
Setelah sarapan, Banyu menyiapkan mobilnya untuk keluar bersama keluarganya hari ini.
Cukup repot memang membawa tiga bocah dengan usia yang masih sangat kecil secara bersamaan. Namun, itu lah keseruan yang selalu Banyu nikmati.
Bentuk kenikmatan lain bagi Banyu adalah setiap ketiga anaknya itu terlelap, Banyu pasti akan memandangi wajah mereka bertiga. Bahkan sesekali ia mengusili mereka, hingga Jingga memarahinya.
Kebiasaan yang cukup aneh menurut Jingga itu, selalu sukses membuatnya geram dan naik darah dalam seketika.
Wanita yang kini berusia dua puluh tujuh tahun itu, kerap kali marah pada suaminya. Lantaran jika anak-anaknya tidur, Banyu akan mengganggu mereka. Bahkan terkadang sampai mereka bangun.
Pernah sekali Jingga sampai mendiamkan Banyu beberapa hari karena hal tersebut. Bukan apa-apa. Namun, menidurkan ketiga bocah itu dalam waktu yang sama cukup menguras tenaga. Dan dengan mudahnya Banyu mengganggu tidur mereka, hingga mereka terbangun, dan membuat Jingga diserang rasa lelah yang bertubi-tubi.
Banyu mengeluarkan stroller dari bagasi mobil, setelah mereka tiba di basement mal ternama di kota itu. Jingga lantas meletakkan putri ke tiganya di sana. Bocah yang dipanggil Bia oleh kedua kakaknya itu terlelap di dalam stroller. Bia terlalu menikmati perjalanan yang sebenarnya tidak terlalu jauh, sampai tertidur.
Caca dengan kaus putih dan celana hitam selututnya, tampak begitu imut dengan dua kunciran pada rambutnya. Bocah itu tampak berbinar bahagia menggandeng lengan adiknya yang sejak dulu ia panggil Ata.
Dulu saat Ata lahir, Caca masih belum mahir dalam berbicara. Sehingga ia tidak bisa menyebutkan nama Cakra dan hanya bisa mengatakan Ata. Jadilah bocah berusia tiga tahun itu dipanggil Ata oleh semua orang.
Tak kalah lucunya dengan sang kakak. Ata juga memakai kaus hitam dengan celana putih selutut. Topi putih yang terpasang di atas kepalanya, membuat bocah itu terlihat lebih tampan.
Banyu mendorong stroller Bia dengan satu tangan, sedangkan tangannya yang lain menggandeng tangan Ata.
Sedangkan Caca sendiri ternyata lebih memilih berjalan di belakang sang ayah bersama ibunya.
**
Mereka berjalan mengelilingi mal tersebut dengan perasaan bahagia. Mereka menjejakkan diri di game zone cukup lama. Lalu, beralih pada toko pakaian, dan saat ini mereka sudah berada di food court yang menyediakan makanan untuk anak-anak. Rasa lelah belum mendera, tapi rasa lapar cukup mengganggu mereka.
__ADS_1
Jingga menyiapkan makanan untuk suaminya dan Bia. Banyu pun membantu sang istri dengan menyiapkan makanan untuk kedua anaknya itu.
Caca yang memang sudah besar, sudah bisa makan sendiri dengan tangannya. Gadis itu memang cukup pintar dalam melakukan berbagai hal, termasuk memakan makanannya sendiri.
Banyu menyuapi Ata dan Jingga menyuapi Bia. Mereka terlihat begitu harmonis. Keluarga kecil itu terlihat saling pengertian. Ditambah Banyu yang suka rela menyuapi putranya.
Selesai dengan urusan perut. Kelima orang itu kembali berjalan. Mereka kembali mengelilingi mal sebentar, karena Ata ingin membeli mobil mainan di salah satu toko yang tadi sempat mereka lewati.
Saat membantu putranya memilih mainan, Banyu dikejutkan dengan satu tepukan di bahunya dari arah belakang.
