
Banyu menggenggam tangan istrinya dengan lembut. Ia menuntut langkah Jingga untuk menapak tanpa beban. Saat ini mereka sedang berjalan mengelilingi ruang bersalin. Tak terasa sembilan bulan telah berlalu dan hari ini Jingga dibawa ke rumah sakit, karena sudah mengalami tanda-tanda untuk melahirkan.
Sesekali Jingga mengusap perutnya sendiri, kala kontraksi itu datang. Namun, Jingga berusaha untuk tenang, karena sejak tadi Banyu terlihat begitu khawatir. Jingga bahkan bisa merasakan hawa dingin dari telapak tangan suaminya.
"Tangan kamu dingin, Mas," ucap Jingga sambil terkekeh. Dalam kondisi seperti ini pun Jingga masih bisa menggoda suaminya.
Banyu hanya berdecak menanggapi ucapan sang istri. Tak lama kemudian, wanita itu terlihat meringis kembali.
"Sakit banget, ya?" tanya Banyu dengan dahi mengernyit.
Jingga terkekeh kecil. "Ih, kok kamu pucet sih," kelakar Jingga.
Mengembuskan napas panjang. Banyu rasanya ingin mencubit Jingga, karena masih sempat-sempatnya menggoda dirinya.
"Aku tuh, khawatir sama kamu, Sayang ... tuh kan, kontraksi lagi," balas Banyu seraya membantu istrinya mengusap perut buncit itu.
Jingga mengerjapkan matanya, saat dengan tiba-tiba Banyu berjongkok di depannya. Pria itu mencium perut Jingga, lalu berkata, "Adek, ayo keluar. Kamu nggak pengen ketemu ayah yang ganteng dan mama yang imut ini? Ayo keluar, ya. Kasian mama dari tadi kesakitan." Setelah mengatakan itu, Banyu kembali mengecupi perutnya beberapa kali sebelum berdiri. Mata Jingga berkaca-kaca saat dirinya merasakan bibir lembut itu menempel pada keningnya.
"Baring lagi aja, ya," tawar Banyu pada istrinya. Mereka pun berjalan kembali ke arah ranjang setelah Jingga mengangguk.
"Semoga setelah ini adek bisa keluar dengan selamat," ucap Banyu sembari mencium perut Jingga kembali.
Kedua sudut bibir Jingga terangkat. Setitik kristal hampir saja keluar dari sarangnya, mendengar apa yang Banyu katakan. Ia sangat bersyukur memiliki suami yang begitu pengertian. Jingga sangat bersyukur, memiliki suami yang siaga saat apa saja.
Dua jam yang lalu, sebenarnya Banyu tidak berada di rumah. Pria itu sedang mengunjungi temannya yang baru saja kecelakaan bersama Deva.
Sedangkan Jingga berada di rumah sendiri. Ia sudah mengambil cuti kuliah satu minggu yang lalu. Sehingga, Jingga memiliki banyak waktu di rumah.
Saat Banyu mengatakan akan ke rumah temannya, sebenarnya Jingga sudah merasakan kontraksi kecil. Namun, ia diam saja. Lagi pula kontraksi itu hanya kontraksi palsu saja baginya. Jika Banyu tahu, pasti pria itu akan sangat panik, sehingga bisa saja membuatnya ikut panik.
Namun, dua puluh menit setelah Banyu keluar dari pekarangan rumah, Jingga merasakan kontraksi yang cukup hebat. Sehingga, ia memutuskan untuk menghubungi Banyu dan memintanya pulang.
Tak butuh waktu lama, Jingga kembali mendengar deru motor Banyu. Dari dalam rumah terdengar jelas, suara tapak kaki Banyu berbenturan dengan lantai.
Karena sudah cukup panik, akhirnya Banyu menawari Jingga untuk ke rumah sakit saja. Jika berada di sana, Banyu bisa merasa tenang. Mungkin.
Dan saat ini, Banyu tengah membisikkan kata-kata untuk menyemangati istrinya, yang sedang berjuang untuk membawa anak mereka ke dunia.
"Kamu wanita hebat, Sayang. Ayo, aku tahu kamu bisa. Kita akan bertemu, Caca ataupun Langit."
"Aku mencintaimu, Jingga"
Satu kalimat terakhir itu, membuat semangat Jingga membara. Sehingga ia dengan sekuat tenaga mengejan, hingga suara tangis bayi terdengar.
