
Korrina melirik ke bawah dan ia melihat Shira dan Eclipse sedang berbaring di atas langit, Korrina mulai melihat seluruh tubuh Shira perlahan-lahan berubah menjadi debu dan itu membuat Korrina cukup terkejut karena Shira mulai kehilangan nyawa-nya karena ia terlalu berlebih dalam melampui batasannya. "Legenda yang hebat... Kau memiliki rasa hormatku, Shira." Korrina tersenyum lalu ia menunjuk mereka berdua dengan telapak tangan kanannya.
Perlahan-lahan kedua telapak tangan Korrina mulai bersinar warna biru muda, "Omni-Recovery Durability Boost!" Korrina meluncurkan dua bola energi biru hingga bola energi itu mulai merasuki tubuh mereka, kedua tubuh mereka mulai bersinar cerah hingga tubuh mereka mulai kembali pulih bersama dengan tubuh Shira yang hancur, "UAAAAAGGGGHHHH!!!" Teriak Shira kesakitan karena regenerasi itu cukup menyakitkan bagi Shira yang sudah kehilangan beberapa anggota tubuh dan beberapa urat-urat yang putus.
"Ahh...!" Shira membuka kedua matanya lalu ia sadar bahwa tubuhnya kembali pulih, ia bisa merasakan Lenergy-nya kembali yang tersebar di dalam tubuhnya, Shira mulai menatap kedua telapak tangannya di mana ia melihat beberapa partikel emas di sekitar tubuhnya, "Hah...?" Seluruh partikel itu mulai merasuki tubuh Shira hingga membuatnya kembali berdiri di atas luar angkasa selagi menatap kedua telapak tangannya, "... ..."
"Aku masih hidup...?" Shira sebenarnya tadi sudah hampir dipuncak dimana ia sudah tidak bisa sadar lagi, bahkan kedua penglihatan Shira tadi sudah hampir bertemu dengan dewa kematian, tetapi kedua penglihatannya kembali melihat alam semesta ketika Korrina menyembuhkannya, Shira melihat Korrina yang sedang melayang menujunya, "Kerja bagus, Shira... Aku tidak percaya bahwa Mortal sepertimu bisa mengalahkan ras Hyugen." Korrina menyilangkan kedua lengannya.
"Papa...?" Eclipse menatap Shira lalu ia memeluknya dan setelah itu ia melirik ke depan dan melihat Korrina sedang menyilangkan kedua lengannya, "Kalian hampir saja mati karena sudah mengumpulkan banyak sekali cahaya-cahaya yang dimiliki matahari, bukan hanya satu matahari tapi ratusan. Apakah kalian mencoba untuk menghancurkan Yuusuatouri dan semesta lainnya?" Tanya Korrina.
"Maafkan kami, Dewi Korrina... Aku terlalu berlebihan untuk mengalahkan Xavier, sihir regenerasinya terlalu kuat hingga ia terus meregenerasi."
Korrina langsung tersenyum, "Hehe, aku hanya bercanda. Kalian melakukan kerja yang baik dalam mengalahkan Xavier dengan hanya mengandalkan kekuatan mortal kalian yang mampu menyerap sihir cahaya, seharusnya kau menjadi seorang dewa cahaya saja, Shira. Shiratori Shira the God of Light!" Korrina mulai menawarkan Shira untuk menjadi seorang dewa cahaya, ketika Shira mendengar tawaran itu ia langsung menunjukkan wajah yang terlihat serius, "Aku menolak... Lebih baik aku menjadi seorang mortal yang memiliki jalan untuk bisa menyetarai para dewa dan dewi."
"Hahahahaha! Kau ini memang menarik, Shira. Baiklah, untuk saat ini seharusnya kau beristirahat dulu." Korrina mulai memunculkan sebuah cermin di tangan kanannya dan setelah itu ia menunjukkan cermin itu kepada Shira hingga Shira mulai menatap dirinya sendiri dimana ia melihat rambutnya mulai berubah menjadi warna putih dan ia juga melihat sedikit warna emas di rambut putihnya, "R-Rambutku berubah menjadi warna putih...?"
