
!!! PERHATIAN !!!
~BACA SAMPAI TAMAT YA~ BANYAK PLOT TWIST DAN KALIAN HARUS KUAT IMAN UNTUK MEMBACA SEMUA KEJADIAN YANG TERJADI... DEMI AUTHOR LOH YANG NAMATIN SPESIAL CHAPTER II SAMPE JATUH SAKIT...~
Assalamualaikum Wr. Wb.
Sebelum kita membaca chapter spesial atau chapter serasa movie ini, author ingin sekali mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada kalian semua karena author tidak akan pernah bisa melanjutkan Yuusuatouri sampai titik yang sangat seru ini. Berkat para pembaca-pembaca yang saya hormati dan setia selalu membaca seri Touri, author sangat berterima kasih kepada kalian semua karena telah menjadi sumber semangat author untuk terus melanjutkan seri Touri hingga puncak akhir.
Yuusuatouri sekarang sudah mencapai titik pembaca yang sangat banyak sekali, dengan melihat itu author sangat bersyukur karena bisa terus lanjut update seri novel Yuusuatouri, sebenarnya dulu Yuusuatouri akan benar-benar tamat di chapter 56, yahh... Tapi karena kalian, ya kalian para pembaca yang sedang membaca chapter spesial ini! Kalian semua memanglah terbaik, author akan terus update chapter demi kalian semua! #SeringUpdate #Hiburan
Sekarang author sudah membuat tiga novel seri Touri, Yuusuatouri, Xuusuatouri, dan Zuusuatouri! Semoga kalian bisa membaca ketiga novel semesta itu dan tidak lupa dengan alur Yuusuatouri ya~ Kalau kalian semua minat, author bisa buat novel tentang jaman perjuangan Alvin sejak dia masih lemah, masa lalu dari semesta Touri~
Yahhh... Tanggal rilis Spesial Chap II telah tiba, kalian datang ke chapter ini untuk membaca chapter spesial (Movie), 'kan?! Hahaha! Ya, iya... Maaf kalau author banyak ngomong, wkwkkwwk. Bagi kalian yang sangat tidak sabar untuk baca. Baca dengan pelan karena chapter ini mengandung perasaan sedih, senang, dan pertarungan yang sangat spektakuler!
Ya... Sesuai dengan janji author...!!! Mari kita mulai!!!
[DIHARAPKAN UNTUK TIDAK SPOILER KETIKA SELESAI MEMBACA DAN JUGA... AUTHOR HARAP KALIAN TELAH MEMBACA YUUSUATOURI SAMPAI TAMAT]
[SELAMAT BERPUASA DAN SELAMAT MEMBACA~]
Ngabuburit sambil baca Yuusuatouri Spesial Chap II
~YUUSUATOURI: THE BEGINNING OF THE LEGEND~
~ETERNAL DESTRUCTION AND PARADOX~
|+-+SPECIAL CHAPTER II+-+|
AN ORIGINAL STORY MADE BY: @LegendaNgawur
...
Tiga bulan lamanya telah terlewati, tiga bulan ini masih memiliki pertandaan yang cukup baik dan menakjubkan bagi semesta dimana para bangsa Legenda tinggal. Beruntungnya semesta Yuusuatouri yang belum sama sekali terselimuti oleh kejahatan atau hal-hal yang mampu menghapuskan istilah dari kedamaian bagi bangsa Legenda. Langit-langit masih berwarna ungu gelap, walaupun sekarang pukul empat pagi, langit-langit masih terlihat seperti langit di malam hari, bahkan masih terdapat beberapa bintang yang bersinar di langit-langit yang gelap itu.
Shiro dan Homuze berencana untuk menyaksikan matahari yang akan terbit di tempat yang Homuze telah rekomendasikan yaitu gunung yang sangat tinggi sekali, Shiro jarang sekali melihat matahari yang terbit dengan kedua matanya karena ia terlalu sibuk membaca buku dan bahkan berlatih untuk bisa melindungi keluarganya dan semesta Yuusuatouri. Ia juga sibuk dengan aktifitas mengajar beberapa murid yang memiliki potensi tinggi di akademi Legendarius.
"Kita harus secepatnya berangkat..." Ucap Shiro kepada Homuze yang sedang mengikat tali sepatunya dengan pergerakan tangan yang sangat pelan.
"Iya..." Jawab Homuze selagi mengikat tali sepatunya, wajahnya juga terlihat jelas bahwa ia masih mengantuk. "Apakah hari ini cuaca-nya bagus...? Langit-langitnya terlihat masih gelap, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan di pagi hari ini." Ucap Homuze yang mencoba untuk mencari alasan agar ia bisa berbaring kembali di atas kasurnya yang memiliki gravitasi lebih tinggi dari planet Legendarius, ia tidak mau pergi atau ia tidak menginginkan banyak bergerak dengan seorang bayi yang masih berada di dalam perutnya. Itu terasa bahwa setiap ia berjalan tenaganya akan terkuras, alasannya karena berjalan selagi mengandung seorang anak di dalam perutnya.
"Apakah kau bodoh? Bukannya kemarin kau yang mengajakku untuk menyaksikan matahari terbit?! Seharusnya kau pikir-pikir lagi sebelum berbicara!" Bentak Shiro dengan menunjukkan rautan wajah yang sedikit kesal, ia mulai berjalan keluar dari rumahnya dan mulai menatap langit-langit yang gelap itu.
"Homuze, apakah kau sudah membawa teh dan sarung tangan?" Tanya Shiro selagi memasukkan kedua tangannya yang kedinginan ke dalam saku jaket-nya.
"Sebentar ya..." Homuze mulai membuka tas-nya lalu ia mencoba untuk mencari sarung tangan. Beberapa saat kemudian ia tidak menemukan sarung tangan tersebut. "Yahhh... Hampir saja kelupaan."
"Mama, cepat dong. Bisa-bisa kita tidak sempat untuk melihat matahari terbit." Ucap Eclipse yang baru saja selesai mengikat tali sepatunya, ia bangkit dari atas lantai lalu ia menatap Homuze dengan menunjukkan wajah yang tidak sabar.
"Iya, iya, Mama akan membawanya." Jawab Homuze selagi mencoba untuk bangkit dari atas lantai, setelah itu ia menatap ke belakang dimana ia melihat seorang gadis kecil yang sedang berdiri tepat di depannya, gadis kecil itu memegang sebuah boneka beruang yang memiliki warna merah. Gadis itu terlihat jelas bahwa ia baru saja terbangun dari tidurnya. "Ohh, sayang... Kenapa kamu bangun malam-malam begini?" Tanya Homuze selagi menunjukkan senyuman kecil.
"Aku ingin ikut... Aku ingin melihat matahari terbit." Jawab gadis kecil itu, gadis kecil itu sudah pasti Shiratori Arisu. Ia terlihat ingin sekali ikut untuk melihat matahari yang terbiat. Dan Arisu tidak pernah sekalipun melihat matahari terbiat, dia selalu bangun pukul jam 8 atau 10 pagi.
"Sekarang masih terlalu larut, sayang... Tidur lagi saja..." Ucap Homuze dengan ia mulai mengelus puncak kepala Arisu.
"Tidurku sudah lama! Aku juga ingin melihat matahari terbit!" Jawab Arisu dengan wajah yang serius, wajahnya menjelaskan jelas bahwa ia ingin sekali melihat matahari terbit, ia sama sekali tidak pernah melihat matahari yang terbit di pagi hari.
"Arisu, kita mau jalan-jalan melewati gunung-gunung yang besar loh. Kamu 'kan masih kecil, lanjutkan saja tidurmu ya." Jawab Eclipse dengan sebuah senyuman kecil.
"Aku tidak mau tidur lagi..." Jawab Arisu. Ia tiba-tiba melihat Shiro yang sedang menatapnya dengan wajah yang datar, kunci untuk Arisu ikut adalah memaksa kepada Shiro karena ia sangatlah lemah bagi Arisu, ia selalu saja tergoda dan merasa kasihan melihat wajah imut dari Arisu. "Aku punya ide lainnya..."
"Papa juga ikut?" Tanya Arisu dengan menunjukkan wajah yang penasaran.
"Ya. Sudah lama sekali Papa tidak melihat matahari terbit, jadi Papa ikut saja." Jawab Shiro. Arisu bergegas maju menuju Shiro lalu ia mulai memegang erat kedua kaki Shiro dan mulai menatap tepat di wajahnya yang terlihat kebingungan. "Aku juga ingin ikut, Papa..."
"Yahh.... Mmmm..." Shiro mulai ragu-ragu ketika melihat wajahnya yang terlihat sangat imut dan juga memaksa untuk pergi. Shiro tidak tahan melihat kedua matanya yang berwarna emas itu. "Sialan..."
"Apapun yang Mama dan Papa katakan... Aku akan menurut dan melaksanakannya dengan cepat!" Ucap Arisu dengan eksperesi wajah yang sangat serius, ia mulai mencoba segala cara agar ia bisa ikut melihat matahari terbit.
"Aku akan makan makanan yang tidak aku sukai... Seperti sayuran, wortel, semua makanan yang aku sangat tidak sukai!"
"Kau janji tidak akan pilih-pilih dalam makanan, ya? Kau harus makan apa yang Mama sediakan. Bahkan kamu juga harus belajar loh, sebentar lagi akademi Legendarius akan mengalami penilaian 'kan...?" Tanya Shiro.
"Iya!!!" Teriak Arisu.
Shiro lalu menatap wajah Homuze. "Homuze, kau dengar itu? Dia akan belajar di penilaian tengah semester nanti."
"Oh, benarkah? Baiklah kalau begitu." Homuze tersenyum bahwa Shiro selalu saja yang akan membuat Arisu menurut. Homuze membawa tas yang terletak di atas lantai lalu ia memakainya. Homuze langsung menatap wajah Arisu. "Gantilah bajumu. Pakailah pakaian yang hangat ya~"
"Hmm!!!" Arisu mengangguk lalu ia bergegas masuk kembali ke dalam rumahnya, ia berencana untuk mengganti baju secepat mungkin agar ia bisa melihat matahari yang terbit dengan waktu yang tepat.
Beberapa menit telah terlewati, Shiro dan keluarganya mulai melompati pohon-pohon yang sangat besar dan tinggi agar mereka bisa mencapai puncak dari gunung yang terletak di kota Legendarius, gunung itu sangatlah besar dan juga tinggi hingga mampu menembus awan-awan. Mereka terus menanjak selagi melompati pohon-pohon itu dengan kedua kaki mereka. Hal yang mereka lakukan saat ini bisa terhitung sebagai latihan karena melatih kedua kaki mereka.
Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di tempat dimana terdapat sebuah WC umum di tempat tersebut. "Yah... Kita akan jalan kaki menuju tujuan terakhir kita sekarang." Ucap Shiro yang sedang menatap Homuze dan yang lainnya.
"Masih gelap..." Jawab Arisu, ia mulai memegang jaket Shiro dengan sangat erat. "Ini pertama kalinya aku melihat gunung segelap ini."
"Soalnya sekarang masih jam empat pagi..." Jawab Homuze dengan ia bergegas memberi Arisu sebuah botol yang berisi air hangat lalu Arisu meminum botal tersebut dengan pelan-pelan.
"Arisu, bisakah kamu menyinari cahaya menuju jalan yang dilapisi oleh lantai ini?" Tanya Shiro selagi menunjuk sebuah lantai yang terbuat dari batu, lantai itu berarah menuju tujuan akhir mereka yaitu tempat terbaik untuk melihat matahari yang terbit di arah timur.
"Hmmm!!!" Arisu memberikan kembali botol berisi air hangat itu kepada Homuze lalu ia menunjuk ke depan dengan kelima jari-nya. Kelima jari dari lengan kanannya mulai menyinari sebuah cahaya yang cerah seperti sebuah senter. Arisu bergerak maju dan mulai memimpin perjalanan karena ia memiliki 5 buah senter di kelima jarinya. "Jangan pergi sendirian, nak." Suruh Shiro dengan ia mulai mengikuti Arisu dari belakang, Homuze dan Eclipse juga mulai mengikuti mereka dari belakang.
Mereka terus berjalan lurus tanpa harus belok ke kanan atau ke kiri karena tujuan mereka hanyalah berjalan lurus hingga mereka bisa melihat pemandangan kota Legendarius yang sangat besar dari gunung tertinggi di planet Legendarius. Shiro tiba-tiba melirik ke atas lalu ia mulai menatap langit-langit yang masih terlihat gelap itu. "Kenapa kehidupan ini harus tetap maju...? Sejujurnya aku ingin tetap berada di dunia yang damai ini untuk selamanya... Aku hanya harus bersyukur di setiap detik-nya karena Yuusatouri masih terselimuti oleh kedamaian, semesta ini diberkahi oleh Alvin sih... Jadi aman-aman saja."
