You Are Mine

You Are Mine
YAM-23


__ADS_3

...Happy reading 🤗...


"Lia! Akhirnya lo dateng juga!!"


Begitu masuk ke dalam kelas, Lia langsung di sambut pekikan Alya. Menghembuskan napasnya malas Lia duduk di bangkunya. Ia langsung menjatuhkan kepalanya di atas meja dengan tangannya sebagai bantalan.


"Ish, Li. Baru dateng malah mau tidur aja. Gue mau cerita ini." Alya mengucang tubuh Lia pelan. Membuat Lia berdecak kesal.


Menegakkan badannya, Lia menatap Alya kesal. Dirinya masih mengantuk. Semalam ia sama sekali tak bisa tidur karena masih memikirkan tetang kue beracun itu.


"Eh, mata lo kenapa? Gak tidur lo semalem?" tanya Alya saat menyadari ada yang berbeda dengan temannya.


Lia mengangguk singkat. "Kalau mau cerita nanti aja. Gue mau tidur bentar. Ngantuk banget."


"Hmm, yaudah deh."


Lia kembali ke posisinya semula. Ia mulai memejamkan matanya. Dan ia berharap semoga jam pertama ini kosong.


Beberapa saat berlalu Lia merasakan pipinya yang di tepuk-tepuk. Melenguh pelan, Lia perlahan membuka matanya. "Kenapa, Al? Gurunya udah dateng ya?" ucap Lia dengan suara serak.


"Ke UKS aja. Badan lo anget."


Menegakkan badannya, Lia kemudian mengecek suhu tubuhnya sendiri. "Gak kok. Biasa aja. Ini jam berapa?"


"Ini udah jam 9."


Lia terkejut mendengar itu. Berarti ia sudah tidur selama 2 jam. "Ini jamkos?" tanya Lia lagi yang di angguki Alya.


"Ayo, kita ke UKS. Badan lo tuh anget. Gak usah ngeyel!" Alya segera menarik Lia menuju UKS. Jika tidak begitu maka Lia tak akan pernah mau.


"Gyt, balik ke kelas aja. Gue gak papa kok."


"Gak usah ngeyel. Lagian yang nyuruh gue bawa lo ke UKS tuh Kevin."


"Hah?"


"Nanti gue ceritain. Ayo ke UKS dulu makannya. Kalau engga gue yang kena marah nanti."


Kali ini Lia diam tak melawan lagi. Ia mengikuti kemauan Alya yang membawanya ke UKS. Begitu sampai di UKS ia langsung bertanya tentang maksud Alya tadi. Dan Alya pun mulai menceritakannya.


 


*Alya yang sedang asik memainkan ponselnya mendogak menatap Kevin yang memanggilnya. "Apa?"


"Lia kenapa?"


"Tidur dia. Tadi malem gak bisa tidur.'


"Coba lo cek suhu badannya. Dia keliatan pucet."

__ADS_1


"Sok tau. Dia itu cuma ngantuk."


"Cek dulu cepet."


Menuruti apa yang di katakan Kevin. Alya mulai mengecek suhu bdan Lia. "Eh, iya. Badannya anget. Kok lo bisa tau sih Lia sakit?"


"Gak usah banyak tanya. Bangunin Lia, suruh ke UKS."


"Gak bakal mau dia.'


"Paksa. Kasian kalau di sini. Biar dia tidur di UKS."


"Lo aja deh."


"Lo aja. Temennya kan lo. Buruan. Gak kasihan lo sama teman sendiri?"


"Ck. Iya, iya. Lagian lo kenapa sih? Suka lo sama Lia."


"Banyak tanya banget sih lo. Buruan bangunin." setelah mengucapkan itu Kevin berlalu pergi dari hadapan Alya. Membuat Alya lagi-lagi berdecak kesal*.


 


"Gituu, terus gue bangunin lo deh." ucap Alya mengakhiri ceritanya.


Lia menghembuskannya napasnya. "Harus banget tanya dia suka gue apa engga ya?"


Alya menujukan deretan giginya. "Hehe, ya abis gue kepo banget kenapa dia care sama lo. Yaudah sekalian gue tanya aja kan. Dia aja sampai tau kalau lo sakit sekarang."


"Gak janji, Li. Hehehe..." ucap Alya yang di balas degusan kasar oleh Lia.


"Bibir gue emang keliatan pucet ya?"


Alya mengangguk. "Iya, keliatan banget malah. Udah lo tidur gih. Tenang gue temenin kok disini."


