa seluruh karyawan untuk mengurangi kegugupannya.
Semua karyawan mengangguk mengerti. Setelah itu mereka kembali bekerja sesuai tugas masing-masing.
"Ini restorannya Mas Banyu?" tanya Jingga sembari mengikuti Banyu, berjalan menuju suatu ruangan yang Jingga perkirakan ruangan pria itu.
"Bukan," jawab Banyu sekenanya.
Jingga memukul pelan lengan pria itu. "Nggak usah bohong." Gadis itu menatap Banyu galak.
Banyu tersenyum kemudian mengacak-acak rambut Jingga dengan gemas.
"Ini restoran ayah. Tapi aku yang ngelola."
"Eleh, nggak percaya." Jingga menatap sengit pada pria itu.
Banyu hanya terkekeh melihat istrinya. Ia membuka ruangan yang jarang sekali ia masuki. Banyu hanya akan mengunjungi restoran satu bulan sekali. Sisanya ia akan menetap pada kafe yang baru ia buka. Seperti kafe yang ada di dekat kampus Jingga.
"Sebenarnya destinasi makanan kamu itu ada berapa sih?."
__ADS_1
Banyu menoleh ke belakang, menatap istrinya yang tengah memasang wajah penasaran.
"Cuma dua, kafe sama restoran." Ia menyuruh Jingga untuk duduk.
"Dan cabang-cabangnya?" tebak Jingga membuat Banyu tertawa. Istrinya ini memang sangat pintar.
"Udahlah nggak usah ngitung berapa kafe sama restoran aku. Bingung kamu nanti." Banyu kembali tertawa sebelum menghubungi seseorang melalui telepon ruangan tersebut.
...
Matahari telah mencondong ke arah barat. Memanaskan isi bumi seperti biasa. Hilir mudik kendaran bukannya makin sepi tapi malah bertambah ramai. Berlomba untuk segera sampai pada tujuan wisata untuk memanjakan mata.
Enggan sekali Jingga keluar lagi disaat matahari belum meredup. Tapi apalah dayanya yang hanya bisa ikut tanpa membantah. Jingga kembali melingkarkan tangannya pada pinggang Banyu. Mereka telah berada di jalan bersama pengendara lain.
"Katanya tadi mau beliin aku es krim."
"Gimana mau pesen orang tadi aku langsung di ajak ke ruangan kamu. Abis itu kamu cuma fokus sama laporan-laporan, sampai lupa sama aku," sungut Jingga kesal. Sedari di restoran tadi ia memang sudah kesal dengan Banyu. Pasalnya setelah mereka masuk ke dalam ruangan Banyu, pria itu sama sekali tak memedulikan Jingga, seakan ia tidak ada.
Jingga mendengus kesal saat Banyu hanya bisa tersenyum lebar.
"Ya nanti aku beliin. Aku kira tadi nggak jadi es krimnya."
"Sekarang kita mau ke mana?" tanya Jingga. Ia begitu penasaran ke mana mereka akan pergi setelah ini.
"Nanti kamu juga tahu sendiri." Jawaban singkat Banyu benar-benar membuat Jingga semakin kesal. Tanpa rasa takut Jingga menjitak helm Banyu. Bukannya marah, Banyu malah semakin tertawa lebar. Kemudian Banyu mempercepat laju motornya.
Jingga melipat keningnya melihat sebuah bangunan yang tak terlalu besar dengan taman yang begitu luas.
__ADS_1
'Panti Asuhan Kasih Orang Tua'
Sebuah tulisan tersebut memperjelas Jingga sedang berada di mana ia sekarang.
Seorang wanita paruh baya menghampiri Jingga dan Banyu. Ia tersenyum begitu lembut dengan sejuta keanggunan kepada mereka. Seperti sudah mengenal begitu lama, wanita itu langsung memeluk Banyu tanpa permisi.
"Ibu senang kamu datang," ucap wanita itu sembari mengusap kepala Banyu dengan penuh sayang.
"Aku juga senang, akhirnya bisa berkunjung lagi kemari." Banyu mengurai pelukannya. Ia beralih menatap Jingga, menarik gadis itu untuk lebih dekat. "Bu, ini istriku. Namanya Jingga," ucap Banyu bangga.
Jingga tersenyum seraya mengangguk pada wanita itu. "Saya Jingga. Istrinya Mas Banyu."
Wanita itu membalas senyuman Jingga. "Saya Ana, kamu bisa memanggil saya ibu seperti yang lain."
"Iya, Bu."
Ana mengusap pipi Jingga dengan begitu lembut, kemudian menatap Banyu seraya berkata, "istrimu cantik, Nyu. Secantik Celin."
Jingga tersenyum hampa mendapat pujian seperti itu. Ia tahu, Celin lebih cantik darinya. Apalagi Celin seorang gadis dewasa dan mandiri, tentu menambah nilai plus dalam pandangan orang. Tapi entah kenapa, Jingga tetap merasa tidak suka. Ia bukan tipe orang yang peduli saat dibandingkan dengan orang lain dulu, tapi kenapa sekarang ia merasa tidak terima?.
"Istriku lebih cantik, Bu." Kata-kata Banyu kali ini bagaikan desiran angin untuk Jingga. Ia merasa begitu senang saat suaminya lebih memujinya.
"Tentu saja istrimu lebih cantik, karena dia lebih muda dari Celin."
"Bu, aku ingin bertemu dengan Icha." Banyu memotong pembicaraan Ana. Ia tidak suka membicarakan mantan kekasihnya di depan sang istri. Bukankah itu menyakitkan?.
"Ibu sampai lupa mengajak kalian masuk." Ana tertawa kecil. "Icha pasti sangat senang bertemu ayahnya." Setelah mengatakan itu, Ana berjalan terlebih dahulu. Meninggalkan banyak tanda tanya pada diri Jingga.
__ADS_1
Anak?