"Arisu terlihat sangat bersemangat ya..." Ucap Shiro dengan wajah yang tenang, Homuze langsung terkekeh mendengar perkataan Shiro.
"Empat tahun yang lalu, dia masih bayi loh... Sangat kecil sekali, sangat imut juga..." Homuze terkekeh karena ia bisa merasakan perjalanan waktu yang sangat cepat, ia tidak menyangkan bahwa Arisu sudah tumbuh besar dan kuat, tetapi Homuze juga sadar dan sangat bersyukur bahwa tubuh fisik Arisu tidak akan berubah untuk selamanya, ia akan terus terlihat seperti anak kecil yang berumur 4 tahun sama seperti Rina.
"Ya... Aku pernah merawatnya ketika dia berumur satu tahun, kau dulu itu sangat sibuk sekali hingga kau memiliki keperluan bersama Korrina dan membiarkan aku merawat Arisu." Ucap Shiro dengan eksperesi wajah yang tenang, ia mulai menikmati suhu-suhu dingin di sekitarnya.
"Untung saja aku bisa merawatnya sejak itu... Terasa cukup menyenangkan juga ya..." Shiro terkekeh pelan.
Flashback
Di hari yang sangat amat cerah, Shiro sedang duduk di atas karpet selagi menonton beberapa acara di televisi yang terbuat dari kulit minotaur. Ia terus menggantikan salurannya karena ia sama sekali tidak menemukan saluran yang ia suka dan bahkan tidak ada satupun saluran yang menarik perhatiannya. "Hahhh... Sialan..." Shiro mulai mematikan televisi itu lalu ia mulai berbaring tepat di atas lantai selagi menatap ke atas dengan kedua matanya yang lelah.
"Padahal hari ini adalah hari cuti-ku dan hari berliburku... Ya, aku bisa apa ketika bersantai? Menikmati acara saluran TV aja susah..." Shiro melirik kepada Arisu yang sedang bermain bersama bonekanya, ia berencana untuk bermain bersamanya sebentar.
Shiro bangkit dari atas karpet lalu ia berjalan menghampiri Arisu yang sedang duduk di atas sofa selagi memeluk boneka beruang-nya. Shiro perlahan-lahan mulai mengangkat Arisu yang sedang sibuk bermain, ketika Shiro mengangkatnya Arisu hanya bisa diam selagi menggigit dot-nya. "Guuhhh..."
Shiro mulai berjalan menuju teras lalu ketika ia sampai di teras, ia melihat seekor naga besar yang terbang melewati rumahnya. "Arisu, lihat! Ada naga yang melewati atap rumah kita." Ucap Shiro selagi menatap naga yang melewati rumahnya.
"Mmmm..." Shiro melirik kembali kepada Arisu, wajahnya terlihat sangat kesal hingga ia langsung menggerakan kedua lengannya ke atas dan ke bawah dan mulai menangis. "Uwwahhhh...!!!! Uwaahhhhh...!!! Mama...!!! WAAHHHHHHH...!!!" Teriak Arisu.
"Eh, k-kenapa...?! Tenanglah, Arisu!" Shiro mulai mengangkatnya lebih tinggi lagi lalu ia menatap Arisu yang sedang menangis dengan sangat keras. "Kamu marah karena Mama pergi meninggalkanmu ya...? Mama-mu memang harus diberi pelajaran berat oleh Papa-mu ini, tenang saja, ahahaha..." Shiro terkekeh lalu ia berjalan keluar dan tiba di tamannya, ia mulai perlahan melayang di atas langit selagi memegang Arisu di kedua tangannya. "Lihat-lihat! Tinggi banget bukan?" Shiro mulai terkekeh.
"UWAAAHHHHH...!!! WAAHHH...!!! MAMA...!!! AHHHHHHHH!!!" Arisu langsung menendang wajah Shiro dengan sangat keras hingga ia langsung terpental menuju tanaman yang berada di teras rumahnya dan merusak beberapa bunga yang Homuze telah tanam beberapa hari yang lalu.
BAMMMMMMM!!!
Shiro duduk di atas tanah selagi memegang pipi kanannya. "Aduh, masih bayi dan dia memiliki tenaga sebesar ini... Potensi anakku memanglah mengerikan..." Shiro muncul tepat di depan Arisu lalu ia mengangkatnya dan ia muncul kembali di dalam rumahnya.
"Apakah terlalu tinggi? Maaf." Shiro tersenyum selagi menatap wajah Arisu yang terlihat mulai tenang. Tiba-tiba ia mulai menangis lagi dan bergerak perlahan-perlahan. "Uwaahhh... Mmmmm...!"
"Salah juga ya...? Bagaimana kalau di lantai?" Shiro mulai menepatkan Arisu di atas lantai, ia mulai tersenyum kepada Arisu hingga ia langsung perlahan tenang dan berhenti menangis. "Aduh... Merawat anak terkadang cukup susah, Homura dan Homuze memanglah hebat..." Shiro meraba kepala Arisu lalu mereka berdua mulai menghilang dan muncul kembali di ruang tamu.
Arisu mulai merangkak menuju arah mainannya sedangkan Shiro mulai mengambil sebuah catatan yang terletak di atas meja. "Arisu sangat menyukai kerincingan..." Shiro mulai membaca catatan itu, ia lalu menatap kerincing yang berada di atas meja lalu ia mengambilnya dan menunjukkannya kepada Arisu.
"Anakku, lihat...! Kamu suka ini 'kan---" Tiba-tiba Arisu langsung meluncurkan gelombang api melalui telapak tangan kanannya menuju arah Shiro, tetapi ia langsung menunduk hingga gelombang itu melaju menuju keluar jendela. "A-Apaan itu...!? K-Kau mau membakar rumah kita, Arisu?!"
"Ugahhh! Dahhhh...!" Arisu langsung melirik kembali kepada bonekanya lalu ia mulai kembali bermain. Shiro merasa cukup terkejut melihatnya yang bertingkah seperti itu. "Aku merasa cukup hormat dan kasihan juga kepada Homuze, bagaimana bisa dia tahan dengan merawat Arisu...?"
Shiro mulai melanjutkan membaca catatan itu, catatan itu berisi peringatan yang harus dihindari dirinya yaitu ketika Arisu marah dan menangis, Shiro harus berpikir cepat dan berhati-hati. "Hahhh..." Shiro menghela nafasnya.
Arisu tiba-tiba mulai menangis lagi. "UWAHHHH...!!! WAHHHHH!!!" Tangisan bayi itu menandakan bahwa Arisu ingin meminum sebuah susu karena ia merasa lapar. "Dia menangis tanpa sebuah alasan yang aku ketahui...?! Jangan-jangan dia lapar, tunggu sebentar, Arisu!" Shiro bangkit dari atas lantai lalu ia tiba-tiba tersandung oleh sebuah kerincing hingga ia langsung terjatuh di atas lantai. GUBRAK! "Sakitt...!!!"
"UWAAHHH...!!! MAMAAAAAA...!!!"
"T-Tunggu sebentar......"
Arisu berhenti menangis ketika ia diberi sebuah botol yang berisi susu hangat, sekarang ia sedang meminum susunya melalui botol yang dipasang dengan sebuah dot bayi. Shiro duduk di depannya selagi berkeringat dan merasa cukup kesal. "Hahhh... Merawatmu ternyata cukup membuatku kesal... Tidak kusangka Homura dan Homuze mampu merawat anak-anakku, para ibu memanglah istimewa dan hebat... Aku malah jadi kangen Mama..."
"Ya ampun... Membuat susu dengan suhu yang pas itu susah tahu, kau sudah menolak tiga botol susu yang Papa buat." Ucap Shiro selagi menyilangkan kedua lengannya. Arisu berhenti meminum susunya lalu ia merangkak menuju Shiro dan mulai berbaring di atas kedua pahanya.
"Jangan bersandar seenaknya seperti itu... Kamu ini berat, minggir." Arisu tidak memperdulikan apa yang Shiro katakan, ia melanjutkan meminum susunya.
"Oi, kau dengar apa yang Papa-mu katakan?"
"Mwaahhh... Daaaahhh..."
"Aku tidak mengerti bahasa bayi. Minggir, Arisu."
"Papa...!" Teriak Arisu hingga membuat Shiro terkejut dan mulai tenang, ia menghela nafasnya lalu mengelus puncak rambut Arisu. "Dasar anak nakal..." Shiro tersenyum.
FLASHBACK END
Shiro dan yang lainnya berhasil sampai di tempat tujuan mereka hingga mereka juga sampai dengan waktu yang sangat tepat. Mereka semua menyaksikan matahari terbit cerah di arah barat, Shiro mulai berdoa agar semuanya bisa berjalan dengan lancar, semuanya contohnya seperti kehidupan dan juga kedamaian. Semuanya harus tetap terjalan dengan lancar, ia tidak mengharapkan untuk adanya musuh lagi karena ia hanya ingin bertambah kuat melalui latihannya sendiri tanpa harus melawan seorang musuh yang memiliki tujuan untuk menghancurkan sesuatu.
Pagi telah tiba, semua murid-murid yang akan pergi menuju akademi mulai bergegas untuk berangkat agar mereka tidak terlambat dalam penilaian tengah semester mereka. Hari ini adalah hari ujian tengah semester. Ujian berjalan dengan lancar, Shiro sedang berdiri di depan mereka selagi menyilangkan kedua lengannya. "Jika aku melihat salah satu dari kalian menyontek, aku akan langsung merobek kertas ujian kalian." Ucap Shiro dengan ia perlahan maju beberapa langkah lalu ia melirik ke kiri dimana ia melihat sebuah jendela yang terbuka. Jantungnya mulai berdetak dengan sangat dan itu memiliki pertandaan tidak buruk.
"Firasat... Firasat apa ini..." Ucap Shiro dengan eksperesi wajah yang terlihat sangat khawatir, ia mulai berkeringat seperti jantungnya mulai perlahan berdetak dengan sangat cepat disetiap detiknya. "... ..."
Homuze mulai menatap kuburan Shira, Homura, Nytia, dan Selvia yang terletak berdekatan. "Apakah zaman memang sudah berubah...? Kalian semua sayangnya tidak bisa melihat zaman yang telah berubah sekarang ini." Homuze mulai melirik ke atas lalu ia menatap langit-langit yang cerah selagi menunjukkan eksperesi yang terlihat sedih sekali.
"Aku ingin melihat kalian hidup. Homura, tidak kusangka kau akan benar-benar melakukannya... Aku sudah merasa tenang dan nyaman tinggal di dalam tubuhmu, walaupun aku ini adalah seorang Legenda yang hidup kembali...! Aku masih tidak menerima apa yang kau telah lakukan...!!!" Teriak Homuze dengan ia perlahan meneteskan kedua air matanya. Tiba-tiba Haruka dan seseorang yang memakai sebuah jubah hitam yang menghalangi seluruh tubuhnya mulai muncul tepat di belakang Homuze.
"... ...!" Homuze langsung mengelus air mata-nya yang berjatuhan di kedua matanya, ia lalu melirik ke belakang. "Apa yang sebenarnya kau butuhkan dariku, Haruka?" Tanya Homuze dengan ia perlahan menoleh kepada Haruka. Seketika Homuze menatap kedua mata Haruka yang terlihat khawatir, ia langsung mulai menunjukkan wajah yang terlihat lebih khawatir dari sebelumnya.
"Apa yang kau mau, Haruka? Aku tidak percaya bahwa kau datang untuk mengunjungiku." Homuze mulai menyilangkan kedua lengannya.
"Ini bukan waktunya untuk berlaga sok kuat, Homuze. Kita berada di situasi kiamat sekarang..." Ucap Haruka dengan ia perlahan mengeluarkan sebuah balok yang berwarna biru gelap layaknya warna itu lebih mencolok dengan luar angkasa. Homuze langsung mulai mengerutkan alis kanannya karena melihat balok itu. "Balok...?"
"Tunggu! Apa yang kau maksud dengan situasi kiamat?!" Tanya Homuze dengan eksperesi yang terkejut.
"Tidak ada waktu! Bantu aku membuat sebuah pohon yang besar sekarang juga!" Haruka mulai mengambil sebuah batang pohon lalu ia mulai menggambar sebuah batang pohon menggunakan batang yang ia pegang, ia menggambarnya tepat di atas tanah. "Woi... Setidaknya beritahu aku---"
"TIDAK ADA WAKTU, BANGSAT!!!" Teriak Haruka.
