
Korrina mulai menatap Rigel dan Shou yang sedang melakukan kuda-kuda bertarung mereka. Dengan bersamaan, mereka bertiga langsung muncul di atas langit. Rigel dan Shou mulai mengayunkan pedang mereka menuju arah Korrina beberapa kali dengan seluruh tenaga mereka, mereka menggunakan gaya berpedang yang mereka tahu.
Korrina berhasil menghindari semua serangan itu dengan mudah selagi tersenyum. "Hyahhh!" Rigel mengayunkan pedangnya ke arah leher dan wajah Korrina tetapi serangan Rigel tidak mampu melukai Korrina, bahkan Shou juga yang menyerang perut Korrina tanpa henti tetapi Korrina masih bisa menghindari serangan mereka. Korrina masih belum terkena oleh serangan yang mereka kerahkan karena pergerakan mereka cukup mudah untuk ditebak melalui Lenergy mereka.
Serangan mereka tiba-tiba terhentikan ketika bahu mereka saling mengenai. "Ugh...! Rigel, biarkan aku yang menyerang duluan!!!" Shou melesat ke depan lalu ia mulai mengayunkan pedangnga beberapa kali menuju arah Korrina, tetapi ia berhasil menghindari semua serangan Shou.
Rigel mulai melesat menuju arah Korrina dan ia juga melakukan hal yang sama yaitu mengayunkan pedangnya beberapa kali menuju arah Korrina. Korrina terbang mundur dengan pelan selagi menghindari serangan mereka. "BAGAIMANA CARANYA AKU BISA MENGENAIMU, SIALAN!!!" Shou mengayunkan pedangnya ke arah kedua mata Korrina dan itu meleset.
"Emosi-mu melonjak lagi, Shou. Itu tidak baik." Ucap Korrina. "Sialan, dia hanya menyombongkan dirinya sendiri!" Shou melesat menuju arah Korrina lalu Rigel juga melakukan hal yang sama karena ia hanya akan mengikuti Shou saja.
Mereka berdua langsung menghilang dan muncul di sekitar Korrina tanpa henti selagi mencoba untuk menyerang, Korrina berhasil menghindari semua serangan sulit itu karena bantuan dari indra perasaannya yang tajam, seluruh God Lenergy-nya sekarang sedang menyebar hingga ia mampu mendeteksi pergerakan Shou dan Rigel walaupun mereka bergerak dengan cepat atau melakukan sihir teleportasi selagi mencoba untuk menyerangnya.
Mereka bersamaan muncul di depan Korrina, Korrina langsung menghancurkan kedua pedang Shou dan Rigel dan setelah itu ia memegang kedua tinjunya. "Kalian kalah." Korrina langsung menghantam tubuh mereka dengan satu sama lain hingga kepala mereka juga saling mengenai satu sama lain.
"Augghhh...!!!" Mereka berdua langsung memegang kepala mereka yang terasa menyakitkan. "Ughhh... Dasar Rigel bodoh, seharusnya kau menyerangnya dari belakang...!" Ucap Shou selagi mengusap-usap rambutnya.
"Tenanglah, Shou! Kau selalu saja menyalahiku, bukannya kau selalu membuat kesalahan yang lebih buruk dariku!?" Tanya Rigel kesal. "Ughh... Biarkanlah aku melawan dewi Korrina satu lawan satu dulu, Shou!" Rigel langsung melesat menuju arah Korrina dengan aura emas-nya yang melumuri tubuhnya.
"Rigel, tunggu!" Ucap Shou. Rigel mulai memukul dan menendang seluruh tubuh Korrina tanpa henti, Korrina menghindari semua serangan itu dengan terbang mundur ke belakang. Rigel mulai menendang wajahnya beberapa kali dan setelah itu Korrina langsung menahan kaki kiri Rigel hingga ia langsung membuat Rigel terjatuh menuju daratan dengan mendorong kaki kirinya.