Banyu menitikan air mata melihat seorang bayi mungil dibawa oleh sang suster untuk dibersihkan. Banyu menciumi wajah Jingga bertubi-tubi. Ia begitu bahagia melihat anaknya. Akhirnya ia benar-benar menjadi seorang ayah, dan itu merupakan perjuangan dari Jingga, istrinya.
***
Jingga mendekap tubuh mungil anaknya sembari memberikan ASI, saat tiba-tiba pintu ruangannya terbuka.
Banyu sontak melotot melihat siapa yang datang. Ia pun segera mendorong orang itu pergi setelah menyuruh salah satunya untuk masuk.
__ADS_1
"Jangan masuk sebelum gue nyuruh lo masuk!" peringat Banyu pada Kevin.
Pria yang tak tahu apa-apa itu hanya mengerjap bingung. Lantas menuruti perintah Banyu untuk menunggu di luar, sedangkan Keyra masuk ke dalam ruangan tersebut.
Jingga dan Keyra hanya terkekeh melihat kelakuan Banyu. Keyra jelas tahu, Kevin tidak boleh ke sana, karena si bayi kecil tengah mengonsumsi sarapannya.
"Hai, baby," sapa Keyra. Ia menoel pipi bayi tersebut, yang baru saja melepaskan sumber asupannya.
Keyra menatap gemas pada bayi itu. Bayi yang lahir tiga jam yang lalu itu, terlihat masih memejamkan mata. Dia tampak menggeliat, meskipun tertahan dengan kain bedongan yang membalutnya.
"Hai, Ante Key" Jingga menjawab dengan suara dibuat seperti anak-anak.
"Gimana kondisi lo, Ji?" tanya Keyra tanpa mengalihkan pandangan dari bayi itu.
"Baik, baik banget malah setelah gue lihat dia," jawab Jingga tanpa bisa menyembunyikan binar matanya.
"Pasti sakit, ya, prosesnya?" Raut wajah Keyra terlihat sedikit lesu. Sepertinya gadis itu sangat khawatir dengan Jingga, bahkan gurat khawatirnya masih begitu kentara.
"Ya, pasti sakitlah, Key. Tapi, nggak bakal sakit kalau lo udah lihat hasilnya. Seperti ini contohnya," balas Jingga seraya sedikit menggoyangkan anaknya.
Keyra ikut tersenyum melihat binar bahagia sahabatnya. Sejak mendengar kabar Jingga akan melahirkan ia merasa begitu takut. Entahlah, mungkin memang rasa persahabatan mereka yang begitu lekat, hingga Keyra juga bisa merasakan apa yang sahabatnya rasakan.
"Oh, iya. Udah lo kasih nama, Ji?"
Jingga mengangguk antusias. Membuat Keyra cukup penasaran dan bertanya siapa nama anaknya.
Dan Jingga pun menjawab, "Namanya Cahaya Bulan."
Jingga menggeleng. "Caca, dong, Ante" jawab Jingga.
Mereka berdua masih lanjut mengobrol. Dan Kevin sudah diperbolehkan Banyu untuk masuk dan menyapa istrinya.
Semua keluarga Jingga dan Banyu sudah berkumpul di sana sejak proses persalinan Jingga. Mereka senantiasa berdoa untuk kelancaran proses persalinan tersebut. Dan ternyata Tuhan mengabulkan doa mereka. Jingga berhasil melahirkan seorang gadis kecil dengan berat badan 3,4 kilogram dan tinggi badanya 55 sentimeter.
Ungkapan syukur tentu tak bisa mereka lewatkan. Bahkan tanpa ragu, Banyu segera menelepon seseorang yang ia beri kepercayaan pada restoran dan kafenya untuk menggratiskan seluruh makanan yang ada di sana. Tak jauh berbeda, Ayah Liyas juga memberikan bonus bulanan pada seluruh karyawannya atas kelahiran cucu ke-tiganya.
Hari begitu cepat berlalu. Sudah tiga hari Jingga dan bayinya berada di rumah sakit, dan hari ini ia sudah diperbolehkan pulang.
Jingga menggamit lengan suaminya. Berjalan di belakang sang ibu yang tengah membawa putri pertamanya. Mereka memasuki rumah Banyu dengan binar bahagia.
Jingga tertegun melihat satu banner besar dengan tulisan, "Welcome Home Jingga and Baby Caca" di tengah ruang keluarganya.
