You Are Mine

You Are Mine
Tikus Kecil Ingin Bermain Dengan Ku 125


__ADS_3

"Bisa basuh kaki ku dengan pelan?" pinta Aira memelankan suaranya. Serena akhirnya sadar, kepalanya mendongak ke atas.


"Baik, Nona." sahutnya lembut.


Aira tersenyum, ia kembali menikmati pelayanan mereka, baru beberapa saat, ia meringis dan menjerit kesakitan.


"Apa kau bisa bekerja?" bentak Aira. Serena menunduk ketakutan, ia tidak percaya jika sedikit kesalahan, mampu membuat wanita itu marah padanya.


"Nona, saya benar-benar tidak sengaja." ujar Serena mulai gelisah.


Tidak menduga pundak wanita itu di tendang dengan kaki kiri Aira yang masih polos, tubuh Serena yang kecil terjatuh ke lantai dengan naas. Ke empat pelayan lainnya tercengang melihat Aira yang berbuat kasar dan merendahkan pelayan kecil seperti Serena.


"Nona, maafkan saya!" teriak Serena meminta ampun.


Aira bangkit dengan menautkan kedua alisnya, giginya menggertak karena rasa amarah dalam dirinya.


Pipi wanita itu di tampar, bukan hanya sekali, namun dua kali.


Aira menoleh ke arah pelayan lainnya, "Kalian boleh pergi, tapi jika mau berada di sini dan ingin menggantikan posisi wanita ini, boleh saja." Senyuman itu menyeringai bagaikan iblis. Ke empat pelayan itu seketika merinding di buatnya.


"Nona, kami akan keluar, panggil kami jika Anda membutuhkan." ucap pelayan itu menunduk, dengan kaki mereka yang melangkah tergesa-gesa.


Suara jeritan kembali terdengar ketika mereka sudah keluar, entah apa yang di lakukan Serena sehingga membuat Aira menjadi sangat marah.


"Kita harus mengatakan ini pada tuan Akeno, hanya dialah yang bisa meredakan amarah nona saat ini." ujar Monika harap-harap cemas.


"Baiklah, aku pergi dulu untuk menyampaikan ini." Sahut salah satu pelayan dengan berlari dari sana.


Rambut Serena di jambak dengan kuat, wanita itu meringis kesakitan karena rambutnya seakan rontok, matanya melemah akibat rasa pusing karena rambutnya di tarik begitu kencangnya.

__ADS_1


"Tikus kecil ingin bermain-main dengan ku, apa kamu sanggup?" tanya Aira memanyunkan bibirnya seolah sedang meledek wanita di bawahnya.


"Katakan sekali lagi? tuan Akeno pernah bermalam dengan mu? tapi sayang sekali dia tidak menikahi mu, kan?" seru Aira mencemoohnya.


"Nona, saya sungguh tidak bermaksud mengatakan-"


"Lalu apa?" bentak Aira, dengan tangannya yang melayang menampar kembali.


"Apa yang kau maksud? ah, apa kau ****** yang menggoda calon suami orang?" Tebak Aira, wajahnya di buat seakan terkejut, Serena menggeleng dengan sedih, pipinya memerah akibat tamparan yang layangkan oleh Aira.


"Nyawa mu sangat lah tidak berharga, masih ingin mengelak!" jeritan Aira sampai terdengar ke luar, hatinya panas saat mendengar wanita itu mengatakan pernah bermalam dengan calon suaminya.


Akeno membuka pintunya, terlihat jelas, Aira sedang memukul budak itu dengan sadis, tangannya terkepal seperti tinjuan, sudah pasti membuat siapapun akan babak belur.


"Aira!" teriak Akeno khawatir, pria itu dengan cepat memeluk Aira yang masih meluapkan emosinya.


"Ada apa? Tenang lah, sayang." bujuk Akeno.


"Pelayan!" panggil Akeno, wajah pria itu merah padam, terlebih saat mendengar Aira tahu tentang wanita yang pernah dirinya tiduri.


"Bunuh wanita ini dan bakar tubuhnya!" Titah Akeno terdengar sangat sadis. Para pelayan wanita tampak syok, pada akhirnya Serena tidak bernasib baik hari ini. Pengawal langsung masuk dan menyeret tubuh Serena yang sudah tidak berbentuk.


