
Senyum terukir jelas pada bibir pria yang tengah duduk sembari menunggu pesanan buburnya datang. Di hadapannya ada sang istri yang tengah cemberut sembari memainkan ponselnya. Banyu tersenyum geli mengingat bagaimana ia bisa membawa istrinya kembali setelah acara merajuk dadakan yang sempat membuatnya bingung.
Flashback
Setelah mendapatkan sedikit nasehat dari Deva, Banyu segera menyusul istrinya. Ia berjalan sedikit cepat agar bisa mengejar istrinya yang telah berjalan cukup jauh.
Banyu menautkan jarinya pada jemari sang istri saat ia sudah berada di samping gadis itu.
Jingga memberontak ingin melepaskan tautan tangan mereka. Tapi tentu saja tak akan bisa, karena Banyu menggenggamnya dengan begitu erat.
"Jangan ngambek dong, Ji." Banyu memaksa Jingga untuk berhenti. "Oke aku minta maaf untuk masalah tadi. Tapi semua itu aku lakukan juga buat kamu. Kamu lihat sekitar, semua cowok ngliatin kamu tahu nggak. Aku sebagai suami mana rela tubuh istriku dilihat cowok lain. Aku aja nggak pernah lihat tubuh kamu."
Jingga mengalihkan pandangannya. Suaminya memang benar, tapi Jingga tetap saja kekeh tak ingin bicara dengan suaminya. Ia ingin pulang saja.
"Masih marah?" Banyu kembali mencekal pergelangan tangan istrinya.
Gadis itu bergeming. Entahlah, Jingga juga bingung sendiri kenapa ia bisa seperti ini. Ia rasa karena hormon datang bulan, ia jadi sedikit lebih mudah marah dan tersinggung.
"Aku akan membelikan kamu es krim sebagai permintaan maaf." Banyu melangkah dengan menyeret lembut tangan istrinya. Tapi, gadis itu masih bergeming.
"Ayolah, Ji. Jangan seperti ini." Banyu memasang wajahnya melas.
"Aku malas sama Mas Banyu," ujar gadis itu ketus dan mencoba untuk melepaskan genggaman tangan suaminya.
"Ok, ok. Kamu mau apa sebagai permintaan maaf aku, nanti aku beliin." Senyum lembut Banyu berikan pada istri kecilnya ini. Berharap suasana hati Jingga akan membaik setelah ia memenuhi permintaan gadis itu.
"Kalau kamu tetap diam dan marah aku akan cium kamu di sini. Bagaimana?" Tantang Banyu saat masih tak ada respon dari istrinya.
Jingga sedikit terkejut dengan apa yang Banyu ucapkan. Tapi ia yakin suaminya tidak akan berani melakukannya, karena mereka sedang berada di tempat umum.
"Cium aja kalau berani!" Jingga mengangkat dagunya seolah meremehkan. Ia bahkan tak bisa melihat senyum licik tersungging sebentar dari bibir suaminya.
"Kalau aku sampai berani cium kamu di sini, kamu harus janji untuk tidak marah dan ikuti semua permintaan aku selama satu hari ini."
"Ok, aku yakin kamu nggak ak- hhmmppp" Kalimat Jingga tertelan kembali saat Banyu tiba-tiba ******* bibirnya. Mata gadis itu terbelalak kaget atas tindakan impulsif pria yang ia sebut sebagai suami. Jingga memukul dada Banyu saat sorak para pengunjung bergemuruh memenuhi gendang telinganya dan Jingga bersyukur, Banyu melepaskan tautan bibir mereka. Wajahnya memerah malu. Tak disangka pria itu benar-benar menciumnya ditengah keramaian.
Banyu tersenyum penuh kemenangan saat sang istri mencoba menyembunyikan diri di dadanya. Puas sudah hatinya, menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa gadis ini adalah istrinya. Para pria-pria yang tadinya menatap sang istri pun dibuat menganga olehnya.
__ADS_1
Flashback off
"Muka kamu kenapa kucel banget, Ji." Deva berujar sembari mengusap kepala Jingga. Ia duduk di samping gadis itu. "Diapain kamu sama Banyu?," tanya Deva.
Mengingat apa yang telah Banyu lakukan padanya beberapa waktu yang lalu, pipi Jingga memerah seketika. Ia hanya bisa menggeleng tanpa menjawab pertanyaan Deva.
Mereka berempat menikmati sarapan pagi dengan keheningan. Rasa lelah memburu mereka untuk segera diistirahatkan.
Setelah selesai dengan kegiatan pagi ini, Deva dan Kikan berpamitan untuk kembali ke kediaman mereka sendiri. Mereka tidak ingin mengganggu acara sepasang suami-istri itu lagi. Cukup tadi malam mereka mengacaukan kegiatan mereka untuk saling mendekatkan diri.
"Kayaknya gue emang harus cepet-cepet lupain si Banyu." Kikan menatap jalanan yang tengah ia dan Deva lintasi.
Deva menoleh. "Bukan kayaknya lagi, Ki. Lo emang harus mulai lupain Banyu. Buang jauh semua rasa lo itu, dan buka hati lo untuk orang lain." Deva mengusap bahu Kikan, mencoba menyalurkan semangat melalui tangannya.
Kikan menghela napasnya lemah. "Gue mungkin masih bisa lupain Banyu, tapi kalau buka hati gue buat cowok lain ... " Kikan menjeda ucapannya untuk mengambil napasnya yang terasa sesak. "Gue ragu."
"Apa yang buat lo ragu?." Nada Deva terdengar sedikit kesal. Kikan menolehkan kepala pada pria yang tengah mengemudi di sampingnya.