Di sana sudah ada Kikan bersama Deva dan baby Rasya yang kini sudah mulai belajar berjalan. Tak luput juga kakaknya, Iren dan juga sahabatnya, Keyra bersama Kevin dan seluruh keluarga Banyu.
Mereka terlihat antusias menyambut kepulangan Jingga hari ini. Membuat Jingga benar-benar terharu.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang saat mereka selesai berbincang-bincang. Baby Caca juga sudah kembali ke alam bawah sadarnya, padahal gadis kecil itu juga baru bangun setengah jam yang lalu.
Mereka melanjutkan mengobrol di atas meja makan, setelah Mbak Nia dan kedua anaknya selesai menyajikan masakan mereka.
Acara masih akan berlanjut untuk syukuran kelahiran putri pertama Banyu dan Jingga. Besok malam, mereka akan mengundang seluruh tetangga rumah mereka, yang tentu saja sangat berjasa bagi Banyu dan Jingga sendiri.
__ADS_1
***
Malam belum begitu larut, saat Jingga menggendong baby Caca ke balkon. Bayi kecil berusia dua bulan itu membuka matanya cukup lebar di sana. Dengan telaten, Jingga menimang-nimang putri sulungnya. Ia menggoyangkan tubuh bocah itu ke kiri dan kanan sambil menyanyikan lagu Nina Bobo.
"Masih belum tidur?" tanya Banyu dari ambang pintu.
"Belum, nyari ayahnya kayaknya," gurau Jingga seraya menghadapkan dirinya pada sang suami.
Banyu berjalan mendekat, kemudian meraih tubuh mungil itu ke dalam rengkuhannya. Rasa rindu pada sang putri membuatnya tak ingin melepaskan tubuh kecil itu.
Sejak pagi Banyu disibukkan dengan pembukaan restoran barunya. Sebagai kepala rumah tangga. Banyu tentu ingin seluruh keluarganya berkecukupan. Sehingga ia kembali membuka restoran di suatu tempat yang cukup jauh dari rumahnya. Meskipun lokasinya masih menyewa.
"Eh, jadi kamu beneran nungguin ayah? Jingga mencubit pipi putrinya dengan gemas. Saat ini, bocah kecil itu sudah memejamkan mata.
"Sepertinya dia memang merindukan aku," kelakar Banyu. Tak ayal juga membuat Jingga terkekeh.
"Aku juga rindu sama kamu," goda Jingga. Matanya mengerling sebelah.
Di bawah rembulan, kedua orang dewasa itu saling melemparkan senyum manis. Tatapan mereka kini sama-sama tertuju pada bayi perempuan mungil yang berada di dekapan Banyu.
Ada banyak harapan yang mereka berikan pada gadis kecil itu. Banyak rasa syukur juga yang mereka panjatkan atas kehadiran si Ratu Mungil yang akan menjadi kebanggaan mereka, suatu saat nanti.
Banyu mengangsurkan tangannya pada bahu istrinya. Ia membawa wanita itu untuk lebih dekat dengannya.
Perasaan Jingga terasa menghangat, saat satu kecupan Banyu berhasil mendarat di atas keningnya.
Masih dengan mendekap si kecil. Banyu membelai pipi Jingga. Sedangkan wanita itu memegang pinggangnya.
"Terima kasih, telah hadir dalam hidupku dan memberiku warna yang begitu indah. Dan terima kasih, sudah mau menjadi milikku" ucap Banyu. Netranya menatap dalam netra sang istri.
Sudut bibir Jingga naik beberapa senti. Ia balas menatap mata suaminya dengan lembut.
"Terima kasih juga, telah memberiku cinta yang begitu besar dan memberi hidupku sebuah warna yang tak pernah aku impikan."
"I love you Mas Banyu Biru suamiku"
"I love you Jingga Senja istriku"
TAMAT
***
Terima kasih untuk kalian semua yang sudah mendampingi perjalanan Banyu dan Jingga. Semoga dari cerita ini, ada sedikit yang bisa kita ambil hikmahnya.
Maaf jika banyak kesalahan yang sengaja ataupun tidak sengaja dilakukan. Apalagi masalah update yang selalu molorš
Sekali lagi, terima kasih untuk kalian yang sudah mendukung cerita ini dari awal. Tanpa kalian aku nggak akan semangat nulisā¤
Sampai ketemu lagi, ya. Bye Bye.
Salam hangat dari An Nisaā¤
__ADS_1