Korrina melirik ke atas, ia melihat Shou sedang menatapnya dengan tatapan yang terlihat serius, Shou mengepalkan kedua tinjunya. "... ..." Shou menghela nafasnya halus. Korrina mulai melakukan kuda-kuda seperti Wing-chun, ia tersenyum lebar melihat Shou yang tiba-tiba tersenyum jaga.
Shou melesat ke arah Korrina lalu ia mulai memukul dan menendangnya dengan kecepatan penuh, Korrina berhasil menangkis semua serangan itu dengan tenang, ia tidak merubah ekspresinya melainkan ia terus tersenyum selagi menahan serangan Shou. Korrina langsung mencekik leher Shou hingga seluruh pergerakannya terhentikan karena sebuah cekikan. "Tidak mungkin..." Ucap Shou.
Korrina melemparnya ke depan, Shou tidak berhenti menyerangnya. Ia mulai berputar 360° lalu ia melesat menuju arah Korrina. "Hee..." Korrina membuka kedua matanya dengan sangat lebar hingga mampu membuat Shou terpental ke belakang. "Rigel! Bersama!" Teriak Shou.
"Hm! Ayo!" Rigel dan Shou melesat menuju arah Korrina lalu mereka dengan bersamaan menyerang Korrina dari arah kanan dan kiri. Korrina tersenyum lalu ia menunjuk mereka berdua dengan jari telunjuk, mereka berdua langsung terdorong ke belakang. "Hah... Hah... Hah..." Mereka berdua bernafas cukup berat karena lelah bertarumg dengan Korrina.
"Kalian berdua lulus.", Korrina tersenyum. Sudah 3 hari ia melatih mereka tentang apa yang harus mereka pelajari dan sepertinya sudah terlihat jelas bahwa mereka berdua lulus dalam berlatih dengan Korrina. "Shou... Rigel... Sepertinya kalian sudah siap untuk bertarung melawan musuh kalian." Korrina mendarat di atas tanah selagi menunjukkan wajah yang terlihat bangga.
Shou dan Rigel langsung mendarat di sebelah sungai air suci itu, mereka meminum air suci itu hingga seluruh tubuh mereka yang terasa pegal dan lelah mulai pulih kembali seperti biasanya. "Shou, kau akan pergi melawan Shin dan Arata dengan apa?" Tanya Korrina.
"Aku akan melawan mereka dengan semua kekuatan yang aku punya... Aku juga tidak akan lupa untuk mengontrol emosiku ketika melawan Arata dan aku juga harus memiliki sebuah rencana atau strategi untuk melawan Shin." Ucap Shou, ia mulai mengepalkan kedua tinjunya.
"Aku bangga kau sekarang bisa mendengarkanku, Shou." Korrina tersenyum lebar. "Aku akan memberikanmu beberapa informasi penting tentang Shin." Korrina mulai berjalan pergi meninggalkan danau itu, ia berencana untuk pulang dengan berjalan menuju kastil-nya. "Kekuatan Shin adalah Dark Crimson, itu artinya bahwa Shin ini memiliki sihir kuno yang sama persis seperti Alvin, efek sihirnya masih tetap saja sama, tetapi yang membedakannya adalah Dark..."
"Sihir kegelapan yang memiliki efek kehancuran tinggi digabungkan dengan sihir crimson yang memiliki efek kehancuran dan kekuatan tinggi yang bisa saja menimbulkan suatu kehancuran yang lebih dahsyat... Bayangkan lebih tinggi lagi, Shou, apa yang akan terjadi jika kau terkena oleh Dark Crimson itu?" Tanya Korrina.
__ADS_1
"Tubuhku pasti akan hancur atau... Tubuhku akan merasakan kesakitan yang menyengat sekali karena sihir itu." Shou menatap kedua telapak tangannya. "Shin memiliki 7 perubahan yang mampu menaikan seluruh atributnya... Yang harus kau khawatirkan adalah wujud ketujuhnya yang bernama Shin God Mode, dia juga pasti akan memiliki God Lenergy." Ucap Korrina.