Alvin dan Korrina muncul di tempat dimana hanya Dewa dan Dewi maha kuasa tinggal. Mereka berada di tempat dimana para makhluk lain atau dewa-dewi tidak bisa menemukan tempat tersebut, dan tempat itu juga bisa disebut sebagai tempat penglihatan segala hal yang ada di semesta Touri. Beberapa pillar cahaya mulai bermunculan di lorong dimana Alvin dan Korrina sedang berjalan. "Alvin... Kau pergi entah kemana itu... Semua itu karena sebuah waktu yang mulai perlahan-lahan terkutuk oleh dua Legenda itu?" Tanya Korrina.
"Ya, mereka berdua sepertinya mulai bergerak dan berencana untuk membalas dendam. Maupun itu balas dendam terhadap satu orang yang tinggal di semesta Yuusuatouri, mereka berdua sama saja menyebabkan kehancuran kepada semua orang yang hidup di Yuusuatouri." Jawab Alvin dengan wajah yang sangat serius.
"Mereka memiliki rencana yang cukup cerdas juga untuk menghancurkan semua masa yang ada di Yuusuatouri... Contohnya waktu, mereka mencoba untuk mengambil alih waktu yang tercipta di Yuusuatouri..."
Korrina dan Alvin terus berjalan ke depan hingga perlahan-lahan Alvin mulai meneteskan air matanya melalui kedua matanya. Korrina melihat hal itu terjadi, ia langsung memegang erat tangan kiri Alvin. "... ..."
BAMMMMMMMM!!!
Penglihatan mereka mulai terhalangi oleh sinar cahaya yang sangat cerah hingga perlahan-lahan terdapat 3 lingkaran besar tepat di depan mereka. Ketiga lingkaran itu memiliki makna terhadap sesuatu yang penting dan juga sesuatu yang tidak boleh dihancurkan begitu saja. Ketiga lingkaran itu mengartikan ketiga semesta yang ada di Touri. Xuusuatouri, Yuusuatouri, dan Zuusuatouri.
Alvin dan Korrina sekarang sedang berada di puncak dimana semua makhluk hidup dan bahkan dewa-dewi tidak akan bisa meraih tempat yang maha kuasa ini. Mereka berdua sekarang sedang berada di pusat penglihatan ketiga alam semesta itu dengan jelas, nama tempat itu adalah <>, bisa disingkat dengan nama <>
Ketika mereka membuka kedua mata mereka masing-masing, mereka melihat kedua sosok Legenda yang sedang berdiri di depan mereka berdua, kedua Legenda itu menggunakan sebuah jubah merah darah dan biru muda untuk menghalangi seluruh tubuh mereka. "Itu mereka..." Ucap Korrina dengan ia mencoba untuk menyerang mereka, tetapi Alvin langsung menghalangnya. "Jangan dulu..."
Korrina langsung menatap wajah Alvin yang terlihat sangat serius, Korrina langsung menunjukkan eksperesi yang sangat terkejut karena melihat wajah Alvin yang terlihat sangat serius, padahal dia tadi menunjukan eksperesi yang sedang sedih tetapi sekarang wajahnya itu bukanlah main-main karena Korrina mulai mengingat kejadian dimana Alvin pernah memberitahu bahwa ia akan menciptakan tiga semesta. Eksperesi wajahnya itu terlihat sama sejak itu. "Maaf..." Korrina mengangguk lalu ia mulai menatap kepada Legenda yang berada di depan mereka.
"Rin, Ren... Apakah itu kalian?" Tanya Alvin dengan eksperesi yang tenang, ia mulai menunjukkan sebuah senyuman kecil kepada kedua sosok Legenda yang bernama Rin dan Ren itu.
Seorang gadis berjubah biru itu mulai melirik kepada Alvin dengan wajah yang terlihat kesal. Rin adalah seorang gadis Legenda yang memiliki rambut panjang berwarna pirang dan juga poni-nya memiliki sedikit warna dari hitam, kedua matanya berwarna biru muda seperti warna dari cahaya di pagi hari dan bahkan kedua matanya itu memiliki kesamaan dengan Korrina. "Kau telah datang ya..."
Dan seorang laki-laki berjubah merah yang berada di sebelah Rin mulai melirik ke belakang lalu menatap wajah Alvin dengan tatapan yang sangat tajam dan juga kesal. Laki-laki itu sudah jelas bernama Ren, rambutnya berwarna hitam dan juga terdapat sebuah sehelai rambut yang berwarna pirang di bagian poni-nya. Mata kiri Ren memiliki sebuah luka goresan seperti Alvin, tetapi Ren sudah tidak bisa melihat menggunakan mata kirinya. "Sialan... Tidak kusangka bahwa kalian akan secepatnya menemukan kami"
"Tentu saja, Ren. Ini adalah tempat dimana aku melihat seluruh semesta. Aku bisa melihat jelas kejahatan yang ada di ketiga semesta itu dengan berada di tempat ini..."
"Baiklah-baiklah, mari kita diskusikan hal ini dengan berbicara, Ren. Aku tidak mau kau menyebabkan kehancuran lainnya dan sepertinya kehancuran yang kau rencanakan ini bukanlah kehancuran yang wajar... Kau sama saja ingin menghapuskan semesta Yuusuatouri." Ucap Alvin dengan wajah yang sangat serius.
"Untuk apa kita Legenda harus berdiskusi dengan sebuah obrolan? Bukan 'kah bangsa Legenda seharusnya lebih COCOK berdiskusi dengan tinju kita masing-masing...?" Ren mulai tersenyum dengan sangat jahat.
"Jangan berbicara seperti itu, Ren. Papa-mu sudah mengajarkanmu segala hal tentang kehidupan bangsa Legenda, bukan itu saja... Bahkan Papamu sudah sepenuhnya menjelaskan apa yang ia tahu dari semesta Touri ini. Kau tidak boleh merasa benci karena dia telah memilih seorang Saint yaitu bukan dirimu." Jawab Korrina. Ternyata Ren dan Rin adalah kedua anak Alvin dan Korrina yang ke 11 dan 12. Mereka ini kembar dan sudah tidak di-anggap oleh Alvin dan Korrina karena sebuah perbuatan yang pernah mereka lakukan yaitu membasmi para ras Elf hingga bangsa Elf langsung punah karena perbuatan mereka berdua.
Alvin dan Korrina langsung menyegel mereka di tempat dimana mereka tidak akan bisa melarikan diri dari tempat tersebut, tetapi entah kenapa sekarang mereka bisa berada di tempat dimana hanya Alvin dan Korrina saja yang bisa mengunjunginya. Alvin dan Korrina menyadari bahwa mereka telah melarikan diri dari tempat yang seharusnya mereka berada hingga mereka berdua langsung bergegas menuju tempat dimana Ren dan Rin berada.
"Mama! Papa memanglah sosok Dewa maha kuasa yang sangat bodoh dan egois...! Dia memilih seorang mortal yang berasal dari dunia asli? Sungguh sampah sekali, aku pikir bahwa kita adalah kedua Saint yang ditakdirkan untuk melindungi semesta Yuusuatouri!" Jawab Rin dengan wajah yang kesal.
"Kalian berdua tidak mengetahui banyak tentang Shiratori Shira... Dan takdir mengatakan sesuatu tentang kalian berdua... Takdir itu adalah takdir dimana kalian berdua akan berbuat seenaknya sebagai Saint. Bukannya melindungi Yuusuatouri, tapi kalian malahan hanya akan menyombongkan diri kalian sendiri dan bahkan membasmi Legenda yang kalian pikir itu layak untuk dibasmi." Ucap Alvin.
"Shiratori Shira...? Bukannya dia sudah mati karena dirimu yang egois ini, Papa?! Apa gunanya kau memilih Shira jika kau hanya akan membunuhnya nanti?! Takdir memang harus terjadi, tetapi takdir bisa diubah dengan cara paksa bukan...?!" Tanya Ren.
"Aku melakukannya karena perbuatanku itu benar, jika dia berubah menjadi sesosok Eternal yang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri maka keluarga Shiratori dan Ghifari akan terbantai habis oleh dirinya. Kekuatan Eternal yang tidak terkendali itu dapat melampui para dewa dan dewi yang sangat kuat, Shiro memiliki takdir dimana ia akan menghancurkan segalanya dengan kekuatan Eternal yang tidak bisa ia kendalikan." Ucap Alvin dengan wajah yang serius.
"Aku tidak mau kejadian kehancuran abadi akan terulang lagi... Aku tidak mau kehilangan Mama kalian dan bahkan saudara-saudara kalian. Jadi aku mengubah takdir dengan cara paksa!"
"Jika aku menghapusnya dari kenyataan menggunakan sihir Vanish maka takdir yang mengatakan bahwa Shiratori Shira yang bisa disebut dengan pelindung kesatria Yuusuatouri akan hilang untuk selamanya dan takdir itu akan membawa Yuusuatouri menuju takdir kiamat dengan musuh-musuh yang tidak bisa kita prediksi begitu saja... Walaupun aku adalah seorang dewa maha kuasa, aku tidak akan bisa melihat takdir terhadap ketiga semesta itu... Tetapi aku bisa mengubahnya dengan cara paksa dan menyakitkan..." Ucap Alvin dengan wajah yang serius.
"Sebenarnya kalian berdua itu tidak mengerti dengan potensi Shira yang sebenarnya! Ya, dia sudah mati tetapi dia memiliki pengganti yang bernama Shiro, sesosok Eternal yang mengambil alih tubuh milik Shira. Mereka berdua memiliki tekad dan semangat yang sama untuk bisa disebut sebagai Kesatria Penyelamat Semesta!!! TOURI'S ONLY HOPE!!!" Teriak Korrina dengan wajah yang serius hingga membuat Rin dan Ren kesal.
Ren langsung terbang menuju arah Alvin dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mortal biasa, dengan cepat Alvin menyerangnya lebih cepat, ia menendang dagu Ren menggunakan kedua kakinya hingga ia terpental menuju atas langit. Alvin muncul di atas-nya lalu ia mulai melakukan backflip lalu menendang punggungnya dengan sangat keras hingga ia terpental menuju sebuah lantai yang tidak memiliki alas apapun. "Crimson World!" Alvin langsung menjentikkan jari kanannya hingga mereka semua langsung dipindahkan menuju tempat dimana terdapat sebuah padang pasir yang memiliki warna merah merah, semua yang mereka lihat sekarang telah berubah menjadi warna merah darah.
"Cih---" Ketika Ren mencoba untuk terbang menuju Alvin, ia tiba-tiba terkena oleh beberapa bola sihir milik Alvin yang telah diluncurkan beberapa kali menuju arahnya. Alvin langsung mengangkat tangan kanannya hingga telapak tangan kanannya langsung menciptakan bola energi merah yang sangat besar, setelah itu Alvin melempar sihir tersebut menuju arah Ren.
BAAAAAAMMMMMMMM!!!
Seluruh tubuh Ren tiba-tiba terlindungi oleh sebuah barrier yang berwarna merah, ia perlahan melayang ke atas langit lalu ia menatap wajah Alvin dengan sangat kesal. "Kekuatanmu sepertinya meningkat, Ren. Berbeda dari beberapa tahun yang lalu..." Alvin tersenyum.
"Kau masih saja memiliki kekuatan sialan itu, Papa... Walaupun kau ini seorang dewa maha kuasa. Aku Ren Ghifari, seorang Saint Crimson akan mengalahkanmu!!!" Teriak Ren hingga seluruh tubuhnya langsung mulai terhalangi oleh auranya sendiri. Seluruh tubuhnya perlahan-lahan mulai berubah menjadi warna merah darah.
"Kau mengaku dirimu Saint, ya... Kau ini Saint, tetapi tekad dan sikapmu itu... Kau seharusnya tidak memanggil dirimu sebagai seorang Saint!!! KAU HANYALAH KEKECEWAAN BAGI KAMI!!!" Ucap Alvin dengan wajah yang sangat kesal. Ren adalah seorang Saint Crimson yang memiliki kekuatan dewa, ia berada di level yang paling tinggi kekuatan penuhnya bisa disebut dengan 22% dari kekuatan yang Alvin gunakan sedangkan Alvin sekarang sedang menggunakan 30% dari kekuatannya saat ini. Bisa-bisa ketika Ren berubah menjadi wujud Saint, persentase dari kekuatannya bisa meningkat.
