
Jingga hanya bisa menundukkan kepala saat berada di meja makan. Pipinya memerah saat sang ibu mertua terus saja menggoda dirinya dan sang suami. Sungguh, sangat memalukan, batin Jingga. Ia rasanya ingin sekali tenggelam ke dasar bumi. Merobek mukanya yang semakin memerah bak kepiting rebus.
"Kalian itu kalau mau mesra-mesraan jangan lupa dikunci pintunya, jadi nggak kepergok sama Bunda lagi," ujar wanita paruh baya itu dengan sedikit kekehan.
Semua orang tertawa, kecuali Jingga dan Banyu. Gadis itu hanya bisa menundukkan kepala dengan tangan mengaduk-aduk makanan, tanpa berani melihat siapapun yang ada di sana.
Sedangkan Banyu, pria itu nampak cuek dan tidak peduli dengan apapun yang keluar dari bibir ibunya. Pria itu benar-benar menulikan pendengaran hingga makanannya tandas.
"Aku sudah selesai!" Banyu berdiri sembari menarik tangan Jingga.
Reflek gadis itu mendongak menatap suaminya. Bertanya melalui tatapan matanya.
"Kita kembali ke kamar," jawab Banyu dengan entengnya.
"Ngapain?"
"Tentu saja melanjutkan yang tadi." Banyu mengedipkan sebelah matanya pada sang istri.
Jingga sontak melebarkan matanya tak percaya dengan apa yang Banyu katakan. Yang benar saja! Melanjutkan apa?
Seketika itu juga meja makan semakin riuh dengan suara tawa satu keluarga itu. Sehingga menciptakan rona merah pada wajah Jingga sekali lagi.
Dengan sedikit kesal, Jingga mengikuti langkah suaminya menuju kamar. Ia malu sekaligus kesal dengan suaminya. Bukannya menampik apa yang ada dipikiran ibu mertuanya, Banyu malah seperti membenarkannya.
Keesokan harinya, Banyu dan Jingga berpamitan untuk kembali ke apartemen. Bunda Ika awalnya tidak setuju jika mereka kembali pagi ini. Ia beralasan ingin mengajak Jingga jalan-jalan terlebih dahulu, menghabiskan waktu bersama menantunya. Namun Banyu bersikeras untuk pergi pagi ini, karena mereka harus membereskan apartemen supaya besok Jingga bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Dan dengan berat hati wanita paruh baya itu merelakan kepergian menantu barunya pagi ini.
"Sering-sering nginep sini ya, Sayang!" ujar bunda Ika disela pelukannya.
"Iya, Bun. Jingga sempetin mampir kalau nggak banyak tugas," jawab Jingga sembari mengurai pelukan mereka.
Bunda Ika memberikan satu kecupan sayang di kening menantunya.
Jingga terdiam, ia merasakan hatinya menghangat.
__ADS_1
"Hati-hati ya, Sayang"
Jingga mengangguk, kemudian ia mengikuti sang suami yang sudah lebih dulu berjalan menuju mobil mereka.
Suara klakson mobil dan motor bersahutan, menemani keheningan di dalam mobil Banyu. Kemacetan jalan tak terelakkan untuk sepasang pengantin itu. Sesekali terdengar suara decakan kesal dari Banyu.
Ini salah satu hal yang menjadi alasan Banyu lebih suka menggunakan motor daripada mobil untuk bepergian. Pria itu paling tidak tahan dengan yang namanya macet. Ia tidak suka berdesakan seperti ini.
Hampir satu jam mereka baru bisa keluar dari kemacetan. Saat ini, mobil Banyu sudah terparkir rapi di basement apartemen yang ia tinggali. Banyu segera mengajak istrinya untuk turun. Setelah mengambil tiga koper milik Jingga dari bagasi, Banyu berjalan lebih dulu menuju flatnya.
Hampir semua penghuni apartemen menyapa Banyu. Tak ada satupun dari mereka yang tidak mengenal pria itu. Dan Banyu dengan sikap ramahnya membalas setiap sapaan mereka dengan senyuman dan anggukan. Bahkan terkadang Jingga harus ikut berhenti tatkala Banyu menyapa beberapa office boy yang tengah bekerja.
"Ini istri lo, Nyu?" tanya salah seorang wanita yang tengah berdiri di sebelah Jingga. Saat ini mereka berada di dalam lift.
Banyu mengangguk. "Iya Mbak, ini istri gue."
Merasa diperkenalkan, Jingga segera mengulurkan tangan. "Saya Jingga, istrinya mas Banyu," tutur Jingga dengan seulas senyum.
Wanita itu ikut tersenyum. "Kenalin, gue Niken. Gue tetangganya Banyu. Flat kita bersebelahan," jawabnya tak kalah ramah.
"Nyu, lo nikah kok nggak undang-undang sih," ujar gadis itu memecah keheningan.
Banyu terkekeh. "Iya, Mbak. Sengaja, gue mau bikin acara sendiri nanti di loby."
"Wah seru nih. Dapet makan gratis dari anaknya pemilik apartemen," seru wanita itu kegirangan.
