
Panas terik mentari terasa menyelimuti bumi. Awan putih penghias langit berjalan pelan mengikuti langkah penduduk bumi. Siang yang panas itu menemani Banyu menatap ketiga anaknya. Tatapan tajam yang jarang ia layangkan, kini tak bisa terelakkan.
Jingga hanya bisa memandang suaminya dari kejauhan, karena tak boleh mendekat. Ingin rasanya wanita itu menyuruh sang suami berhenti mengintimidasi ketiga anak mereka, tapi apalah daya. Emosi pria itu tengah tidak stabil dan ia hanya bisa diam saja.
“Yah, udah dong. Capek nih,” pinta Ata pada ayahnya. Remaja laki-laki itu memasang wajah melas, berharap diberi belas kasihan oleh Banyu.
“Ayah nggak kasihan apa liat Bia kayak gini,” ujar Bia memelas. Caca mengangguk setuju.
“Nggak, Ayah nggak kasihan sama kalian,” jawab Banyu ketus.
“Ayah!” rengek ketiganya bersamaan.
“Loh, kalian kenapa ini?” Suara seorang wanita dari arah pintu membuat ketiga anak Banyu mengalihkan pandang.
Mencoba mencari pembelaan, ketiga remaja itu meminta sang tante untuk membujuk ayah mereka.
“Nyu, ini kenapa mereka kamu hukum?” tanya Kikan.
“Ha-ha-ha, ini kalian kenapa?” Rasya dan Mika yang baru masuk sontak menertawakan tiga bersaudara itu.
Bagaimana mereka tidak tertawa. Ketiga bersaudara itu kini tengah mengangkat satu kaki mereka dan salah satu tangannya menarik telinga saudara mereka. Caca menarik sebelah telinga Ata, Ata menarik sebelah telinga Bia, dan Bia menarik sebelah telinga Caca. Mereka terlihat seperti bocah SD yang baru saja melakukan kesalahan.
“Heh, kok malah diketawain sih! Nggak boleh,” omel Kikan pada kedua anaknya.
Tawa yang hampir kembali meledak itu terhenti begitu saja. Kedua remaja itu buru-buru duduk di samping kursi Banyu. Mereka tidak mau dimarahi oleh ibu mereka.
“Mama kalian mana?” tanya Kikan pada ketiga anak Banyu.
Bia mengedikkan dagunya ke arah dapur. Menunjuk sang ibu yang sejak tadi tidak boleh keluar dari sana.
Dari sorot mata Jingga, Kikan tahu wanita itu meminta bantuannya untuk melepaskan ketiga anak itu.
__ADS_1
“Nyu, tega banget kamu hukum mereka? Salah mereka apa coba?” tanya Kikan, berusaha untuk membela ketiga remaja yang telah ia anggap sebagai anaknya sendiri.
“Kesalahan mereka itu nggak bisa didiami, Ki. Kamu tahu? Dari siang mama mereka masak, dan mereka malah enak-enakan makan bakso di warung baru depan sana,” jelas Banyu dengan sorot mata begitu kecewa dan kesal.
“Mereka harus diajari apa itu menghargai keluarga sendiri. Kalau kejadian ini didiamkan, aku yakin mereka pasti akan melakukan kesalahan kecil lainnya dan berbuntut meremehkan aku dan mama mereka.”
Sejak kecil Banyu telah diajari apa itu menghargai oleh kedua orang tuanya. Meskipun ia bukan makhluk sempurna hingga tidak pernah melakukan kesalahan, setidaknya Banyu selalu berusaha. Banyu ingin ketiga anaknya juga melakukan hal yang sama. Ia ingin bocah-bocah itu belajar menghargai orang lain terutama keluarga, dari hal terkecil sekalipun.
Kikan dibuat tak berkutik dengan ungkapan Banyu, karena ia memang setuju akan hal itu. Namun, tetap saja menghukum ketiga anak itu dalam jangka waktu yang lama bukan hal baik pula. Setidaknya mereka sudah mengakui kesalahan mereka, dan mereka harus berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.
“Benar yang ayah kalian katakan?” Kali ini Kikan menghadap pada ketiga remaja yang masih mengangkat satu kakinya itu.
