Yuusuatouri: The Beginning of a Legend

Yuusuatouri: The Beginning of a Legend
Chapter 102 - Kontrak Clare


__ADS_3

Clare menunjuk Shou dengan sabit yang ia pegang di tangan kanannya. "Menarik... Aku tidak menyangka seorang Legenda sepertimu akan membuat kontrak dengan Shinigami." Ucap Clare.


"Jadi... Apakah kau ingin membuat kontrak denganku, huh?" Tanya Clare. Shou mengangguk. "Tentu saja, kau pikir aku ini sedang bercanda apa?" Tanya Shou, rautan wajahnya terlihat kesal karena ia tidak suka melihat Shinigami itu seorang gadis, ekspetasinya mengatakan bahwa ia akan bertemu Shinigami yang menyeramkan.


"Dari eksperesimu itu... Apakah kau meremehkan diriku karena aku ini seorang gadis?" Tanya Clare.


"Tadinya ya, tapi aku sekarang jadi bisa merasakannya... Aku tidak boleh melihat seseorang dari penampilan, walaupun kau adalah Dewi Kematian aku tahu kau menyembunyikan potensi yang sebenarnya, mohon kerja sama-nya, Clare---"


JWAAAASSSHHHH!!!


Leher Shou hampir saja terkena tebasan oleh sabit milik Clare, ketika itu terjadi Shou tidak menggerakan sedikit tubuhnya karena ia tahu serangan Clare tidak akan bisa mengenainya, serangan yang Clare buat hampir bisa Shou deteksi karena bantuan latihannya juga yang bisa merasakan aura-aura dewa dan dewi atau keberadaan dewa-dewi juga termasuk. "Jangan kau memohon kepadaku, dasar mortal rendahan!"


"Kau mengancamku?"


"Jadi...? Apa tujuanku dipanggil ke sini?" Tanya Clare.


"Aku ingin berbuat kontrak denganmu, Dewi Clare. Apakah benar aku harus mengorbankan nyawaku kepadamu?" Tanya Shou.


"Ahh... Jika kau ingin mengorbankan nyawamu kepadaku maka aku akan terus melayanimu, mortal. Tetapi, jika kau ingin aku melayanimu sampai tujuanmu selesai maka aku harus meminum darahmu." Clare mulai menancapkan sabitnya di lantai yang berada di kanannya.


"Meminum darah...?" Tanya Shou dengan rautan wajah yang terlihat kebingungan. "Ya, jadi? Apakah kau ingin berkontrak denganku selamanya atau hanya sampai tujuanmu selesai?" Tanya Clare.


"Pikirkan jawabanmu sekarang juga---"


"Darah!" Jawab Shou, Rigel langsung terkejut ketika Shou menjawab darah karena pikirannya mulai membawa dirinya ke hal yang aneh dimana Clare akan menghisap darahnya seperti seorang vampire yang kehausan darah. Itu artinya Rigel bukanlah yang pertama untuk mencoba menggit Shou. Rigel memegang lengan kiri Shou. "Hah? Ada apa---"


GREGGGHHH!!! (Suara gigitan)


"SAKIIIITTT!!!" Teriak Shou yang baru saja tergigit oleh gigi taring Rigel. Ia menggigit lengan kiri Shou dengan penuh tenaga hingga taringnya langsung menembus kulit Shou. Zifaski langsung terkejut ketika melihat Rigel melakukan sesuatu yang bodoh. "A-A-Apa yang kau lakukan bodoh!?" Tanya Shou.


Rigel melepas lengan kiri Shou lalu ia memalingkan wajah ke arah lain. "Tidak apa-apa, aku hanya lapar."


"Kau ini predator ya!?" Tanya Shou dengan rautan wajah yang kesal. "Sial, aku baru saja lengah oleh seseorang yang aku percayai." Ucap Shou yang baru saja lengah oleh Rigel, ia sudah berencana untuk tidak lengah lagi oleh siapapun bahkan seseorang yang ia sangat percayai.


"Mau aku gigit lagi?!" Tanya Rigel dengan tatapan horror. "Aku akan membunuhmu!" Jawab Shou dengan nada kasarnya, Clare menghela nafasnya lalu ia mulai perlahan-lahan mengambil sabitnya karena ia tidak ingin lama menghabiskan waktu melihat kedua mortal itu berkelahi. "Jika kalian hanya ingin menghabiskan waktuku saja maka aku akan pergi..."


