
Hari masih sedikit gelap saat Jingga membuka matanya. Ia tersenyum mendapati wajah sang suami berada tepat di depan wajahnya. Jingga mengusap pipi pria yang masih terlelap dengan damai itu, kemudian beralih pada alisnya. Mengagumi ketampanan yang dimiliki oleh suaminya.
"Ganteng banget, sih" gumam Jingga lirih.
Ia terkekeh sendiri mengingat kejadian semalam. Bagaimana ia mengungkapkan segala isi hatinya pada Banyu. Dan berakhir dengan mengikat janji untuk saling percaya.
Banyu mengizinkan Jingga untuk dekat dengan siapapun, asalkan tetap menjaga batasan. Begitupun dengan Jingga, ia mengizinkan Banyu tetap dekat dengan wanita lain asalkan tetap menjaga batasan. Dari situ mereka akan menguji perasaan mereka masing-masing. Apakah hati mereka untuk pasangan mereka, atau malah berubah untuk orang lain.
Tak tahan melihat ketampanan suaminya, Jingga dengan berani mengecup pipi Banyu. Kemudian mengecup bibirnya untuk pertama kali. Sedikit lama Jingga melakukannya dan saat ia hendak menjauhkan wajahnya, ia gagal karena Banyu menahan tengkuknya, dan memperdalam ciuman mereka. Jingga sempat terkejut, namun ia tetap menikmatinya. Bahkan ia mulai memejamkan mata dan membalas ciuman Banyu untuk pertama kalinya.
Banyu tersenyum samar ditengah ciumannya. Sebenarnya ia sudah bangun sejak Jingga mengusap wajahnya. Ia hanya ingin melihat apa yang ingin Jingga lakukan padanya. Dan tanpa ia duka gadis cantik yang ia sebut sebagai istri menciumnya. Meskipun hanya sekedar kecupan di pipi, rasanya membuat raga Banyu menghilang. Ia sangat bahagia. Dan saat ia kembali merasakan sebuah kecupan di bibir, Banyu tak menyia-nyiakan kesempatan untuk memperdalam ciuman mereka.
Napas keduanya terengah. Mereka sama-sama membutuhkan oksigen kembali, hingga dengan rasa tidak rela saling melepaskan pagutan mereka.
Jingga tersenyum malu saat Banyu memandangnya dengan intens. Ia menyusupkan wajahnya pada dada Banyu. Menerbitkan kekehan geli dari pria itu.
"Kenapa sih?" tanya Banyu, ia sedikit mendorong bahu gadis itu untuk melihat wajahnya. Tapi Jingga malah mengeratkan pelukannya.
"Kamu malu?" tanya Banyu lagi sedikit menggoda. Ia merasakan istrinya mengangguk malu dalam dekapannya. Banyu ikut memeluk punggung istrinya. Saling menghangatkan dalam dinginnya pagi hari.
Beberapa menit berlalu. Banyu memandangi istrinya yang hanya diam tanpa melepaskan pelukannya. Ia merasakan napas gadis itu begitu teratur menerpa dada bidangnya. Banyu melonggarkan pelukannya, dan mendapati Jingga tertidur kembali. Suami Jingga tertawa gemas melihat tingkah istrinya. Gadis itu memang tidak pernah bangun sepagi ini, jadi Banyu tidak terkejut jikalau istrinya masih mengantuk.
***
Sinar matahari menyusup ke dalam kamar Jingga. Gadis itu menggeliat, menutup matanya dengan tangan untuk menghalau sinar matahari. Tapi sayangnya hawa panas yang meraba kulitnya membuat Jingga terpaksa membuka matanya meskipun sangat berat.
__ADS_1
Jingga melirik jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Sudah satu jam ia tertidur kembali setelah kejadian tadi.
Muka Jingga berubah merah, mengingat bagaimana ia menikmati setiap cecapan suaminya pada bibirnya. Ia menyentuh bibirnya sendiri. Tersenyum geli, kemudian menutup wajahnya karena malu sendiri.
Tak mendapati sang suami berada di kamar, Jingga yakin pria itu tengah memasak seperti biasa. Ia pun bergegas mencuci muka kemudian berlalu ke dapur untuk membantu suaminya.