"Kau tidak boleh meremehkan Shin karena ia memiliki sihir ilusi yang aku dan Mortem ajarkan kepadanya. Ia juga pernah dilatih olehku beberapa hari, mungkin kau melawannya sendiri adalah hal yang buruk... Tugas apa yang akan kau berikan kepada Shinigami itu?" Tanya Korrina.
"Aku sudah merencanakannya sejak awal, nenek. Aku merahasiakannya karena aku memiliki strategi bagus untuk Clare bertarung nanti." Shou tersenyum jahat, ia mulai menatap kedua telapak tangan kanannya. "Jika sihir Crimson mampu membuatnya menjadi lebih kuat lagi karena luka-luka yang ia alami maka aku juga akan melakukan hal yang sama dengan sihir Eternalku, kenapa aku sejak awal tidak menggunakan sihir hebat ini?" Tanya Shou.
"Gunakanlah di saat kau benar-benar membutuhkannya karena sihir Eternal itu sangat berbahaya, jika kau tidak mendengarkanku maka kau terserah untuk bersikap ceroboh semaumu."
"Tenang, nenek... Aku adalah ras Eternal yang memiliki seratus persen dari darah Eternal... Jadi aku sudah bisa disebut dengan ras Eternal yang asli, beda seperti seseorang yang bernama Shiro dan Homuze, mereka hanyalah setengah dari Eternal... Darah Eternal mereka itu belum menempuh persentase seratus." Shou mengetahui Shiro dan Homuze karena Haruka pernah menunjukkan Cage of Memories kepadanya dan ia merasa sangat kecewa melihat kedua orang tua kandungnya mati karena sihir Eternal mereka.
"Perkataanmu itu terdengar cukup dipercaya bagiku. Setidaknya kita haus melihat apa yang terjadi selanjutnya jika kau menggunakan sihir Eternal." Ucap Korrina, kebanyakan sihir Eternal mampu merusak tubuh si pengguna karena energi negatif yang mereka miliki. Jadi bayangkan saja energi negatif itu seperti bilatung bagi mereka yang perlahan-lahan memakan tubuh mereka sedikit demi sedikit.
"Pedang yang Shin pegang bernama Dxydier. Pedang atribut kegelapan milik dirinya sendiri, pedang itu memiliki kemampuan untuk menyerap sedikit kekuatan sihir musuhnya saat sedang menangkis atau memotong sihir itu. Kemampuan lainnya... Pedang ini dapat bertukar tempat dengan Shin misalnya jika pedang itu berada di atas langit dan Shin berada di daratan maka posisi mereka bisa saja ditukar." Korrina langsung membuat sebuah jalan lurus menggunakan aura sacrednya, jalan itu akan membawa mereka bertiga menuju kastil milik Alvin.
"Itu saja informasi yang aku bisa berikan kepadamu, Shou. Dan yang terakhir adalah musuh terberatmu yang bernama Shimatsu Arata." Ucap Korrina. Shou langsung menunjukkan ekspresi yang terlihat serius. "Telingaku mendengar semua perkataanmu, nenek."
"Arata adalah pemilik resmi dari pedang tujuh dosa besar, disetiap ketujuh pedang itu melambangkan dosa-nya masing-masing... Sloth, Envy, Wrath, Pride, Gluttony, Greed..." Wajah Korrina langsung memerah. "...dan Lust~" Ucap Korrina dengan nada yang terdengar berbeda, hal itu membuat Shou langsung menunjukkan wajah kebingungannya. "Nenek baik-baik saja?"
"Hmm..." Korrina mengangguk. "Di setiap tujuh pedang itu memiliki kemampuannya masing-masing. Dan bahkan tujuh pedang itu memiliki kemampuan yang sangat tersembunyi, Shou." Ucap Korrina.
"Apa itu?"
"Sword of Gluttony, kau tidak boleh menunjukkan emosi kerakusanmu... Sword of Pride, kau tidak boleh menunjukkan emosi kesombonganmu... Sword of Sloth, kau tidak boleh menunjukkan emosi kemalasanmu... Sword of Envy, kau tidak boleh menunjukkan emosi iri... Sword of Greed, kau tidak boleh menunjukkan emosi keserakahanmu..." Korrina langsung memegang bibirnya dengan jarinya, ia mulai memikirkan hal yang aneh-aneh ketika mengingat nama dari sword of Lust yang artinya pedang kenafsuan.
