Yuusuatouri: The Beginning of a Legend

Yuusuatouri: The Beginning of a Legend
Chapter 9 - Anak dengan darah Dewi dan Saint


__ADS_3

"... ..." Shira sedang membaca buku sihir di dalam kamar Homura. Ia berencana untuk tidak terluka di pertarungan selanjutnya.



"(Pokoknya, Shiratori... Ketika kamu berhubungan seks dengan Homura... Aku boleh-boleh saja menginzinkannya asalkan kamu bisa mengangkat tanggung jawab besar kepada Homura.)" Ucap Rina dengan sangat serius.



"Api bersatu dengan cahaya... Itu akan membuatkan elemenku menjadi cahaya solar 'kah? Apakah aku akan dijuluki sebagai Saint Light dan Solar?"



"Tapi, Homura juga akan melahirkan sebuah anak... Dan itu juga anak diriku. "



"T-Tapi 'kan... Kita belum berkencan dan bahkan belum menikah. Apakah Rina benar-benar menginzinkan diriku?" Shira menutup buku sihir tersebut.



Homura memasuki kamar Shira dengan mengusap-ngusap rambutnya yang basah. Ia baru saja beres mandi. "Shira, kamu sedang apa?" Tanya Homura selagi menghampiri Shira



"Aku baru saja beres membaca buku--" Seketika Shira melirik kepada Homura, hal yang pertama ia lihat adalah kedua payudara Homura yang berbentuk sempurna.



"Whoa..."



"Kita tidur yuk." Homura menghampiri lemarinya, lalu ia mengambil piyamanya.



"Ohh, iya, sebentar... Aku punya urusan lain." Shira pergi menghampiri dapur dengan wajah yang serius.



"Hmm..." Homura mengangguk, lalu ia melepaskan handuknya yang melindungi tubuhnya.



Beberapa menit kemudian, Shira melihat Rina sedang makan puding dengan wajah yang imut. "Rina..." Shira memanggil Rina dengan wajah yang serius.



Rina melirik kepada Shira. "Ohh~Gimana? Kalian udah ngeseks?"



"Apa-apaan tuh..." Ucap Shira dengan kesal.



"Kalian ini sudah cukup umur untuk melakukan hal itu, dan Shira... aku sangat sangat memperbolehkan dirimu untuk melakukan hubungan seks denganya. Lakukan lah segila-gila mungkin!!! Sampai pagi!!!" Rina tersenyum.



"(DEWI LAKNAT!!!)"



Rina menghampiri Shira, lalu ia memegang kedua tangannya. "Kumohon... Jagalah Homura dengan semua kekuatanmu, Shira."



Rina menjelaskan semuanya tentang kekuatan yang akan Shira dapatkan ketika ia melakukan seks dengan Homura, ia sangat menyarankan Shira untuk berhubungan seks dengannya sebelum kekuatannya melemah dan di setiap pertarungan pasti akan terdapat banyak sekali musuh yang lebih kuat. Legenda yang lemah tidak akan bertahan lama di Yuusuatouri.



Setelah beberapa lama kemudian, Shira masuk ke dalam kamar Homura dan ia melihat Homura sedang membaca buku tentang bayi. Homura melirik kepada Shira. "Ohh, Shira... Lama sekali."



"Maaf, aku sibuk tadi. Kamu belum tidur?" Shira menghampiri Homura.



"Belum, aku menunggu kamu." Homura tersenyum.



"Begitu ya."



Beberapa menit kemudian, mereka berbaring di kasur yang sama setiap hari. Shira masih terbangun dan kedua matanya masih terbuka. "Homura..."



"Kenapa...?" Homura melirik kepada Shira.



"Aku tidak bisa tidur karena berpikir tentang sesuatu..."



"Kau mau ngeseks sama aku?"



"Be-Begitulah..."



Homura mencium bibir Shira dengan sangat cepat. Ia memegang tangan Shira, lalu menepatkannya di kedua payudara Homura. "Cintailah aku, Shira... Buatlah aku hancur..."



Kedua mata Shira mulai berubah menjadi warna emas kegelapan. "Ini semua demi kau dan aku... Demi membuat Saint Dewi..." Kedua mata Homura mulai terbakar, lalu mereka mulai berhubungan seks dengan sangat lama hingga menjelang pagi.



Suara dan desehan mereka terasa sangat keras, hingga Rina bisa mendengarnya dan bahkan Megumi juga mendengarnya. Rina mulai merasa terganggu bahwa mereka melakukannya lama sekali. "Baru pertama kali udah bermain seperti hewan liar saja... Sialan..." Rina meminum kopinya.



Para tetangga juga bisa mendengarnya.



Skip... Keesokan harinya v: adegan ngeuenya di skip ye~



Megumi menghampiri Rina dengan wajah yang canggung. "Bibi, apakah mereka berhenti?"