"Karena kau yang sudah mengumpulkan banyak sekali cahaya yang dimiliki matahari, seluruh tubuh Shira mengalami proses evolusi karena cahaya yang ia serap, perlahan-lahan Shira sudah menjadi sesosok mortal yang sama seperti matahari jadi singkatnya dia adalah matahari yang kedua, rambutnya telah berubah menjadi putih karena rambut Shira sekarang sudah menjadi cahaya beserta dengan tubuh lainnya, itu artinya ia bisa menciptakan cahayanya sendiri tanpa bantuan cahaya yang ada di sekitarnya, "Tubuhmu mengalami evolusi bagi seorang mortal nekat yang mencoba untuk menyerap cahaya-cahaya dimana para dewa juga kesulitan untuk menyerap cahaya atau energi kehidupan matahari. Dan lihatlah dirimu yang seenaknya menyerap matahari sampai matahari itu kehilangan seluruh cahayanya." Korrina menatap matahari yang sudah bersinar kembali karena bantuan Eclipse.
"Terkadang aku harus terus menghancurkan batasanku, Korrina... Demi Yuusuatouri, aku akan melakukan apapun untuk menjaga kedamaian semesta yang aku sangat cintai ini!" Ucap Shira selagi mengepalkan tinju kanannya.
"Sekarang kau adalah seorang mortal yang dijuluki sebagai Accumulation Mortal of Light, nama lainnya adalah wujud Saint Accumulation Light... Sepertinya wujud itu diciptakan oleh dirimu sendiri ketika kau menyerap semua energy cahaya matahari itu." Korrina menjentikkan jarinya hingga mereka bertiga langsung menghilang dan muncul di dalam labolatorium milik Elvis, Shira tiba-tiba tidak melihat siapapun kecuali dirinya dan Eclipse yang sedang berada di labolatorium.
"Tunggu disini..." Korrina mulai menciptakan sebuah hologram di depan mereka berdua hingga hologram itu mulai menunjukkan pertarungan Shizen dan Arata melawan Rinc yang berjalan cukup lama hingga seluruh tubuh mereka dipenuhi luka, bahkan baju Arata dan Shizen robek karena serangan Rinc yang terus bertambah kuat tiada batasannya.
Shira melirik ke belakang lalu ia melihat Korrina yang tiba-tiba menghilang, "Dewi itu terkadang misterius." Shira menghela nafasnya.
***
Arata sedang mengayunkan pedang Greed dan Wrath-nya ke depan, Rinc menangkis semua serangan itu menggunakan kedua aura pedangnya hingga Arata mulai menunjukkan wajah yang kesal karena Rinc bertambah kuat setiap detiknya dan ia melihat Rinc yang sudah terluka parah, tetapi ia masih bisa bertarung seperti seorang Legenda yang sulit untuk menyerah, Arata berputar lalu ia mendorong Rinc mundur, "Hmph!!! Lemah!!!" Teriak Rinc keras hingga ia melepaskan dorongan besar di sekitarnya hingga mampu membuat Arata dan Shizen terpental ke belakang.
"Cih... Sepertinya dia bertambah kuat lagi dan lagi..." Ucap Shizen, ia bangkit dari atas tanah lalu ia mulai memegang sabitnya erat selagi menatap Rinc yang sudah tertawa, Arata mengangguk lalu ia mulai bangkit dari atas daratan yang sudah retak karena pertarungan mereka yang dahsyat sekali, "Kita hanya harus membunuh lebih cepat... Sepertinya kecepatan adalah kuncinya...!" Arata langsung berubah menjadi wujud Saint Revolution-nya.
"AKU TUNJUKAN KEKUATAN SAINT LEGENDA YANG SEBENARNYA!!!" Teriak Shizen dan Arata bersama hingga aura mereka mulai membesar, mereka berdua melesat menuju arah Rinc lalu mereka mengayunkan senjata mereka bersamaan hingga kecepatan dari ayunan itu mampu membuat Rinc terkejut, sekarang Shizen dan Arata sedang berada di belakang Rinc selagi memutarkan senjata mereka.
