
Korrina dan Komi melesat menuju arah satu sama lain dengan kecepatan yang berbeda, Komi mencoba untuk mengarahkan sebuah tendangan yang mampu menusuk perut-nya, tetapi Korrina menggunakan sihir lompatan waktu dan membuat Komi lengah lagi.
"Cih... Ternyata kau memiliki sihir waktu ya. Apa yang kau bicarakan itu benar ternyata."
"Aku ini dipenuhi dengan strategis, diriku. Kita lihat sekarang, apakah aku akan menggunakan ilusi? Kecepatan? Waktu? Semua itu kita bisa saksikan sekarang juga!"
Korrina tersenyum puas karena kecerdasan Komi jauh lebih berbeda darinya bahkan ia tidak memiliki strategi apapun untuk melawan dirinya, pasti Komi akan terheran dengan apa yang akan Korrina rencanakan.
Dalam beberapa detik yang terlewati, semua serangan yang diarahkan Komi terus meleset dan Korrina sendiri mampu mengenai beberapa serangan yang membuat Komi kesal.
"Hahaha! Inikah dewi segalanya...? Bukan segalanya jika kau tidak memiliki kecerdasan yang jauh lebih besar dari seorang mortal!"
"Jangan meremehkanku!!!"
Komi mengarahkan sihir [Sacred Wrath] ke arah Korrina dan ia segara menunjuk sihir Sacred tersebut dengan telapak tangan kanan-nya.
"[Sacred's Domain!]"
Sihir Sacred Komi langsung terserap habis oleh Korrina yang memiliki sihir Sacred yang jauh lebih dominan dari Komi sendiri, Komi terkejut dengan apa yang ia lihat barusan, mulutnya menganga cukup lebar.
"Seorang mortal...? Korrina Comi yang berasal dari dimensi asli sepertinya memiliki pengalaman bertarung yang tinggi. Karena strategi dan kecerdasan-nya, aku tidak mampu menyerang-nya. Hebat sekali... Aku terlalu meremehkan dirinya."
"Hei."
"Ada apa, palsu?"
"Palsu ya...? Heehhhh... Kalau begitu aku adalah Faker Korrina jika kamu ingin memanggil-ku begitu."
"Tidak, untuk apa kita sama-sama Korrina bertarung?"
"Keseimbangan Touri, apakah kau ingin semua ini hancur karena terdapat dua hal yang sama? Walaupun aku ini yang palsu, tetapi tidak ada keseimbangan yang hancur jika si palsu itu menang."
"Aku akan menebak bahwa kau akan mengatakan tentang keseimbangan ini, aku mengharapkan bahwa kita bisa berteman dan menjadi rekan untuk bisa menghentikan peraturan tentang keseimbangan ini."
"Berteman katamu...? Jangan bercanda, takdir tidak akan berubah jika kita berteman melainkan itu hanya akan membuatnya lebh buruk. Hanya ada satu hal yang harus ada dan itu bukan palsu atau asli."
"Kamu itu dewi, sudah jelas bahwa kau memiliki pikiran seperti kacang."
"Mortal seperti dirimu tidak akan tahu konsekuensi-nya. Dewa atau mortal, kita sama-sama melindungi semesta yang kita cintai dari kehancuran keseimbangan dan segala konflik!"
"Busuk sekali, suatu saat aku akan menyadarkanmu bahwa kita bisa menciptakan sesuatu dengan kehendakkan kita sendiri! Kita bisa melakukan apa yang kita mau tanpa harus menjaga keseimbangan dan mengikuti para dewa dan dewi!"
"Apa yang aku harapkan dari seorang mortal, hah...? Pikiran-mu itu sama busuknya dengan munafik, apakah semua mortal bersikap perfeksionis?"
"Kau masih belum mengerti tentang perasaan mortal... Perasaan yang dipaksa..."
"Perasaan...?" Komi mengalihkan pandangan-nya ke arah cincin yang digunakan oleh Korrina.
"Ahh..." Korrina menyadarinya dan ia segara menghalang cincin tersebut.
"Hehhhh~ Kamu ternyata sudah menikah ya?"
__ADS_1
"... ..." Korrina hanya bisa diam dan tersipu, ia sekuat mungkin untuk tidak membuat Komi mendapatkan beberapa informasi tentang dirinya.
"Jika kamu sudah menikah maka kita benar-benar memiliki kesemaaan dengan bentuk dan warna cincin."
Komi menunjukkan cincin yang ia gunakan, Korrina terkejut melihat cincin yang digunakan oleh Komi sama persis.
"Jadi... Siapa pasangan-mu? Apakah dia...?"
"Siapa...?"
"Alvin Ghifari." Komi tersenyum geli.
"Bagaimana kau bisa tahu...?"
"Aku juga menikah dengan Alvin Ghifari di dimensi palsu itu. Berkat dirinya adalah seorang dewa Crimson dan aku dulunya sekedar setengah dewi dan mortal serta DNA Succubus yang ada di dalam tubuhku, aku memiliki anak yang berjumlah lebih dari sepuluh!"
Komi terus memberitahu Korrina tentang informasi-nya sendiri, tetapi ia tidak terlalu peduli tentang itu karena Korrina sebentar lagi akan terbunuh.
"Sepuluh anak...? Itu gila, DNA Succubus...? Dirimu...? Sangat memalukan."
"Aku bukanlah seorang pelacur, ingat itu. Aku sudah dimiliki oleh Alvin dan karena kita sering bercinta. DNA Succubus-ku memanfaatkan semua benih kehidupan-nya dan menjadikan diriku sebagai dewi segalanya berkat kekuatan Alvin yang diberikan kepadaku ketika bercinta."