"Iya, sepertinya..."



Shira dan Homura tiba-tiba berjalan menuju dapur dengan wajah yang senang bahkan Homura sedang memegang perutnya seperti ibu hamil. Rina dan Megumi melirik kepadanya.



"Selamat ya~" Megumi tersenyum.



"Mama..." Homura menangis tangisan bahagia, ia menghampiri Rina lalu memeluknya. "Kenapa, sayang?" Rina mengusap rambut Homura dan ia sudah mengetahui bahwa sepertinya Homura sedang mengandung anak Shira.



"Aku hamil... Anak dewi loh! Aku sedang mengangkat Legenda kecil di dalam perutku..." Homura mengusap air matanya dengan wajah yang senang.



Shira menggaruk-garuk rambutnya dengan wajah yang serius.



"CUCU PERTAMAKU!!!" Rina tersenyum, lalu ia memeluk Homura dengan sangat erat. "AKU SANGAT SENANG DAN BANGGA KAMU MENGANDUNG CUCU MAMA!!!" Rina menangis.



"Hehehe... Mama..."



Beberapa menit kemudian, Shira memeluk Homura. "Rina... Aku akan menjadikan Homura istriku. Bolehkah?"



Rina mengusap air matanya. "Tentu... Aku sangat setuju sekali."



"Tapi lusa Homura 'kan akan bertanding? Masa kamu harus bertanding ketika mengandung seorang anak?" Rina melirik kepada Homura.



"Ahhh... Soal itu, aku mengundurkan diri--"



Rina tiba-tiba berubah menjadi Mortem dengan wajah yang sangat kesal. "Jangan buat Mama kecewa dengan mengundurkan diri dari tournament... Aku tidak suka."



"Maaf..." Mortem melirik kepada Shira, dan wajah Shira tidak terlihat begitu ketakutan lagi ketika melihat Mortem. "Aku memiliki sebuah kekuatan yang mampu membuat anakmu lahir langsung. Shira... Maukah anakmu lahir secepatnya?"



"Silahkan, aku ingin Homura berpartisipasi kembali." Shira mengangguk.

__ADS_1



"Mama... Apakah...?" Homura terkejut.



"Iya... Aku juga bisa melahirkan sebuah anak secepatnya tanpa menunggu 9 bulan." Mortem tersenyum.



Mereka bertiga langsung terkejut. "HAH!?"



"Tapi, ingat-ingat dengan sangat baik... Homura... Shiratori... Kamu tahu 'kan bahwa merawat seorang anak itu sangat susah!"



"Dan anak kalian ini setengah Saint dan setengah Dewi... Itu pasti akan membuat kalian kewalahan dengan betapa kuatnya anak kalian ketika dia masih bayi." Ucap Mortem dengan sangat serius.



"Kita siap.." Mereka mengangguk.



"Homura, apakah kamu bisa masak...? Kamu selalu saja membeli makanan dari luar."



"Ahh! M-M-Mama!" Homura terkejut.



"Tidak apa-apa, aku saja yang memasak." Shira tersenyum.



"Ehh?" Homura terkejut.



"Aku cukup mahir dalam memasak makanan untuk seorang anak."



"Begitu ya..."



"Ingat-ingat saja bahwa aku akan langsung membesarkan anak ini menjadi berusia 5 tahun." Ucap Mortem dengan serius.



"Baiklah... 5 tahun sudah cukup untuk diriku mengikuti turnamen itu kembali dan juga... Aku dan Shira bisa mendapat dukungan dari dirinya." Homura tersenyum.



"Hehehe... Kau pintar juga." Mortem tersenyum. "Baiklah, mari kita mulai."



***



Homura sedang berbaring di atas kasur, sedangkan Mortem memegang perutnya dengan wajah yang sangat serius. Shira memegang tangan kanan Homura dengan sangat erat.



"Apakah ini sebuah sihir, Dewi Mortem?" Tanya Shira.



"Bukan. Ini hanyalah kekuatan yang hanya di miliki oleh dewi dan dewa..." Mortem menunjuk perut Homura.



"FAST FORWARD BORN!!! ANAK YANG MEMILIKI DARAH DEWI DAN JUGA DARAH SAINT... AKU MEMANGGILMU UNTUK LAHIR SECEPATNYA!!!" Mortem menepuk perut Homura.



"AHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!" Homura mulai merasakan kesakitan yang sangat dahsyat seperti melahirkan, tiba-tiba perutnya mulai membesar seperti balon, dan ya... Sebuah legenda kecil mulai keluar dari perut Homura dengan kondisi tertidur dan bahkan terlindungi oleh sebuah api.



"Hah... Hah... Hah..."



"Berhasil..." Mortem tersenyum.



Homura dan Shira langsung terkejut melihat anak mereka yang terlindungi oleh api dan cahaya. "Ahhh..." Shira merasa sangat terharu dan terkejut melihatnya.




