
Di dalam rumah Shira. Shira sedang beristirahat sebentar dengan tidur di atas kedua paha Homura. Shira mulai melihat atap-atap dimana ia juga bisa melihat Homura yang sedang mengelus rambutnya.
"Methode dan Selvia mereka ini mulai menjadi anak nakal loh... Aku tidak punya pilihan selain menghukum mereka." Homura menghela nafasnya.
"Hahaha... Yah... Kau pernah bilang bahwa keturunan Ghifari pasti memiliki keturunan ras Eternal."
"Hmm..."
"Seperti dirimu ini di wujud Homuze... Kau masih bisa mengkontrol emosi dan sifatmu ini, Homura. Aku bahkan masih bisa mengenalmu sebagai Homura yang aku cintai dan sayangi."
"Walaupun aku bisa mengontrolnya... Homuze itu menyeramkan."
Shira terkekeh, ia langsung mencubit pipi kirinya. "Walaupun menyeramkan... Aku masih tetap mencintaimu."
"Hmph..." Homura mulai melirik ke arah barat karena ia terasa sangat malu dan bahkan tersipu. "Kau sudah berani membuatku tersipu ya."
"Kamu kapan datang ke akademi Sillentesius?" Tanya Homura.
"Kapan-kapan... Aku masih harus berlatih bersama Mortem..."
"Begitu ya... Kamu memang tidak pernah berubah sama sekali, Shira." Homura terkekeh.
"Hahaha..."
"Mengapa harus berlatih seni bela diri jika sihir-sihirmu itu butuh banyak latihan?" Tanya Homura dengan wajah yang sangat serius.
Shira bangkit dari paha Homura dengan wajah yang serius. "Itu bisa aku tunda nanti..."
"Homura."
"Apa?"
"Kau tau dimana Kakakmu berada?" Tanya Shira dengan sangat serius.
"Mengapa kau menanyakan soal itu? Apa kau butuh sesuatu dari dia?"
"Iya, sepertinya begitu..."
"Dan itu?"
"Tidak, tidak, tidak... Kita ganti topik itu dulu menjadi topik tentang kakakmu, Homura. Dimana dia sekarang?!"
"Dia berada di tempat yang sangat jauh... Kita tidak bisa kesana karena tempat itu berada di Xuusuatouri."
"Cih... Sialan...!" Shira memegang kepalanya yang terasa sangat pusing.
Shira bangkit dari lantai, Homura mulai menatap Shira dengan wajah yang penasaran. Ia merasakan bahwa ada yang berbeda dan juga hal yang tidak beres.
"Homura... Jangan marah ketika aku memberitahumu tentang ini sekarang juga..."
"5 hari yang akan datang, para iblis dan juga raja Iblis Rxeonal akan menyerang wilayah Sillentesius."
"Dan karena itu juga... Bisakah kau melindungi Methode dan Selvia sedangkan aku mencoba untuk menahan mereka semua?"
"Kenapa kau membicarakan itu sekarang?" Tanya Homura.
"Wilayah itu akan menjadi neraka abadi setelah 5 hari kemudian... Kita tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi disana."
"Aku tahu Rxeonal akan menyerang karena Saint Sense-ku bisa merasakannya."
"Aku sangat takut dan juga tidak begitu kuat untuk melawan dirinya..."
"Jika saja ada sesuatu yang terjadi kepada keluargaku---"
"Mengapa harus kau saja yang menahan para iblis-iblis itu?" Tanya Homura.
__ADS_1
"Dan tugasku hanya diam saja dan melindungi anak-anak dimana itu aman!?" Homura tiba-tiba berubah menjadi wujud Homuze. Ia bangkit dari lantai, lalu bergerak menghampiri Shira.
"Jika aku dan Homura menurut kepada kau hingga kau tidak akan pernah kembali... Aku janji dan pasti akan..."
"Menghancurkan seluruh semesta hingga tidak ada apapun yang tersisa!"
Shira langsung terkejut mendengar perkataan Homuze yang sangat menyeramkan itu. "Aku tidak punya alasan lagi untuk hidup tanpamu... Aku lebih memilih semuanya hancur saja, jika kau mati. Aku sudah lelah dengan kehidupanku ini."
"Maaf... Aku mulai sedikit panik dan tidak enak badan..."
"Di dalam jiwaku... Aku memilih untuk bertarung sebagai Legenda di masa lalu dimana mereka bertarung gila sampai mati..."
Shira memegang kedua tangan Homuze dengan wajah yang khawatir. "Aku tidak peduli jika para iblis menyerang Sillentesius... Kita harus melawan dan menghentikan mereka nanti."
"Itu pilihan bagus..."
"Shira, apakah kau pernah berpikir tentang kekuatan Raja Iblis Rxeonal itu?"
"Huh?"
"Raja Iblis Rxeonal memiliki 3 nyawa abadi yang dapat membuatnya hidup kembali jika ia di bunuh, jika ia terbunuh... Ia hanya akan berkembang menjadi semakin kuat... Dan jika ia menggunakan sihir kuatnya untuk menghancurkan wilayah Sillentesius... Kita juga pasti akan terhancurkan oleh sihir itu."
"Aku hanya bisa membayangkan tentang kedua anak-anak kita yang pasti akan panik ketika kita juga terhancurkan oleh sihir itu."
"A-Apakah para dewa atau Mama bisa membantu kita!?" Tanya Shira dengan ketakutan.
"Para dewa dan dewi bahkan ibuku... Tidak memiliki kewajiban untuk membantu kita. Mereka hanyalah akan melihat dari jarak jauh dan tidak bertindak sama sekali."
"Cih... S-Sial... Jadi ketika ada musuh kuat datang... Kita semua hanya akan bertarung untuk mempertaruhkan nyawa kita semua?" Tanya Shira.
Homuze mulai menangis air mata hangat, dan ini adalah pertama kalinya ia menangis di depan Shira. Homuzelah yang menangis bukan Homura.
Homuze memuluk Shira. "A... Aku... Aku hanya ingin kita bertarung bersama sampai akhir..."
"Aku ingin menikah... Memiliki keluarga yang resmi... Menjadi dewa yang berkuasa bersama!!!" Homuze terus menangis seperti ia ingin sekali melakukan itu bersama Shira.
***
"Hmmmm.... SIALL!!!" Teriak Methode selagi memegang pipinya yang bekas luka bakar oleh sihir Homuze.
"Hahhhhh... Mengapa aku harus kena marah ketika aku hanya berlatih..."
"Jangan menyalahkan dirimu ini. Aku juga kena gara-gara kamu, kakak." Selvia menghela nafasnya dengan wajah yang kesal.
Methode's POV
Hari kemarin adalah hari dimana aku dan Selvia kena marah oleh Mama. Ia memukul kami berdua dengan sangat keras dan bahkan menyerang kita dengan sihir karena itu adalah hukuman kami sebagai anak nakal.
Dan ketika aku bangun untuk pergi ke akademi... Aku memiliki simbol aneh di tangan kiriku.

