Yuusuatouri: The Beginning of a Legend

Yuusuatouri: The Beginning of a Legend
Chapter 108 - Tidak ada satupun Legenda yang harus ditinggal


__ADS_3

Shin menatap wajah Shou yang terlihat seperti khawatir, Shou ingin sekali membawa Shin pulang karena dia ini adalah paman-nya. Shou tidak suka melihat keluarganya terpecah belahkan, jadi dia berjanji untuk menjadi seseorang yang mampu memperbaiki keluarga Ghifari dan Shiratori dari kepecahbelahan itu. "Apa yang kau mau dariku, Shou?! Sebaiknya kau bunuh aku sebelum aku mendapatkan Legend's Boost!!!"


"Jangan bertingkah bodoh! Aku datang melawanmu hanya untuk membawamu pulang... Kau seharusnya sadar bahwa disetiap serangan tadi, aku menahan diri dalam setiap seranganku agar aku tidak sengaja membunuhmu, Shin!!!" Shou mulai memegang kerah baju Shin, ia mulai menunjukkan wajah yang terlihat kesal. "Dengarlah dasar tolol! Kita bangsa Legenda itu harus bersatu menjadi satu... Kita semua bangsa Legenda tidak boleh menciptakan sebuah perang sesama bangsa karena itu adalah hal yang sangat buruk bagi ras kita... Kerugian yang besar akan muncul jika itu terjadi!!!"


"Apa yang kau tau dari tujuanku, hah!? Aku membunuh semua Legenda yang mencoba untuk menghina keluarga Ghifari, masalah atau tujuan ini bukanlah kau yang harus mengurusinya tapi aku!!! Kau berhak diam dan tidak ikut campur!!!" Teriak Shin, Shou langsung mengepalkan tinju kanannya, ia langsung menghantam wajah Shin hingga ia terjatuh di atas daratan.


BAMMMMMM!!!


"Ugghhhh!!!" Shin langsung memuntahkan beberapa darah melalui mulutnya. "Sadarlah, Shin!!! Apakah kau ini seorang Legenda!? Apakah kau masih memiliki jiwa seorang Legenda, hah!? Kita para Legenda tidak boleh menguruskan pemikiran Legenda lain jika mereka mencoba untuk mengejek kita atau keluarga kita...! Tetapi kita bangsa Legenda seharusnya diwajibkan untuk menyadarkan Legenda sampah, pelarian, dan laknat melainkan membunuh mereka...!"


"Jika hal ini terus terjadi maka populasi bangsa Legenda akan terus berkurang di setiap hari berlalu, bayangkan jika kita kalah karena kekurangan populasi Shin!!!" Teriak Shou. Shin bangkit dari atas tanah lalu ia mulai memukul seluruh tubuh Shou beberapa kali, tetapi Shou berhasil menghindari semua serangan itu tanpa harus berpikir. "BAGAIMANA JIKA PARA LEGENDA SAMPAH ITU MENGHIANATI KITA DAN MENUSUK KITA DARI BELAKANG, HAH!?" Tanya Shin.


Shou mulai menahan seluruh serangan Shin. "Apakah kau pernah belajar, Shin?! Apakah hal yang hanya kau tahu tentang bangsa Legenda itu bertarung dan membalas dendam 'kah!? Apakah kau hanya bersikap egois saja...!? Yang kau hanya pikirkan adalah keegoisanmu untuk membasmi para Legenda yang membenci marga GHIFARI!!!" Shou mulai memukul perut Shin dengan sangat dalam lalu ia mulai memukul seluruh kepalanya beberapa kali tanpa henti untuk memperbaiki otaknya yang rusak.


"Apakah kau tidak malu dengan bangsa Legenda yang berada di generasi tua!? Apakah nenek dan kakek moyang kita akan bangga melihat jiwa Legenda kita yang ternodai seperti ini!?" Shou memukul perut Shin dalam sekali hingga ia memuntahkan beberapa darah dari mulutnya. "Nenek Rina termasuk generasi tua dan kau seharusnya malu terhadap tindakanmu yang bersikap seperti seorang Legenda yang lebih sampah lagi...! Menurutmu apa perasaannya jika dia melihatmu seperti itu, hah!?" Tanya Shou hingga ia langsung menghantam wajahnya, Shin langsung terpental ke belakang dan mulai meneteskan beberapa air mata ketika mendengar nama Rina.