Mortem mulai menyembuhkan keadaan Homura dalam sekejap.



Mortem menggendong anak mereka dengan wajah yang bangga. "Ini seorang gadis... Kalian mempunyai nama untuk bayi ini?" Mortem tersenyum.



Homura dan Shira saling melihat satu sama lain. "Kamu mau memberi dia nama apa, Homura? Sejujurnya... Aku tidak memiliki ide sama sekali." Tanya Shira.



"Hmmm... Bagaimana kalau Methode Ghifari?" Homura tersenyum.



"Methode? Namanya seperti dewi saja..."



"Wahhh... Nama yang bagus, Homura! Gimana Shiratori? Kamu setuju tidak memberi nama putrimu Shiratori Methode?" Mortem tersenyum.



"Ehh? Boleh saja sih, dia 'kan setengah dewi dan setengah saint, namanya juga sudah pantas untuk dirinya."



"Hmmm... Jadi, Methode...." Mortem melihat Methode yang sedang tertidur.



Shira dan Homura tersenyum, mereka langsung berciuman untuk beberapa detik. "Mama, biarkan lah aku menggendong putriku!"



"Hmm... Ini." Mortem memberi Methode kepada Homura, ia langsung menggendongnya dengan wajah yang sangat senang. "Hmmm... Gadis yang imut... Kuat... Dan bahkan sehat."



Shira memegang tangan kanannya dengan sangat erat. "Terima kasih, Homura..."



"Shira..." Homura tersenyum dan mulai menangis. Shira tersenyum, lalu mencium dahinya dengan penuh kasih sayang.



"Wahhhh... Imut sekali..." Megumi melihat wajah Methode yang sedang tertidur. "Bayi kamu ternyata tidak menangis ketika lahir ya..."



"Hahaha... Sepertinya dia tidak terlalu cengeng." Homura tersenyum.



"Garis keluarga yang baru akan dimulai..." Mortem tersenyum l.



Shira menggendong bayi itu. "Sepertinya aku menjadi Papa ya? Tidak dipercaya... Statusku telah level up dari jomblo menjadi Papa."



"Baiklah, gimana kalau aku mengubahnya menjadi gadis 5 tahun sekarang?" Mortem tersenyum.



"Ehh? Mama, bagaimana jika dia tidak mengetahui cara berjalan dan hal-hal yang harus semua legenda lakukan."



"Kamu waktu masih bayi langsung aku jadikan gadis 7 tahun loh, dan setelah itu lah kamu udah mengetahui semua tentang dunia ini. Jadi jangan khawatir." Mortem tersenyum.



"Tolong, Dewi Mortem..." Shira memberi Methode kepada Mortem. Mortem menggendongnya, lalu ia menutup kedua matanya.



"FASTFORWARD TIME!!! LAHIRLAH MENJADI ANAK 5 TAHUN!!!" Mortem menepuk kepala Methode dan ia langsung bersinar dengan sangat terang. Mereka semua langsung menghalang mata mereka kecuali Mortem.



Methode berubah menjadi gadis kecil berusia 5 tahun, ia langsung menoleh kepada Shira dengan wajah yang imut. "(AHHH!!! IMUT SEKALI!!! LOLICON PASTI BAKALAN NYULIK DIA!!!)" Shira terkejut.



"Shiratori!!! Jaga mulutmu." Ucap Mortem dengan sangat kesal karena ia bisa mendengar apa yang Shira katakan di dalam hatinya.

__ADS_1



"M-Maaf..."



"Papa..." Methode menunjuk Shira dengan wajah yang tersenyum. Shira tersenyum. "Iya, aku Papa." Shira menggendong Methode, lalu ia menunjuk Homura. "Itu siapa?"



"Itu Mama!" Methode tersenyum, ia menunjuk Mortem. "Itu nenek~"



"Ugh!" Mortem tertusuk dengan keimutan Methode, ia langsung berubah kembali menjadi Rina.



Methode menunjuk Megumi. "Kak Megumi~~~"



"Ahh~ Benar sekali." Megumi bertepuk tangan.



***



Mereka semua sedang makan sarapan seperti keluarga besar, Shira yang tinggal di dunia luar dan masuk ke dunia ini mulai merasa sangat senang dan bangga. Ia melihat Homura dan Methode sedang berbicara seperti ibu dan anak. "(Sepertinya aku menjadi seorang Saint Legenda adalah karena tujuan ini... Melindungi mereka...)"



Methode memakan buburnya dengan sangat lahap "Mmm! Mama, kapan Mama akan bertanding?!"



"Ehh? Kamu tahu...?" Homura terkejut, lalu ia melirik kepada Rina. "Dia ini seperti bersama kalian dari kemarin jadi dia mengetahui semuanya." Rina tersenyum.