Alvin perlahan menggerakan kaki kanannya hingga ia langsung bergerak dengan cepat, ia tiba-tiba memukul perut Ren dengan sangat dalam hingga Ren sendiri tidak menyadari pergerakannya yang sangat cepat. "Kau bukanlah tandinganku, Ren. Kekuatan Saintmu terlatih hanya demi kekuasaan, berbeda dari Shiro... Tujuannya menjadi Saint adalah untuk menjadi pelindung Yuusuatouri dan bahkan untuk menjadi yang terkuat agar ia bisa melindungi keluarganya dan semesta Yuusuatouri!" Alvin menendang alat kelamin Ren dengan sangat keras hingga ia langsung terpental ke atas langit dengan wajah yang merasakan kesakitan dahsyat. "AHHHHHHHHHHHHHHHHHH?!!?!"
"Kau hanyalah anakku yang dipenuhi dengan penyesalan bagiku, kau memanglah sampah...! Kekecewaan terbesar bagi keluar Ghifari, kau tidak akan pernah tobat!!! Kejahatan Rivin dan Mortem masih bisa aku maafkan sedangkan kau... Kau tidak akan pernah bisa berubah!!!" Alvin terbang menuju arah Ren dengan cepat dan ia langsung memukul seluruh tubuh Ren tanpa henti hingga ia sendiri tidak bisa menghindari atau menahan semua serangan Alvin. Alvin muncul tepat di atas Ren. "SEHARUSNYA KAU SADAR BAHWA MENJADI SAINT ITU TIDAK MEMENTINGKAN SIAPA DIRIMU SENDIRI!!! TERBUATNYA LEGENDA SAINT ADALAH UNTUK MELINDUNGI YUUSUATOURI!!!" Alvin menghantam punggung Ren menggunakan kedua tinjunya hingga Ren langsung terpental menuju daratan.
BAMMMMMMMMM!!!
Ren mulai menatap Alvin yang sedang bergerak menujunya. "AKU AKAN TUNJUKAN KEPADAMU...!!! AKU AKAN MENUNJUKKAN TUJUAN SAINT YANG AKU INCAR!!!" Ren terbang menuju arah Alvin dengan kecepatan yang sama dengannya.
BAMMMMMMMM!!!
Alvin memukul wajah Ren dengan sangat keras hingga ia langsung terpental menuju gunung yang sangat besar hingga mampu menghancurkan gunung tersebut. Ren sekarang sedang berada di kondisi yang terluka. "Nrrrgghhh...!!!"
Ren perlahan bangkit dari atas daratan lalu ia menatap wajah Alvin dengan tatapan yang kesal. "Keluarga ini... Tidak... Semua hal yang telah hidup di semesta ini... Semuanya salah, seharusnya aku adalah penggantimu, Papa. Aku bisa mengubah Touri menjadi sesuatu yang pantas untuk dilihat!"
"Semua ras yang tinggal di Touri... Mereka saling berperang dan menumpahkan darah mereka demi kemenangan berperang, juga sikap mereka yang selalu bertindak semaunya seperti seseorang yang kehausan dalam kekuatan...!" Ren mengepalkan kedua tinjunya dengan sangat keras.
"Touri tidak membutuhkan sebuah parasit yang ditinggali oleh para ras. Hanya kita para dewa dan dewi saja yang layak tinggal di semesta Touri! Keberadaan Legenda, Malaikat, dan juga Iblis adalah kejahatan yang sesungguhnya!!!"
"Dan kami... Kami yang berusaha memperbaikinya... KAMI ADALAH KEADILAN BAGI TOURIII!!!" Teriak Ren dengan ia terbang menuju arah Alvin lalu ia mulai memukul seluruh tubuhnya tanpa henti hingga Alvin sendiri dengan mudah menghindari semua serangan itu. Alvin langsung menunjukkan wajah yang sangat kesal hingga ia langsung memegang erat lengan kiri Ren.
"Kata-kata itu... Siapa yang mengajari kalian dengan kata-kata itu...?!" Tanya Alvin dengan wajah yang kesal.
"Walaupun kau ini adalah Ayah kami... Kami anak-anakmu bisa membantah semua perintah orang tua-nya yang bersikap semaunya" Jawab Ren.
"Sepertinya ada sesuatu hal yang tidak beres disini... Apakah kau bersama seseorang berbahaya...!? JANGAN-JANGAN KAU MASUK KE DALAM OATH'S REALM!?" Tanya Alvin hingga ia langsung menghancurkan lengan kiri Ren dengan menariknya hingga tercabut. Lengan kiri Ren yang telah tercabut langsung mengeluarkan darah yang sangat banyak sekali.
"AHHHHHHHHHHHHHHH...!!!" Teriak Ren dengan penuh kesakitan hingga mampu membuat Korrina dan Rin langsung terkejut melihat itu. Alvin menghantam seluruh tubuh Ren dengan lengan kiri miliknya hingga Ren langsung terpental kembali menuju daratan.
BAAAAAAMMMM!!!
"Dengan merasakan aura menyengat ini... Aura atau energi sihir yang bisa disebut dengan nama <>, sepertinya kau mengunjungi tempat yang sangat terlarang untuk dikunjungi oleh para dewa-dewi, tempat itu sangatlah terlarang bagi semua dewa dan dewi kecuali dewa yang menjaga Oath's Realm... Jika kau memiliki sihir Oath maka kau sudah bukan lagi keluargaku, kau sudah benar-benar kekecewaan dalam keluarga Ghifari dan semesta Touri!!!" Ucap Alvin selagi mengepalkan kedua tinjunya dengan sangat keras, ia menunjukkan wajah yang sangat kesal. Di balik wajah kekesalan itu terdapat kekecewaan terhadap anaknya.
Oath's Realm adalah tempat yang sudah lamanya terciptakan oleh dewa maha kuasa sebelum Alvin, wilayah itu adalah wilayah yang sangat kekal dan jugat mutlak. Oath's Realm adalah tempat yang dihuni oleh dewa-dewi yang memiliki sihir dan kekuatan yang tidak terbayangkan, bahkan Alvin sendiri juga tidak pernah menceritakan wilayah itu kepada Shira atau Shiro, bahkan istrinya sendiri juga tidak tahu kecuali Mortem. Oath's Realm berhak hanya diketahui oleh Alvin sendiri, dia memberitahu Mortem karena ia memiliki potensi untuk menjaga Realm itu agar tidak terbuka lebar, jika Realm itu terbuka lebar maka Touri akan mengalami kehancuran yang dahsyat sekali.
Sihir Oath adalah sihir yang mampu menciptakan sihir apapun yang ada dengan menggunakan sihir yang bernama <>, tetapi ketika sihir Oath itu menciptakan satu sihir apapun, maka sihir yang telah diciptakan oleh sihir Oath itu akan dibayar dengan seluruh tubuh si pengguna yang akan mati rasa seperti sudah tidak bisa digunakan lagi. Ya, semua tubuhnya. Dan juga Oath Creation hanya bisa digunakan sekali untuk seumur hidup, tetapi bagi Dewa Oath yang sudah terlatih <>, Oath's Creation bisa saja digunakan beberapa kali.
"O-Oath's Realm...?" Korrina mulai merasa kebingungan ketika mendengar perkataan yang Alvin ucapkan. Ia mulai menggunakan kekuatan maha mengetahui-nya hingga ia langsung terkejut karena Oath's Realm bukanlah wilayah yang main-main lagi, wilayah yang hanya pantas untuk seseorang yang kekal dan tidak memperdulikan apapun di semesta Touri, yang dipedulikan oleh penghuni Oath's Realm adalah kehancuran abadi.
"Nrrrgghhh...!!! Grrrrrggghhh...!!!" Ren perlahan-lahan bangkit dari atas tanah selagi memegang bahu kirinya yang terus mengeluarkan darah. Rin tiba-tiba muncul tepat di sebelahnya hingga ia langsung memulihkan seluruh tubuh Ren hingga pulih kembali. "Kita sudah jelas berada di level yang berbeda dengan Papa dan Mama, cerdas..." Ucap Rin yang sedang mengejek Ren.
"Aku ingin sekali melihat Papa terluka dengan kedua tinjuku ini... Sepertinya kita tidak memiliki pilihan lain---" Korrina tiba-tiba muncul tepat di depan mereka berdua hingga ia langasung menghantam wajah mereka menggunakan kedua tinjunya, Ren dan Rin langsung terpental ke belakang dan terjatuh di atas tanah.
Rin langsung muncul tepat di belakang Korrina. "Ren, lakukan!!!" Teriak Rin hingga perutnya langsung terhantam dengan sangat dalam oleh tinju kanan milik Korrina. "Tidak akan aku biarkan kau, Rin..." Kedua mata Korrina langsung bersinar.
BAAAMMMMM!!!
Ren dan Alvin mulai bermunculan beberapa kali di atas langit. Tiba-tiba Ren mulai memegang wajahnya Alvin lalu ia melemparnya menuju daratan hingga Alvin berputar lalu mendarat tepat di atas tanah dengan sempurna. "... ..."
Ren mendarat tepat di depannya selagi menunjukkan wajah yang penuh kekesalan. "Sialan kau..."
"Aku ingin melihat perubahan tidak bergunamu itu, Papa!!! Perubahan seperti apa yang kau miliki untuk mengalahkanku...?" Tanya Ren hingga ia tiba-tiba langsung berubah menjadi wujud Saint God.
Alvin tersenyum kecil. "Seorang Saint Crimson... Tidak kusangka bahwa kau akan memiliki wujud Saint God, Ren! Tapi, aku sama sekali tidak terkejut melihatmu seperti ini. Saint tipe Universal, tetapi kau terpengaruhi oleh kekuatan itu...!" Perlahan-lahan sebuah simbol X muncul tepat di dahi milik Alvin, kedua matanya mulai bersinar berwarna merah darah hingga kedua matanya mulai berubah menjadi merah darah dan terdapat simbol X juga di kedua mata pupil-nya.
Aura-nya mulai membesar seperti membuat sebuah gelombang menuju langit-langit yang merah, rambut Alvin mulai berubah menjadi merah darah hingga mulai bergerak dengan aliran tenang. Kedua lengannya mulai ber-otot hingga ia langsung mulai melakukan kuda-kudanya. "Limit Breaker X..." Alvin langsung berubah menjadi wujud Limit Breaker X. Wujud yang mampu meningkatkan segala atribut dengan dikalikan 170%, wujud ini juga akan memakan banyak tenaga bagi Alvin, tetapi tenaga yang termakan itu akan diubah menjadi kekuatan serangnya.
"Limit Breaker X...? Kau ingin melawan Saint God dengan wujud lemah itu?"
"Aku tidak terlalu mengandalkan perubahan di sini, Ren. Aku hanya mengandalkan pengalamanku dalam pertarungan."
"Hahaha!!! Papa, perkataanmu terkadang membuatku ingin tertawa! (Alvin: Tinggal tertawa, apa susahnya?) Seharusnya kau sadar bahwa melawanku dengan wujud itu sama saja dengan melakukan bunuh diri!!!"
"Hmph. Kau ini sombong sepertiku, aku benci itu, kesombongan adalah kelemahan pertama bagi kita bangsa Legenda! Tapi apakah kesombongan itu mampu membuatmu bisa menang melawanku...?" Tanya Alvin dengan sebuah senyuman di wajahnya hingga mampu membuat Ren kesal.
"Aku benci ekspresimu itu... HAPUSKAN SENYUMAN BRENGSEK ITU, DEWA SIALAAAN!!!" Teriak Ren hingga ia langsung melempar sebuah bola energi merah besar yang dilindungi oleh gelombang seperti kincir angin di atas-nya. Sihir itu bernama Crimson Buster.
Tiba-tiba Crimson Buster tersebut langsung melewati tubuh Alvin hingga ia sendiri tidak merasakan kesakitan dari sihir itu karena ia telah terkena oleh sihir tersebut. Bahkan Ren langsung melebarkan kedua matanya melihat Alvin yang tidak terluka sedikitpun. "Itu saja...? Aku bisa melakukan ini." Alvin langsung menjentikkan jari-jarinya hingga sebuah Crimson Buster yang lebih besar lagi muncul tepat di depan Alvin lalu meluncur menuju arah Ren.
Ren langsung terkejut melihat itu, ia langsung menghantam sihir itu dengan sangat keras hingga sihir tersebut langsung meledak tepat di depannya. Alvin langsung muncul tepat di depan Ren dan ia langsung mencoba untuk memukul wajahnya, tetapi Ren langsung menahan pukulan itu menggunakan kedua lengannya.
BAMMMMMMM!!!
"Kecepatanmu tiba-tiba meningkat dengan drastis... Kenapa...? Kenapa bisa Limit Breaker X meningkatkan kecepatanmu?" Tanya Ren.
