
Hari ini ulang tahun Sheila. Putri pertama Rega, kakak kandung Banyu.
Jingga dan Banyu tentu turut hadir dalam acara pesta ulang tahun bocah itu.
Ini pertama kalinya Jingga mengikuti acara keluarga suaminya. Tapi, pria itu malah mendiamkannya. Tak menghiraukannya sama sekali. Membuat Jingga bingung sendiri dengan sikap tak biasa suaminya.
Pria itu hanya asik bermain bersama anak-anak panti yang memang diundang pada acara hari ini. Ia menyibukkan diri dengan mereka, tanpa mengajak Jingga seperti biasanya.
Hari mulai gelap. Pesta ulang tahun Sheila sudah berakhir beberapa menit yang lalu. Beberapa tamu undangan yang tak lain teman-teman gadis kecil itu juga telah pulang bersama orang tua mereka.
Ana sebagai pengasuh panti pun turut berpamitan kepada keluarga besar ayah Liyas. Ia mengucapkan terima kasih telah diundang dan menjamu mereka dengan begitu baik. Ana hendak mengambil alih Icha dari gendongan Jingga. Tapi, Icha memberontak tak ingin pulang ke panti. Ia ingin bersama mamanya lebih lama lagi.
"Icha biar nginep sama kita ya, Mas?" izin Jingga pada Banyu yang sejak tadi diam.
"Icha sayang." Banyu mengambil Icha dari Jingga. "Ayah janji, kapan-kapan ayah akan ngajak Icha main ke mall, dan nginep di rumah ayah. Tapi hari ini pulang dulu, ya, sama Ibu." Banyu berusaha membujuk gadis kecil itu. Bukan maksud Banyu ingin membuat Icha sedih. Hanya saja suasana hatinya sedang kurang bagus. Ia takut membuat Icha kecewa karena tidak terlalu ia perhatikan.
"Mas?" Jingga menatap Banyu penuh tanya. Tapi pria itu malah mengalihkan pandangan, dan membawa Icha pada Ana. Membuat Jingga merasa kecewa. Banyu tak pernah bersikap seperti ini. Ada apa dengan suaminya ini?. Jingga hanya bisa bertanya dalam hatinya sendiri.
Setelah berhasil membujuk Icha. Banyu pamit untuk masuk ke dalam rumah terlebih dulu. Semua orang dibuat bingung dengan sikap Banyu yang terkesan sangat aneh.
"Suami kamu kenapa, sayang?" tanya bunda Ika pada menantunya.
Jingga menggeleng. "Aku juga nggak tahu, Bun. Dari tadi dia diam aja kayak gitu. Aku juga bingung."
Bunda Ika menghela napas. "Ya sudah, kamu samperin gih. Tanyain kenapa. Barangkali dia ada masalah."
Gadis itu mengangguk. Kemudian menuruti perintah mertuanya untuk mengikuti Banyu yang sudah masuk ke dalam kamar.
"Anak kamu kenapa sih, Yah."
__ADS_1
"Eleh, paling juga cemburu Jingga dekat sama teman kampusnya."
...
Jingga menatap suaminya yang tengah berada di balkon. Pria itu membelakanginya, jadi Jingga tak tahu apa yang sedang pria itu lakukan.
Mata Jingga semakin menatap intens ke arah balkon. Ia melihat kepulan asap terbang di depan muka suaminya.
Merokok?
Dengan langkah pasti Jingga menghampiri suaminya. Ia terkesiap melihat pria itu dengan lihai menghisap dan mengembuskan asap rokok dari mulutnya.
"Kamu merokok, Mas?"
Banyu hanya menoleh. Tak ada sama sekali niat untuk menjawab pertanyaan istrinya.
Jingga benar-benar kesal diabaikan seperti ini. "Mas! Kamu tuh kenapa sih dari tadi diem mulu?" Jingga sudah tidak tahan lagi untuk tidak bertanya.
"Aku buatin kopi ya?" tawar Jingga mencoba mencairkan suasana.
