
Dengan kehancurannya Raja Iblis Rxeonal di tangan Shira yaitu dengan kekuatan Saint Solar-nya yang baru. Ia mengubah Sillentesius menjadi wilayah yang damai lagi, dimana tidak ada kehancuran dan bahkan kemusnahan.
Rxeonal dan juga pasukan iblisnya telah habis terbunuh oleh kekuatan Saint Solar milik Shira, tetapi...
Setiap kemenangan terkadang bisa cukup menyakitkan karena Shira telah kehilangan putri keduanya yang bernama Selvia.
...
...
"Selamat, Shira. Kau sepertinya menyelamatkan Sillentesius dari kehancuran dan juga kemusnahan." Ashura menghampiri Shira dengan wajah yang senang.
Shira mendarat di atas tanah dengan wajah yang terlihat sangat datar, ia seperti menahan tangisannya. Homura menghampiri Shira, lalu ia menggenggam tangannya. "Shira, apa kamu baik-baik saja?"
"Kita telah menang..." Shira tersenyum dengan sangat terpaksa.
"Iya..." Homura menepatkan dahinya di dahi Shira untuk mencoba menenangkan Shira yang terlihat sedih.
"Arti kemenangan itu apa jika seseorang masih ada yang tewas dan meninggalkanmu dan aku!?" Shira tiba-tiba berubah kembali menjadi wujud normalnya, ia mulai menangis sedih karena kehilangan putrinya yang kedua.
"Selvia... Selvia melakukan yang terbaik untuk diri kita yang lemah ini... Jika kita tidak lemah, kita pasti akan bisa menyelamatkannya dan semua korban jiwa yang tidak terselamatkan."
"Tidak... Aku memang selalu lemah... Aku tidak pantas menjadi Saint Legenda yang layak... Kelayakanku hanyalah sampah yang seharusnya di buang..." Homura melihat Shira menangis seperti benar-benar kehilangan seorang putri.
~~2 hari kemudian~~
Di tempat pemakaman, Homura dan Shira berdiri di depan kuburan milik Selvia dan sedang mendengar Mortem memberi sebuah pidato untuk semua korban yang tidak terselamatkan dan juga turut berduka cita untuk mereka semua.
"Kita terkumpul disini untuk menyambut pulangnya korban jiwa ke dunia kematian... Dunia yang damai untuk para Legenda-Legenda kita yang mati dalam pertarungan."
"Kejadian dalam hal ini memang sering terjadi... Kita para dewa dan dewi tidak bisa melakukan apapun kecuali untuk melihat kehancuran dan juga kemusnahan."
Shira tiba-tiba mulai merasa kesal mendengar ucapan itu, ia mengepalkan kedua tinjunya. Homura hanya bisa diam, karena hal itu memang benar... Dewa dan Dewi tidak memiliki kewajiban untuk membantu para ras dan bahkan Legenda.
***
Shira, Methode dan Homura duduk di depan kuburan itu selagi mendoakan Selvia agar bisa hidup tenang di dunia kematian. "Semoga adikku bisa mendapatkan kesenangan lebih di sana... Aku harap kamu tidak kesepian, Selvia..." Methode tersenyum dengan sangat tenang, karena Homura pernah mengajarinya bahwa kematian itu akan pernah terjada jadi kau harus bersyukur dan juga mendoakan seorang ras yang mati agar mereka bisa hidup tenang di alam sana.
Melihat Methode yang begitu tenang dan tidak putus asa seperti Shira membuatku lega bahwa Methode adalah anak yang sangat penurut.
Methode melirik kepada Homura dengan wajah yang tersenyum. "Semoga Selvia bisa tenang disana ya, Mama."
"Sudah pasti..." Homura mengelus rambutnya dan mengusap air mata yang terjatuh di kedua mata Methode. Tak lama kemudian Homura melirik kepada Shira yang sedang terdiam seperti ingin marah dan bahkan kedua matanya terlihat mati.
Mortem tiba-tiba muncul di depan Shira dan yang lainnya. Shira tiba-tiba bangkit dari tanah, lalu ia memegang kerah baju Mortem dengan kasar. "K-KAU...!!! DEWI SEPERTIMU KENAPA TIDAK MEMBANTU DISAAT SEPERTI INI!?"
Homura langsung terkejut melihat Shira tiba-tiba melawan kepada Mortem, dulu Mortem adalah sosok yang Shira sangat takutkan tetapi sekarang tidak. "Shira, hentikan---" Ucap Homura, tetapi Shira tidak mendengarkan perkataannya.