"Tunggu, cepatlah berbuat kontral denganku, Clare!" Ucap Shou. "Apakah kau akan menghisapku seperti vampire?" Tanya Shou, Clare langsung menebas leher kiri Shou sedikit hingga terdapat luka tebasan kecil di leher kirinya, darah milik Shou langsung keluar. "Nrgh..." Ucap Shou yang sedang menahan kesakitan, sabit tadi ternyata terasa cukup menyakitkan juga.


Clare mendekat lalu ia mengambil darah yang keluar dari luka itu, ia mulai mencicipi darah itu sampai habis, seluruh tubuh Clare langsung terlindungi oleh aura kegelapannya. Shou bisa merasakan energi sihirnya mulai meningkat secara drastis. "Kau ini Shinigami iblis ya...?" Tanya Shou.


"Benar..." Clare mengeluarkan sebuah kertas hitam dari sakunya lalu ia mulai menulis sebuah bintang iblis di kertas itu dengan tinta darah. "Kontrak dimulai, jika aku dan dirimu saling berjabat tangan maka kontrak kita akan dimulai."


"Aku akan melayanimu layaknya seperti tua. Aku akan melaksanakan semua perintah yang kau ucapkan kecuali tiga perintah yaitu menyuruhku melakukan hubungan yang intim, menyuruhku untuk membunuh diriku sendiri, dan menyuruhku untuk melakukan apa yang aku tidak bisa." Jawab Clare.


"Jika kau melakukan perintah yang membuatku kesal maka aku akan mencabut nyawamu." Ucap Clare.


"Aku mengerti."


Rigel langsung merasa sangat cemburu ketika ia melihat mereka saling menatap satu sama lain. "Ugghh..." Rigel mengembungkan kedua pipinya.

__ADS_1


"Sebutkan tujuanmu sekarang, mortal. Apa yang kau inginkan sampai-sampai kau memanggil Shinigami sepertiku?" Tanya Clare.


"Aku ingin kau membantuku dalam menyelesaikan masalah tentang Shimatsu Arata dan Kuroshin Ghifari!" Jawab Shou.


Clare mengangguk. "Aku bisa membantumu sampai akhir." Clare mulai mengulurkan lengan kanannya dan Shoh mulai berjabat tangannya dengannya. Mereka berdua mulai saling bergandengan tangan sekarang. "Shinigami's Contract of Servant!" Clare langsung membakar kertas hitam itu. Muncullah sebuah tanda kontrak di dahi Shou seperti tanda mata kiri Clare.


"Kontrak berhasil." Clare menundukkan kepalanya kepada Shou. "Apa yang harus aku lakukan untuk melayanimu sekarang, tuan...?" Tanya Clare.


"Ikutlah bersamaku, Clare. Mari kita laksanakan tugas kita yang sebenarnya." Ucap Shou, ia berjalan pergi meninggalkan mereka semua. Clare mengangguk lalu ia mengikutinya dari belakang. "Tunggu aku!!!" Rigel lari menghampiri Shou yang berjalan pergi, Zifaski menundukkan kepalanya kepada mereka. "Aku masih berhutang budi kepada kalian semua..."



Shou dan yang lainnya beristirahat di pohon yang sangat besar. Rigel duduk di bawah pohon itu selagi menyenderkan punggungnya dengan batang besar itu. Shou melirik kepada Clare yang sedang mengusap-ngusap sabitnya. "Clare, apakah aku boleh menanyakan sesuatu tentang dirimu?"


"Apa itu, tuan?" Tanya Clare.


"Yahhh... Apakah kau bisa bertarung?" Tanya Shou.


"Tentu saja aku bisa. Aku adalah dewi kematian yang terkadang suka melihat pertarungan antara Legenda." Ucap Clare.


"Ohh~ Bagaimana kalau kita coba melakukan sedikit sparring?" Tanya Shou, ia mulai menciptakan pedangnya yang bernama Eclipse Breaker. "Hmph, baiklah, kau bebas untuk menggunakan apapun, Shou. Maupun itu sihir dan perubahan..." Clare mulai memunculkan sabitnya melalui tangan kanannya. "...aku hanya butuh sabitku untuk mengakhiri pertarungan ini lebih cepat."


"Kalau begitu hanya menggunakan senjata saja, kita bertarung di daratan." Shou mulai melakukan kuda-kuda bertarungnya, Clare mengangguk lalu ia mulai melakukan kuda-kudanya juga.


"Mulai!!!" Teriak mereka bersama hingga Shou melesat ke depan lalu ia menebaskan pedangnya beberapa kali ke depan, tetapi Clare menahan semua tusukan itu menggunakan gagangan sabitnya. Shou mengayunkan pedangnya ke arah leher Clare lalu Clare menangkisnya menggunakan sabitnya. Shou mengeluarkan belatinya lalu ia mencoba untuk menusuk dada-nya, tetapi Clare langsung menahan serangan belati itu menggunakan lengan kirinya yang terlumuri oleh kegelapan.