Matanya bengkak, bibirnya berdarah dan pipinya merah akibat tamparan yang sangat keras. Monika menelan salivanya. Ia tidak bisa membayangkan jika berada di posisi Serena saat ini.


Tatapan Akeno mengarah pada ke empat pelayan yang masih terpaku akibat tontonan yang baru saja mereka lihat.


"Kalian, cepat bersihkan kamar ini, jangan sampai ada darah yang masih tertempel di kamar istriku!" titah Akeno tegas.


Monika bersama teman-temannya mengangguk antusias meskipun hati mereka sedikit takut, kejadian ini sudah pasti akan berbekas di dalam ingatan mereka.

__ADS_1


Akeno mengajak Aira untuk pergi dari kamarnya, namun wanita itu menolak mentah-mentah, ia yang tidak mau menyulut emosi Aira, hanya bisa pasrah dan pergi dari kamarnya.


Monika mendekat dengan gugup, bahkan untuk menghirup udara saja sepertinya sangat susah.


"Nona, Anda membutuhkan sesuatu?" tanya Monika. Teman-temannya menepuk jidat masing-masing, terlebih saat Monika dengan beraninya bertanya.


Aira memasang wajah ketidak sukaan nya pada wanita tersebut, "Berikan aku teh panas." Pinta Aira. Monika langsung mengangguk dan keluar setelah di perintah, sebisa mungkin tidak boleh membuat Aira menunggu.


Anya terheran saat melihat Serena di seret oleh para penjaga, ia melirikkan matanya dan mencegah satu orang pengawal.


"Apa yang terjadi?" tanya Anya pada penjaga itu.


"Nona, sepertinya mansion ini akan menjadi neraka, nona Aira memiliki temperamen yang sangat buruk, tidak tahu apa yang terjadi, Serena di pukul habis-habisan olehnya." Jawab penjaga itu meringis, tidak bisa di bohongi, jujur saja dirinya juga takut pada Aira.


Anya mengerutkan keningnya, "Aira? maksud mu, Aira siapa? bisa aku bertemu dengannya? di mana dia?" tanya Anya, entah kenapa pikirannya malah melayang pada Aira, istri dari kakak ipar kekasihnya.


"Nona, sebaiknya jangan pergi, jika tidak, mungkin saja akan berbalik pada Anda." Seru penjaga itu, ia pamit karena tidak boleh lama-lama berbicara dengan wanita yang ada di sini, atau jika tidak maka mereka akan di bunuh secara langsung.


Pikiran wanita itu seketika curiga, namun ia masih menyangkal, nama Aira tentu saja pasti banyak, tidak hanya satu saja.


"Ada apa, Anya?" tanya seorang wanita dengan menepuk pelan bahunya. Anya tersentak kaget dan langsung menoleh.


"Tidak. Hanya saja, aku sedikit penasaran dengan sosok yang bernama Aira, kau pernah bertemu dengannya?" tanya Anya, ia berharap temannya tahu dan mengatakan semuanya. Wanita itu menggeleng, bahkan dirinya saja penasaran.


"Hanya pelayan yang di tugaskan lah yang boleh menemuinya, ku dengar dia gila dan sangat cemburu, bahkan ada yang mengatakan jika wanita itu baru bangun kemarin malam, tapi sudah mengetahui siapa saja wanita yang sudah melakukan malam dengan tuan Akeno." Ujar wanita di sebelahnya.


"Di mana dia tinggal?" tanya Anya.


"Di rumah ini, tepatnya lantai tiga, itu adalah kamar tuan Akeno." Jawabnya.

__ADS_1


Anya tahu apa yang harus dia lakukan demi menjumpai wanita yang bernama Aira itu, hatinya begitu penasaran dan ingin sekali melihatnya.


"Anya, malam ini, kau yang akan menemani tuan Akeno, ku harap nona Aira tidak mengetahui semuanya. Aku heran, tuan Akeno kenapa tidak bermalam dengannya saja, benar-benar aneh." Celetuk wanita itu sedikit kesal.


__ADS_2