Ketiganya pun mengangguk mengakui. Mereka juga berjanji tidak akan mengulangi lagi. Semoga.
“Ya udah. Sekarang kalian lepasin itu tangan kalian dari telinga saudara kalian. Kakinya diturunkan. Minta maaf ke mama kalian!” perintah Kikan. Ia sangat tidak tega melihat kondisi telinga ketiga remaja itu yang sudah memerah.
Caca dan kedua adiknya melakukan apa yang Kikan perintahkan setelah mendapat anggukan dari ayah mereka. Mereka juga langsung berlari ke arah Jingga dan meminta maaf, karena secara tidak langsung telah mengecewakan wanita itu.
“Tega banget kamu jadi ayah,” bisik Deva.
“Lumayan, bisa jadi hiburan,” imbuhnya ditanggapi kekehan oleh Deva.
**
Sejak kejadian tadi siang, Caca dan kedua adiknya tak berani menyapa sang ayah. Raut kesal pria itu masih terpancar meskipun hanya sedikit.
Mereka yang kini menonton televisi bersama merasa seperti berada di dunia yang berbeda. Sikap Banyu saat marah, ternyata begitu mengerikan. Pria dengan rambut agak panjang dan cambang yang bertebaran itu masih mendiami ketiga anaknya. Hal itu justru lebih menyeramkan daripada mendapatkan nilai empat saat pelajaran matematika.
“Yah,” panggil Bia setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya. Kepalanya mendongak menatap ayahnya yang duduk di sofa.
“Yah,” panggil gadis itu lagi saat Banyu sama sekali tak merespons.
__ADS_1
“Hm,” deham Banyu tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.
“Ayah masih marah?” Bia memeluk kaki ayahnya seraya menyandarkan kepala.
Hening
“Ayah,” rengek Bia.
“Apa sih, Bia?” Kali ini Banyu mau menatap mata putri bungsunya.
Bia segera mendudukkan diri di samping ayahnya. Gadis remaja itu memeluk sang ayah dengan erat. Namun, tiba-tiba suara isak tangis dari gadis itu terdengar.
“Ayah, maafin, Bia dong. Bia nggak suka ayah marah kayak gini. Bia nggak suka ayah diemin Bia,” ujar gadis itu dengan isak tangisnya.
“Bia tahu, Bia salah. Harusnya tadi Bia nggak ngajak Kak Caca sama Kak Ata nyobain bakso itu. Harusnya tadi yang dihukum Bia doang. Tapi, Bia nggak mau ayah diem terus kayak gini,” imbuh gadis itu.
Diam-diam Banyu tersenyum dalam hatinya. Ia suka saat putrinya seperti ini. Sudah lama rasanya Banyu tidak dipeluk oleh Bia sambil menangis. Gadis kecil itu memeluknya hanya saat akan berangkat sekolah dan meminta uang jajan. Rasanya saat seperti ini, Banyu benar-benar menjadi seorang ayah. Ia bisa merasakan air mata putrinya. Ia bangga dengan ketiga anaknya yang selalu mau mengakui kesalahan mereka.
“Iya, Sayang, Ayah maafin kamu, kok. Ayah nggak mungkin bisa marah lama sama Bia,” tutur Banyu seraya mengusap punggung Bia.
“Tapi, inget ya, jangan diulangi lagi! Ayah tidak suka kalau kalian menyepelekan hal kecil seperti ini,” nasihat Banyu pada ketiga anaknya.
Setelah mendapati anggukan dari ketiga anaknya itu, Banyu kembali berucap, “Sini-sini peluk Ayah!” Banyu melambaikan tangannya pada Caca dan Ata. Saat Caca sudah menghambur pada ayahnya, Ata masih terdiam.
Namun, tak lama kemudian Ata memutari sofa dan memeluk Jingga dari belakang. Membuat Jingga tersenyum.
“Maafin Ata, ya, Ma,” bisik remaja itu. Suaranya terdengar parau.
“Iya, Sayang.”
***
__ADS_1
Ada yang kangen keluarga Banyu nggak nih? 😌😙
Jangan lupa like dan komen❤