"Begitu ya..." Homura mengusap rambut Methode.



"Papa! Papa kapan akan melawan musuh Papa dengan Light of Hope?" Methode tersenyum dengan sangat imut.



"Kita lihat nanti!" Shira tersenyum.



"Shira, gimana kalau kita melakukan sparring dengan kekuatan penuh?" Homura tersenyum.



"Hmm? Boleh!" Shira tersenyum.



***



Shira dan Homura sedang berada di luar, Methode sedang menonton mereka, hingga ia merasa sangat bersemangat melihatnya. "Mama! Papa! Semoga beruntung!!!"



"Aku tidak akan membiarkan Methode melihatmu sebagai yang terkuat, Homura." Shira langsung mengaktifkan Light of Hope dan Divinity Unleashed.



"Hmph... Aku juga... Mari kita tunjukan anak kita apa itu arti dari Legenda!" Homura tersenyum.



"Duel!"



*NYALAKAN LAGU YANG ADA DI ATAS SECEPATNYA!!!*



Tiba-tiba api yang sangat panas mulai melingkari Homura dengan sangat cepat hingga langit-langit berubah menjadi merah seperti api. Shira langsung terkejut dan bergetar penuh kesenangan karena merasakan kekuatan yang sangat besar di dalam Homura. "Me-Menakjubkan...!"



Rumput-rumput yang berada di sekitar Homura terbakar hangus menjadi debu. "Wahhhh! Mama!" Methode terkesan melihatnya.



Rina dan Megumi tersenyum. "Shira, kau bersiap saja dengan kekuatan Homura Flames..."



"Hmm!" Shira berpose kuda-kudanya.



"HAAAAAAAAAAAAAA!!!!" Homura mulai melayang dan Shira mulai berkeringat karena kepanasan dari api itu.



BAAAAMMMM!!!



Homura mendarat di atas tanah dengan wajah yang sangat serius, rambut Homura berubah menjadi warna merah darah dan bahkan memanjang. Kedua matanya terbakar. Homura telah mengaktifkan Homura Flames. "... ..."



"Hebat..." Shira terkejut.



"Aku akan memberikanmu kemudahan sedikit, Shira..."



"Jangan memberikanku itu... Itu tidak akan membantuku di turnamen!" Shira bergerak maju menghampiri Homura. Homura tersenyum dengan sangat bahagia.



Shira memukul Homura dengan sangat cepa, hingga tubuh Homura tidak bisa bergerak dan merasakan pukulan dan tendangan Shira. Shira mulai mundur dan terasa panas di kedua tangannya. "Cih!"



Homura mulai memukul Shita dengan sangat cepat, Shira menahannya. "FLAMES OF BIND!!!" Tiba-tiba Homura mengeluarkan tali api kepada Shira, kedua lengannya terbelit dengan sangat kuat. "HYAAAAHHHHH!!!" Homura melempar Shira ke atas langit.



Homura tiba-tiba muncul di depan Shira, tetapi Shira memukul wajahnya dengan sangat kuat. "LIGHT OF JUDGEMENT!!!" Shira menembak cincin cahaya ke arah perutnya, hingga Homura terdorong.



Shira mulai menggunakan Light of Gate dan tiba di bawah tanah, Homura tiba-tiba terbang menghampiri Shira dengan sangat cepat, hingga api-apinya tersebar.



Shira langsung terkejut dan tidak bisa bergerak sama sekali. "AHHH!!!"



Rina berubah menjadi Mortem dan ia langsung menunjuk Homura. "UGHHH!!!" Api Homura tiba-tiba menghilang dan ia tiba-tiba terjatuh. Mortem bisa melihat keadaan bahwa jika dia tidak menghentikannya, Shira bisa saja mati.



"Aduh--"



"Mama!!!" Methode melompat kepada Homura, lalu ia memeluknya. "Mama menang!!! Yay~"



Shira melirik kepada mereka berdua. "Hahhh... Methodeku di curi oleh Homura..." cahaya harapan Shira menghilang dan ia melirik kepada Mortem yang sedang tertawa terbahak-bahak



"Hahahahaha!!!"



"Hmph!" Shira melirik ke arah lain dengan sangat kesal. Methode tiba-tiba memeluk Shira. "Cahaya harapan Papa juga hebat!"



"Hahaha... Benarkan?" Shira menggendongnya.



"Transcended Dimension..." Tiba-tiba Shira mendengar seorang pria misterius di dekatnya.



Kedua mata Shira tiba-tiba berubah menjadi merah darah. "AHHHHHHH!!!" Shira jatuh pingsan dengan wajah yang ketakutan.



Methode terkejut dan ia juga ikut terjatuh. "Papa!?"



"Shira!!!" Homura terkejut lalu ia lari menghampiri Shira.


__ADS_1



__ADS_2