"Kita berdua sama-sama memiliki sihir crimson bukan...? Aku adalah Alvin Ghifari, seorang Legenda eksperimen yang ditakdirkan untuk menggunakan sihir kuno yang bernama Crimson dengan cara yang sempurna. Semua sihir yang mengandung Crimson tidak dapat melukaiku melainkan hanya akan membuatku...!!! KUAAAT!!!" Alvin tiba-tiba langsung meningkatkan kecepatannya hingga ia langsung memukul seluruh tubuh Ren tanpa henti, Ren langsung kewalahan menahan semua serangan itu.
Alvin memukul wajahnya dengan sangat kencang, lalu ia menendang perut Ren menggunakan kedua kakinya hingga ia terpental ke belakang. Ren terus terpental hingga mengenai ribuan gunung yang berada di belakangnya, ia langsung menahan seluruh tubuhnya dengan memukul daratan hingga ia langsung berhenti bergerak ke belakang. "Nrrghh...!!!"
Alvin muncul tepat di depan Ren. "Kau berbeda dari Alvian, Rivin, dan Vivin... Mereka bertiga mampu mengalahkanku dengan wujud biasa mereka sedangkan kau anak laki-lakiku juga... Kau ini seorang Saint Legenda yang sedang berada di wujud Saint God, dan ya kau tidak bisa melukaiku bahkan menyentuhku saja tidak bisa... Wujud itu menganggapmu sebagai pinjaman... Kekuatanmu tidak memiliki kesamaan dengan wujud Saint God yang asli!" Ren langsung menunjukkan wajah yang sangat kesal sekali.
Korrina berputar lalu ia menendang puncak kepala Rin dengan sangat keras hingga ia terpental menuju atas daratan. "Saint God...? Apakah wujud Saint God yang kau miliki ini hanyalah sebuah lelucon...?" Tanya Korrina. Ketika Rin mencoba untuk bangun, tiba-tiba Korrina mulai menunjuknya hingga ia langsung terpental menuju arah Ren.
BAAGGG!!!
"S-Sial... Seharusnya rencananya tidak berjalan seperti ini...!!!" Ucap Rin dengan sangat kesal.
"Berdirilah!!! Seorang dewa yang sudah diakui oleh para Dewa Oath seharusnya tidak terlihat menyedihkan sepertimu ini!" Jawab Ren dengan sangat kesal.
Rin bangkit dari daratan lalu ia mulai memegang kerah baju Ren dengan sangat kasar. "Kau tidak mengatakan bahwa hal ini akan terjadi!!! Kau bilang semuanya akan berjalan dengan lancar jika kita berhasil menempuh wujud Saint God ini!"
"Dan lihatlah kita...! Kau kalah oleh wujud Limit Breaker X dan aku sendiri bahkan tidak bisa menyentuh Mama yang sedang berada di wujud biasanya saja...!!! Ilusi-nya terlalu kuat sedangkan kekuatan murni Papa sangatlah kuat!!!" Teriak Rin hingga mereka berdua mulai bertengkar. Korrina muncul tepat di sebelah Alvin selagi menyilangkan kedua lengannya.
"Aish... Apakah mereka bertengkar?" Tanya Korrina.
"Sepertinya kita menang..." Alvin langsung menunjuk mereka berdua dengan telapak tangan kanannya. "Pertarungan berakhir. Apakah kalian tidak keberatan jika aku menghapus kalian selagi kalian bertengkar?" Tanya Alvin.
"Atau kalian lebih memilih untuk saling menghabisi satu sama lain agar kalian berdua bisa menyadari dan bercermin terhadap diri kalian sendiri..." Ren tiba-tiba mulai memegang lengan kanan Rin hingga ia langsung menatap wajahnya.
__ADS_1
"Tenang saja, kakak... Kita masih memiliki rencana yang mampu membuat kita dengan persentase seratus bahwa kita akan menang... Bukan...?" Ren mulai tersenyum jahat.
"C-Cara itu...!" Tiba-tiba Rin langsung menunjukkan eksperesi yang terkejut, ia perlahan-lahan mengambil sesuatu dari saku celananya, barang yang ia ambil dari saku celananya itu terlihat seperti sebuah kubus yang dilindungi oleh aura kegelapan.
"Apakah kalian tidak bisa memilih? Jika tidak, maka aku akan menghapus kalian saja." Ucap Alvin dengan wajah yang kesal hingga Korrina sendiri mulai menunjukkan wajah yang terkejut karena ia mendengar pembicaran antara mereka berdua. "K-Kubus...?"
"ALVIN!!! INI GAWAT!!! CEPAT HABISI MEREKA SEKARANG JUGA!!!" Teriak Korrina hingga mampu membuat Alvin terkejut. "Apa...!?"
"OATH'S RELEASE GODLY CREATURE... MLAER S'HTOA ID AYNAMAL LAGGNIT HALET GNAY AWED HALNAKTIKGNAB!!!" Tiba-tiba kubus kegelapan itu langsung melayang di atas langit dan berputar 360° kencangnya hingga mampu melampui kecepatan angin ** beliung. Kubus itu langsung mengeluarkan gelombang kegelapan yang sangat amat besar hingga mampu membuat Alvin dan Korrina terdorong mundur.
"Sialan...!!! VANIS---" Seketika Korrina menunjuk gelombang itu dengan lengan kanannya, tiba-tiba lengan kanannya langsung hancur hingga mampu membuat Korrina langsung terkejut. Lengan kanannya benar-benar hancur hingga yang hanya tersisa adalah darah yang berjatuhan di lengan kanannya yang sudah hancur, ia perlahan berlutut di atas tanah dengan wajah yang kesal "Grrgghh....!!!"
"A-Ada apa, Korrina...!?" Tanya Alvin dengan wajah yang terkejut, ia langsung mencoba untuk membantu Korrina bangun. "T-Tidak apa... Ini bukan apa-apanya... Sayang..." Lengan kanan Korrina langsung perlahan-lahan teregenerasi kembali menjadi lengan kanan yang baru.
Tiba-tiba gelombang itu perlahan-lahan mengecil hingga menunjukan seorang Dewa yang memiliki rambut panjang, kedua matanya terlihat sangat tajam seperti iblis dan bahkan warna dari matanya berwarna hijau muda. Seluruh tubuhnya memiliki otot yang sangat besar sekali hingga Alvin bisa melihat kedua telinganya yang runcing dan juga kedua taringnya yang tajam bahkan bisa terlihat jelas di mulutnya yang tertutup rapat. Terdapat sebuah tanduk runcing di dahinya juga.
Alvin dan Korrina langsung menunjukkan wajah yang sangat terkejut ketika melihat kejadian tersebut. "Tidak... Tidak mungkin..." Ucap mereka bersamaan.
SWOOSSSHHH!!!
Dewa Oath itu langsung tersenyum lebar. "Akhirnya... Akhirnya aku terbebasi dari wilayah yang sudak tidak bisa kusebut dengan kata menyenangkan itu..." Dewa itu tiba-tiba menatap Alvin dan Korrina dengan tatapan yang kesal, ia langsung mulai menunjukkan senyuman yang lebih lebar lagi. "Bersenang-senanglah, dewa Alvin dan juga dewi Korrina! Kalian akhirnya bisa melihat seorang Dewa Oath dengan kedua mata kalian itu, Dewa yang sangat terkuat di alam semesta Touri...!!! HAHAHAHAHA!!!"
"Dengan ini, aku bisa bersenang-senang menghancurkan apapun sesukaku... Karena aku sudah terbebasi dari Oath's Realm maka aku ditakdirkan untuk menghancurkan alam semesta Touri hingga tidak ada sedikitpun yang tersisa. Mikazezizal Zoiru... Akhirnya terlahir!" Dewa Oath itu memperkenalkan dirinya dengan nama Mikazezizal Zoiru.
"Baiklah, Legenda. Sepertinya kalian harus aku beri pelajaran yang berat seperti membawa kalian berdua langsung ke alam dimana para kematian berkeliaran...!" Zoiru tersenyum dengan sangat jahat.
"Ini...!!!" Alvin mulai merasa sangat kesal hingga seluruh tubuhnya mulai sedikit bergetar karena melihat Zoiru. Seorang Dewa Oath bukanlah dewa yang seharusnya diremehkan begitu saja bahkan oleh Alvin dan Korrina sendiri karena sihir Oath yang mematikan dan berbahaya bagi dewa seperti mereka.
Zoiru tersenyum lalu Alvin dan Korrina mulai melakukan kuda-kuda mereka, SWOOOSH tiba-tiba Zoiru langsung muncul tepat di belakang mereka dengan kedua lengannya yang dilumuri oleh aura kegelapan. "Oath's Curse..." Zoiru langsung mengepalkan kedua tinjunya hingga Alvin dan Korrina langsung terjatuh di atas tanah dengan kondisi yang sangat lemah.
Mereka berdua mulai memuntahkan banyak sekali darah dari mulut mereka hingga Alvin dan Korrina langsung meraba perut mereka masing-masing yang terasa sangat menyakitkan. Alvin menatap darah yang muntahkan dan darah itu langsung meleleh hingga dilumuri oleh aura kegelapan. "Geehhh... Se-Sejak kapan dia..." Ucap Korrina dengan wajah yang kesal.
"K-Kita... Terlambat dan terlalu meremehkannya...!!!" Ucap Alvin dengan wajah kesalnya, ia mencoba untuk berubah menjadi wujud Omni-of-All-Creature, itu adalah wujud dimana Alvin akan menjadi dewa maha kuasa yang mampu menghancurkan apapun dengan mudah bahkan ia juga akan memiliki atribut yang sangat besar sekali hingga mortal biasa atau dewa yang terus bertambah kuat tidak akan bisa melampui Omni-Alvin. Ketika Alvin menjadi Omni-of-all-Creature maka dia sudah diresmikan tidak akan bisa DIKALAHKAN, dia berkuasa tinggi di seluruh semesta. Alvin dan Korrina sekarang ini tidak bisa berubah menjadi wujud maha kuasa mereka karena sihir Oath's Curse itu. Sihir yang mampu menyegel perubahan apapun bahkan perubahan dewa maha kuasa juga termasuk, Alvin dan Korrina akan bisa berubah menjadi wujud Omni mereka ketika mereka berhasil membunuh Zoiru.
"Sejak kapan Zoiru menyerang...? Apakah kau melihatnya, Ren?" Tanya Rin hingga Ren langsung menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
Zoiru mulai menatap kedua lengannya dengan wajah yang terlihat sangat puas. "Jadi ini... Jadi ini 'kah dunia yang aku ingin lihat...?! Akhirnya... Akhirnya aku bisa berada di semesta Touri...!!!"
"Hehehe.... HEHEHEHE!!! HAHAHAHAHAHAHAHAHA!!! MUAAHAHAHAHAHAHAHA!!! MENAKJUBKAN!!! INI SEMPURNAAA!!!" Teriak Zoiru yang terdengar sangat kencang sekali, suaranya itu mampu membuat daratan bergetar.
"Brengsek...! Kita hanya harus melawan Zoiru dengan semua kemampuan tubuh mortal yang kita miliki, Korrina...! Rin, Ren... Kalian bedua benar-benar tidak akan aku maafkan!!!" Alvin langsung terbang menuju arah Zoiru selagi berubah menjadi wujud terakhirnya yaitu Perfected Limit Breaker X, wujud sempurna dan penuh terkendali dari Limit Breaker X.
Kedua lengan Zoiru langsung mulai menciptakan kedua lengan yang sangat besar sekali, kedua tangan itu terlihat seperti tangan iblis dan juga kedua lengannya itu telah dilumuri oleh kegelapan. Zoiru langsung menghantam seluruh tubuh Alvin dengan kedua lengannya itu hingga ia langsung terjatuh tepat di belakangnya. "Nrrgghh...!" Alvin langsung berubah kembali menjadi wujud biasanya.
"Dewa yang memiliki kekuatan maha kuasa...? Hmph, dasar omong kosong. Kau memanglah naif, Alvin." Zoiru mulai tertawa. Korrina langsung berubah menjadi wujud Sacred Overboosted Limit, wujud terakhirnya yang sama kuatnya dengan wujud Perfected Limit Breaker X.
"Grrgh...!" Korrina langsung terbang menuju arah Zoiru dengan sangat cepat. Zoiru langsung mendorongnya dengan telapak tangan kanannya hingga Korrina langsung terpental ke belakang dengan kecepatan yang sangat jauh. Korrina terus mencoba dengan bermunculan di seluruh arah Zoiru, tetapi ia terus terdorong oleh kedua telapak tangan Zoiru.
