Yuusuatouri: The Beginning of a Legend

Yuusuatouri: The Beginning of a Legend
Chapter 37 - Menikmati momen


__ADS_3

Shira berbaring di atas sofa yang sangat nyaman, ia sedang tertidur karena ia baru saja pulang dari latihannya yang sangat keras.



Homura? Homura sudah jarang berlatih sekarang, karena Mortem pernah berkata bahwa Legenda gadis yang sudah menikah... Mereka tidak terlalu wajib untuk bertarung dan berlatih ketika anak-anak mereka sudah tumbuh besar, Legenda gadis harus kembali berlatih.



Jadi, Homura sekarang sudah jarang juga berlatih dan itu bukan maksudnya bahwa ia akan berhenti bertarung. Shira membuka kedua matanya lalu ia menatap Homura yang berada di depannya. "Hmm?"



"Kamu sudah bangun, sayang?"



"Homu... Jam berapa sekarang?" Tanya Shira dengan wajah yang masih lelah. "Sudah menjelang jam 3 sore..." Homura tersenyum.



Shira bangkit dari sofa itu dengan wajah yang mulai bersemangat. "Baiklah... Aku pergi sebentar. Solar Leap."



SWOOOSSHH!!!



"Hati-hati diperjalanan..." Homura menghela nafasnya karena Shira selalu saja berlatih dan berlatih, ia tidak pernah memberikan Homura waktu luang untuk bercinta sebentar. Bercinta seperti berbicara btw. AWAS YANG NEGATIF PIKIRANNYA.



"Walaupun kita menikah... Masih ada yang kurang dan itu adalah cincin..." Homura menatap jari manisnya dengan wajah yang galau.



***



Shira muncul di depan pohon yang sangat besar, ia mulai berlutut kepada pohon itu dengan wajah yang serius. "Dewa Alvin... Kamu pasti ada disana... Tunjukanlah dirimu." Ucap Shira



Alvin tiba-tiba muncul di depan Shira dengan sangat cepat, ia memiliki senyuman yang begitu bangga. "Menikah ya? Hmmm... Jaman-jaman dimana hal itu adalah hal yang menyenangkan."



"Ehh? I-Iya..."



"Dewa Alvin... Bisakah aku mengganti nama marga Homura menjadi 'Shiratori Homura'?" Tanya Shira dengan sangat serius.



"Hmph. Tentu, itulah jalan dari keturunan, Shira. Ini..." Alvin melemparkan kedua cincin itu kepadanya, dan Shira langsung mengambilnya. "Cincin solar dan blaze ya...? Dewa Alvin, terima kasih..." Shira tersenyum.



"Ya, semoga kehidupanmu di berkati dengan kehidupan damai... Buatlah banyak keturunan, Shira!" Alvin menghilang dengan sangat cepat dan Shira memberikannya hormat terakhirnya.



Shira melihat kedua cincin itu, Shira mulai merasa sangat sempurna bahwa pernikahan mereka memang benar-benar akan terjadi. "Homu... Tunggulah..."



"Solar Leap."



SWOOOOSSHHH!!!



***



Shira muncul dibelakang Homura, Homura sedang menonton TV dan juga tidak punya pekerjaan lain selain menonton acara kesukaannya.



"Homu."



"Hmm?" Homura melirik ke belakang dimana Shira berada.



"Mulai sekarang, jika sesuatu terjadi padaku, kamulah yang pertama mengetahuinya." Shira tersenyum dengan sangat keren. "Dan jika sesuatu buruk terjadi padamu... Akan aku tanggung bebannya bersamamu."



Shira menggenggam tangan kanan Homura dengan sangat hangat. "Kita akan saling berbagi apapun dan menolong satu sama lain..."



"Dan pasangan yang seperti itulah... Yang aku inginkan. "



"Aku tak ingin kamu menyesal karena telah memilihku sebagai suamimu... Dan juga sebagai dewamu yang mendampingi dewinya..."



Homura tersenyum dan merasa sangat bahagia mendengar perkataan Shira yang terdengar seperti lamaran. "Hehehe... Terdengar seperti lamaran..."