"Sword of Lust... K-Kau... Kau... Tidak boleh... Menunjukkan... Emosi... Kenafsuan... Mu..." Ucap Korrina, wajahnya terlihat sangat merah seperti tomat dan pikirannya mulai berpikir sangat jatuh sekali. "Jika pedang itu mengenaimu maka kau akan merasakan... Kenafsuan... Yang berat..." Korrina tersenyum.
"Nenek ini mesum ya?" Tanya Shou.
"Tentu saja tidak!!! Aku hanya ingin meminjam pedang itu demi menusuk Alvin agar aku bisa melahirkan jutaan anak!!!" Ucap Korrina, mulutnya baru saja berbicara dengan sendirinya karena efek dari pikirannya yang berpindah kemana-mana. "Ahhh...!!!" Korrina menghalang mulutnya. Rigel dan Shou langsung menunjukkan wajah yang terlihat kebingungan dan di ekspresi wajah itu juga terdapat kecanggungan.
Mereka bertiga mulai terheningkan hingga tidak ada satupun orang yang mengatakan sesuatu. "Gwahhh..." Aiko pegang rambut Korrina selagi tertidur dengan sangat nyenyak. "Dasar mesum---"
"UWAHHHHHHHH!!!" Korrina langsung melarikan diri dengan lari secepat mungkin ke depan, ia meninggalkan mereka berdua tanpa mengatakan sesuatu yang penting. "Dewi Korrina bertingkah aneh ya..." Ucap Rigel.
"Sikap kemesuman-nya mulai keluar."
"Shou! Jaga mulutmu itu!"
__ADS_1
"Aku benar kok. Kau seharusnya sadar karena Nenek memiliki 10 anak lebih." Shou menghela nafasnya.
SWOOOOOOOOOOSSHHHH!!!
Clare muncul di belakang mereka berdua, ia baru saja selesai menjalankan tugas yang Shou berikan yaitu mencari lokasi dimana Shin berada. "Tuan, aku menemukan tempat dimana Shin bersembunyi."
"Ohh?! Beritahu aku." Shou melirik ke arah Clare. "Dia sedang berada di planet yang bernama Vertigu, dia juga sekarang sedang berada disebuah kabin kayu bersama seorang gadis, kabin itu terletak di tengah-tengah hutan besar dan tidak ada mortal lainnya yang bersama Shin melainkan seorang gadis yang bernama Sakura Azayaka." Ucap Clare, ia bisa mengetahui semua informasi itu karena Clare telah mengawasi Shin selama berhari-hari hingga ia memiliki informasi jelas untuk diberikan kepada Shou.
"Bagus, Clare... Itu artinya aku bisa bertarung dengannya tanpa harus mengkhawatirkan Legenda lainnya, hanya satu gadis ya? Mungkin dia bisa saja seseorang yang Shin kenal." Ucap Shou, ia mulai mengepalkan kedua tinjunya. "Clare, bawa aku ke sana."
"Baiklah, tuan." Clare berbalik arah, ia mulai mencoba untuk menggunakan sihir teleportasinya. Tiba-tiba sebuah aura sacred muncul di belakang Shou dan aura itu mulai melumuri sebuah Kisetsu yang berwarna ungu gelap, Shou melirik ke belakang lalu ia melihat Kisetsu itu. "Ahh...? Jangan-jangan nenek memberikan ini kepadaku?" Shou mulai mengambil Kisetsu itu.
"Apakah kau lupa bahwa Dewi Korrina akan memberikanmu sebuah hadiah Kisetsu suci jika kau lulus dalam latihan mililnya" Tanya Rigel.