SWOOOOOSHHH!!!


"Clare cukup kuat juga..." Ucap Rigel yang terlihat terkesan. Shou melakukan beberapa backflip ke belakang lalu ia mulai mengambil beberapa nafas. "Dia hebat... Dia bukanlah Legenda jadi aku tidak terbiasa dengan merasakan keberadaan seorang Dewi Kematian ras iblis, jika aku menyerah maka aku gagal untuk melawan Shin dan Arata. Aku tidak ingin mengecewakan siapapun", Shou memutar pedang dan belatinya lalu ia menatap wajah Clare dengan tatapan tajamnya.


Clare langsung tersenyum kecil melihat Shou, ia bisa merasakan semangatnya untuk menang. "Hmph... Menarik..." Shou melesat ke depan lalu ia mengayunkan pedangnya ke arah wajah milih Clare, tetapi Clare menahan pedang milik Shou dengan sabitnya. "Lunar Creation!" Pedang yang Shou pegang langsung berubah menjadi rantai dan rantai itu mulai membelit sabitnya. "Apa...!?" Clare langsung mengubah sabit itu menjadi kegelapan hingga rantai milik Shou mulai terjatuh.


Shou menciptakan pedang lainnya lalu ia dan Clare mulai saling mengadu senjata.


CLAANG!!! CLAANG!!! CLAANG!!!


Shou dan Clare bersamaan melepaskan serangan mereka dengan tenaga penuh hingga daratan yang mereka injak langsung retak. Shou memegang lengan kanan Clare lalu ia menghantam perutnya. "Guaghh!!!" Clare memuntahkan sedikit darahnya melalui mulutnya lalu ia terdorong ke belakang.


"Aku hentikan pertarungan ini sampai disini, Clare!" Perintah Shou yang wajahnya sudah dipenuhi dengan keringat. Clare mengangguk lalu ia menghilangkan sabitnya. "Baiklah, tuan." Clare muncul di sebelah Shou lalu ia meraba luka Shou hingga sihir kegelapannya mampu menutup luka sobek itu. "Ahh...?"


"Aku tidak boleh membiarkan tuanku terluka seperti ini." Clare langsung mengambil darah Shou yang berjatuhan melalui bekas luka tebasannya, ia mulai meminumnya hingga aura-aura kegelapannya muncil. "Ahh... Darahmu... Darahmu terasa aneh sekali, Shou."


"Kau yang aneh." Jawab Shou, ia menghampiri Rigel yang sudah menyiapi minuman dingin untuk Shou. Shou mengambil minuman yang Rigel pegang lalu ia meminum minumannya sampai habis, setelah itu Shou duduk disebelah Rigel. "Clare, kau cukup kuat juga."


"Terima kasih, tuan." Clare duduk di depan Shou. "Clare, apakah kau menjadi Shinigami karena takdir?" Tanya Rigel.


"Begitulah, dulunya aku ini seorang iblis biasa yang tinggal berabad-abad lalunya. Aku masih ingat dulu dewa yang bernama Alvin itu masih seorang mortal yang lemah." Jawab Clare yang sedang menatap langit-langit.


"Ehh?! Jangan-jangan kau sudah tinggal di Touri lama sekali!?" Tanya Rigel.

__ADS_1


"Ya, umurku otomatis akan abadi jika aku menjadi seorang dewi kematian." Ucap Clare, Shou langsung merasa penasaran tentang cerita masa lalu Clare. "Clare..."


"Ada apa, tuan?"


"Bolehkah aku mengetahui tentang masa lalumu?" Tanya Shou. "Maaf jika aku bersikap tidak sopan..."


"Ahh, tidak apa-apa, tuan. Sudah layaknya seorang dewi kematian yang memiliki kontrak dengan mortal untuk melaksanakan perintahnya, jika itu tentang masa lalu diri mereka sendiri maka mereka pasti akan memberitahunya." Clare mulai tersenyum kecil. "Kita mulai dari saat aku masih menjadi iblia biasa."


"Dulunya aku ini iblis jahat yang suka berbuat masalah, dulu aku sangat suka bertarung dan suka memberontak hingga suatu saat aku terkalahkan oleh seorang raja iblis yang kuat sekali. Aku sangat suka ikut campur dan mengganggu semua rencana para iblis itu... Akhirnya aku ditantang oleh seorang raja iblis hingga aku berakhir kalah dan sekarat."


