
"Hah..." Aku terasa mulai kelelahan menggunakan kedua kekuatan saintku secara bersamaan. Aku mulai merasakan sedikit energi sihir dari dalam tubuh Rxeonal karena ia benar-benar telah mati oleh serangan tadi. Tetapi...
Ia masih memiliki 1 nyawa terakhirnya dan aku pasti akan mengalahkannya dengan serangan selanjutnya! Serangan akhir untuk menyelamatkan Sillentesius dan membayar kematian Selvia.
BAMMMMM!!!
Tiba-tiba leherku tercekik dan aku terjatuh ke atas tanah dengan sangat keras. Aku lengah terhadap kecepatan Rxeonal. "K-Kau...?"
"Kekuatanmu sepertinya mulai melemah, Saint..." Rxeonal tersenyum dengan sangat jahat, aku bisa merasakan kekuatan murni dan energi sihirnya meningkat cukup besar.
"Cih... Ngghhh!" Kedua lenganku tertahan oleh kedua lengannya, aku tidak bisa bergerak dan melawannya balik. "Kamu ingin tau apa yang akan terjadi jika kau kalah dalam pertarungan ini?"
"Hah...!?"
"Papa dan Mamamu akan aku siksa dengan kekuatan... INII!!!"
STAAAAAAABBBB!!!
Dadaku tertusuk oleh pedang aura Rxeonal Demon's Glaive. Itu membuatku melemah dan bahkan aku merasakan seluruh energi sihirku terserap oleh pedangnya. "AGGGGGGGGGHHHHH!!! UGGHH!!!"
"Kedua kepala Papa dan Mamamu akan terpenggal oleh pedang ini... Dan nasib mereka akan sama persis seperti adik yang kau sangat cintai itu...!!!"
"Sialan kau...!? Bagaimana jika para dewa dan dewi menghentikan dirimu!?" Tanyaku dengan wajah yang kesal.
"Dewa dan dewi apanya? Mereka semua tidak akan pernah ikut campur dalam kehancuran dan juga kemusnahan. Mereka hanya bisa melihat dengan kedua mata mereka bahwa mereka ini dewa dan dewi. Mereka melakukan apa yang mereka mau."
"Nggghhh!!! GRRRRRRR!!!" Aku mulai merasa sangat muak dan tidak kuat dengan kehancuran dan bahkan kemusnahan. Aku ingin menghancurkan kedua hal itu dengan kewajibanku sendiri.
"K-Kau... KAU AKAN MEMBAYARNYAAAAAAAA!!!" Api suciku mulai membesar dan bahkan tanah-tanah mulai mengeluarkan lava berwarna biru.
Aku menghancurkan pedang milik iblis sialan itu dan iblis itu langsung mundur dengan terkejut. Aku perlahan bangkit dengan wajah yang terlihat sangat kesal. "Cihhh..."
"Kau menghancurkan wilayah Sillentesius..."
"Kau membuat Mama dan Papa terluka parah oleh perbuatanmu itu..."
__ADS_1
"Dan juga... Kau bahkan membunuh adik satu-satunya yang kusayangi... Selvia..."
"Grr...!! Hnggghh!!! Hah!!! Hah!!!" Api-apiku mulai membakar jantungku hingga kemarahanku mulai membesar seperti ingin meledak seperti gunung yang meletus.
"Kau akan menyesal memberitahuku tentang itu, raja tolol... Kau akan menyesal dengan perbuatanmu itu karena aku sekarang sedang merasa sangat kesal..."
"AKU SANGAT SANGAT KESAL... DAN SEKARANG..."
"KAU HARUS MEMBAYAR SEMUANYA!!!" Teriakku dengan aku terbang menuju arah Rxeonal dengan sangat amat cepat. "RASAKAAAAN!!! INIIII!!!"
SWOOOSSHHH!!!
Aku tiba-tiba berubah kembali menjadi wujud normalku yaitu Methode dan itu membuatku sangat amat lemah dan tidak bisa menggerakan tubuhku ini. "AHHHHH!?"
"HAHAHAHAHAHAHA!!! WAKTUMU TELAH HABIS, SAINT METHODE!!!"
"DIVINE PUNISH!!!" Rxeonal memukul wajahku dengan sangat keras hingga aku merasakan tulang kepalaku retak.
"GUUUUAAAGGGGHHHHH!!!" Aku terpental dengan sangat jauh dan aku merasakan kesakitan yang sangat dahsyat di kepalaku.
BAAAAMMMMM!!!
