
"Tidak akan! Ibu ku tidak boleh menikah lagi!" Seru seorang anak kecil dengan nada marah. Ia menginjakkan kakinya dan masuk ke dalam ruangan yang begitu banyak orang di sana.
Akeno seketika langsung bangkit, matanya memerah karena ada pengacau yang berusaha menggagalkan acara pencocokan pernikahannya. Begitu juga dengan Aira yang tidak mengerti dengan perkataan anak kecil yang tiba-tiba masuk tanpa izin.
"Ku perintahkan jangan mengacau!" bentak Akeno dengan penuh kemarahan. Ia langsung berlari pada Kabir yang masih berdiri di kejauhan sana.
"Aku ke sini ingin membawa ibu ku! Kau sudah menculik nya dan berani mengklaim jika ibu ku adalah calon istri mu! Cih! Murahan!" Ledek Kabir menghina Akeno. Pria itu menggertakkan giginya dengan wajah yang merah padam.
"Berhenti!" teriak Akeno, Kabir menghentikan langkahnya kembali, lalu menoleh pada Akeno yang sedang menahan amarahnya.
"Jika kau masih sayang dengan nyawa mu! Lebih baik berhenti sampai di sini dan jangan mengacaukan semua yang telah ku susun!" Ancam Akeno. Aira mengerutkan keningnya, melihat Akeno yang begitu marah, ia berpikir ada sesuatu yang di sembunyikan oleh orang-orang yang ada di sini.
__ADS_1
"Kau pikir aku takut dengan mu?" tanya Kabir mencemooh, Kabir bahkan berdecih. Akeno mengangkat dagunya, juga dengan Kabir yang tinggi badannya hanya sebahu Akeno.
"Kau seharusnya jangan membantah!" desis Akeno. Ia mengeluarkan kekuatan di telapak tangannya seolah mengancamnya dengan kekuatan yang di miliki itu.
Tidak di duga, Akeno menyerangnya setelah beberapa detik menunjukkan cahaya berwana ungu padanya dan menembakkannya, namun syukurlah Kabir berhasil menghindar dari serangan Akeno yang bisa membahayakan nyawanya.
"Bukan hanya pengecut, tapi kau juga bermain dari belakang!" Ledek Kabir tertawa sinis. Akeno tentu saja tersulut, ia kembali menyerang Kabir dengan tangan kosong, pria itu begitu berani bertarung dengan anak kecil di depan semua orang yang ada di ruangan itu.
Akeno maju ke depan tak seimbang, Kagira yang melihat putranya di lukai, langsung saja bangun dari duduknya dan ingin menghampirinya, namun sebuah tangan mencekal pergelangan tangannya dengan kuat oleh Aira sehingga tidak ia bisa melangkah lebih maju.
"Lepaskan aku!" desis Kagira menatap tajam. Aira tidak bereaksi, ia kemudian menatap mereka yang kini bertarung tanpa menggunakan kekuatan spiritualnya.
__ADS_1
Akeno berbalik, ia juga bisa ilmu bela diri, dengan ketangkasannya pria itu berlari dan menggunakan teleportasi, Kabir langsung limbung saat tendangan dari belakang berhasil mengenai tulang rusuk punggungnya.
Kabir bangkit dengan menahan rasa sakit, Akeno tidak diam, ia menyerang beberapa kali membuat lawannya lemah, berusaha melawan, namun tetap saja tubuh Kabir tidak bisa menahannya, hingga akhirnya ia limbung kembali.
Akeno melihat kain itu dengan intens, terlihat seperti kantong, Kabir yang merasa buah penangkal itu tidak ada di sakunya langsung cemas.
Melihat ke arah kantong itu terjatuh, bersamaan dengan Akeno, segera bangkit untuk mengambil namun tidak di sangka Akeno menggunakan kekuatannya hingga ia tersungkur, satu teguk darah keluar dari mulutnya, Kabir menekan dadanya yang sakit akibat serangan yang terus di layangkan padanya.
Aira yang melihat betapa kejamnya Akeno seakan tidak terima anak kecil di perlakuan seperti itu. Namun dirinya pun tidak bisa apa-apa, hanya diam menonton saja.
Akeno mengambil kantong itu, mengecek isi yang ada di dalamnya. Satu buah penangkal terlihat, ia mengendusnya seolah ingin tahu buah apa itu.
__ADS_1
"Panggil tabib dan dokter kemari!" Titah Akeno. Para penjaga langsung beriringan keluar untuk memanggil sang tabib juga dokter yang bisa mengetahui buah yang membuatnya penasaran.