You Are Mine

You Are Mine
Pak Tua, Aku Belajar Dari Mu 136


__ADS_3

"Sungguh di luar nalar batas keimanan ku. Ya Allah, maafkan aku." seru Aditya sekilas matanya melirik ke atas dengan kedua tangannya yang ikut terangkat.


"Pergi!" desis Akeno.


"Aku akan pergi, tapi setelah bertemu dengan keponakan ku yang tercinta." Jawab Aditya tersenyum dengan melirik pada Aira.


Akeno mengepalkan tangannya, pria ini sepertinya benar-benar ingin mati sekarang juga. "Cepat pergi dari sini!" usir Akeno sekali lagi.


Aditya memanyunkan bibirnya, mencemooh Akeno yang mengusirnya secara langsung di depan umum.


"Baik, saya akan pergi sekarang juga." seru Aditya. Entah apa yang Akeno pikirkan, Aditya sama sekali tidak mengingat kan Aira tentang masa lalu mereka. Akeno menoleh pada Aira yang masih mengerut kan keningnya yang bingung. Pastinya sedang berpikir siapa laki-laki itu.


"Kau duduk lah, sayang. Aku akan mengurus pak tua ini!" desis Akeno. Setelah melihat Aira duduk kembali, ia langsung berlari keluar, tidak akan dia ampuni sekarang juga.


"Tunggu!" teriak Akeno menghentikan langkanya Aditya. Ia mendekat saat pria itu berhenti, berbalik arah, Aditya tersenyum puas saat Akeno mengejarnya.


"Apa niat mu datang ke sini?" tanya Akeno curiga. Aditya tersenyum sinis, "Menurut mu apa lagi jika bukan melihat keponakan ku? sudah ku bilang tadi, kan?" jawabannya semakin membuat Akeno geram.


"Kau pasti datang ke sini ingin membuat istri ku mengenal mu kan? tapi sayang sekali, dia bahkan marah saat kau menunjuk padanya!" desis Akeno mencemooh Aditya yang di perlakukan tidak baik juga oleh Aira. Keponakannya sendiri.


Aditya tertawa kecil, ia pun berkata: "Baguslah kalau memang kau mengerti. Mungkin maksud ke datangan ku ini hanyalah untuk menemui Aira. Tapi ada rencana lain."


Aditya langsung berlari pada Akeno yang tidak jauh, merasa ingin di serang, Akeno dengan cepat mengangkat tubuhnya terbang, Aditya pun tidak mau ketinggalan, ia ikut terbang di udara sana.


"Kau sepertinya sangat berani menyerang ku di kediaman ku sendiri!" ledek Akeno dengan tersenyum licik. Aditya membulatkan bibirnya seperti huruf O.


Tangan Aditya kembali menyerang yang berada di perut Akeno. Sekali hempasan, pria itu mundur akibat Akeno yang sangat cepat menyerang dirinya balik. Keduanya kemudian saling bersiap dan saling memandang dengan menyipitkan matanya.


Akeno maju beberapa langkah dan menyerang Aditya, namun dengan cepat lawannya berhasil menghindar.

__ADS_1


Aditya tersenyum meledak, "Melawan ku saja tidak bisa, bagaimana jika nanti kau melawan Aryan? suami dari ponakan ku." Aditya terkekeh sembari mencemooh Akeno. Sedangkan pria yang merasa marah akibat ucapannya mengepalkan tangannya kuat.


Semburan kekuatan yang keluar dari tangan Akeno mengarah padanya, tak bisa menghindar, al hasil Aditya terkena serangan mendadak.


"Ternyata cukup bagus juga, kau menyerang ku dengan sangat licik." Pujian ini bukanlah benar-benar memuji, namun seperti meledek Akeno.


"Pak tua, aku belajar dari mu." balas Akeno tak lupa menyunggingkan senyumannya yang licik.


"Berhasil mengecoh ku..." Aditya berbalik badan, kemudian ia menoleh kembali dengan serangan mendadaknya. Seperti tadi, Akeno langsung terlempar menabrak dinding.


Para penjaga yang berada di luar langsung berlari ke arah Akeno. Mereka juga yang salah karena hanya menonton tuannya yang sedang beradu melawan orang asing.


Akeno mendesis keras, ia bangkit dengan tangannya yang menyingkirkan pada penjaga.