Korrina muncul tepat di depan Zoiru, seketika Zoiru mencoba untuk mendorongnya lagi, tiba-tiba Korrina langsung menarik kedua lengan Zoiru hingga putus. "Kena kau...!!!" Korrina langsung mencoba untuk memukul seluruh tubuh Zoiru, tetapi kedua lengannya tiba-tiba terbelokkan oleh kendali Zoiru. Ia mengendalikan kedua lengannya dengan hanya menggunakan kedua tatapannya yang bersinar warna dari kegelapan.
Zoiru langsung memutarkan seluruh tubuh Korrina 360° lalu ia tiba-tiba terjatuh tepat di belakang Zoiru. Korrina mulai berkeringat dengan sangat banyak hingga ia mulai menunjukkan wajah yang sangat kesal. "Suami dan istrinya ternyata sama saja. Sungguh menyedihkan." Ucap Zoiru.
Zoiru mulai bergerak menuju Korrina. "Jadi, apakah kalian puas karena bisa bertarung dengan dewa terkuat, de wa Oath...? Dewa Oath itu masih banyak loh, bahkan terdapat beberapa Dewa Oath yang berada di level jauh dari milikku ini---"
...
...
Tiba-tiba Korrina langsung berbalik arah lalu ia meraba perut Zoiru. "VANIIISSSHHH!!!" Teriak Korrina dengan sangat kencang hingga seluruh tubuh Zoiru perlahan mulai bersinar hingga beberapa partikel-partikel merah mulai melingkarinya. "Korrina...!!! HENTIKAN!!!" Teriak Alvin hingga Zoiru langsung menendang wajah Korrina dengan sangat keras, Korrina langsung terpental ke belakang.
"Ugghh...!" Zoiru langsung menunjuk leher mereka berdua hingga mereka langsung tertarik menuju arah Zoiru. Setelah itu Zoiru langsung mencekik mereka dengan sangat kencang. "HAAAAAAHHHH!!!" Teriak Zoiru dengan sangat kencang, ia mulai meledakkan dirinya sendiri.
BAAAAAMMMMMMMMM!!!
Alvin dan Korrina langsung terpental menuju segala arah dengan kondisi yang terluka. Korrina berubah kembali menjadi wujud biasanya. "Sempurna... Ini terlalu sempurna...!!!" Zoiru mulai melayang di atas langit selagi menunjukkan wajah yang sangat serius.
"Kekuatan penghancur...!!! KEKUATANKU AKHIRNYA BISA DISAKSIKAN OLEH KEDUA DEWA MAHA KUASA INI...!!!" Teriak Zoiru dengan sangat kencang. Ren dan Rin mulai berjalan menuju Alvin dan Korrina, mereka berdua langsung menatap Ren yang tiba-tiba berlutut tepat di depannya.
"Ren... Sialan kau...!!! SIALAN...!!!" Teriak Alvin dengan sangat kencang. Zoiru mulai menyilangkan kedua lengannya lalu ia muncul tepat di belakang Ren dan Rin. "Menurut kalian, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Zoiru kepada Ren dan Rin.
"Kau tahu Yuusuatouri...? Bagaimana jika kau bermain dengan semesta itu dulu? Pastikan juga bahwa kau telah menghabisi seluruh penghuni Yuusuatouri." Tanya Ren.
Zoiru mulai menunjukkan wajah yang terlihat sangat tertarik, ia mulai menunjukkan senyuman jahatnya. "Ohohoho... Sepertinya semua yang kau katakan memang selalu menarik, Ren. Baiklah, aku akan mencoba untuk menyerang semesta yang bernama Yuusuatouri itu." Zoiru langsung membelah sebuah dimensi di belakangnya lalu ia masuk ke dalam dimensi tersebut.
"SIAAAALAAAAAAAAAAN!!!" Teriak Alvin dengan sangat keras.
Shiro dan murid-muridnya tiba-tiba langsung melebarkan kedua mata mereka karena mereka merasakan sumber energi sihir yang sangat menyengat sekali. Shiro bahkan secara reflek bersama Arisu langsung menghilang dan mencoba untuk mencari sumber energi sihir yang menyengat itu.
...
...
Shiro dan Arisu langsung muncul tepat di luar Yuusuatouri dimana mereka melihat sesosok dewa yang sedang melayang di luar angkasa selagi menyilangkan kedua lengannya. Shiro langsung menghalang Arisu karena ia mulai berpikir bahwa sosok yang berada di luar angkasa itu sangatlah berbahaya. "Kau seharusnya tidak ikut..." Ucap Shiro.
Di suatu tempat dimana Mortem sedang berada yaitu semesta Kamitouri, ia melihat Zoiru yang sedang melayang di atas luar angkasa selagi menatap Shiro dan Arisu dengan tatapan tajamnya. Mereka berdua mulai berkeringat karena Zoiru bisa saja membunuh Shiro dan Arisu dalam sekejap. "Ini buruk..." Ucap Mortem.
Arisu mulai menatap Zoiru dengan kedua matanya, wajahnya mulai menunjukkan eksperesi yang terlihat khawatir. "Dia bukanlah dewa biasa, Papa... Dia semacam dewa yang berasal dari suatu tempat entah dimana, Touri tidak pernah memiliki dewa yang seperti ini... Energi sihir yang dimilikinya sangat menyengat... Lebih menyengat dari kejahatan murni..." Arisu langsung mengerutkan kedua alis-nya.
"GRAAAAAGGGGGGHHHHHH!!!" Teriak Zoiru dengan sangat kencang hingga mampu membuat dorongan yang sangat amat besar, Shiro dan Arisu langsung menahan dorongan itu menggunakan kedua lengannya, mereka bisa saja terpental dengan sangat jauh oleh dorongan itu. "Nrrrgghhh...! D-Dorongan apa ini...!?!?"
Zoiru langsung berhenti menaikan seluruh energi sihirnya. Shiro dan Arisu mulai berkeringat ketika dorongan yang berada di sekitar mereka mulai menghilang. "Kau merasakannya, Arisu...? Sepertinya energi sihir yang menyengat itu mulai perlahan menghilang..."
"Y-Ya... Apakah tadi dia sedang berada di kekuatan penuhnya...? Apakah dia pikir bahwa kita ini lemah, Papa?" Tanya Arisu dengan wajah yang serius. Ia mulai waspada terhadap Zoiru yang masih saja tetap diam, Arisu bisa melihat Zoiru sebagai seorang dewa yang berbeda karena Arisu adalah seorang Saint Hybrid, ia sedang menggunakan kekuatan Saint Mind sekarang untuk mencari informasi lebih tentang dirinya.
...
...
Ketika Shiro mengedipkan matanya, Zoiru langsung mulai bermunculan dan mengelilingi Arisu dan juga dirinya. Setelah itu Zoiru langsung muncul tepat di atas semesta Yuusuatouri selagi berdiri tepat di atas planet kecil yang tidak berpenghuni itu. "Kecepatan apa ini..."
Zoiru tiba-tiba langsung mengangkat jari telunjuk kanannya, lalu setelah itu terdapat sebuah bola energi kecil yang dilumuri dengan warna kegelapan. "Oath's Destroyer..."
"Apa yang dia coba lakukan---" Ketika Shiro mulai berbicara, bola energi kecil itu langsung membesar dan berukuran sama persis seperti semesta Yuusuatouri dan semesta lainnya. Shiro dan Arisu langsung terkejut melihat hal itu. "A-Apa yang kau coba lakukan!? Hentikan!!!" Teriak Arisu, Shiro hanya bisa diam selagi membulatkan kedua matanya.
"Sihir... Sihir apa ini...!? A-Aku merasakan dorongan gravitasi yang kuat di dalam sihir tersebut..." Ucap Shiro selagi menunjukkan wajah yang terkejut.
"KAU!!! HENTIKAN!!! JANGAN KAU LAKUKAN HAL YANG BODOH SEPERTI ITU...!!!" Teriak Shiro yang mencoba untuk membujuknya dan menghentikannya dalam melempar sihir tersebut. Zoiru mulai tersenyum dengan sangat lebar seperti ia merasa sangat puas sekali ketika melihat wajah mereka yang ketakutan.
Setelah itu, Zoiru langsung menunjuk semesta Yuusuatouri dengan jari yang mengandung sihir besar itu, bola energi besar itu langsung meluncur menuju arah Shiro dan Arisu. Tujuan Zoiru disini adalah untuk menghapus semesta Yuusuatouri dengan Oath's Destroyer, sihir yang mampu menghapus apapun termasuk sihir apapun juga.
"Arisu!!! Kita harus secepatnya menyelamatkan para Legenda yang sanggup kita selamatkan!!! CEPAT!!!" Teriak Shiro dengan sangat keras, ia langsung menghilang, Arisu mengangguk dan ia langsung menghilang juga.
Tujuan Arisu adalah untuk membawa semua murid Shiro yang sedang berada di Akademi. Di sisi lainnya Shiro sedang mencoba untuk mencari Homuze. "Homuze..." Ketika Shiro mencoba untuk mencari sumber energinya, ia tiba-tiba tidak menemukan energi sihir milik Homuze di semesta Yuusuatouri, ia pergi entah kemana hingga mampu membuat Shiro panik. "S-Sial...!"
Ketika Shiro berjalan keluar rumah, ia melihat langit-langit yang sudah gelap, bola energi itu berada tepat di atas planet Legendarius dan mulai perlahan-lahan menghapus planet tersebut sedikit demi sedikit. Shiro mencoba untuk mencari energi sihir Eclipse, tetapi ia tidak bisa karena ia juga sama seperti Homuze. "Astaga...!"
Shiro langsung menghilang dan muncul tepat di sebelah Arisu, Shiro melihat Arisu telah menyelamatkan semua murid-nya. "Dimana yang lainnya!?" Tanya Shiro.
"Sudah terlambat... Sihir yang berada di belakang kita sudah menghapus mereka hingga habis..." Ucap Arisu, Shiro melirik ke belakang dan ia melihat bola energi besar itu yang sedang mengejar mereka semua. Shiro mulai berpikir untuk melarikan diri kemana, hal yang terdapat dipikirannya adalah melarikan diri menuju semesta Xuusuatouri. Jika ia melakukan itu maka Zoiru juga akan menghancurkan Xuusuatouri juga, Shiro langsung berkeringat dan mulai mengejamkan kedua matanya.
...
...
Mortem muncul tepat di depan Shiro, lalu ia mulai memberikan lengan kanannya kepada Shiro. Shiro langsung terkejut melihat kedatangan Mortem, ia langsung meraih lengan kanan Mortem dengan cepat. "Cepat!!!" Teriak Mortem hingga Arisu dan murid-murid lainnya mulai memegang lengan mereka masing-masing. Welly memegang lengan kiri Arisu dan Arisu dengan cepat langsung memegang lengan kanan Shiro.
SWOOOOOOOOOOSSSHHHHH!!!
Sihir milik Zoiru langsung menghancurkan semua yang ada di Yuusuatouri hingga sekarang semesta itu langsung hancur menjadi beberapa partikel-partikel emas. Tidak ada lagi yang tersisa dari semesta itu melainkan partikel-partikel emas. Zoiru langsung tertawa terbahak-bahak ketika melihat hal itu terjadi. "HAHAHAHAHA...!!!"
Ia tertawa sebentar lalu ketika ia selesai tertawa, ia langsung menunjukkan rautan wajah yang kesal. "Dewi Mortem sialan itu ternyata datang juga dan menyelamatkan penghuni Yuusuatouri...!!!"
...
...
SWOOOOSSSHHH!!!
Mortem dan yang lainnya tiba-tiba muncul di sebuah dimensi yang Mortem ciptakan, dimensi itu dipenuhi dengan daratan yang berwarna merah dan langit-langit yang berwarna merah juga, sudah jelas bahwa mereka semua berada di Crimson World.
Shiro tiba-tiba merasa cukup panik dan terkejut karena ia tidak bisa menemukan Homuze dan Eclipse. Shiro mulai memukul daratan dengan sangat keras karena ia merasa sangat kesal. "Sialan...!!! Dasar sialan...!!! Ternyata dia sangat kuat sekali, sialan...!!! Dia tidak memiliki keseganan untuk menghancurkan semesta Yuusuatouri...!" Shiro terus menghantam daratan beberapa kali.
Arisu mulai menyilangkan kedua lengannya selagi berpikir bahwa Zoiru adalah musuh yang berada di level jauh berbeda dengan mereka semua. "Ini buruk... Dewa Oath, kekuatan sihir mereka sungguh tidak terbayangkan." Ucap Arisu.
Mortem menatap wajah mereka yang terlihat panik, sedih, dan bahkan ada juga yang terlihat ketakutan. Ia mulai berpikir kenapa Alvin dan Korrina tidak bertindak di saat-saat seperti ini. Shiro melirik kepada Mortem lalu ia menatap wajahnya dengan tatapan yang sangat amat tajam. "Kenapa...!? KENAPA DEWA BRENGSEK ITU TIDAK MEMBANTU KITA!?" Tanya Shiro dengan ia bangkit dari atas tanah lalu menghampiri Mortem. Ia mulai menyalahkan Alvin karena ia tidak datang untuk menyelamatkan semesta Yuusuatouri.
"Papa, hentikan!" Teriak Arisu kepada Shiro. Shiro dan Mortem mulai saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang sangat kesal. "Kenapa...? Kenapa Alvin tidak membantu...? Kau lihat dengan kedua matamu bukan...?! Yuusuatouri telah hancur menjadi kepingan-kepingan kecil karena dewa keparat itu...!!!"
"Aku tahu itu...! Ketika kehancuran telah datang, kau hanya bisa menyalahkan Papa dan Mama ya...?" Tanya Mortem. Shiro langsung memegang kerah bajunya dengan sangat kasar lalu ia menatap wajah Mortem dengan tatapan yang sangat kesal. "Dewa maha kuasa, bukannya sudah jelas? Jika terdapat sesuatu yang menyebabkan kehancuran lebih tinggi seperti kehancuran terhadap semesta Yuusuatouri, maka seharusnya dia datang dan menyelamatkan semesta itu!!! BUKANNYA YUUSUATOURI ADALAH SEMESTA KESAYANGANNYA!?" Teriak Shiro hingga Mortem langsung mendorongnya.
Shiro terdorong mundur selagi menunjukkan wajah yang kesal. "PEMIKIRANMU ITU BUKANLAH PEMIKIRAKAN BANGSA LEGENDA YANG LAYAK...!!! HARGA DIRIMU SEBAGAI BANGSA LEGENDA ITU MANA?! APAKAH KAU PIKIR AKU INI DEWA YANG MAHA TAHU JUGA...!? AKU TIDAK TAHU, SHIRO!!! AKU TIDAK TAHU DIMANA PAPA DAN MAMA SEKARANG, MEREKA TIBA-TIBA MENGHILANG BEGITU SAJA, AKU BAHKAN TIDAK BISA MERASAKAN TITIK ENERGI SIHIR MEREKA!!!" Teriak Mortem.
Mortem bergerak maju menuju Shiro lalu ia mulai memegang erat kerah bajunya. "KAU SENDIRI...!!! APAKAH KAU SENDIRI TIDAK SADAR BAHWA KAU HANYALAH MENGANDALKAN KEKUASAAN DARI PAPA...!? DEWA OATH YANG MENGHANCURKAN YUUSUATOURI TADI ADALAH DEWA YANG SANGAT KUAT DAN MENGERIKAN HINGGA MAMPU MEMILIKI SIHIR YANG TIDAK BIASA AKU BAYANGKAN...!!!"
"JIKA PAPA MELAKUKAN KESALAHAN SEDIKIT SAJA, KAU DAN MORTAL-MORTAL LAINNYA PASTI SELALU SAJA MENYALAHKAN PAPA WALAUPUN DIA SUDAH BERUSAHA DENGAN APA YANG IA MILIKI...!!! BUKALAH KEDUA MATAMU DAN SADARLAH SEJARAH YANG PERNAH DIALAMI OLEH PAPAKU YANG BERNAMA ALVIN GHIFARI ITU...!!!"
"SEMUA MORTAL YANG SEENAKNYA HIDUP DAN HANYA MENGANDALKAN KEKUATAN MAHA KUASA ALVIN TIDAK AKAN PERNAH BISA MENGETAHUI SEJARAH YANG SEBENARNYA...!!!" Mortem langsung mendorong Shiro mundur hingga ia terjatuh di atas tanah. Shiro merasa cukup shock atau bisa disebut dengan terkejut melihat wajah Mortem yang terlihat sangat kesal dan juga sedih. Terdapat beberapa air mata yang berjatuhan di kedua air matanya.
"Dulunya... Sebelum Papa menciptakan semesta Xuusuatouri, Yuusuatouri, dan Zuusuatouri... Semesta Touri dulunya sangatlah kecil karena hanya memiliki satu semesta besar yang bernama Touri dengan 10 Planet saja yang tinggal di semesta itu."
"Dulunya terdapat banyak ras yang tinggal di semesta Touri. Legenda, Malaikat, Iblis, Vampire, Elf, Beastman, Manusia, Giant, Dragon, dan Elementals. Semua ras itu telah punah di setiap waktu berjalan, terdapat musuh yang selalu saja memiliki rencana tidak masuk akal dalam memusnahkan beberapa ras... Salah satunya ras Elf yang sudah pundah karena perbuatan adik-adikku... Ren Ghifari dan Rin Ghifari..."
"Alvin Ghifari adalah seorang Legenda yang lahir di dalam sebuah tabung kecil... Ketika dia lahir ke semesta Touri, dia sudah dijadikan bahan cobaan atau eksperimen untuk menjadi Legenda yang memiliki sihir kuno... Sihir yang memiliki kekuatan dashyat tetapi efek sampingnya mampu membunuh si pengguna dalam sekejap tanpa sebuah tanda-tanda. Sihir kuno ini adalah sihir kuat yang mampu memiliki efek samping kesakitan untuk tubuh mereka, contohnya Papa dan Mamaku yang memiliki sihir kuno Crimson dan Sacred..."
"Alvin tidak memiliki siapapun yang ia percayai karena di masa-masa bayi atau balitanya... Hal yang hanya ia rasakan adalah kesakitan dan kekuatan besar yang mengalir di seluruh tubuhnya. Di umur 4 tahun-nya dia berpisah dengan Ayah dan Ibu kandungnya karena sebuah serangan oleh perbuatan Clan Legenda jahat yang bernama Team Flairen."
"Di umur 4 tahun-nya ia tinggal bersama seorang Legenda petarung yang tak lama kemudian menjadi gurunya. Guru itu mengajarkan Papa bermacam-macam hal hingga semangatnya untuk menjadi Legenda yang terkuat telah bangkit. Semua kejahatan atau kehancuran ia selesaikan tanpa satupun ras yang mengetahuinya. Seseorang yang sangat ia percayai adalah Korrina, istrinya."
"Alvin memiliki seorang Paman yang ia anggap sebagai Ayah kandungnya karena kedua orang tuanya tidak pernah bertemu dengan Alvin, bahkan Alvin juga memiliki beberapa teman di sisi-nya hingga saat-saat dimana Pamannya mulai menghilang dan mulai melakukan sesuatu yang kejam..."
"Aku, Mama, dan semua saudaraku dibantai habis oleh Papa sejak itu. Semesta Touri dan planet-planet yang ada telah sepenuhnya hancur karena semua perbuatan Papa yang pernah ia lakukan ketika itu... Ia bagaikan monster berdarah dingin yang tidak bisa mengendalikan dirinya. Semua itu terjadi karena perbuatan pamannya yang mengutuknya dengan menggunakan sihir kuno yang sama..."
"Paman itu bernama Argusa Ghifari!" Ucap Mortem selagi menunjukkan wajah yang serius hingga mampu membuat wajah Shiro langsung terkejut, kedua matanya tiba-tiba terbuka lebar dan mulai mengeluarkan beberapa air mata yang mengalir ke bawah pipi-nya. Nama Argusa itu adalah nama dari seseorang yang telah membunuh Ayah dan Ibu-nya. Ia mengetahuinya dari Alvin, tetapi ia tidak pernah memberitahu identitas asli dari Argusa sebenarnya. "A-A-Argusa...?"
"Ya. Sesosok Legenda berbahaya yang mampu mengadu domba semua ras...! Dia ini bukanlah Legenda biasa melainkan Legenda yang memiliki kecerdasan yang mampu melampui para dewa maha kuasa... Dia adalah sosok berbahaya yang telah membunuh keluargamu. Tetapi, syukurlah dia telah terkalahkan oleh Papa..."
Shiro hanya bisa diam selagi menunjukan eksperesi wajah yang hampa, kedua matanya terlihat mati. Arisu dan murid-murid lainnya mulai menatap Shiro dengan wajah yang terlihat mengkhawatirkan dirinya.
"Apa yang terjadi ketika Alvin Ghifari membantai nenek dan yang lainnya?" Tanya Arisu kepada Mortem.
"Kita semua sudah jelas mati... Semuanya hancur dan tidak ada satupun yang selamat melainkan Alvin sendiri bersama seorang Dewa maha kuasa sebelumnya. Argusa berhasil melarikan dirinl dengan selamat..."
"Semua kesakitan yang dimiliki oleh semesta Touri dan semesta lainnya telah ditanggung berat oleh Alvin. Ia kehilangan banyak hal... Keluarga, istrinya, kami, teman-temannya, dan semua orang yang ia sangat percayai untuk bisa menjadi temannya."
Flashback
"APA YANG TELAH AKU PERBUAT...!!!" Teriak Alvin dengan sangat keras selagi berteriak sekeras mungkin. Ia sedang berada di bagian akhir atau terdapat sebuah planet rata kecil sebelum di semesta Touri, planet itu adalah planet terakhir Touri dan planet itu sudah hancur hingga terbelah menjadi beberapa bagian.
Alvin menangis dengan sangat kencang selagi memegang Korrina yang sudah mati di kedua lengannya. "TIDAK....!!!! TIDAAAAAAKKK...!!! SIAAAAALAAAAAN...!!! APA YANG TELAH AKU LAKUKAN....!!!!" Alvin bangkit dari atas tanah dan ia mulai mengacak-ngacak rambutnya yang dipenuhi dengan darah. Pada saat itu juga hujan besar turun dan membasahi seluruh tubuh Alvin dan membuat sebuah banjir di seluruh tubuh Korrina dan anak-anaknya.
"NRRRRGGGHHH...!!!" Kedua mata Alvin perlahan mulai mengeluarkan darah hingga tiba-tiba darah-darah itu langsung mengubah kedua mata pupil-nya menjadi sangat merah dan mata-mata putih lainnya mulai menjadi hitam. Rambutnya mulai menajam dan berubah warna menjadi merah darah.
"AAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH....!!!! HUAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!" Alvin terus menangis selagi berteriak dengan sangat keras, kedua tinjunya terkepal dengan sangat kencang hingga mengeluarkan beberapa darah. Perlahan-lahan sebuah simbol Omni (yang mengartikan segalanya) mulai muncul tepat di dada dan dahi miliknya. Kedua matanya juga terdapat sebuah simbol X. Telapak tangan kanannya mulai muncul sebuah kata Maha sedangkan telapak tangan satunya lagi munculah sebuah kata Kuasa.
Alvin mulai memegang kepalanya yang terasa sangat pusing, ia perlahan-lahan mulai kehilangan kendali terhadap dirinya sendiri lagi, tetapi ia sekarang mencoba untuk mengendalikan seluruh kekuatan dan pikirannya. "HENTIKAN....!!! PERSETAN!!!!! AAAGGGGGGHHHHH!!!" Alvin langsung melepaskan aura yang sangat amat dahsyat di seluruh tempat hingga tubuh Korrina dan yang lainnya langsung perlahan-lahan berubah menjadi partikel emas, Alvin langsung menyerap partikel-partikel emas itu. Ketika hal itu terjadi, munculah sebuah portal yang berbentuk seperti segitiga, seseorang yang memiliki simbol sama dengan Alvin muncul dari dalam portal itu selagi menatap Alvin yang sedang mengamuk dan kehilangan kendali terhadap dirinya sendiri. Seseorang yang berada di depannya itu sudah jelas bahwa dia adalah seorang Dewa maha kuasa yang menciptakan Touri.
"HAH...!!! HAH....!!! HAH...!!! MOSHIO...!!! " Alvin mulai bernafas dengan sangat berat sekali, ia menatap wajah dewa itu yang memiliki nama Moshio dengan eksperesi yang terlihat sangat kesal. "JIKA KAU ADALAH DEWA YANG MENCIPTAKAN TOURI... AKU TIDAK PEDULI...!!!" Teriak Alvin hingga ia mampu menghancurkan daratan di sekitarnya.
"GAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH....!!!" Teriak Alvin dengan sangat keras hingga ia langsung meluncurkan sebuah gelombang besar menuju ke atas langit. Seluruh tubuhnya yang terluka mulai kembali pulih hingga seluruh otot-ototnya membesar. Dewa maha kuasa itu hanya bisa tersenyum melihat kemarahan dan evolusi Alvin yang akan menjadi dewa maha kuasa selanjutnya.