"HUEEEGGGHHHHH....!!!" Rinc memuntahkan banyak sekali darah melalui mulutnya karena dada dan perutnya baru saja tertebas oleh senjata yang di pegang Shizen dan Arata, Rinc mulai memunculkan auranya di sekitarnya lalu ia meledakkan dirinya sendiri menggunakan sihir api yang terdapat beberapa racun di dalamnya, "EXPLOSIVE TOXIC FLAMES!!!" Teriak Rinc keras hingga mampu membuat dorongan besar di sekitarnya, Shizen dan Arata langsung mundur beberapa langkah selagi mencoba untuk menjauh dari ledakan itu.
Rinc melesat menuju arah Arata lalu ia memukul perutnya dengan sangat dalam, Shizen melompat menuju Rinc dan Rinc langsung melirik ke belakang lalu ia menghantam wajah Shizen hingga ia terpental ke belakang, Rinc melirik ke belakang lalu ia melihat Arata menebas wajahnya hingga Arata meninggalkan luka tebas yang besar di wajah Rinc, "ARGGGGHHH!!! LEGENDA SIALAN!!!"
Shizen muncul di depan Rinc hingga membuat Rinc membulatkan kedua matanya karena kedua lengan Shizen sekarang terlumuri oleh kegelapan yang memiliki kekuatan lebih kuat dari kegelapan yang ia miliki. "DARK FIST!!!" Shizen meninju perut Rinc dengan tinju yang telah terlumuri dengan sihir kegelapan, sihir Dark Fist seratus kali lipat lebih kuat dari tinju biasa.
Rinc melirik ke belakang lalu ia melihat Arata yang sedang mengayunkan kedua pedangnya ke arah Rinc, tetapi Rinc langsung mengayunkan kedua pedang aura-nya. Arata melesat ke atas dan berhasil menghindari serangan milik Rinc, Rinc langsung melesat ke atas dan tiba di belakangnya lalu ia mulai mencoba untuk menggorok leher Arata menggunakan kedua aura pedangnya.
__ADS_1
Arata langsung menghilang dan tiba-tiba, Shizen bersama Arata mulai menyerangnya bersamaan menggunakan kaki mereka. Arata menendang wajah Rinc dengan sangat keras dan Shizen menendang perut Rinc dalam sekali, "GRAAAGGGHHHHH!!!" Teriak Rinc keras hingga kedua pupil mata merahnya bersinar cerah, Rinc langsung memegang wajah Shizen dan Rinc juga memegang kaki kanan Arata hingga Arata dan Shizen tidak bisa melarikan diri karena seluruh tubuh mereka sedang terkendalikan oleh sihir kegelapan Rinc.
Rinc melesat menuju daratan lalu ia mulai menghantam Arata dan Shizen dengan daratan. *BAM!!!* Hantaman itu mampu membuat daratan retak serta membuat Arata dan Shizen merasa kesakitan karena tulang mereka baru saja retak karena hantaman tadi yang ditambah dengan sihir kegelapan Rinc, "CHAINS OF GREED!!!" Teriak Arata hingga ia mulai membelit seluruh tubuh.
Rinc tiba-tiba berubah menjadi aura kegelapan dan aura-aura itu mulai merasuki tubuh Shizen dan Arata hingga mereka berdua langsung terjebak di dalam aura itu dan tidak bisa bergerak karena Rinc baru saja menyegel pergerakan mereka, "Seal of Cursed Darkness....!" Rinc melayang ke atas lalu ia menunjuk mereka berdua menggunakan telapak tangan mereka, "DARK BURST MISSILE!!!" Rinc mulai meluncurkan beberapa bola kegelapan menuju arah mereka berdua dan bola-bola itu mengenai mereka hingga menimbulkan ledakan yang besar.
BAAAAAMMMMM!!!
SWOOOOOSSSHHHH!!!
Tiba-tiba Shizen bangkit dari atas tanah dengan sabitnya yang dilumuri dengan aura Crimson, ia bisa bangkit karena Shizen baru saja menyerap aura-aura kegelapan yang membuatnya tidak bisa bergerak dan sihir penyerapannya adalah Darkness Absolute, Shizen juga mulai menyerap aura kegelapan yang terdapat di dalam tubuh Arata.