"Sepertinya sekarang aku sudah tidak bisa menahannya lagi!" geram Akeno merasa marah, langkah kakinya semakin cepat, menabrak Aditya hingga mereka berdua menabrak dinding.


Tangannya mengeluarkan kembali lapisan elemen yang bercahaya, Aditya menatap sinar bagai rembulan itu dengan mata yang menajam.


Suara kekehan dari bibir Aditya terdengar begitu misterius, Akeno mengerutkan keningnya heran, bukannya takut, Aditya malah tertawa seperti orang gila.


"Akeno... Akeno... kau tidak berpikir aku takut kan?" tanya Aditya terkekeh geli. Cekikan itu semakin kuat, meskipun tidak menggunakan tangannya, namun ia menggunakan kekuatan.


"Apa maksud mu! cepat katakan!" desak Akeno merasa heran dan juga penasaran.


"Aku tidak mau memberitahunya." jawab Aditya tertawa pelan.


"Kau! beraninya menentang ku!"


"Aissshhh...." ringis Aditya. Akeno menatap tajam ke arah pria tua itu, seolah menyimpan dendam dalam dirinya.

__ADS_1


Saat akan mendapat serangan, Aditya bangkit dan menghindar, ia pun tidak diam, menyerang Akeno dengan bertubi-tubi. Mempunyai kekuatan seperti Akeno , ia tidak dapat di kalahkan begitu saja. Meskipun serangan yang Aditya lemparkan tidak berhenti, Akeno tetapi bisa menghindarinya dengan cukup baik.


"Kau sangat beruntung, memiliki jaringan emas klonel. Jika tidak, maka sekarang juga aku pasti sudah membunuh mu!" Seru Aditya dengan melayangkan serangannya.


Akeno tersenyum tipis, bibirnya menyeringai bagaikan seekor harimau, "Sayang sekali, ucapan mu tidak akan menjadi kenyataan." Kata pria itu.


"Oke...." Aditya memutar tubuhnya, lirikan matanya terarah pada Akeno yang berada di belakangnya. Kecepatan larinya tidak bisa di kalahkan, Akeno yang melihat Aditya berusaha kabur ikut mengejarnya. Namun aneh sekali, bukannya pergi meninggalkan rumahnya, pria itu malah masuk ke dalam rumah.


Aditya harus segera menyelesaikan misinya, setidaknya dia harus mengetahui letak di mana Akeno menyimpan jaring yang mirip dengan jaring laba-laba.


Ia masuk ke ruangan dan berhenti, menyimpan sesuatu, alat yang dapat menyerap energi hitam dan putih, juga bisa mengetahui apakah kekuatan itu positif atau negatif.


Melihat kembali pada Akeno yang mengejarnya, Aditya tidak bisa diam. Pria itu meloncat dari ketinggian gedungnya, setelah menyelesaikan perintah dari Larisa, ia meninggalkan rumah besar itu.


"Ada sepuluh alat di sana, seharusnya bisa menangkap kekuatan yang di pakai oleh Akeno." gumam Aditya.


Sekilas bayangan yang di kenali nya, membuat Kagira menautkan alisnya, ia merasa begitu mengenal pria itu, namun siapa?


"Ibu, apa kau baik-baik saja?" tanya Akeno yang kebetulan berada di sana. Takut terjadi sesuatu pada ibunya, Akeno langsung melihat apakah ada luka di tubuh Kagira.


"Payah! dia berhasil kabur!" desis Akeno melihat ke arah jendela. Kagira mengikuti tatapan putranya.


"Siapa yang kamu kejar?" tanya Kagira. Akeno menggeleng, ia berkata: "Ada seseorang yang berusaha menyusup ke dalam rumah kita, tapi dia malah berhasil ke luar dengan hidup-hidup!"


Kagira mengangguk, keluar hidup-hidup, itu artinya jika pria yang tadi tertangkap, maka putranya akan langsung menghabisinya.


"Ibu baru selesai, ayok kita kembali ke acara pesta mu. Para tamu pastinya menunggu mu." ajak Kagira berusaha mengalihkan perhatian Akeno.


Pria itu mengangguk, berjalan bersama dengan ibunya masuk ke dalam acara pesta ulang tahunnya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan acaranya? apa berjalan dengan baik?" tanya Kagira.


__ADS_2