"DIAM...!!! AKU TIDAK AKAN DIAM SAJA MELIHAT DEWA DAN DEWI YANG MAHA KUASA BERDIAM DIRI TANPA MEMBANTU HAMBA MEREKA INI...!!!"
__ADS_1
Homura melihat Mortem yang terlihat cukup tenang dalam situasi ini, ia tidak terlalu merasa bersalah. "Tidak ada pilihan lain, Shira... Legenda biasa sepertimu berhak diam dan terus berusaha untuk menjalani hidup."
Methode tiba-tiba memeluk Homura dengan sangat erat seperti ia ketakutan melihat Mortem. Homura langsung mengelus rambut Methode dengan sangat ketakutan karena Homura takut bahwa kemarahan Mortem bisa saja melukai buah hati satu-satunya.
"Shira, kau 'kan menyadari bahwa Selvia itu hanya anak tirimu saja... Dia ini bukan anak kandungmu dan juga bukan anak lahiran Homura."
"APA KAU BILANG---" Shira langsung merasa sangat kesal mendengar perkataan yang Mortem ucapkan, itu terasa sangat menusuk baginya dan bahkan Homura juga merasa cukup kesel mendengar itu.
Mortem tiba-tiba memegang erat tangan kanan Shira, lalu ia mendorong dadanya hingga ia terjatuh. "Ahhh...?"
"Shira... Dunia dan juga jalan kehidupan tidak ada yang mudah dan juga sulit... Dunia dan kehidupan itu tergantung dengan jalan yang kau pilih saat ini."
"Kematian adalah beban pertamamu... Kamu harus menahan rasa kesedihan dan juga kemarahanmu dalam kematian, karena jika tidak..."
"Itu sama saja bahwa kau itu lemah dan juga... Siap untuk mati." Mortem langsung menghilang dengan sangat cepat.
"Sial...!!!" Shira memukul tanah dengan sangat keras dengan wajah yang penuh kemarahan.
Homura melirik kepada Methode dan ia jatuh tertidur dipelukannya. Homura merasa lega melihatnya tenang seperti ini. "Shira... Anak kita ini terlihat tidak begitu sedih ketika kehilangan adiknya---"
"Diam... Diam... Aku mencoba untuk tidak memikirkan itu...!!!" Bentak Shira dengan sangat kesal. Homura merasa cukup takut melihat Shira untuk pertama kalinya marah kepada dirinya.
"Maaf..." Homura bangkit dari tanah dan mulai menunduk kepada kuburan Selvia untuk terakhir kalinya. Homura langsung berjalan pergi untuk membawa Methode pulang dari cuaca panas hari ini.
Shira menunduk kepada kuburan itu. "Hidup tenanglah disana, Selvia..."
***
"Hmm... Iya, mungkin sedikit..."
"Baguslah." Homura menoleh kepada Methode yang masih tertidur di punggungnya, Homura terus menggendongnya agar ia bisa tidur dengan nyenyak dan juga melupakan kematian tentang Selvia.
Shira tiba-tiba menepatkan kepalanya di atas bahu kanan Homura dengan wajah datarnya "Apa?" Tanya Homura dengan ia menggerakan kedua matanya ke arah Shira.
"Aku mencintaimu..." Jawab Shira yang mengatakan itu karena ia ingin tenang dekat dengan Homura. "Aku mencintaimu lebih dari apapun..." Homura tersenyum, Shira menatap wajah Homura yang terlihat cantik dan juga terlihat keren.
Shira tersenyum, dan Homura juga tersenyum bahkan mulai merasa lega melihat Shira mulai membaik.
"Jika kamu mencintai diriku... Kenapa kamu belum menikahi aku?" Tanya Homura dengan mencoba untuk membuatnya lengah.
"Aku berencana untuk melakukannya nanti... Aku juga berencana untuk membeli cincin api khusus untuk dirimu, sayang." Shira mengatakan sayang kepada Homura hingga ia langsung tersipu sedikit. "Hmph, mencoba untuk membuatku tersipu ya?"
Homura ingin membuatnya lengah tapi malah dirinya sendiri yang lengah. "Dasar sialan... Kau memang benar-benar brengsek untuk menyerang balik."
***
Homura menepatkan Methode di atas kasurnya, lalu ia mencium dahinya dengan penuh kasih sayang. "Aku mencintaimu, putriku..." Homura mengelus rambutnya.