Arata menatap Shizen dimana ia melihat sabitnya yang terlumuri dengan aura-aura Crimson, hal itu membuatnya mengingat kepada seseorang yaitu Alvin Ghifari atau bisa disebut dengan sesosok Legenda yang paling menyebalkan baginya. Semua sihir yang Rinc luncurkan berhasil Shizen hancurkan menggunakan sabit yang dilumuri Crimson itu. Walaupun Shizen menghancurkan sihir milik Rinc, ledakan dari sihir Rinc masih ada hingga dahi Shizen mulai berdarah karena ledakan yang dimiliki Dark Burst Missile.
"S-Sihir itu... Tekanan dan Lenergy yang aku rasakan dari aura yang melumuri sabitnya..." Arata langsung menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal, mungkin saja Shizen memiliki kaitan dengan Alvin Ghifari, "Cih... Tanpa aku sadari... Aku baru saja bekerja sama dengan seseorang yang berkaitan dengan dewa sableng itu..." Arata dan Shizen melesat ke depan lalu mereka mulai menyerang Rinc menggunakan senjata mereka, Rinc menangkis semua serangan itu menggunakan kedua pedang auranya.
"WRATH OF HELLFIRE!!!" Arata meluncurkan gelombang api hitam melalui pedang Wrath-nya dan gelombang itu melesat ke depan hingga mengenai seluruh tubuh Rinc, "GRRAAGGGHHHH!!!" Teriak Rinc keras hingga ia meledakan dirinya sendiri hingga mampu menghancurkan gelombang sihir milik Arata, "A-Apa...!?" Arata langsung mengayunkan kedua pedangnya ke arah perut Rinc dan setelah itu ia mulai mempercepat pergerakan kedua tangannya hingga Arata mampu membuat beberapa luka tebasan besar di perut Rinc.
Shizen hanya bisa diam selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut, "E-Ehh...? Apakah dia melupakanku...?" Tanya Shizen selagi menunjukkan ekspresi kebingungan karena ketika Shizen menyerang, Arata hanya menjauhkan Rinc darinya hingga ia mulai menyerang Rinc secara bertubi-tubi.
"DARKNESS EXPLOSIVE WAVE!!!" Rinc meluncurkan gelombang ke atas langit lalu ia mulai menghancurkan gelombang tersebut hingga gelombang itu mulai menciptakan beberapa bola energi yang melesat menuju arah mereka berdua, Arata menyerap semua bola energi itu menggunakan pedang Greed-nya, "DARKNESS DESTROYER!!!" Shizen muncul di depan Rinc lalu ia mulai menunjuk perut Rinc dengan telapak tangannya lalu ia memunculkan gelombang hitam pekat di sertai listrik ungu di sekitarnya, seluruh tubuh Rinc langsung terpental ke belakang karena gelombang yang Shizen luncurkan.
Rinc berubah menjadi aura kegelapan lalu ia melesat menuju arah Shizen dan setelah itu ia mulai menghantam wajahnya hingga Shizen terpental menuju daratan, "Grrggh....!" Shizen menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal ketika ia melihat Rinc yang masih utuh walaupun dia sudah terkena sihir Darkness Destroyer.
"PRIDE OF POWER BURST!!!" Teriak Arata hingga ia langsung mengayunkan pedang Greed-nya, pedang itu langsung menebas mata kanan Rinc dan menghancurkannya hingga membuat Rinc terpental menuju daratan karena pedang yang Arata pegang, semakin sombong musuhnya maka pedang Pride akan bertambah kuat. Pedang itu juga mampu membuat kesombongan musuh menjadi sumber kekuatan bagi Arata sendiri.
Shizen tersenyum ketika melihat aksi Arata yang hebat, "Apa yang aku harapkan dari seorang Saint yang memiliki pekerjaan dalam membasmi para sampah..." Shizen bangkit dari atas tanah selagi memegang pegangan sabitnya dengan sangat erat.
Rinc tiba-tiba muncul di belakang Arata dengan kedua tinjunya yang terlumuri oleh aura kegelapan yang mampu membuat Arata lumpuh untuk beberapa detik karena aura kegelapan itu merasuki tubuhnya hingga mengendalikan seluruh sel-sel yang terdapat ditubuhnya, Arata tidak sempat untuk menggunakan pedang Greed-nya untuk menyerap semua kegelapan yang ada di dalam tubuhnya, "DARKNESS CRUSHING BREAKER!!!" Rinc langsung menghantam punggung Arata menggunakan kedua tinjunya itu hingga tulang belakang Arata langsung patah karena hantaman tadi hingga Arata terpelanting menuju daratan.