Sedangkan Jingga, kening gadis itu terlipat dalam. Bikin acara? Anaknya pemilik apartemen?. Jingga semakin tak paham, dan saat ia menatap sang suami pria itu hanya tersenyum kemudian berbisik, "nanti aku jelasin." Dan Jingga hanya bisa mengangguk saja.
Mereka bertiga keluar dari lift. Berjalan bersamaan dengan sedikit senda guarau ala-ala mereka. Banyu berpamitan terlebih dahulu pada Niken saat mereka sudah sampai di depan pintu apartemen milik Banyu.
Pintu apartemen Banyu terbuka. Banyu mempersilakan Jingga untuk masuk terlebih dahulu. Dengan menyeret satu koper besarnya, Jingga memasuki apartemen Banyu yang cukup luas. Jingga mengamati seluruh apartemen Banyu tanpa ada yang tertinggal. Besar, luas, dan cukup mewah. Itu yang bisa Jingga lihat dari apartemen milik Banyu saat ini.
"Bagaimana? Apa kurang luas untuk kita tinggali berdua?" tanya Banyu setelah meletakkan koper Jingga di sudut ruangan.
__ADS_1
Jingga menggeleng. Gadis itu lantas duduk di sofa ruang tamu Banyu. Diikuti Banyu dari belakang dan duduk di sampingnya.
"Ini lebih dari cukup menurutku," jawab Jingga.
"Mau aku tunjukin beberapa ruangan di sini dulu atau istirahat?" tawar Banyu.
"Istirahatnya nanti aja, belum capek."
Banyu berdiri, ia mengulurkan tangan pada istrinya, dan dengan ragu Jingga meraih telapak tangan itu kemudian ikut berdiri dan mengikuti langkah Banyu dari belakang.
"Ini dapur, apa yang kamu butuhkan untuk memasak semua lengkap di sini. Di dalam kulkas juga banyak sayuran yang bisa diolah setiap hari. Tapi sepertinya sekarang beberapa sayurannya udah nggak seger. Terakhir kali aku isi lima hari yang lalu." Banyu berjalan menuju kulkas. "Bentar aku beresin dulu ya." Banyu membuka kulkasnya, dan benar sekali, ada banyak bahan makanan di dalam sana. Mulai dari sayur, daging, minuman kaleng, susu, air mineral, dan beberapa camilan sehat lainnya.
Jingga berdecak kagum melihat isi kulkas Banyu yang tampak sangat penuh. Sebagai seorang pria, Banyu patut diacungi jempol untuk masalah makanan. Jingga pikir, Banyu hanya menyimpan minuman beralkohol dan beberapa makanan instan di apartemennya, tetapi dugaannya ternyata salah.
Gadis itu memperhatikan tangan suaminya yang dengan cekatan mengeluarkan beberapa sayur yang sudah tidak segar dan membuangnya ke tempat sampah. Tak terbiasa melakukan pekerjaan rumah, Jingga pun memilih untuk duduk di salah satu kursi yang ada di dapur tersebut. Mata gadis itu berkeliling mengamati setiap sudut dapur Banyu. Rapi dan bersih. Dua kata itu yang bisa Jingga gunakan untuk mendeskripsikan bagaimana keadaannya. Fokus Jingga pada dapur teralihkan kembali pada Banyu yang mengajaknya untuk melihat beberapa ruangan lagi.
Banyu menunjukkan beberapa ruangan lainnya yang ada di sana. Ada satu ruang baca, mirip seperti perpustakaan pribadi. Ada ruangan yang berisi beberapa alat untuk gym dan satu ruangan lagi yaitu gudang.
Ruangan terkahir yang Banyu buka adalah kamar mereka berdua. Tak beda jauh dari kamarnya yang ada di rumah orang tuanya. Kamar tersebut juga didominasi warna abu-abu dan berisi beberapa bingkai foto pria itu. Bedanya hanya sedikit lebih luas dengan ranjang lebih besar.
Banyu memang sengaja mengganti ukuran kasurnya lebih besar untuk menyambut istrinya yang akan tinggal bersamanya. Tak hanya itu, Banyu juga membeli beberapa perabotan yang sekiranya dibutuhkan sang istri di dalam kamar.
Setelah selesai meneliti kamar barunya. Jingga menata semua pakaian yang ia bawa ke dalam lemari yang telah Banyu siapkan untuknya. Setelah itu ia memilih untuk ikut beristirahat bersama sang suami yang telah lebih dulu masuk ke alam mimpi.
Malam harinya, Banyu memesan makanan secara online untuk makan malam mereka berdua. Karena beberapa bahan masakannya tadi memang habis, dan ia lupa untuk berbelanja karena ketiduran.
"Mas, ada yang mau aku bicarain sama kamu," ujar Jingga setelah mereka selesai menyantap makan malam.
"Ngomongin soal apa?" timpal pria itu sembari mengusap tangannya yang basah dengan lap.
Jingga nampak sedikit bingung untuk menjelaskan apa yang ingin ia bicarakan. Beberapa kali ia menarik napas untuk membuka suaranya.
"Eemm, Mas Banyu masih cinta sama Mbak Celin?"
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen