You Are Mine

You Are Mine
Season 2 : Bab 14


__ADS_3

“Ayo Cakra semangat!”


Riuh suara para gadis-gadis kelas dua belas IPA 1 memenuhi lapangan basket SMA Bintang Unggulan. Mereka melompat-lompat menyemangati sang idola baru kelas mereka.


“Cakra! Cakra! Cakra!”


“Yeee”


Teriakan mereka semakin menggema kala sang bintang berhasil memasukkan bola ke dalam ring basket. Dan suara mereka semakin riuh saat Ata melemparkan senyum mautnya kepada para gadis itu.


“Ayo, Ran ikut semangatin Cakra,” ujar Wina yang sejak tadi melihat teman dekatnya diam saja.


“Udah banyak yang semangatin, kok. Nggak perlu aku juga,” jawab gadis itu malas. Ia menopangkan dagu pada tangannya. Menatap lurus ke depan, menikmati permainan basket para teman laki-laki sekelasnya.


“Aduh, Ran. Lo itu jangan gitu, dong. Ayo semangat!” Wina tampak menggebu membujuk Rania yang tampaknya tengah berada dalam suasana hati yang buruk.


“Males,” jawab gadis itu lagi. Suaranya terdengar sangat lirih beradu dengan teriakan para teman wanitanya.


Wina mencebik, temannya satu ini memang paling sulit untuk diajak mencari perhatian teman lelakinya. Padahal dalam sekali lirik saja, siapa pun pasti akan tertarik dengan Rania.

__ADS_1


Meskipun Rania tidak pernah menggunakan make up tebal, gadis itu tetap terlihat cantik natural. Gayanya yang sangat sederhana memiliki pesona tersendiri bagi kaum adam yang sebenarnya banyak mengincar gadis itu. Hanya saja Rania terlalu cuek dan tidak peduli.


Terlalu jenuh melihat bola yang sejak tadi dipantulkan kemudian dilempar. Rania pun beranjak dari tempat duduknya hendak pergi ke kamar mandi. Namun, sebelum itu Rania mencari Wina dan berpamitan, karena ia tahu Wina akan marah jika ia meninggalkan gadis itu sendiri.


Rania mendekati Wina, setelah berpamitan, gadis itu berjalan keluar dari lapangan. Namun, belum sampai pintu, Rania merasakan sesuatu menghantam kepalanya kemudian semua berubah gelap.


**


Rania mengerjapkan matanya perlahan. Rasa sakit pada kepalanya membuat gadis itu kembali memejam. Tangannya memijat pelipis, berharap rasa pusing itu menghilang.


Belum sadar di mana ia berada sekarang. Rania masih setia memejamkan mata, hingga suara seseorang membuatnya terenyak.


Pertanyaan itu terdengar jelas di samping telinga Rania. Kepala gadis itu pun menoleh dan semakin terkejut saat Ata berada di sana.


“Sekarang lo ada di UKS. Tadi gue nggak sengaja lempar bola dan kena kepala lo sampai pingsan,” jelas Ata saat merasa gadis itu kebingungan.


Menarik kursi yang tak jauh darinya. Ata duduk di samping ranjang Rania sembari menopang kepalanya dengan kedua tangan.


“Masih sakit, ya? Sorry.”

__ADS_1


Ata merasa bersalah telah membuat Rania pingsan, sehingga ia dengan suka rela menunggu gadis itu siuman.


Rania tak mampu untuk membalas setiap kalimat Ata. Kepalanya masih terasa sangat pusing dan ia butuh istirahat kembali.


“Gue bakal nunggu lo di sini sampai lo bener-bener merasa baikan.”


Netra Rania kembali membuka mendengar kalimat itu. Ia pun berusaha untuk duduk, tetapi kepalanya kembali terasa sakit.


“Lo butuh apa? Gue ambilin. Lo haus?”


Belum juga Rania menjawab, Ata sudah berjalan mengambil air mineral yang tadi sempat ia beli dan belum ia buka sama sekali.


Ata membantu Rania untuk duduk dan memberikan botol air yang telah ia buka pada gadis itu. Saat Rania menerimanya, Ata kembali duduk kemudian memandangi gadis itu.


“Kamu balik ke kelas aja, Cakra. Aku nggak papa di sini sendiri,” ucap Rania setelah menutup dan mengembalikan botol air mineral pada pemiliknya.


Netra Ata menyipit, kemudian bertanya, “Kenapa? Lo nggak nyaman ada gue?”


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen❤


__ADS_2