Clare langsung keluar dari tubuh milik Shou. "... ..." Shou mulai mengusap-usap darahnya yang berada di tinju kanannya, Clare mulai menghampiri Shin selagi memegang sabit yang ia pegang. "Apakah aku harus membunuhnya, tuan?" Tanya Clare.


"Jangan... Biarkan dia hidup. Dia adalah salah satu dari keluargaku juga... Bisa disebut dia ini pamanku." Ketika Clare mendengar hal itu, ia langsung mundur beberapa langkah dan mulai menghilangkan sabitnya. "Maafkan... Aku... Apa yang telah aku perbuat...!?" Tanya Shin, ia mulai memegang rambutnya hingga ia mulai mengacak-acak rambutnya karena ia secara tidak sadar membuat Rina sedih.


"Kenapa aku...!? Kenapa aku melakukan hal ini...!? Aku membuat ibuku benci kepada diriku sendiri...!!! SIALAN...!!!" Teriak Shin, ia langsung memukul daratan sekencang mungkin hingga retak. Shou menghampiri Shin lalu ia mulai membantunya berdiri. "Tidak ada kata untuk terlambat atau berakhir bagi seorang Legenda, Shin... Kau masih bisa merubahnya dengan meminta maaf dan memperbaiki kesalahan yang pernah kau buat."


"Shou... Kenapa kau melakukan hal ini... Kepada diriku yang sudah berdosa...?" Tanya Shin, ia mulai menatap wajah Shou dengan tatapan yang terlihat kebingungan. "Kita tidak boleh meninggalkan seorang Legenda... Walaupun kau sangatlah menyebalkan, aku pasti akan memaafkanmu dan membawamu pulang, Shin." Shou mulai menunjukkan wajah yang terlihat bersemangat.


"Terima kasih..."


"Untuk sekarang kita pulang menemui keluarga kita... Dan kau juga harus bertemu dengan nenek Rina." Ucap Shou hingga tiba-tiba Sakura dan Rigel muncul tepat di belakang mereka berdua selagi menunjukkan wajah yang terlihat khawatir. Shou dan Shin langsung menatap mereka berdua dengan tatapan yang terlihat terkejut. "Sa... Kura...!?" Shin langsung menunjukkan wajah yang terlihat terkejut. Shou langsung memberikan Shin kepada Sakura hingga ia langsung memeluk Shin erat.


"Dasar bodoh...!!! Aku kira kau akan bersikap ceroboh lagi...!" Ucap Sakura kesal, ia mulai menangis selagi memeluk Shin seerat mungkin. "Ahaha... Maafkan aku, Sakura... Sepertinya tujuanku sudah selesai karena bantuan Shou yang sudah mencarikan jawaban yang sebenarnya..." Shin tersenyum.


Shou dan Rigel menatap mereka berdua yang terlihat cukup romantis. Shou langsung mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisi air suci, ia membuka penutupnya lalu ia meminumnya hingga semua lukanya langsung sembuh. "Aku senang melihatnya, Shou." Rigel tersenyum.


"Senang kenapa?"


"Kau benar-benar melaksanakan tujuanmu dengar benar. Hampir semua Legenda sampah atau Legenda yang memiliki tujuan yang kau anggap salah pasti akan berubah karena dirimu." Rigel mulai mencium pipi kanan Shou dan itu membuatnya tersenyum. "Tentu saja...", Shou menyilangkan kedua lengannya.


Shou tidak lupa untuk memberi Shin satu botol kecil yang berisi air suci, setalah itu Shou dan Shin mulai saling berjabat tangan karena mereka berdua ingin mengucapkan permintaan maaf. "Shin, aku membutuhkan bantuanmu." Ucap Shou, ia mulai menunjukkan ekspresi wajah yang terlihat serius. "Aku akan membantu... Sebagai balas budi karena sudah menyadarkanku, Shou." Jawab Shin.

__ADS_1


Shou mulai menjelaskan tentang seorang Saint yang bernama Arata, ia menjelaskan Legenda itu dengan sangat jelas dan panjang hingga percakapan mereka terus berjalan selama 1 jam setengah. Sakura dan Rigel tertidur di atas paha Clare sedangkan Clare hanya memikirkan tentang strategi selanjutnya. Strategi untuk mengalahkan Saint Tracer.


"Kekuatan yang dapat meniru sihir, seni bela diri, dan senjata...? Kekuatan macam itu!? Dan tentang pedang tujuh dosa besar itu, aku sudah mendengarnya dari nenek. Sepertinya Arata adalah musuh yang cukup tangguh." Shin mulai memegang dagunya. Shou mengangguk. "Kita hanya harus bekerja sama melawannya. Kau, aku, dan Clare. Aku yakin kita bertiga bisa membuat Saint itu mengompol di celana-nya."