Shira mengangkat kedua jarinya dan tiba-tiba sebuah bola api muncul hingga itu berubah menjadi cincin api yang terlihat seperti api Homura. "Ya... Aku memang melamar kepadamu."

__ADS_1



"Menikahlah denganku, Homu..."



Homura langsung terkejut melihatnya, ternyata Shira memang melaksanakan janjinya... Ia berjanji bahwa ia akan memasukan sebuah cincin api yang sangat mewah ke dalam jari manis Homura.



Homura mulai menangis tangisan bahagia. Itu semua adalah tangisan yang sangat bahagia. "Ahh... Uhhh..." Homura mulai menangis tanpa henti. Tangisannya tidak bisa berhenti, ia terus saja menangis tangisan kebahagiaannya. "I-Ini... Seperti keajaiban saja... Aku jatuh cinta kepadamu karena pandangan pertama dan lihatlah sekarang... Kita benar-benar akan menikah..."



"Hmm... Aku juga jatuh cinta kepadamu dengan pandangan pertama..." Shira memeluk Homura dengan sangat erat.



"Sayang... Terima kasih... Terima kasih..." Homura langsung mencium bibirnya selagi masih meneteskan air matanya, Shira menciumnya dengan senyuman.



Malam itu adalah... Malam dimana Homura akhirnya bisa menemukan apa itu arti dari cinta dan juga kebahagiaan... Kehidupannya sebagai dewi yang suka menghancurkan dan yang selalu disakiti... Telah menemui kebahagiaannya disini... Sekarang juga...



***



"AAAGGGHHHHHH.... AHHHHHHHHHHHHHH!!!" Teriak Shira yang terdengar seperti teriakan monster yang baru saja bangkit dari tidurnya.



"Hmmm..." Homura mulai menangis di dalam mimpinya. Ia melirik kepada Shira yang sedang tertidur. "Sayang... Sayang..." Homura menggerakan tubuh Shira dengan sangat cepat selagi menangis.



"Hmm?" Shira membuka kedua matanya dan ia tiba-tiba melihatnya menangis. "Ada apa?!"



"Aku takut... Aku tidak mau sendirian..."



"Ahh..."



Homura memeluk Shira dengan sangat erat selagi menangis sedih bahwa suatu hari Shira akan meninggalkannya selamanya. Shira mulai mengelus rambut Homura.



"Kamu masih disini 'kan...?"



"Kamu masih bersamaku 'kan... Sayang...?"




"Jangan mencoba untuk meninggalkanku..."



"Hmm... Tidak akan."



Keesokan harinya, Mereka berencana untuk pulang karena Shira ingin sekali bertemu dengan anak-anaknya, sejak 3 tahun ia tidak bertemu dengan mereka.



SWOOOOSSHH!!!



Mereka telah tiba di depan rumah dengan sihir teleportasi milik Shira, Shira dan Homura mulai tersenyum. "Kita pulang." Homura tersenyum kepada Shira dan tiba-tiba wajah Shira terlihat seperti terkejut.



"Shira?"



"Ahhh... Aku melupakan sesuatu... Solar Leap!!!"



SWOOOSSHHH!!!!



Shira menghilang dengan sangat cepat dari hadapannya dan itu membuatnya sangat terkejut. "Dan dia menghilang lagi... Astaga..."



Homura menghampiri rumah dengan wajah yang sangat lelah. "Setidaknya aku bisa beristirahat di rumahku yang sangat damai..."



"Methode, Nytia, dan Syna sedang apa ya..." Homura membuka pintu rumahnya dan hal yang pertama ia lihat adalah ruangan tamu yang sangat berantakan... Itu terlihat seperti kandang goblin saja.



"HAHHH!?" Homura merasa sangat terkejut dan juga kesal. Homura bergegas menuju kamar anak-anak dan mencoba untuk menyuruh mereka bersih-bersih.



Homura melihat kamar mereka juga berantakan dan bahkan... Homura tidak bisa menemukan mereka bertiga, mungkin mereka pergi bermain seperti biasa. "Sial...!!!" Homura tiba-tiba berubah menjadi Homuze.