"Kau benar..." Shou langsung memakai Kisetsu itu. "Rigel... Aku pergi dulu, lebih baik kau tunggu saja di planet Legendarius dan berdoa demiku agar aku bisa pulang dengan selamat." Ucap Shou, Rigel langsung tersenyum tulus ketika ia mendengar perkataan yang Shou ucapkan, Rigel mulai memeluk Shou erat. "Aku pasti akan selalu menunggumu pulang, Shou." Ucap Rigel.
Shou tersenyum lalu ia membalas pelukan itu. "Hm... Terima kasih." Beberapa detik kemudian, Shou berhenti memeluknya. "Aku akan menyelesaikan tujuanku sampai selesai, Rigel!"
"Hmm! Aku percaya it---" Shou mencium bibir Rigel sebentar, setelah itu ia meraba punggung Clare. "Aku mencintaimu, Rigel." Seluruh tubuh Shou dan Clare langsung dilumuri oleh aura kegelapan, mereka berdua langsung meluncur ke atas langit dan meninggalkan Rigel sendiri dengan ekspresi yang terlihat terkejut.
"Dia... Menciumku...? KYAAAAAA!!!" Teriak Rigel senang, ia mulai melompat-lompat di atas daratan karena ia baru saja mendapatkan ciuman pertama Shou. Rigel langsung menatap langit-langit. "Semoga beruntung, Shou!"
Planet Vertigu, di tengah-tengah hutan yang besar terdapat sebuah kabin kayu, Shin dan seorang gadis yang bernama Sakura tinggal bersama di kabin itu. Shin bertemu dengan gadis itu ketika ia membantai semua Legenda yang menyebar rumor buruk tentang keluarga Ghifari.
Shin jatuh cinta karena pandangan pertama melihat Sakura. Sakura dapat menenangkannya setiap saat bahkan ia juga mampu membuat kemarahan Shin menurun, Sakura di sisi lainnya mencintai Shin karena dia adalah seorang anggota Ghifari yang memiliki tujuan untuk membasmi para Legenda yang menyebarkan rumor buruk tentang keluarga Ghifari.
Shin dan Sakura sedang duduk di kursi yang berada di teras, mereka sedang bergandengan tangan selagi melihat pemandangan sungai yang memiliki air jernih. Shin tiba-tiba merasakan sebuah gelombang sihir besar yang meluncur menuju arahnya, ia melirik ke atas dan ia melihat gelombang emas yang sedang melesat menuju arahnya. "Sakura, awas!!!" Shin langsung mendorong Sakura mundur dan setelah itu ia bersama dengan kabinnya langsung terkena oleh gelombang sihir emas itu.
BAAAAAAMMMMMMMMM!!!
Gelombang sihir itu berasal dari Shou yang sedang berada di atas langit, ia melesat menuju arah Shin lalu ia memukul wajahnya hingga ia terdorong ke belakang. "Shin...!!!" Teriak Sakura, ia mencoba untuk menyerang Shou, tetapi lehernya langsung terhalangi oleh sabit milik Clare. Clare sedang berada di belakangnya. "Jika kau bergerak sedikit saja... Kepalamu akan aku jadi koleksi." Clare tersenyum jahat.
"Chains of Reclipse!!!" Shou menunjuk Shin hingga seluruh tubuh Shin langsung terbelit oleh rantai yang berwarna ungu gelap, Shou menghampiri Shin selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat serius. "Eclipse Breaker." Shou langsung menciptakan sebuah pedang di tangan kanannya.
Shou langsung tersenyum jahat. "Lebih baik aku membunuhmu saja daripada aku harus menyadarkanmu, Shin. Kau ini keras kepala... Dan Legenda yang keras kepala akan menyusahkan sekali untuk diubah." Shou langsung menebas leher Shin hingga kepalanya langsung terjatuh. "... ..." Darah milik Shin langsung mengenai wajah Shou dan tubuhnya juga.
__ADS_1
"TIDAAAAAAAAAKKKKK!!!" Teriak Sakura, ia mulai menangis melihat Shin terbunuh oleh Shou, ia bahkan tidak memberikan Shin kesempatan untuk berbicara. "Misi selesai." Ucap Shou.