"Nggak perlu."
Jingga menyerah. Tanpa pamit ia pergi meninggalkan pria itu sendiri.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Jingga mendapati suaminya sudah berbaring miring membelakanginya, saat ia membuka pintu. Ia baru saja bercengkrama dengan keluarga suaminya di ruang keluarga. Tanpa pria itu. Jingga mengembuskan napasnya pelan. Ia mencoba untuk bersabar menghadapi suaminya yang bersikap sangat tak biasa hari ini.
Perlahan Jingga naik ke atas tempat tidur. Ia bingung harus apa. Langit-langit kamar menjadi sasaran matanya. Tapi tak lama, karena pada akhirnya ia tak tahan dengan sikap diam pria itu. Ia memiringkan tubuhnya menghadap Banyu. Ia bergeser mendekat. Mencoba menyentuh bahu pria itu, kemudian mengusapnya.
"Aku tahu kamu belum tidur." Jingga mengusap bahu itu lagi. "Aku nggak tahu salah aku di mana, sampai kamu diemin aku kayak gini." Jingga menggigit bibir bawahnya. "Maafin kesalahan yang nggak aku sengaja ya, Mas." Beberapa detik Jingga menunggu, tapi tak ada respon sama sekali. Ia hanya bisa menghela napas, kemudian mengucapkan selamat malam dan berbalik memunggungi suaminya.
__ADS_1
Saat Jingga ingin menutup mata dan mencoba untuk tidur. Jingga merasakan sebuah pergerakan dari belakang. Sebuah tangan melingkar di perutnya. Ia tersenyum tipis, merasa lega.
"Aku tidak tahu apa yang sedang aku rasakan." Banyu mengeratkan tangannya pada pinggang kecil Jingga. "Jujur saja aku tidak suka melihat kamu bersama pria lain."
Dalam diam Jingga berpikir. Pria lain?. Ia membulatkan mata, mengingat kejadian sore tadi. Apa Mas Banyu melihatnya?, batin Jingga. Tapi ia tak berani bertanya secara langsung.
"Aku melihatmu bersama mantan kekasihmu itu." Banyu lebih mengeratkan lagi dekapannya.
Gleg. Jingga menelan salivanya susah payah.
"Aku, bisa jelaskan." Jingga membalikkan tubuhnya. "Tadi aku tidak senga... hhmmpp"
Tiba-tiba Banyu mencium Jingga dengan brutal. Ia ingin menghapus jejak pria lain dari bibir istrinya. Bayangan Jingga dan Kevin berciuman di koridor sore tadi sangat mengganggu pikirannya. Ia ingin sekali marah. Tapi ia masih ingat tempat, dan tak lupa dengan cerita istrinya semalam. Banyu memang suami Jingga yang berhak marah. Tapi ia bukan pria yang Jingga cintai seperti Kevin.
Holy ****!
Sekarang Banyu tak peduli! Ia hanya ingin menegaskan pada Jingga bahwa ia sedang cemburu.
Ya. Cemburu. Seuatu yang tak pernah Banyu rasakan selama bersama para mantan kekasihnya dulu.
Banyu menyudahi ciumannya. Jingga perlu bernapas. Banyu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya yang terengah-engah akibat ciumannya. Ia menarik pinggang gadis itu agar semakin menempel dengannya.
"Aku benci ada pria lain yang menyentuhmu. Aku benci melihat pria lain menatapmu. Dan aku sangat benci pria lain mencium bibir mu." Ia mengungkapkan apapun yang bercokol dihatinya sejak lama. Ya, semua kekesalannya sejak ia dan Jingga menikah. Sejak mereka sering bersama. Banyu tidak suka miliknya disentuh dan dipandang oleh pria lain.
"Why?" tanya Jingga dengan bodoh. Akalnya telah hilang bersamaan dengan ciuman Banyu yang telah terlepas.
"Because, you're mine, Jingga. Only mine"
***
__ADS_1
Maaf ya kalau nggak jelas :')
Jangan lupa like dan komen