You Are Mine

You Are Mine
Part 52


__ADS_3

Part ini hanya tentang Kikan sama Deva. Yang nggak suka skip aja, tapi jangan lupa tinggalin likenya. Terima Kasih :)


Senja baru saja menghilang. Tergantikan gelap penuh bintang. Saat ini Kikan tengah berkeliling bersama ibunya di salah satu pusat perbelanjaan yang tak jauh dari kafe sahabatnya.


Besok adalah hari ulang tahun adiknya. Ibunya mengajak Kikan untuk membeli beberapa hadiah untuk adiknya. Mereka mengelilingi beberapa toko baju dan juga peralatan sekolah.


"Ciko suka ini nggak ya, Kak?" tanya sang ibu sembari mengangkat sepasang sneakers berwarna hitam.


"Kayaknya suka deh, Mi. Kemarin aku lihat IG story-nya, dia kayak pengen beli ini, tapi duitnya belum ada. Kan mami tahu sendiri dia nggak pernah minta uang sama kita," jawab Kikan sembari ikut melihat beberapa baju yang terpajang di sana.


"Eh masa sih, Kak? Kok mami nggak tahu," ujarnya sedikit merasa bersalah.


"Yee, Mami kan nggak punya instagram." Ejek Kikan. Ia mengangkat sebuah kemeja bercorak garis-garis tipis berwarna merah marun. Warna favorit Ciko adiknya. Tapi sesaat kemudian Kikan kembali meletakkan baju tersebut ke tempat semula. Ia berjalan menghampiri sebuah baju dengan warna yang sama tapi motifnya berbeda. Ia meraba bahan baju tersebut, terasa lebih lembut. Kikan tersenyum sembari mengambil baju tersebut. Ia sangat yakin, adiknya pasti menyukai ini.


Kikan hendak kembali menghampiri ibunya. Namun, urung saat matanya menangkap seseorang berjalan di sebelah toko yang sedang ia kunjungi saat ini. Dinding kaca toko ini tentu sangat transparan hingga siapapun yang berjalan di sekelilingnya nampak sangat jelas. Kikan masih memperhatikan seseorang yang tengah berjalan sembari merangkul bahu seorang gadis.


"Itu siapa yang sama Deva?" gumamnya sendiri. Terlalu lama melamun, Kikan kehilangan jejak sahabatnya itu. Hingga suara ibunya membawa Kikan untuk segera mendekat.


"Eh, Deva!" seru ibu Kikan sembari melirik putrinya.


Deva tersenyum, kemudian menyalami ibu sahabatnya, diikuti gadis yang sedari tadi bersamanya.


"Ini siapa, Dev?" tanya ibu Kikan.


"Loh, Dev? Lo ngapain di sini?" Kikan menyahut dari arah belakang ibunya.


Ibu Kikan berdecak. "Ya pastinya mau belanja lah, Kak. Kan ini toko," ujar wanita itu.


"Ini pacar kamu, Dev?" tanya ibu Kikan lagi sembari menatap kagum gadis cantik di samping sahabat putrinya.


Deva hanya tersenyum sambil kembali merangkul gadis itu.


"Emm, ciye malu-malu, pasti iya." Goda wanita itu. "Nama kamu siapa sayang? Kenalin, saya Friska, mami-nya Kikan." Wanita itu mengulurkan tangannya.


"Saya Bella, Tan." Gadis itu menyambut uluran tangan Mami Friska dengan senang hati.

__ADS_1


"Cantik deh namanya, kayak orangnya." Mami Friska terkekeh. "Eh, udah kenal belum sama Kikan? Ini sahabatnya Deva dari SMA," ucapnya. Ia megang bahu putrinya untuk diperkenalkan.


Kikan menatap malas ibunya. "Apaan sih, Mi." Kikan menggoyangkan kedua bahunya agar tangan ibunya terlepas.


"Ih, kamu pasti belum kenal sama pacarnya Deva, ayo cepet kenalan," suruhnya.


Kikan berdecak, tak ayal ia mengulurkan tangannya juga. "Gue Kikan, sahabatnya Deva." Gadis itu berucap dengan mata memandang Deva.Tapi pria itu malah mengalihkan pandangan.


"Bella," balas gadis itu.


"Kalian mau cari apa?" tanya mami Friska ramah.


"Mau cari baju untuk adik aku, Tan." Bukan Deva yang menjawab melainkan Bella.


"Mau cari bareng?" tawar mami Friska.