Shizen muncul di belakang Rinc, lalu Rinc melirik ke belakang dan ia melihat Shizen sedang mengangkat sabitnya tinggi lalu ia melesatkan sabit itu ke arah mata kanan Rinc yang sudah hancur. *ZWOSH!!!* Rinc langsung terpental ke belakang dengan luka tusuk di mata kanannya, beberapa darah mulai keluar dari lubang itu hingga membuat Rinc senang bahwa ia bisa merasakan semua kesakitan ini, "Ya... Teruslah, kesakitan ini tidak akan bisa mengalahkanku!!!"
Shizen mulai mengangkat sabit-nya ke atas lalu Arata mundur ke belakang, sabit Shizen mulai terlumuri dengan aura crimson, "CRIMSON SCYTHE!!!" Teriak Shizen hingga sabit-nya perlahan-lahan mulai membesar hingga mampu membuat tekanan yang cukup besar bagi Rinc hingga Rinc langsung mendarat di atas tanah dengan kedua kakinya tiba-tiba masuk ke dalam daratan.
Arata mulai mengubah pedang Pride-nya menjadi pedang Gluttony-nya lalu ia mulai mengangkat pedang itu ke atas langit, "GLUTTONY'S SINS ABSORPTION!!!" Teriak Arata hingga pedang Gluttony-nya mulai bersinar merah dan terdapat aura yang melingkari pedang itu, aura tersebut mulai membentuk lambang tujuh dosa besar dan perlahan-lahan pedang Gluttony Arata mulai bersinar merah kehitaman. Arata mengumpulkan semua dosa dari yang ada di semesta Yuusuatouri, ia mulai menatap Shizen dengan tatapan kesalnya, "Kau...! Kau harus menahannya hingga aku selesai mengumpulkan semua dosa yang ada di Yuusuatouri!"
Shizen mengangguk, "CRIMSON SCYTHE: BLOOD OF MASSACRE!!!" Shizen langsung mengayunkan sabit itu ke arah Rinc hingga sabitnya mulai meluncurkan beberapa gelombang tebasan yang memiliki warna Crimson, "DARKNESS EXPLOSION BURST!!!" Teriak Rinc hingga ia meledakkan dirinya sendiri, ledakan itu mampu membuat Shizen dan Arata terpental ke belakang.
"Cih... Sialan...!" Shizen langsung mengejamkan kedua matanya hingga sabit yang ia pegang mulai berubah menjadi aura-aura Crimson, Shizen langsung menyerap aura itu hingga seluruh tubuhnya mulai terlumuri dengan sihir Crimson, "CRIMSON TEMPORARY POWER!!!" Teriak Shizen hingga seluruh aura crimsonnya membesar dan mampu membuat Rinc tersenyum lebar, "Menarik...!!! Apakah ini kekuatan yang sama dengan Dewa Alvin itu!?"
"TUNJUKAN...!!! TUNJUKAN KEKUATAN CRIMSON YANG KAU MILIKI ITU!!!" Rinc menciptakan bola energi kegelapan dari telapak tangannya lalu ia melempar bola itu ke arah Shizen.
__ADS_1
BAAAAAMMMMM!!!!
Shizen menangkap bola energi itu lalu ia mulai mengecilkannya menggunakan telapak tangan kanannya, bola energi itu langsung hancur karena telapak tangan kanannya. Shizen membuka kedua matanya hingga seluruh tubuhnya langsung terlumuri dengan aura Crimson yang dilapisi dengan sihir kegelapan, "... ..."
Shizen melesat menuju arah Rinc, "Fox Movement." Bukan sihir ataupun skill, melainkan ilmu beladiri. Dengan ilmu bela diri ini Shizen menyerang musuhnya dengan pergerakan yang mirip rubah dan sulit untuk di tebak, Shizen sejak dulu pernah diajari ilmu bela diri ini dari seorang Neko Legenda yang ia temui di kaki gunung sebelah barat Desertia, "HRAGGHHH!!!" Rinc melesat menuju arah Shizen.