"Sudah bangun?" Banyu menoleh saat mendengar suara langkah kaki yang begitu ia kenal.
Jingga mengangguk. Ia menyandarkan punggungnya pada meja bar. Memandangi pria idaman para wanita yang tak lain adalah suaminya.
"Mau dibantu apa?" tanya Jingga sambil mendekat ke arah Banyu.
Banyu tersenyum memandang ke arah sang istri. "Nggak perlu, ini udah mau mateng kok. Kamu duduk aja nggak papa... Oh atau kamu siapkan saja piring dan buatkan aku kopi. Bagaimana?"
"Siap bos." Jingga berlalu. Ia mengambil piring dan meletakkannya di atas meja makan mereka. Kemudian membuat secangkir kopi dengan sedikit gula kesukaan suaminya.
Mereka berdua menikmati sarapan dengan tenang seperti biasa. Setelah selesai, Jingga beranjak membawa piring-piring kotor dan lainnya untuk dicuci. Sejak awal menikah mereka memang sepakat untuk membagi tugas. Banyu memasak dan Jingga bersih-bersih.
Selagi istrinya mencuci piring, Banyu masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri.
Sebenarnya ada sedikit rasa bersalah dihati Jingga karena tidak bisa memasak untuk suaminya. Tapi ia punya tekat untuk belajar. Dengan atau tanpa siapapun.
Setelah beres semua pekerjaannya, Jingga bergegas membersihkan diri dan bersiap pergi ke kampus bersama suaminya.
***
__ADS_1
Hari berganti. Siang ini Jingga dan kedua sahabatnya duduk di kantin kampus menikmati makan siang.
Riana telah pulang dari rumah sakit dua hari setelah dibesuk oleh Jingga dan Keyra. Sudah dua hari juga gadis sedikit pecicilan itu mengikuti kegiatan kampus seperti biasa.
"Hai, gue boleh gabung?" Suara seorang pria yang begitu mereka kenali menginterupsi kegiatan mereka.
"Mau ngapain lo? Kursi masih banyak tuh, mata lo nggak liat?" sungut Riana kesal. Sejak kejadian di restoran beberapa waktu yang lalu, ia sangat membenci Kevin. Tapi Riana juga tidak tahu, bahwa Jingga dan Kevin sudah berdamai dan memutuskan untuk berteman.
Kevin menanggapi ucapan Riana dengan senyuman. Ia tahu pasti Riana sangat tidak menyukainya setelah tahu yang sebenarnya.
"Udah, Ri. Nggak papa, gue sama dia udah damai kok," ucap Jingga dengan seulas senyum kecilnya.
"Duduk, Kev!" Jingga mempersilahkan Kevin untuk duduk. Pria itu dengan senang hati mengangguk dan duduk di samping Keyra, berhadapan langsung dengan Riana. Karena hanya itu yang kosong.
Mereka makan dengan tenang. Sebenarnya Kevin merasa tidak nyaman duduk di depan Riana. Mata gadis itu sangat mengintimidasi. Sosok yang sangat ceria itu berubah seperti anjing penjaga disaat-saat tertentu, seperti saat ini.
Kevin menyenggol kaki Keyra. Membuat gadis itu meliriknya sekilas. Kevin menunjuk ponsel dengan sudut matanya. Ia berharap Keyra paham dan segera membuka ponselnya. Dan ia sangat bersyukur karena Keyra paham akan maksudnya.
Keyra melihat ada satu pesan masuk dari Kevin. Ia melirik sekilas sahabat kecilnya itu. Kemudian membuka pesan yang Kevin kirimkan.
Nanti jalan yuk. Gue traktir
Pesan dari Kevin diam-diam membuat jantung Keyra berdegup kencang. Antara takut ketahuan dan juga senang.
Keyra takut kedua sahabatnya tahu ia berteman dekat dengan Kevin. Tapi ajakan Kevin begitu sayang untuk dilewatkan. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu berdua seperti dulu. Keyra sangat merindukan momen di mana Kevin memberinya perhatian lebih seperti kakaknya sendiri.
__ADS_1
Dengan mengalahkan setiap rasa yang berkecamuk dalam hati, Keyra mengiyakan ajakan Kevin tanpa suara.
Jangan lupa like dan komen