Itu seperti simbol yang sangat aneh sekali... Aku akan coba untuk menanyakan sesuatu kepada Via nanti ketika istirahat, oh dan juga sepertinya Via memaafkan aku atas kejadian kemarin.
***
"Aku jadi mengerti tentang mantra sihir sekarang." Selvia tersenyum kepada Via.
"Hmm. Itu bagus---"
"Via, aku memiliki mantra sihir juga... Dan ini cukup aneh." Aku memperlihatkan simbol itu kepada mereka berdua. Mereka berdua langsung terkejut melihat itu.
"Ahhh!? Kamu memilikinya juga, kakak!? H-Hebat..."
"Methode, akhirnya kamu bisa memiliki mantra sihirmu sendiri." Via menunjukan simbol mantranya kepadaku.
__ADS_1

"Wow!? Apa-apaan itu...!? Simbol yang cukup keren!" Aku terkesan melihat simbol milik Via.
"Aku juga punya, kakak." Selvia menunjukkan simbolnya kepadaku.

"Whoooaaaa!!!"
Selvia terkekeh. "Hebat ya?"
"Itu seperti gambar wajah..."
"Baiklah, baiklah. Mari kita coba mantra kita semua." Via pergi menghampiri lapangan yang luas. Aku dan Selvia mengikutinya.
Beberapa menit kemudian, Via berhenti di depan kita berdua. "Aku akan memperlihatkan mantra ini."
Via menyentuh simbolnya dan simbol itu mulai bersinar terang. "Mantra Pemanggil!!!"
"GRRRAAAAAAAAAAGGGGGGGHHHHHHHHHHHH!!!" Via mengeluarkan sebuah elang yang sangat besar di simbolnya. Dan elang itu terbuat dari batu.
"Ahhh~ Vui!" Via memanggil nama elang itu Vui? Yah... Kadang nama-nama suka menyusahkan dan juga membingungkan.
Vui mendarat di bahu kanan Via. Via langsung mengusap Vui dengan wajah yang senyum.
"Ehem... Mantra pemanggil adalah mantra yang bisa memanggil hewan kalian sesuai imajinasi di dalam pikiran kalian... Biasanya ketika kamu sudah memanggil makhluk yang kalian panggil, makhluk itu akan menjadi pembantu kalian." Vui menghilang karena perintah Via.
"Begitu ya..." Selvia menunjuk ke depan.
"Mantra pemanggil!"
BAAAMMM!!!
"GRRRRRRRAAAAAAAGGGGGGGGGGGGGGHHHHH!!!" Simbol besar muncul di bawah tanah dan sebuah naga yang sangat amat besar keluar. Itu membuatku dan kita langsung terkejut melihatnya.
"W-Waahhhhh!!!" Via dan Selvia terlihat sangat kaget.
"Cancel!!!"
BAMMM!!!
Simbol itu menghilang. Dan akhirnya akademi ini tidak lagi kena hancur untuk ketiga kalinya.
"Tadi hampir saja." Via terkekeh.
Kita semua mulai tertawa bersama. "HAHAHAHAHAHAHA!!!"
"Yah... Pokoknya, kalian sudah tahukan tentang mantra-mantra ini..." Via tersenyum.
"Hmm! Mantra Pemanggil, Mantra Pergabungan, Mantra Arrival, Mantra Equipment, dan Mantra Weapon!" Methode mengeluarkan jempolnya.
"Banyak sekali ya--"
...
...
Tiba-tiba sebuah portal kegelapan muncul di belakang Selvia. Selvia terhisap masum oleh portal yang ada di belakangnya dengan sangat cepat, aku bisa melihatnya dengan kedua mataku. "S-Selvia--"
"Methode--" Via tiba-tiba terserap masuk oleh portal itu dengan sangat cepat. "Si-Sial--"
SWOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOSHHHH!!!
Kedua mata Shira tiba-tiba bersinar dengan sangat terang, ia bisa merasakan sesuatu yang aneh. "Apa yang... Terjadi...?"
__ADS_1