"Raja iblis itu berhasil mematahkan tanduk milikku, beberapa tahun telah terlewati dan Touri sedang berada di kondisi tidak keseimbangan yang mengartikan semua ras berperang mati-matian. Dulu ras itu berjumlah lebih dari sepuluh dan mereka semua pernah berperang karena kekacauan, kehausan, dan kekuasaan."


"Tentu saja aku pasti ikut bertarung, pertarungan itu tiada akhirnya hingga dewa touri yang bernama Alvin itu menghapus kita semua dari kenyataan. Tiada satupun yang selamat, tetapi hanya ras yang meminum cairan yang bernama Reincarnation Water, sebuah air suci yang hanya berada di planet dimana para ras Elf tinggal. Karena air itu, aku memiliki kesempatan selamat hingga aku kembali hidup ke semesta Touri ini."


"Aku bukan lagi ras iblis karena tanduk-tandukku yang sudah tidak ada, tetapi aku masih memiliki sumber energi milik iblis yang bernama Oui. Pada saat itulah aku hidup sendiri tanpa sebuah keluarga."


"Tamat."


"Aku benar-benar penasaran... Ras lainnya selain Iblis, Legenda, dan malaikat. Kenapa semua ras-ras itu tidak Alvin ciptakan kembali...?" Tanya Shou.


"Mungkin Dewa Alvin memiliki alasan yang bagus." Jawab Rigel.


"Aku hanya pernah bertemu dan berbicara dengannya sebanyak dua kali, itu juga karena ia ingin melihat dewi kematian, bahkan dia juga pernah mengajakku berkelahi." Ucap Clare. "Dewa sableng itu memang ***** petarung dan pembuat onar sialan..."


"Dia sampai-sampai memecahkan biji kehidupanku...!!!" Shou mulai merasa kesal ketika ia mendengar nama Alvin. Ia selalu saja teringat perbuatan Alvin yang membuatnya kedua biji kehidupannya hancur. "APAKAH KEDUA BIJI ITU TERSELAMATKAN!?" Tanya Rigel panik.


"Ya, itu semua berkat dewi tepos." Jawab Shou.


"Kau tidak boleh mengejek nenekmu seperti itu dong, walaupun dia tepos, dia masih terlihat cantik." Ucap Rigel.


"Dewi Korrina ya...?" Tanya Clare.


"Iya." Rigel mengangguk.


"Dia cukup misterius entah kenapa." Jawab Clare.


"Ehh...?"



Di suatu planet yang bernama Hizekana, Arata sedang berada di planet itu selagi membasmi para Legenda sampah yang mencoba untuk mengeksekusi Legenda yang miskin dan tidak memiliki apapun. Ia menghabisi mereka semua para Legenda sampah sampai habis, setelah itu Arata memberi semua Legenda miskin itu beberapa uang dan makanan.


Arata tidak kehilangan satu korban karena ia membakar semua sampah itu lebih cepat. Arata menghampiri seorang gadis yang kedinginan dan kelaparan, ia memegang sebuah jaket tebal dan makanan lezat. "Ini untukmu." Jawab Arata, ia mulai memakaikan jaket itu kepada gadis kecil itu lalu ia memberikan makanan yang ia beli kepada gadis itu.


"Terima kasih, kakak." Jawabnya, gadis itu langsung memakan makanan yang Arata berikan. Arata mulai mengelus kepalanya lalu ia berjalan pergi meninggalkan gadis itu.


Arata tiba-tiba disambut oleh wali kota yang sedang memegang kantung berisi Legend's Diamonds. "Arata, kami dari kota Berdebere ingin memberikanmu hadiah karena sudah menyelamatkan kami semua." Jawab wali kota itu.


"Tidak perlu repot-repot, sudah tugasku untuk membasmi para legenda sampah itu. Bangsa Legenda tidak membutuhkan parasit seperti mereka." Jawab Arata.

__ADS_1


"Ternyata kau ini benar-benar orang baik, tetapi kami ingin kau untuk menerima hadia---"


Arata langsung melompat ke atas langit dan pergi meninggalkan wali kota itu, ia benar-benar tidak membutuhkan hadiah dari mereka. Setelah itu Arata mendarat di belakang toko restauran. "Aman---" Ketika Arata melirik ke kanan ia langsung melihat Methode sedang berdiri disebelahnya. "Aku akhirnya bisa bertemu denganmu lagi, Arata." Jawab Methode, ia mulai menatap wajah Arata dengan tatapan tajam.


__ADS_2