Tiba-tiba seseorang mulai menyelamatkan diriku dengan menahan pukulan itu. "Hah... Hah..." Ternyata yang menyelamatkan diriku adalah Mamaku di wujud normalnya.
"Jangan... Sentuh... Putriku." Kedua mata Mama terbakar, ia menatap Rxeonal dengan wajah kesal.
Homura's POV
"Hah... Hah... Hah..." Seluruh tubuhku masih terasa berat dan juga lemah, walaupun begitu... Aku tidak boleh menyerah karena itu bukanlah Legenda yang layak. "Hmph... Kekuatan para legenda jika digabungkan menjadi satu hanya akan menjadi sia-sia, menyerahlah!"
"Diamlah iblis keparat... Kau akan membayar kematian putri keduaku..." Aku mulai meneteskan air mataku dan mencoba untuk berubah menjadi Homuze.
Tiba-tiba aku tidak bisa berubah kembali menjadi wujud itu karena energi sihirku yang habis. "Cih..."
"Hee! Dimana kembaran milikmu itu?" Tanya Rxeonal dengan ia tersenyum lebar.
__ADS_1
"DIAMLAH DAN LIHATLAH DENGAN KEDUA MATAMU INI!!!" Aku melompat menuju arah Rxeonal dan mulai memukulnya, tetapi ia menahannya dengan sangat mudah.
Aku terus memukul seluruh tubuh Rxeonal tetapi pergerakanku sangat amat lambat karena aku merasa sangat lelah. Rxeonal terus menghindari pukulanku dengan mudah.
"Batasanmu membuatku muak!!!" Rxeonal menendang wajahku dengan sangat keras hingga aku terjatuh. Aku terjatuh dan tidak bisa bergerak lagi. Seluruh tubuhku terasa mati rasa. "Batasan sialan..." Aku merasa kesal dengan batasanku ini.
Rxeonal menunjuk Homura, tetapi tiba-tiba Shira muncul di sebelahnya lalu menendang wajahnya dengan sangat keras.
BAGGGGG!!!
Rxeonal tidak merasakan kesakitan. Ia memegang kaki Shira dan langsung menghantamnya ke arahku dengan sangat kasar.
BAMMMMMMMMM!!!
"AGGGGGGGGGHHHHH!!!" Aku dan Shira memuntahkan banyak sekali darah karena Rxeonal yang memiliki stamina yang tidak terhabiskan menghantamkan tubuh Shira kepadaku
Rxeonal mulai tertawa dengan sangat puas. Aku dan Shira tidak bisa melakukan apapun kecuali melihatnya sedang menunjuk bawah tanah, ia sepertinya berencana untuk menghancurkan wilayah ini.
"Sepertinya aku... Tidak bisa... Menepati janjiku kepada dirimu, Homura..." Shira mulai merasa kelelahan, hingga aku merasakan energi sihirnya yang berkurang. "Jangan... Menyalahakan dirimu sendiri... Semua ini adalah salahku juga... Kematian Selvia... Itu semua salahku." Aku mulai menangis untuk pertama kalinya, karena ini adalah pertama kalinya aku kalah oleh seorang musuh.
"Mari kita mati bersama, Homura..." Shira memelukku dengan sangat erat, hingga aku bisa merasa tenang dalam kematian kita.
"Hmmm..." Aku mengejamkan kedua mataku dan bersiap untuk mati dan meninggalkan dunia indah ini.
"Kalian berdua memang hebat juga... Tapi..." Rxeonal masih memberi mereka hormat di momen terakhir mereka.
"SEMUA INI... BERAKHIR!!! CHAOS BREAKER!!!" Rxeonal menembakkan sihir penghancur yang mampu menghancurkan 3 wilayah sekaligus menuju tanah. Rxeonal dengan cepat langsung menghilang dari wilayah Sillentesius. Tanah-tanah mulai mengeluarkan api dan juga lava yang sangat besar.
Wilayah Sillentesius mulai perlahan hancur seperti debu yang berhamburan. Sepertinya ini adalah akhir perjalan untukku dan Shira...
Sampai jumpa lagi, dunia, Mama... Aku gagal sebagai Legenda dewi yang kuat... Sifat kenaifanku memang sangat menyebalkan---
BAAAAAAMMMM!!!
Wilayah Sillentesius meledak menjadi berkeping-keping seperti debu yang terbakar, sepertinya tidak ada harapan lagi untuk Legenda yang tinggal di wilayah Sillentesius.
__ADS_1