"Dih, alesan. Bilang aja mau bolos lo."


...****...


Lia membuka matanya saat menyadari jika tirainya terbuka. Dilihatnya Kevin sedang berdiri disana dengan membawa bungkusan makanan. Pria itu berjalan mendekat ke arahnya.


"Gimana? Udah baikan?" tanyanya tiba-tiba yang membuat Lia tersentak dan hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.


"Lo belum makan 'kan? Nih di makan." ucapnya seraya menyerahkan bungkusan makanan di tangannya.


"Eh, b-buat gue?" Lia menujuk dirinya sendiri.


"Iya, ambil."


"M-makasih. Lo harusnya gak perlu repot-repot gini." Lia menerimanya dengan tak enak hati. Sedang Kevin hanya tersenyum.

__ADS_1


"Lia doang yang di beliin. Gue enggak." dengus Alya yang kini sudah membuka tirai penghalang antara dirinya dan Lia.


"Ni buat lo." Cello mendekati Alya dan memberikan bungkus makanan yang sama dengan Lia.


Mata Alya langsung berbinar menatapnya. "Wahh lo emang temen paling baik. Sering-sering ya Vin kayak gini." Alya segera membuka bungkusan itu dan memakannya dengan lahap. Perutnya sudah terasa lapar sejak tadi.


"Makan, Li. Jangan diem aja. Kayak temen lo tuh. Kalau makan kayak gak pernah makan setahun aja."


"Heh!" sambar Alya yang sudah melotot tak terima.


Kevin menoleh pada Alya dengan seringai di wajahnya. "Apa? Emang gitu kan? Gak terima gue bilang gitu?"


Mendegus sebal, Alya melemparkan sebuah batal pada Kevin. "Sukurin tuh." ucap Alya saat batal yang di lemparnya tepat mengenai wajah Kevin.


"Eh, eh. Lo lempar balik, lo yang bersihin ya? Gue bawa makanan nih, kalau tumpa lo yang bersihin pokoknya!" seru Alya mengangkat makanan miliknya agar Kevin mengurungkan niat yang hedak melempar balik batal yang baru saja di lemparnya.


Benar saja. Kevin mengurungkan niatnya untuk membalas perbuatan Alya.. Sekarang gadis itu tersenyum penuh kemenangan. "Udah sana keluar lo. Lia udah gak butuh lo lagi. Pergi. Hush... Hush..." usir Alya.


Berdecak kasar. Kevin menetap Alya penuh permusuhan. "Udah di kasih makan gak bilang makasih, sekarang malah ngusir. Gak tau diri banget."


“Ouhh… aku lupa, maaf. Terima kasih untuk makanannya. Sekarang Lo bisa pergi. sana… Hush…”


Mendengus, Kevin beralih menatap Lia. "Li, gue balik ke kelas ya. Kalau ada apa-apa hubungi gue aja aja."


Lia mengangguk kecil. "I-iya."


"Kalau suka bilang. Di rebut orang nanti nagesss." sela Alya.


"Al!" sentak Lia kesal, namun Alya hanya mengabaikannya saja. Menunggu reaksi yang di tunjukkan Kevin. Namun sepertinya sia-sia karena Kevin seperti tak mendengar ucapannya barusan.


"Jangan lupa di makan, Li." setelah mengucapkan itu Kevj pergi sana. Membuat Alya kesal sendiri.


"Tuh cowo gengsinya gede banget dah." degus Alya sebal.


-Keesokkan harinya....


Hari ini Lia memilih tak berangkat sekolah dikarenakan suhu badannya pagi ini terasa panas. Kepalanya juga terasa pusing dan badannya lemas.


"Ini di makan dulu." ucap cleo yang sudah masuk ke dalam kamar Lia dan memberikan nampan yang berisi semangkuk bubur dan segelas air.


"Mama kemana?" tanya Lia.


"Belanja. Itu obatnya habis makan di minum. Kakk tinggal ya. Kalau ada apa-apa panggil aja."


Mengangguk singkat Lia kemudian mulai memakan buburnya. Setelah selesai ia kemudian meminum obat yang tadi di berikan kakaknya.


Masih tetap duduk bersandar pada kepala kasur, Lia mengambil ponselnya dan memainkannya.


"Kak San!" tiba-tiba saja Ivan masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


"Eh, jangan kesini. Keluar sana." ucap Lia saat melihat adiknya itu akan naik ke atas kasur.


Bersambung....


__ADS_2