Kikan melotot pada ibunya. "Mi, kita kan udah dapet. Kita juga udah mau bayar. Lagi pula entar kita malah ganggu mereka," ucapnya sambil menatap Deva yang lagi-lagi mengalihkan pandangan.


Mami Friska mengulum senyum. "Ya kan cari lagi nggak papa," ujarnya enteng.


"Enggak, ya. Yang ada entar kita nggak pulang-pulang." Tolak Kikan tegas.


Deva dan Bella tersenyum. Sangat berbeda dengan Kikan yang tengah menatap mereka jengah.


Kikan tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Melihat Deva tak memperhatikannya sama sekali membuat suasana hatinya berubah buruk. Ia Ingin segera pulang dan merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sudah lama ia tinggalkan, semenjak ia tinggal di apartemen beberapa bulan yang lalu.


"Tante duluan ya," pamit wanita itu, kemudian melenggang bersama putrinya.


"Hati-hati, Tan," ucap Deva. Dan itu membuat Kikan semakin merasa diabaikan oleh sahabatnya.


"Itu yang namanya Kikan?" tanya Bella sembari menunjuk Kikan.


Deva mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari pasangan ibu dan anak yang baru saja berjalan menuju kasir.


***

__ADS_1


"Masa sih Deva punya cewek?" tanya Banyu setelah Kikan menceritakan kejadian kemarin, saat ia bertemu dengan Deva dan Bella.


Kikan hanya mengedikkan bahunya cuek. Tanpa menjawab apapun lagi, gadis itu kembali sibuk dengan kertas dan pulpen yang ada di hadapannya.


Banyu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia merasa ada yang janggal. Tidak mungkin Deva memiliki kekasih tanpa memberitahunya. Dan sangat tidak mungkin lagi, karena yang ia tahu Deva sangat mencintai Kikan. Tapi jika itu benar terjadi, maka Banyu akan memberi pelajaran pada pria itu.


***


Siang ini begitu terik. Siapapun akan malas untuk keluar rumah karena takut kepanasan. Tapi, tidak dengan Banyu. Langkahnya sangat semangat saat masuk ke dalam perusahaan sahabatnya. Tanpa bertanya pada resepsionis ia masuk begitu saja ke dalam lift khusus para petinggi.


Pria itu sampai di lantai tujuh, tempat ruangan Deva dan juga sekretarisnya. Ia pun langsung menghampiri sekretaris Deva.


"Deva ada?" tanyanya dengan sorot mata tajam.


Sekretaris Deva memandang Banyu dengan takut. Ia sangat mengenal siapa pria ini. Namun, ia tidak pernah mendapat tatapan seperti itu.


"Ada, Pak. Mau saya panggilkan?" tanyanya pelan.


Banyu menggeleng. Kemudian masuk ke dalam ruangan Deva tanpa mengetuk pintu.


"Tumben ke sini? Ada apa?" Deva berdiri dari kursinya saat sahabatnya masuk. Ia merasa aneh dengan tatapan Banyu yang tak biasa.


"Brengsek lo, Dev!" Banyu mencengkram kerah kemeja Deva dan hendak melayangkan sebuah pukulan.


"Wei, santai bro. Lo kenapa? ada masalah apa? kita bicarain baik-baik." Deva melepaskan cengkraman tangan Banyu dengan perlahan. Kemudian mereka duduk di sofa.


"Lo kenapa sih, Nyu? dateng-dateng marah kayak gitu. Salah gue apa?"


Banyu kembali menatap Deva dengan tajam. "Lo nggak usah pura-pura nggak tahu," ujar Banyu dengan menegaskan jari telunjuknya pada Deva.


"Pura-pura apa sih, Nyu? gue nggak tahu apa-apa sumpah" Deva mencoba untuk tenang.


"Sekarang gue tanya, kenapa lo tiba-tiba macarin cewek selain Kikan. Padahal lo tahu sendiri Kikan mulai move on dari gue juga karena lo." Banyu terdiam sejenak. "Lo tahu, dia kelihatan kecewa banget liat lo jalan sama cewek lain. Dan sekarang gue yakin banget dia udah mulai suka sama lo. Tapi kenapa lo malah ninggalin dia kayak gini, huh?"


Deva tersenyum. Sekarang ia tahu permasalahannya. Pasti Kikan sudah menceritakan pertemuan mereka kemarin.

__ADS_1


"Ok, gue jelasin. Tapi please lo dengerin gue, dan jangan nyela omongan gue."


Banyu mengangguk dengan malas. Setelah itu Deva menceritakan apa yang tengah terjadi


__ADS_2