Shin langsung tersenyum. "Hee! Legenda bertambah kuat setiap kita sesama-sama bangsa Legenda bekerja sama bukan? Aku yakin kita bisa mengalahkannya." Ucap Shin.


"Jangan percaya diri terlalu berlebihan atau pikiran kalian nanti akan memudahkan situasi pertarungan kalian ketika melawan Arata." Clare mulai berbicara. Shou dan Shin melirik ke arah Clare yang terlihat serius. "Ini bukan saatnya untuk bermain-main, Shin, tuan... Kita harus memikirkan strategi yang pas untuk bisa menang melawan Arata."


Shou mengangguk. "Tentu saja, kita besok akan mencarinya bersama... Itu artinya hari ini aku akan menjepaskan semua strategi yang aku miliki di dalam pikiranku ini, hal yang terpenting adalah... Kita tidak boleh menunjukkan emosi apapun ketika kita melawan Legenda brengsek itu." Ucap Shou. Shin dan Clare langsung mengangguk, mereka semua mulai terbang pulang menuju rumah milik Shira.



Shou dan yang lainnya mendarat di balkon, Shira dan Homura sedang berada di balkon selagi mengurus Shiori, terdapat beberapa Legenda lainnya seperti Rina dan bahkan Mortem juga ada di sana, mereka semua langsung melirik ke arah mereka semua. "Kalian semua pulang dengan selamat!" Shira bangkit dari atas kursi, ia bergerak menuju arah Shou lalu ia memeluknya dengan sangat erat. "Pak tu--- Maksudku Ayah..." Shou langsung menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut ketika Shira memeluknya.


"Aku bangga kepadamu nak... Selamat, selamat karena sudah membawa Shin pulang." Shira berhenti memeluknya lalu ia memegang kedua bahunya. "Aku benar-benar bangga kepadamu!" Shira tersenyum.


Shou langsung menunjukkan wajah yang terlihat lebih terkejut lagi, ia mulai tersenyum. "Ya...! Tapi aku masih belum selesai untuk membanggakanmu lebih, Ayah!" Ucap Shou.


Rina membulatkan kedua matanya ketika ia melihat Shin kembali pulang. Shin mulai menghampiri Rina selagi menunjukkan wajah yang terlihat bersalah. "Mama... Aku pulang..." Shin berlutut di depan Rina selagi mengulurkan kedua lengannya, melihat hal itu membuat Rina berkaca-kaca hingga ia langsung menangis seperti anak kecil. "Shin... Hweeeeeehhhh!!! Shin, selamat datang kembali!!! Mama merindukanmu!!!" Teriak Rina, ia mulai memeluk Shin erat sekali.


Mortem langsung tersenyum ketika melihat Rina dan Shin telah kembali akur, bahkan ia juga bangga melihat Shou yang berhasil menyadarkannya. Homura menghampiri Mortem lalu ia berhenti di sebelah kirinya. "Bukannya hal ini membuatmu teringat kepada suatu hal, Mama?" Tanya Homura selagi menunjukkan senyumannya.


"Tentu saja... Melihat mereka berdua membuatku mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu." Mortem tersenyum. Homura langsung mengangguk hingga tiba-tiba sebuah gelombang sacred muncul di belakang mereka semua.


SWOOOOOSSSSHHHH!!!


Mereka semua melirik ke arah gelombang sacred itu, gelombang biru itu mulai perlahan-lahan menghilang hingga menunjukkan Korrina, Alvin, dan Aiko yang berusia 4 tahun karena bantuan dari sihir waktu Korrina. "Fuuuuh! Apakah Shou berhasil membawa Shin pulang?" Tanya Korrina selagi menunjukkan senyuman lebarnya.


Ketika mereka semua melihat Korrina, mereka langsung menunjukkan wajah yang terlihat terkejut. Korrina menyadari hal itu, ia mulai menunjukkan wajah yang terlihat kebingungan. "Hmm? Ada apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Tanya Korrina.


Korrina langsung menyadari tatapan mereka yang fokus kepada perut-nya yang sudah besar sekali. "Ahh~ Ini ya?" Korrina mulai mengelus-elus perutnya yang besar. "Aku hamil lagi, Tehehe~" Korrina mulai terkekeh.


"EHHHHHHHH!?" Teriak mereka semua, Alvin langsung menghalang wajahnya menggunakan Aiko. "Ada apa, Papa...?" Tanya Aiko.