Mereka berdua melesat ke depan dengan kecepatan penuh, "JYAGGGHHH!!!" Mereka dengan bersamaan langsung melesatkan tinju mereka hingga tinju mereka langsung teradu. *BAM!!!* Tinju mereka yang teradu mampu menciptakan dorongan besar di sekitar mereka, bahkan daratan mulai hancur karena tinju mereka yang teradu.
Tiba-tiba Rinc bisa merasakan kesakitan di tinju kanannya yang baru saja teradu dengan tinju Shizen, Shizen mulai menatap wajah Rinc dengan tatapan yang terlihat serius, "Kau tidak akan bisa mengalahkan sihir ciptaan seseorang yang aku sangat hormati...!"
"TUTUP MULUT SOMBONGMU ITU!!!" Rinc mulai memukul seluruh tubuh Shizen tanpa henti, tetapi Shizen menangkis semua tinju itu menggunakan kedua lengannya hingga Rinc mulai menunjukkan wajah yang terlihat kesal bahwa pergerakan Shizen juga mulai meningkat, mungkin karena seni bela dirinya, "DARKENING SWIFTLY BOOST!!!" Seluruh tubuh Rinc mulai terlumuri dengan kegelapan, seluruh pergerakannya mulai meningkat dan setelah itu Rinc mulai memukul seluruh tubuh Shizen tanpa henti dan Shizen mulai menghindari semua serangan itu selagi menatap Rinc dengan tatapan tajamnya.
Shizen menendang perut Rinc hingga ia terpental ke belakang lalu ia melesat ke depan dan mulai melesat ke arah Shizen, setelah itu Shizen mulai memukul seluruh tubuh Shizen secara bertubi-tubi menggunakan hanya satu tinjunya saja yaitu tinju kanannya.
BAM! BAM! BAM! BAM! BAM!
Terdapat luka bekas pukul di seluruh tubuh Rinc karena pukulan Shizen yang menyakitkan, seluruh luka itu perlahan-lahan mulai sembuh karena Rinc menggunakan sihir Fallen Angel-nya yang mampu membuat sihir kegelapan menjadi sumber penyembuhan bagi tubuhnya, Shizen membuka kedua matanya lebar lalu ia menendang wajah Rinc hingga ia terpental ke belakang.
Shizen melesat ke depan lalu ia menghantam perut Rinc menggunakan sikut kanannya, Shizen melanjutkan serangannya dengan menendang dagu Rinc hingga ia terpental ke belakang dan menghentikan sihir regenerasi Rinc untuk sementara. Rinc berputar lalu ia melesat menuju arah Shizen dan Shizen langsung menghantam wajahnya dan setelah itu ia menendang wajahnya dengan sangat keras.
Rinc menyerang balik dengan memukulnya beberapa kali, tetapi Shizen menghilang dan muncul di sebelahnya, ia langsung menendang wajahnya hingga ia terpental ke depan. Rinc menghilang lalu ia muncul di depan Shizen selagi memukulnya beberapa kali, Shizen terus menghindari serangan Rinc dan setelah itu ia menghantam wajahnya hingga ia terpental ke belakang.
Shizen melesat ke depan lalu ia mulai menghantam perut dan wajahnya beberapa kali menggunakan tinju kanannya saja, jika Shizen menggunakan tinju kirinya maka tubuhnya memiliki kesempatan buruk untuk hancur karena kekuatan Crimson yang ia gunakan. Shizen memukul perut Rinc dengan sangat dalam lalu ia menghantam wajahnya dua kali di kiri dan di kanan, setelah itu Shizen mengakhiri serangannya dengan mendang wajah Shizen hingga ia terpental ke belakang.
Kedua lengan Shizen mulai bergetar kesakitan hingga beberapa darah mulai muncul di tubuhnya, "Grrgghh..." Shizen menatap Arata yang sudah mengisi seluruh dosa-nya, Arata sudah siap untuk mengakhiri Rinc. Arata menatap Shizen lalu ia mulai melirik ke arah kanan memberinya petunjuk untuk menyerang Rinc di arah kanan agar ia bisa meluncurkan gelombang kuatnya ke arah Rinc.