__ADS_1



***



Tempat dimana Nytia dan juga Syna sedang bermain, mereka sedang bermain kartu di taman karena mereka tidak mau diam di rumah yang berantakan karena perbuatan mereka. "Kamu tidak buruk dalam permainan Demon's Card, Syna." Nytia tersenyum dengan sangat naif.



"Kakak juga..." Syna mulai fokus melihat kedua kartunya. Ia memiliki kartu legenda dan kartu iblis. Ketika ia mengambil kartu iblis dari kedua tangan Nytia dan itu akan berakhir baginya.



"(Ada kesempatan kecil dalam situasi ini... Tapi aku akan menang mengalahkan Kak Nytia!)"



"Aku memilih kartu ini!" Syna mengambil kartu legenda dari kedua tangan Nytia dan tiba-tiba Nytia memegang kartu legenda itu dengan sekuat tenaga hingga Syna tidak bisa menariknya.



"Hah? Ugh!" Syna terus menarik kartu itu dari tangan Nytia yang memegang kartu itu dengan sekuat tenaga.



"Kakak curang ya!?" Tanya Syna dengan sangat marah dan kesal.



"Hah!? Curang apaan?" Tanya Nytia dengan wajah yang mencoba untuk tidak terlihat bersalah. "Kenapa Kakak harus memegang kartu yang aku pilih terus hingga aku susah menariknya?!"



"Guuh..."



Nytia tiba-tiba menunjuk langit-langit. "Wahhhh!!! Katana yang dapat membelah langit menjadi ratusan bagian."



"Ehh!? Mana!?" Syna melirik ke atas langit dan itu adalah kesempatan Nytia untuk menukar kartu yang Syna incar dengan kartu iblis.



"Mana? Mana?!"



"Maaf, itu hanya imajinasi kakak saja." Nytia terkekeh.



"Cepetan. Kakak mulai lelah menunggumu mengambil kartu yang kakak pegang nih." Nytia menghela nafasnya.



"Justru kakaklah yang membuatnya lama." Syna mengambil kartu iblis itu dan ia langsung melihatnya. Syna langsung terkejut melihat kartu yang ia ambil.



"Si-Sial! Aku memiliki dua iblis di kartu yang sama... Ak-Aku kalah lagi..." Syna langsung terkejut melihatnya. "Hahaha! Dasar adik bodoh---"



BSSSHHH!!!



Tiba-tiba kartu yang berada di tangan mereka terbakar menjadi hangus begitu saja, Homuze berada tepat di belakang mereka dengan wajah yang marah dan menyeramkan.



"Ahh!?" Syna menunjuk Homura dengan wajah yang terkejut. "Hmm? Kenapa Syna?" Nytia melirik ke belakang dan Homuze langsung memegang kepala Nytia dengan wajah yang kesal. "Kalian disini ya..."



"A-Ahh!!!" Syna dan Nytia mulai berteriak dengan sangat keras karena Homuze akan menghukum mereka dengan hukuman besar.



"MAAF!!!" Nytia tiba-tiba berlutut kepada Homuze tetapi Syna tidak karena ia tahu bahwa Nytia hanya akan berpura-pura.



"Hmm... Maaf apa?"



"Maafkan... ini!!! Rasakan ini, Mama!!!" Nytia tiba-tiba menembak laser cahaya ke arahku.



"Anak bodoh." Homuze mementalkan laser itu tepat terkena dahi milik Nytia.



PSSHH...



"AHHHH!!! PANAAASS!!!" Nytia mulai melompat-lompat karena ia bersikap seperti anak nakal sekarang.



Homuze memegang kerah baju mereka dengan wajah yang sangat marah. "Sepertinya kalian anak nakal membutuhkan hukuman yang berat untuk menjadi anak baik..."



"Wahhhhhh!!!" Syna dan Nytia menangis ketakutan. Mereka bertiga mulai terlindung dengan api-api, lalu tak lama kemudian mereka langsung menghilang dengan sangat cepat.


__ADS_1



__ADS_2