Mereka semua menghampiri Korrina. "K-K-Kau sudah hamil lagi, Nenek!?" Tanya Homura.


"Sebenarnya kau ini ingin memiliki berapa anak, hah!? Ratusan 'kah!?" Tanya Shira.

__ADS_1


"Mama! Mama! Apakah Rina akan memiliki adik lagi!?" Tanya Rina.


"Hmm... Anak baru lagi ya... Aku harap anak itu gadis yang menurut, kuat, dan berani!" Ucap Mortem. Korrina mulai terkekeh kecil "Ahahaha..."


"DASAR DEWI *****-AN!!!" Teriak Shou keras, ia mulai menunjuk Korrina dengan jari telunjuknya. Semua orang langsung terkejut ketika mendengar perkataan Shou yang cukup gegabah, Korrina langsung menunjukkan wajah yang terlihat sangat terkejut. "Kau ini sebenarnya dewi apa sih!? Aku tidak bisa melihat kesucian dari dirimu, nenek! Bukannya kau ini dewi suci!?"


"Ternyata aku salah...! Kau ini sebenarnya dewi sangean atau dewi nafsuan yang menyamar menjadi seorang Dewi Su---"


BAMMMMMMMM!!!


Shou langsung terpental jauh karena gelombang sacred yang Korrina luncurkan. "BERISIK DASAR ANAK TIDAK TAHU DIRI!!!" Teriak Korrina keras hingga Shou terpental jauh sampai-sampai keluar dari luar angkasa. "UWAAGGGGHHH!!!"


"Dasar bodoh..." Homura mulai menepuk wajahnya sendiri ketika melihat tingkah laku Shou yang bertingkah saat tidak sopan.


Beberapa menit kemudian, Shou, Shin, dan Clare sudah berlatih secukupnya bahkan mereka juga sudah memakai Kisetsu suci untuk bertarung melawan Arata. Semua Kisetsu itu dibuat oleh Korrina agar mereka bertiga bisa kebal terhadap racun.


Strategi milik Shou sudah dijelaskan secara jelas dan panjang kepada Shin dan Clare, mereka berdua langsung setuju dengan rencana yang Shou buat. Ada dua rencana yang bisa dibilang dengan nama Plan A dan Plan B. Plan A sudah dipastikan akan digunakan di awal-awal sedangkan Plan B hanya digunakan ketika keadaan buruk terjadi.


Shou, Shin, dan Clare langsung menatap Korrina dengan tatapan yang terlihat serius. "Kalian sudah siap untuk pergi ke planet dimana Arata berada?" Tanya Korrina.


"Tentu saja!" Jawab mereka bersama, Shou dan Shin sudah mengucapkan selamat tinggal kepada dua kekasihnya. Shou melihat Shira sedang mengacungkan jari jempolnya sedangkan Shin melihat Mortem sedang melambaikan tangannya. "Kalau begitu... Semoga beruntung!" Korrina menunjuk mereka bertiga hingga mereka langsung menghilang karena Korrina menggunakan sihie teleportasi kepada mereka bertiga.



Shou dan yang lainnya tiba di planet yang bernama planet Resgema, mereka bertiga langsung bisa merasakan Lenergy milik Arata yang tersebar-sebar dimana-mana. Shin menunjuk ke atas lalu ia meluncurkan sebuah gelombang Crimson ke atas langit untuk memanggil Arata. "Kita sudah pasti bisa memanggil Arata ke sini bukan?" Tanya Shin.


"Ya... Tentu saja..."


SWOOOSH!!!


"Tekanan ini!?" Shou langsung merasa sangat terkejut ketika ia merasakan sumber Lenergy lainnya, sebuah gelombang sacred muncul di depan mereka. "Sacred!? Tunggu, apa-apaan ini!?" Tanya Shin, ia mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal.


Gelombang sacred itu langsung hilang dan mulai menunjukkan Arata yang sedang menunjukkan wajah yang terlihat serius. "Arata...!" Shin mengepalkan kedua tinjunya dan tiba-tiba seorang gadis mulai menampakkan dirinya dari belakang Arata.


Shou langsung membulatkan kedua matanya. "K-Kakak!?" Shou tiba-tiba memanggil gadis itu dengan sebutan Kakak. Sesosok gadis yang Shou panggil dengan sebutan kakak adalah Shiratori Methode.


"Yo, Shou..." Methode mengangkat tangan kanannya.

__ADS_1


__ADS_2