"Loh, Dev!" Banyu menyalami sahabatnya itu. Kemudian tatapannya beralih pada anak kecil yang dulu sering ia panggil 'Gembul'
"Hai, Om," sapa bocah itu kemudian menyalami sahabat ayahnya.
"Cari mainan juga, Mbul?"
Bocah itu mendengkus. Ia paling tidak suka jika Banyu memanggilnya seperti itu, karena tubuhnya memang sudah tidak gendut lagi seperti dulu.
Deva terkekeh melihat apa yang dilakukan putranya. Ia tahu anaknya ini pasti marah kepada Banyu, karena dipanggil seperti itu.
"Marah dia," ujar Deva seraya mengusap kepala putranya.
Banyu tergelak. Ia tahu bocah itu tidak suka, dan semakin Rasya tidak suka dengan apa yang Banyu lakukan, maka Banyu akan semakin gencar melakukannya.
"Gitu aja marah sih, Mbul. Tuh, temenin Ata cari mobil-mobilan. Sekalian cari mainan yang kamu pengen." Banyu mendorong tubuh Rasya untuk mendekat pada putranya. Ia dan Deva hanya akan mengikuti mereka dari belakang.
"Kalian cuma berdua?" tanya Banyu.
__ADS_1
"Enggak, sama Mommy sama Mika juga. Mereka nunggu di depan sama istri anak, lo," jawab Deva seraya mengedikkan dagunya pada ujung toko. Di sana terlihat Kikan dan Jingga tengah berbincang. Sedangkan Mika–putri ke dua Deva dan Kikan, asik bercanda dengan Caca dan Bia.
Setelah kedua bocah laki-laki itu mendapatkan apa yang mereka inginkan. Keluarga Banyu dan Deva sama-sama pulang ke kediaman masing-masing. Mereka berpisah di basement setelah membuat janji untuk berlibur bersama suatu saat nanti.
***
Satu jam kemudian Banyu menghentikan mobilnya di halaman rumah. Bapak tiga anak itu menurunkan kedua anaknya dari mobil. Mereka terlihat begitu lelah dan mengantuk. Sepertinya, tanpa ditidurkan mereka akan terlelap dengan sendirinya setelah ini.
"Mas, kamu jagain mereka berdua dulu, ya? Bia minta ***** di kamar," pinta Jingga saat mereka menaiki anak tangga.
"Iya, Sayang." Banyu membawa kedua anaknya menuju kamar mereka.
Caca dan Ata masih Banyu letakkan dalam satu kamar yang sama, karena Ata masih terlalu kecil untuk tidur sendiri. Dan tidak mungkin juga bocah itu ikut tidur di kamarnya, karena sudah ada Bia.
Banyu mencium kening Caca dan Ata, setelah mereka sama-sama terlelap. Benar dugaannya, kedua bocah itu tidur tak lama setelah mereka berbaring. Banyu lantas menutup pintu kamar mereka berdua, untuk kemudian kembali ke kamarnya.
Saat membuka pintu kamar, Banyu mendapati istrinya sedang tidur dalam posisi miring dan membelakanginya. Masih ada cukup ruang di belakang Jingga, hingga dengan jail Banyu merebahkan diri di belakang sang istri.
"Kamu sana, dong, Mas," suruh Jingga seraya menggoyangkan bahunya, karena Banyu sedang meletakkan kepalanya di sana.
Tak mendengarkan perintah sang istri. Banyu malah dengan sengaja melepas mulut putrinya dari sumber asupannya. Sontak Jingga memukul tangan pria itu dengan kesal.
"Kebiasaan, deh! Awas ya nanti kalau sampai bangun!" peringat Jingga dengan ruat kesal.
Jingga terlalu lelah untuk meladeni kejailan suaminya ini. Dan jika sampai Bia tidak jadi tidur gara-gara Banyu, Jingga berjanji akan menyuruh Banyu untuk menunggu bocah itu, dan Jingga akan istirahat di kamar Caca dan Ata.
"Iya-iya," jawab Banyu lemah, membuat Jingga bernapas lega. Banyu beralih memeluk Jingga hingga ikut terlelap bersama putrinya.
__ADS_1
***
Jangan lupa like dan komen❤