Homura menyalakan AC di dalam kamar itu agar Methode tidak berkeringat kepanasan karena cuaca sekarang seperti cuaca musim panas. Setelah ini Homura juga berencana untuk memasakan Shira sebuah makan siang.
__ADS_1
Homura menghampiri kamarnya, lalu ia sadar bahwa pintu kamarnya tertutup. Homura mengetuk pintu kamarnya yang tertutup.
Beberapa detik kemudian Shira membuka pintu kamarnya. "Ada apa?" Tanya Shira dengan wajah kebingungan. Homura mulai terkekeh. "Sepertinya aku mau buat makan siang, kau mau apa?" Tanya Homura.
"Apa yang kau buat selalu enak. Bebas." Jawab Shira dengan ia berjalan kembali menuju meja belajar Homura. Homura mengangguk. "Baiklah." Ia berjalan pergi menuju dapur.
Setelah sampai di dapur, Homura mulai bergegas untuk memasak kari. Homyra perlahan bisa memasak karena latihan dari Mortem, ia terkadang masih ceroboh sih, seperti kekurangan garam... Terlalu asin... Dan bahkan gosong.
Ketika Homura memasak, Mortem tiba-tiba muncul di belakangnya. "Kamu sedang masak, Homura?"
"Iya. Kenapa Mama kesini?" Tanya Homura dengan wajah seriusnya, ia cukup merasa marah juga kepada Mamanya karena telah membuat Shira kesal. "Shira lagi marah loh, pulanglah."
"Mama hanya merasa bersalah kepada Shira. Mungkin dia masih marah kepada diriku ini ya?"
"Sepertinya begitu." Homura mulai memotong sayuran-sayuran dengan wajah yang datar. Mortem menyadari bahwa Homura terlihat marah juga. "Kau juga marah sama Mama ya, Homura?"
"Sedikit."
"Bagaimana kalau kalian membuat anak lagi?" Mortem mulai bercanda kepada Homura.
Homura langsung terkejut mendengar itu. "Hmmmm... Apa? Apa Mama bilang!?" Homura melirik kepada Mortem dengan wajah yang kebingungan.
"Itu loh... Berhubungan kau tahu lah, tunjukanlah badan perfect itu kepada Shira, mungkin itu akan membuatnya senang dan bahkan tenang---"
"MAMA BODOH YA!? ADA ANAK KECIL DI RUMAH INI!!!" Teriak Homura hingga ia tidak membiarkan Mortem beres berbicara.
"Dan juga... Aku dan Shira sudah tidak mau melakukan hal itu lagi." Homura tersipu sedikit, ia melanjutkan memotong sayuran-sayuran itu.
"Kau yang tidak mau karena Shira terlalu agresif 'kah?"
"Berisik."
"Ayolah... Membuat banyak keturunan Shiratori itu bagus. Ambilah contoh seperti Kakakmu Eina... Dia memiliki 10 anak. Dan kamu hanya 1... Ehh 2" Mortem tersenyum dengan sangat menyebalkan, itu membuat Homura mengeluarkan asap karena ia tersipu dengan sangat marah.
"TIDAK MAUUU---"
"Dress Change!" Mortem tiba-tiba mengubah baju Homura menjadi celemek dan tidak memakai apapun di dalamnya. "A-Ahh!? Dasar Mama sialan!!!" Homura mencoba untuk memukul Mortem tetapi dia sudah menghilang dengan sangat cepat. Dan Homura mulai merasa sangat kesal. "Aku tidak bisa ganti baju jika Shira sedang berada di kamar!!!" Ucap Homura dengan sangat kesalnya, itu terlihat cukup lucu menurut Shira.
"Ciiihhhhh...!!! Mama sialan, selalu aja bercanda berlebihan dengan anaknya!!!"
"Homura, keributan besar apa tadi?" Tanya Shira selagi menghampiriku dengan wajah yang kebingungan.
"Ahh! Shira!" Homura melirik kepada Shira dengan wajah yang kaget dan terkejut.
Shira tiba-tiba melihat tubuh Homura yang setengah telanjang. Homura merasa sangat malu dan juga marah, tetapi Shira terlihat seperti senang.
"Shira..." Ucap Homura yang tiba-tiba menggoda Shira. "Ke kamar sekarang." Ucap Shira dengan wajah datarnya.
__ADS_1