"Tidak masuk akal... Dasar jalang... Pelacur... Sepuluh anak lebih...? Aku merasa malu melihat diriku yang palsu ini jauh lebih berdosa dariku."
"Apakah kau pikir aku akan peduli?"
Komi mengarahkan beberapa serangan lagi kepada Korrina, tetapi ia berhasil menghindari semua serangan-nya dengan mudah. Korrina memiliki sihir dan kekuatan yang terbatas, jadi dia harus menggunakannya dengan baik.
"Ada apa dengan Alvin Ghifari di dimensi ini...? Kenapa dia tidak membantu dirimu?"
"Alvin mengalami penyakit, trauma, dan koma."
"Ehh...?" Komi yang tadinya menyerang mulai berhenti dan terlihat terkejut.
"Apa maksudmu...?"
"Beberapa minggu yang lalu, Yuusuatouri mengalami konflik Rxeonal dan Shinku, peperangan yang tidak berguna terus terjadi sampai-sampai Alvin tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan semua yang ia punya."
"Dasar rendahan...! Kau bahkan tidak bisa mengalahkan Rxeonal dan Shinku yang rendah...!? Mereka itu sangat lemah dan kalian kalah oleh mereka...!?"
Komi mendadak kesal karena ia tidak suka melihat Alvin kesal atau rusak, ternyata dimensi asli ini memiliki konflik yang tidak terlalu bermasalah, tetapi satu konflik itu diselesaikannya cukup sulit.
"Tutup mulutmu. Rxeonal itu abadi dan dia tidak bisa dihancurkan oleh siapapun, bahkan dewa dan dewi sendiri! Shinku sendiri sangatlah kuat karena [Grimoire] yang ia pegang!"
Komi muncul di depan Korrina dan membuat Korrina terkejut sampai telat untuk menggunakan sihir-nya, ia terlalu terbawa suasana dengan pembicaraan kali ini.
"Diriku yang asli... MEMALUKAN SEKALI!!!"
Komi mengarahkan sebuah serangan fatal ke arah perut Korrina dan ia menciptakan sebuah portal di belakang Korrina sampai ia masuk ke dalam portal tersebut.
Komi segera masuk ke dalam portal itu dan melihat Korrina yang sedang meraba perut-nya. Komi merasa kebingungan melihat Komi yang tidak terluka oleh serangan tadi.
__ADS_1
"Ahh...? Apa mungkin...?"
Komi menatap perut Korrina yang bersinar warna putih yang mengartikan bahwa ia sedang mengandung seorang anak.
"Hehhhh... Masih sempat untuk membuat anak walaupun suami-mu sedang penyakitan...?"
"Tutup mulutmu...! Kau hampir saja membunuh anak-ku---"
Komi mengarahkan beberapa serangan ke arah Korrina dan Komi mulai menggunakan sihir ilusi serta waktu yang digabungkan menjadi satu, Komi tersenyum sinis.
"[Omni's Resolution]"
[Omni's Resolution], sebuah sihir tingkat segalanya yang mampu mematahkan segala sihir termasuk ilusi dan waktu, sihir sekuat apapun, sihir tingkat segalanya ini akan menghancurkan-nya tanpa ada hambatan sekalipun.
"T-Tidak mungkin---"
Korrina segara menahan beberapa serangan dari Komi menggunakan kedua telapak tangan-nya sampai keram, kedua lengan-nya bergetar karena merasakan kekuatan besar dari hantaman Korrina.
"Ugh... Kuat sekali..."
Korrina melihat Komi melakukan beberapa serangan lagi ke arah-nya, tetapi ia segara menciptakan sebuah barrier yang belapis-lapis.
BRAGGHHH!!!
Sekuat dan setebal apapun barrier yang diciptakan oleh Korrina, Komi masih bisa menghancurkan barrier tersebut sampai membuat Korrina terpental ke belakang dengan beberapa serpihan barrier yang menusuk anggota tubuh-nya.
"Ahagghh---"
Komi muncul di belakang Korrina dan ia mulai mencekik dirinya dari belakang menggunakan lengan kanan-nya. Korrina mulai kehabisan oksigen dan ia mencoba untuk melepas cekikan tersebut, tetapi tidak bisa karena tenaga Komi yang terlalu besar.
"Hehhh... Sepertinya payudara-mu besar juga, berbeda dari wujud mortal-ku."
Komi *** payudara Korrina cukup kasar sampai mengeluarkan desahan yang menyakitkan.
"Ahh..."
"SELAMAT TINGGAL, KORRINA!!!" Komi tersenyum sinis.
***
"... ..."
Seorang laki-laki yang memiliki rambut merah dengan kedua mata kosong duduk di atas kursi goyang dengan damai, ia tidak memiliki reaksi apapun selain menatap daratan dengan wajah yang putus asa.
"Guuuhhhh~"
Bayi yang memiliki rambut merah sedang bermain dengan kedua tangan dari pria tersebut. Mereka adalah Haruka dan Alvin, Haruka sendiri hanya bisa berbaring di kedua pangkuan Alvin sambil memainkan kedua tangan Alvin.
"...Ko... Ri.... Na..."
Alvin mulai berbicara, ia mengalihkan pandangan-nya ke depan dan mencoba untuk berdiri. Tubuhnya terlalu lemah sampai-sampai ia hanya bisa menggerakkan kedua lengan-nya saja sambil meneteskan beberapa air mata.
__ADS_1
Haruka menyadari itu, "Papa...?"
"Ko... Rii.... Na...."