"Umur gue udah terlalu tua untuk nikah. Mana ada cowok yang mau ... "
"Nggak ada yang namanya terlalu tua untuk yang namanya nikah, Kikan. Dalam agama juga tidak diajarkan berapa usia minimal dan maksimal seseorang untuk menikah. Jadi, lo nggak bisa nyimpulin nggak ada cowok yang nggak suka sama lo, meskipun usia lo udah nggak muda lagi." Deva memotong ucapan Kikan karena kesal.
"Lo nggak harus ngikutin zaman untuk masalah yang satu ini, Kikan. Dan lo hanya harus percaya bahwa masih banyak cowok diluar sana yang bisa nerima lo apa adanya."
Kikan menatap bingung pada pria di sampingnya ini. Kenapa Deva terlihat sangat tidak suka. Bukannya dia dulu selalu mendukung apapun keputusan Kikan. Tak pernah sekalipun Kikan mendengar nada seperti itu dulu. Ini pertama kalinya.
Deva menarik dan membuang napasnya secara beraturan. Rasa tak suka dari hatinya tentang ucapan Kikan membuatnya hilang kendali. Deva yakin, Kikan merasa sangat aneh dengan sikapnya kali ini.
"Kita sudah sampai," ucap Deva sembari menghentikan laju mobilnya.
"Lo nggak mampir dulu?"
"Gue capek, pengen langsung balik. Kangen sama kasur." Deva memberikan senyum hangatnya seperti biasa.
"Ya udah, thanks ya udah nganterin gue, dan sorry untuk masalah semalem."
"Nope. Dari sekian banyak teman gue, emang cuma Banyu sama abangnya Jingga aja yang tahu kalau gue takut sama film horor dan phobia gelap." Deva membantu Kikan melepaskan seat beltnya. "Nanti gue jemput lagi. Hari Minggu nggak masalah kan kalau lo berangkat agak siang?"
__ADS_1
"Nggak usah, Dev. Gue berangkat naik taksi aja. Udah cukup lo jemput gue beberapa hari ini. Gue nggak mau ngrepotin lo terus-terusan."
"Gue nggak repot, Ki. Udah pokoknya nanti gue jemput lo jam sebelas, nggak ada penolakan." Deva turun dari mobilnya, membuka pintu mobil untuk Kikan dan menyuruh gadis itu untuk segera keluar. Deva segera melajukan kembali mobilnya setelah berpamitan pada Kikan. Meninggalkan gadis itu sendiri di loby apartemen.
...
"Pegangan dong, Jingga!"
"Ini aku udah pegangan." Jingga mencengkram bahu Banyu dengan erat.
"Nggak gitu. Gini!" Banyu menyentak tangan Jingga agar melingkar pada pinggangnya.
Eh? Jingga terpaku sejenak. Jantungnya berdetak lebih cepat, saat tubuhnya terasa menempel dengan tubuh Banyu. Ia sampai takut, Banyu akan mendengar detak jantungnya yang tak beraturan. Jingga hendak melepaskan tangannya dari pinggang Banyu, namun tertahan oleh tangan kekar pria itu.
"Udah gini aja," ujar Banyu dengan satu senyum yang tak bisa Jingga lihat.
Jingga bergeming. Entah kenapa ia tak bisa menolak. Dan, ya! Jingga sangat menikmati tubuh hangat suaminya yang terbalut hoodie maroon, senada dengan blousenya hari ini.
Terlalu menikmati perjalanan yang tak biasa, Jingga baru menyadari arah motor Banyu bukan menuju ke kafe.
"Kita mau ke mana, Mas? Ini bukan jalan ke kafe." Jingga mencondongkan wajahnya lebih ke depan supaya Banyu bisa mendengar suaranya.
"Mau kunjungan dadakan." Setelah menjawab Banyu menaikkan kecepatan, membuat Jingga sedikit oleng dan mempererat dekapannya pada oria itu.
"Kunjungan apa?" Jingga sama sekali tak tahu maksud dari kunjungan dadakan yang di maksud pria itu. Apa mungkin pulang ke rumah mertuanya? Tapi jalannya bukan lewat sini, melainkan searah dengan kafe. Lalu? Mau ke mana pria itu membawanya?.
Jingga semakin kesal saat tak ada jawaban apapun dari suaminya. Ingin sekali Jingga memukul kepala Banyu. Sudah sangat sering pria itu membawanya ke suatu tempat tanpa memberitahu terlebih dahulu.
Jingga terperangah saat motor Banyu berhenti di salah satu restoran bintang lima. Desain mewah melekat kuat meskipun dilihat dari luar. Pernah sekali Jingga masuk ke restoran ini untuk menghadiri acara kelulusan yang dibuat oleh pihak sekolah. Namun, kesan mewah yang hadir tak membuat harga menu melambung setinggi langit. Restoran ini hanya mengusung kemewahan tempat bukan harga.
Banyak kalangan anak muda yang mengunjungi restoran ini, hanya untuk sekedar mengambil gambar. Karena memang tujuan pendirian restoran ini bukan untuk dikunjungi para orang-orang kaya saja. Pemilik ingin semua orang dapat menikmati rasa makanan restoran bintang lima, namun dengan harga kaki lima.
Jingga terbangun dari kekagumannya. Ia ditarik untuk ikut masuk ke dalam restoran, namun tidak duduk dan memesan makanan.
"Kita mau ke mana sih, Mas. Loh kok masuk?"
Saat ini mereka berdua berada di dapur restoran.
__ADS_1
Semua karyawan terlihat sedikit kelimpungan melihat kedatangan sang pemilik yang sudah lama tak terlihat.
Manajer tergopoh-gopoh menyambut kedatangan Banyu dan Jingga. "Selamat siang, Mas Banyu." Manajer itu menunduk hormat pada Banyu, diikuti beberapa karyawan lain.