
“Lo balik naik apa?”
“Taksi mungkin,” jawab gadis itu sembari mengangkat bahunya.
“Mau bareng gu–”
“KAKAK!”
Ata menutupi telinganya dengan kedua tangan. Suara yang sangat ia kenali itu kembali memanggil dan semakin mendekat.
“Kakak, Bia udah nunggu dari tadi loh. Ternyata Kak Ata malah di sini,” omel gadis itu dengan bibir mengerucut.
Decakan Ata terdengar jelas di telinga Bia dan Rania. Membuat adik Ata itu semakin kesal.
“Ya ampun, Bi. Kalau nggak mau nunggu gue minta jemput kakak lo sana!” Ata balik mengomeli sang adik yang kini berdiri di depan mejanya.
“Ih, kan tadi aku berangkat sama Kakak. Jadi, pulangnya harus sama Kakak juga,” jawab gadis itu sedikit membentak.
“Bi, suara lo turunin dikit kenapa? Malu sama temen gue.”
Seketika itu juga Bia menoleh pada Rania yang berdiri di dekatnya. Bia tersenyum manis pada cewek cantik itu kemudian mengulurkan tangan.
__ADS_1
“Temennya Kak Ata kan? Kenalin, aku Bia adik Kak Ata yang paling cantik,” ucap gadis itu membuat Rania tersenyum geli.
Ata menepuk jidatnya melihat kelakuan sang adik yang memang memiliki tingkat percaya diri yang sangat tinggi.
“Rania,” ucap Rania sembari membalas uluran tangan Bia.
“Kak Rania pacarnya Kak Ata?” tanya Bia dengan muka polos.
“Ata?” Sejak tadi yang menjadi fokus Rania hanya nama ‘Ata' yang disebut oleh gadis kelas sepuluh itu. Rania tak paham kenapa Bia memanggil Cakra dengan sebutan Ata.
Bia tertawa kecil, kemudian menjelaskan bahwa sang kakak yang memiliki nama Cakra itu memang dipanggil Ata oleh orang-orang terdekat mereka.
Rania pun paham dan mengangguk sebagai tanggapan.
Ata menggeleng tak percaya Bia menanyakan hal itu langsung kepada Rania. Ia yang sudah terlanjur malu memilih untuk berdiri dan mengajak Bia keluar dari sana dengan menggamit leher adiknya itu.
Rania mengulum senyum melihat kedekatan Ata dan adiknya. Mereka terlihat seperti kucing dan tikus, tetapi saling memancarkan kasih sayang melalui sorot mata mereka.
**
“Kak, lepasin!” Bia memukul lengan sang kakak yang sejak tadi merangkul lehernya. Cowok itu seperti hendak membunuhnya dengan cara mencekik.
__ADS_1
“Biar tahu rasa, lo.” Ata menjitak kepala Bia dua kali sebelum melepaskan adiknya itu.
“Ih, sakit tahu!” sungut Bia sembari mengusap kepalanya.
“Makanya jangan aneh-aneh jadi orang.” Ata melipat kedua tangannya sembari mengembuskan napas kasar.
“Aneh-aneh apa coba?” tanya gadis itu dengan masih memasang muka tanpa dosa.
“Masih tanya lagi.” Ata menepuk keningnya kesal.
“Lain kali jangan tanya apa status cewek tadi sama gue. Gue sama dia itu nggak pacaran, Bia!” ucap Ata geram.
“Gue ngobrol sama temen satu kelas, bukan berarti gue pacaran sama dia,” imbuh cowok itu dengan kesal.
“Ya, mana Bia tahu!” Bia masih tak terima disalahkan oleh sang kakak. Wajah gadis itu masih tertekuk karena terlalu kesal dengan Ata yang langsung menyeretnya pergi tadi.
Ata meremas kedua tangannya di depan wajah Bia. Ia terlampau geram dengan sang adik yang bisa saja menjawab ucapannya. Cowok itu lantas mengajak adiknya itu pulang, karena hari sudah semakin sore.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi Rania mengawasi perdebatan mereka yang terkesan lucu. Ia kembali mengulum senyumnya melihat dua bersaudara itu bertengkar seperti anak kecil. Dalam hatinya, ada setitik rasa iri pada diri Rania melihat kedekatan kakak beradik itu.
***
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen❤