"SIALAN!!!" Teriak Rinc hingga ia meledakkan dirinya sendiri dan mulai meregenerasi seluruh lukanya lebih cepat sekarang, Shizen melesat ke depan lalu ia menendang perut Rinc dengan sangat dalam hingga Rinc memuntahkan banyak sekali darah melalui mulutnya. "DARK FORCE!!!" Shizen meraba dadanya hingga Rinc langsung terpental ke belakang.
Shizen melesat ke depan lalu ia mulai menghantam perut Rinc hingga pukulan itu mampu menembus perut Rinc, "GUAGGGHHH!!!" Shizen langsung menghantam perut Rinc menggunakan tinju kanannya dengan kecepatan yang melampui para dewa, pukulan Shizen cepat sekali hingga Rinc tidak bisa melihat lengan kanannya. Shizen berputar lalu ia menghantam perut Rinc hingga ia terpental ke depan.
Dosa-dosa mulai berkumpul di pedang Arata dan terdapat beberapa aura dosa yang berbeda, aura merah kehitaman yang melambangkan Wrath, aura kuning kehitaman yang melambangkan Greed, aura oren kehitaman yang melambangkan Gluttony, aura hijau kehitaman yang melambangkan Envy, aura ungu kehitaman yang melambangkan Pride, aura biru kehitaman yang melambangkan Sloth, dan aura pink kehitaman yang melambangkan Lust, semua aura mulai terkumpul dan tercampur lalu menjadi besar, "HAAAAAAAAA...!!! Sudah siap...!"
Korrina yang sedang berada menyembunyikan keberadaannya mulai menatap lambang Lust dengan kedua matanya yang mulai bersinar, "L-Lust...!? Ahhhhh...!" Mulut Korrina langsung berliur ketika menatap lambang itu, tetapi ia langsung menampar dirinya sendiri, "A-Apa yang aku pikirkan...! SUDAH PULANG AKU AKAN MEMPER---" Korrina langsung menghalang mulutnya, "Ugghhh...!" Korrina langsung menatap arah lain agar ia tidak terbawa perhatiin dengan lambang lust itu.
Shizen yang terus memukul Rinc tanpa henti mulai menendang kepalanya hingga ia terpental menuju arah Arata, "Ughh..." Shizen langsung berubah kembali menjadi wujud normalnya, ia mulai terjatuh menuju daratan dan tergeletak di atas daratan dengan sabit-nya yang keluar dari dalam tubuhnya, "KERAHKAN SEMUA YANG KAU MILIKI, ARATAAAAGGGHHHH!!!" Teriak Shizen.
"GLUTTONY'S SINS RELEASEEEE!!!" Teriak Arata keras hingga ia mengayunkan pedangnya ke arah Rinc, pedang yang Arata pegang langsung meluncurkan gelombang merah kegelapan yang berukuran setengah semesta Yuusuatouri, gelombang besar itu melesat menuju arah Rinc dan mengenainya hingga seluruh tubuh Rinc langsung terbakar, "GUAAAAAAAGGGHHHHHHHH!!! SIALAAAAN!!! SIAAALAAAAAAN!!! AKU INI ABADI...!!! AKU INI ABADDDIIIIIIIIIIIIUARRRRGGHHH!!!"
Rinc langsung terbakar habis dengan sihir gelombang Arata, gelombang itu melesat menuju arah planet Lemia, Korrina muncul di depan gelombang itu lalu ia mulai menyerapnya dan membuat Arata menunjukkan ekspresi yang terlihat kebingungan, "D-Dewi Korrina...!?" Ketika Arata melihat Korrina, ia langsung sadar bahwa ia berhasil mengalahkan Rinc, "Hmph... Sepertinya tugasku di sini sudah selesai..." Arata melesat ke atas lalu ia meninggalkan Shizen sendirian dengan kondisi yang terluka.
"U... Ugh... Dasar sialan... Berani-berani dia mengabaikanku..." Ucap Shizen, Arata meninggalkan Shizen dengan sengaja karena ia tidak tertarik berbicara atau membantu seseorang yang memiliki kaitan besar dengan Alvin.
__ADS_1
Korrina mendarat di depan Shizen lalu ia menepuk wajahnya, "Legenda itu ternyata masih kejam... Dasar Arata..."