You Are Mine

You Are Mine
Di Kota Phylix 143


__ADS_3

"Arrghh!" suara teriakan itu tak dapat di tahan lagi, pria itu merasakan kantuknya, matanya hampir terpejam jika Kabir tidak menggubrisnya.


"Apa ada buah penahan rasa sakit?" tanya Kabir.


"Ada, keranjang itu, ada di sana, buah jamur hitam, di dalamnya ada biji yang berwarna merah, itu adalah obat penahan rasa sakit saat seperti ini." jawabnya dengan menunjuk ke arah keranjang itu.


Kabir berdiri kembali dan mengambilnya, ia duduk dan mengupas jamurnya.


"Tuan, biarkan saya makan jamurnya langsung." Ujar pria itu dengan tangannya yang meminta.


Kabir menatap perut itu, ia akhirya tahu jika dia sedang kelaparan. Dengan cepat mengupasnya dan memberikan biji berwarna merah yang di maksudkan tadi.


"Aku akan mengambil buah apel, sepertinya itu lebih bagus dari pada jamur ini, dan juga jamur itu memiliki racun." Ujar Kabir.


Anak kecil itu berdiri dan mengambil buah apel dan pisang yang ada di dekat sana Setelah memasukkan beberapa buah lagi, Kabir kembali pada pria yang masih duduk dengan memejamkan matanya.


"Paman, Kamu makan lah buah ini. Setidaknya bisa mengurangi rasa lapar kita." Kata Kabir dengan memberikan buahnya.

__ADS_1


"Paman, siapa nama mu?" tanya Kabir. Pria itu tertawa kecil. "Akhirnya setelah sekian lama Anda menanyakan nama saya juga." ujarnya dengan masih tertawa.


"Nama ku Tantai, sedang mencari obat-obatan di hutan ini, namun siapa sangka jika saya melupakan token untuk masuk ke dalam hutan ini. Dan saya di serang oleh beberapa hewan buas." Ujar Tantai dengan menghirup udara beberapa kali.


Kabir terdiam beberapa saat, "Di mana rumah mu, paman?" tanya Kabir.


"Di kota Phylix, tempat kami adalah tempat di mana bisa menyembuhkan orang yang sakit, namun sesuai kehendak yang maha kuasa." Jawab Tantai dengan menatap ke arah langit.


"Di sana ada teman ku, mereka juga ikut dengan ku untuk pergi ke kota Phylix. Aku tidak bisa meninggalkan mereka terlalu lama." Ujar Kabir sedikit menunduk berpikir.


Ia kemudian melanjutkan ucapannya "Jika mau kita pergi bersama-sama, dalam kondisi parah ini, seharusnya kau tidak boleh sendirian."


Kabir membantu Tantai untuk berdiri, lukanya sudah di balut oleh kain berwarna putih. Dengan penuh kehati-hatian, mereka berjalan santai saja.


"Tuan Lucas, jika saya menjadi beban Anda, kalian boleh membuang saya di sini." Ujar Tantai dengan menunduk sedih. Kabir berdecak kecil, "Itu tidak akan terjadi!" sergah Kabir.


Mereka menelusuri hutan itu, setelah beberapa menit akhirnya sudah sampai di tempat tadi, tidak dapat di duga, sudah ada tenda untuk mereka tidur di sana.

__ADS_1


"Kalian yang memasangnya?" tanya Kabir. Mereka berdua mengangguk.


"Lucas, siapa pria itu?" tanya Qivian menunjuk pada pria itu.


"Tuan Tantai, dia adalah orang yang di bawah naungan Fengyuzen ini." jawab Kabir.


"Sepertinya dia sedang terluka, begitu banyak darah di kakinya." Sahut Shi Yi melirik ke arah kaki Tantai.


"Lucas, apa kau yakin mau membawa pria ini?" tanya Qivian. Shi Yi menepuk pelan pundak kakaknya karena berani bertanya seperti itu di depan orangnya langsung.


"Tentu saja, lagi pula setiap orang yang butuh bantuan kita wajib membantunya." Jawab Kabir dengan santainya. Ia membantu Tantai duduk di dalam tenda agar bisa tidur sebentar.


"Ini sudah hampir malam, sebaiknya kita istirahat dan mulai perjalanan besok pagi." Ujar Kabir pada teman-temannya.


"Lucas, apa kota Phylix itu sangat indah? Aku sudah tidak sabar ingin memfoto semuanya." Kata Shi Yi. Anak kecil satu ini memang suka dengan alam dan kota kota indah, tidak pernah sekali pun melewatkan kesempatan untuk berfoto.


"Tuan kecil, di kota Phylix bukan hanya indah, namun juga sangat nyaman, jika sudah berada di sana, sudah pasti tidak akan pernah mau lagi untuk pergi dari sana." Sahut Tantai dengan senang, mendengar tempat tinggalnya di sebut, ia menjadi bersemangat untuk bercerita.

__ADS_1


Shi Yi kemudian mendekat dan duduk di tanah yang beralaskan tikar yang mereka bawa dari rumah.


"Paman, bisa kau ceritakan bagaimana indahnya tempat itu?" tanya Shi Yi begitu semangat. Tantai tertawa kecil, ia kemudian menjawab.


__ADS_2