Tiba-tiba kedua penglihatan Alvin mulai berubah dan membawanya ke suatu tempat dimana hanya terdapat rumput-rumput. Alvin mulai perlahan maju beberapa langkah ke depan selagi menunjukkan wajah yang sedih.
Ia mulai berlutut di depan seseorang yang sedang berdiri selagi menatap lautan yang memiliki air jernih. "Walaupun kau telah berevolusi menjadi sesuatu yang tidak aku bayangkan... Kamu masih saja tidak percaya diri bahwa kau bisa menggunakan semua kekuatan itu dan bahkan kau selalu menyalahkan dirimu sendiri."
"Aku sangat bodoh... Aku kehilangan kendali dan menghancurkan semuanya... Bahkan keluargaku... Aku membunuh mereka dengan kedua tanganku sendiri... Bukan hanya keluarga saja... Semua orang yang aki percayai mati begitu saja..."
"Apakah kamu anakku? Alvin Ghifari seorang Legenda biasa?" Seseorang yang berdiri di depannya adalah Ibu-nya sendiri. Ia bernama Yuriko Ghifari, Yuriko mulai melirik ke belakang dan mulai menatap wajahnya.
"Hah... Hah... Hah..."
"Lihatlah Legenda kecilku sekarang. Kau telah memenuhi semua utusan yang menjadikanmu sebagai Dewa maha kuasa atau bisa aku sebut dengan Omni-God. Dengan mengorbankan semua yang kau miliki dan cintai, kau telah di angkat menjadi dewa maha kuasa yang baru... Apa yang tidak bisa dewa maha kuasa lakukan?" Tanya Yuriko.
"Semuanya terlambat, ibu. Semesta Touri sudah hancur dan akan punah karena perbuatanku."
"Touri bukanlah semesta. Touri hanyalah tempat dimana para ras hidup sementara, nak. Touri seharusnya memiliki semesta-semesta kecil dimana para ras masing-masing tinggal di semesta-semesta itu. Dengan kau yang telah menjadi Omni-God, kau bisa menciptakan sesuatu yang kau inginkan menjadi nyata."
"Sekarang juga, tujuan terakhirmu adalah membunuhnya... Membunuh Dewa maha kuasa sebelumnya demi menghidupkan keluargamu!" Yuriko mulai perlahan menghilang seperti matahari yang terbenam. Alvin mulai mengejamkan kedua matanya selagi meneteskan beberapa air mata. "Hah... Hah... Hah..."
"Aku tidaklah kuat..."
"Tidak, kau adalah sesosok dewa yang paling kuat di seluruh semesta yang ada. Bukan Touri saja..." Ucap nada Yuriko yang perlahan-lahan mulai menghilang. Kedua penglihatan Alvin perlahan-lahan mulai menunjukkan dewa yang berada di depannya sedang menusuk dadanya.
"Maafkan aku, Alvin. Semesta ini... Hanya membutuhkan satu dewa maha kuasa!" Dewa itu tersenyum lebar hingga membuat Alvin kesal.
"GAAAHHHH...!!! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU MENGUASAI TOURI LAAGGGIIIII!!!" Teriak Alvin dengan sangat keras hingga ia langsung meluncurkan dorongan yang dahsyat di sekitarnya hingga mampu membuat Moshio terdorong ke belakang. Alvin langsung menghantam perut Moshio dengan kedua tinju hingga ia langsung terbang menuju puncak akhir Touri atau batasan dari semesta Touri.
"AHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!" Teriaknya selagi mendorong Moshio. Alvin melanjutkan dorongan itu dengan memukul seluruh anggota tubuhnya tanpa henti hingga mampu membuat Moshio kewalahan karena kekuatan maha kuasa Alvin yang jauh lebih kuat darinya.
Mereka mulai saling memukul satu sama lain hingga hantaman mereka mampu mengguncangkan semesta Touri tanpa henti. Tidak ada satupun mortal atau dewa yang bisa melihat pertarungan dahsyat Alvin dan Moshio, kedua dewa maha kuasa yang bertarung demi kemenangan dan demi meresmikan siapa dewa maha kuasa yang sebenarnya.
Alvin memukul perutnya dengan sangat keras lalu ia mendorongnya lagi ke atas dan ia langsung muncul tepat di depannya selagi memukul seluruh tubuhnya. Alvin menendang dagunya hingga Moshio terpental ke atas lalu ia muncul tepat di atasnya dengan menghantam puncak kepalanya menggunakan kedua tinjunya.
Moshio terpental ke bawah dan Alvin muncul tepat di bawahnya lalu ia menendang punggung Moshio dengan kedua kakinya hingga ia terpental menuju langit yang lebih atas lagi. Alvin mulai bermunculan di sekitar Moshio, kedua penglihatannya menunjukkan Alvin yang berjumlah sangat banyak sekali hingga ia muncul tepat di bawah Moshio. "FINAL SHINE ATTTACK!!!" Alvin meluncurkan sihir warisannya tepat di belakang Moshio.
BAMMMMMMMMMMMM!!!
Flashback End
"... ..." Shiro perlahan-lahan mulai menatap wajah Mortem dengan tatapan yang serius. "Maafkan aku, Ibu..." Shiro menundukkan kepalanya kepada Mortem dengan penuh kehormatan bahwa ia sadar jika menyalahkan Alvin itu tidak ada gunanya. Mortem mulai tersenyum kecil melihatnya sadar. "Baguslah jika kau langsung mengerti."
Tiba-tiba sebuah portal hijau muncul tepat di belakang Mortem, seorang gadis yang memiliki rambut panjang hitam mulai menunjukkan dirinya dari dalam portal tersebut. "Kakak." Panggil gadis itu kepada Mortem, Mortem langsung melirik ke belakang dan terkejut melihat gadis itu adalah Haruka Ghifari.
"Haruka...? K-Kau selamat!?" Mortem langsung terkejut melihatnya. "Ya. Homuze dan Eclipse juga selamat. Kalian semua ikutlah denganku menuju dimensi Yuusuatouri yang berbeda."
"Apa yang kau maksud, Haruka...?!" Tanya Shiro dengan wajah yang terkejut dan ia mulai menunjukkan sebuah senyuman kecil ketika mendengar Homuze dan Eclipse selamat.
"Kita tidak memiliki banyak waktu! Cepatlah! Kita tidak bisa menyia-nyiakan waktu yang kita miliki saat ini---"
SWOOOOOOOOOOSSSSHHHHH!!!
Tiba-tiba munculah sebuah gelombang kegelapan yang sangat tebal dan juga besar di belakang mereka semua, gelombang itu perlahan-lahan mulai menunjukkan seluruh tubuh seorang Dewa, ya dia adalah Zoiru. Dia sedang menunjukkan wajah yang tertarik dan senang bahwa ia bisa menemukan mereka, hal yang incar duluan adalah membunuh semua penghuni Yuusuatouri lalu membunuh semua penghuni Xuusuatouri. "Aku menemukan kalian...!"
"Frost Blast...!" Yahiko langsung meluncurkan sebuah es runcing menuju arah Zoiru dengan cepat hingga Zoiru menangkis es tersebut ke atas dengan sangat mudah. Mortem mulai menatap wajah Shiro. "Shiro, mari kita pergi dari tempat ini. Kita harus melarikan diri dan membuat sebuah rencana sebelum melawan dewa itu."
"Apa yang kau katakan!? Aku tidak mau meninggalkan murid-murid---"
"Pergilah! Shiro-sensei, biarkan kami menghalang dewa ini agar kalian bisa pergi dari tempat ini." Ucap Yahiko selagi meluncurkan beberapa sihir menuju arah Zoiru. Arisu mulai memegang kedua tangan Shiro dengan sangat erat. "Papa, cepatlah pergi! Biarkan Arisu menghalang dia juga!"
Shiro langsung terkejut mendengar perkataan putri-nya, sudah jelas ia tidak mau meninggalkan Arisu juga karena ia tidak mau kehilangan anggota keluarganya lagi. "T-Tidak! Jangan bodoh, aku tidak akan meninggalkanmu---" Arisu langsung mendorong Shiro mundur hingga ia langsung masuk ke dalam portal yang ada di belakangnya. Motem dan Haruka langsung terkejut melihat hal itu terjadi karena Arisu sedang bersikap tidak sopan sekarang.
"Nenek, Kak Haruka... Aku serahkan Papa kepada kalian." Arisu mulai berjalan ke depan selagi menatap Zoiru. "Arisu... Aku mohon, kau harus berhati-hati dan jangan pernah kalah...! Kau harus tetap hidup!" Ucap Mortem dengan wajah yang sangat serius. Haruka mulai masuk ke dalam portal itu dan Mortem yang terakhir masuk ke dalam portal itu hingga portal tersebut langsung tertutup rapat.
Arisu mulai mengepalkan kedua tinjunya. "Maafkan aku, Papa..."
"GIGANTIC FROST METEOR!!!" Yahiko langsung menciptakan sebuah meteor besar tepat di atas Zoiru, meteor itu meluncur menujunya dengan sangat cepat hingga Zoiru sempat menangkis meteor tersebut hingga hancur menjadi kepingan kecil seperti kaca jendela yang pecah.
Zoiru langsung melepaskan dorongan yang sangat besar di sekitarnya hingga mampu membuat semua kepingan es kecil itu berubah menjadi sumber energi sihir kegelapan. "OATH'S ENERGY BALLS!!!" Zoiru langsung menunjuk Yahiko hingga semua bola energi itu meluncur menuju arahnya. Yahiko langsung menciptakan sebuah tembok es besar di depannya.
BAMMMMMMM!!!
Satia muncul tepat di sebelahnya selagi memegang sebuah pedang besar, ia mengayunkan pedang itu menuju arah lehernya, tetapi Zoiru menahan semua serangan pedang itu dengan mudah hingga Welly muncul di depan Zoiru selagi menyerangnya tanpa henti.
Zoiru dengan mudah berhasil menahan semua serangan itu tanpa kewalahan sedikitpun. Arisu langsung mendorong Zoiru dengan dorongan dari telapak tangan kanannya hingga mampu membuatnya terdorong mundur. Zoiru langsung merasa cukup terkesan melihat seorang mortal mampu membuatnya terkejut. "Hmph, sepertinya kau jauh berbeda dari yang aku harapkan." Zoiru langsung menjentikkan jari-jarinya hingga membuat Welly, Satia, dan Yahiko langsung terjatuh di atas tanah karena gravitasi yang mereka rasakan langsung memberat. Mereka tidak bisa bangkit kembali karena gravitasi mereka yang terus memberat dan menekan mereka.
Arisu bisa merasakan tekanan besar itu, ia tersenyum hingga ia langsung berubah menjadi wujud Saint God. "Aku akan menghalangmu...! Walaupun aku tidak memiliki kesempatan untuk menang. Papa-ku pasti akan bisa mengalahkanmu ketika ia kembali!"
Zoiru tersenyum dengan sangat puas hingga ia langsung mengeluarkan auranya yang sangat dahsyat hingga seluruh tubuhnya membesar dan kedua mata pupilnya langsung menghilang. "Apakah kau bisa melawanku di wujud 25%-ku ini!?"
"GGGRRR... AAAAAAAAAAAAGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHH!!!" Rambut Zoiru langsung menajam bagaikan pisau, kedua matanya langsung berubah menjadi warna dari kegelapan.
"HAHHHHH!!!" Zoiru bergerak maju menuju Arisu dengan sangat cepat, hal itu membuat Arisu terkejut karena kecepatannya sangatlah cepat hingga ia hampir tidak bisa melihatnya. Zoiru memukul Arisu, tetapi Arisu dengan cepat menahan pukulan itu dengan kedua lengannya hingga mereka berdua langsung terdorong mundur.
Zoiru menyerangnya kembali dengan memukulnya beberapa kali, tetapi Arisu dengan mudah langsung menghindari semua serangan Zoiru dengan terbang ke kiri dan ke kanan. "HAAAAAYYAAAHHHH...!!!" Zoiru mengepalkan tinju kirinya lalu ia memukul Arisu, tetapi ia menghindari serangan itu dengan melompat ke kanan lalu ia mendorong Zoiru dengan telapak tangan kanannya hingga Zoiru langsung terdorong ke belakang.
Zoiru langsung bergerak lagi menuju arah Arisu dan mencoba untuk memukulnya, tetapi pergerakan Arisu jauh lebih cepat karena ia menahan semua serangan itu selagi menunjukkan senyuman naif-nya. "Kau tidak buruk...? Ternyata sihir-ku mampu menahan kekuatan hebat-mu itu...! Illusion of Improved Abillity" Arisu mampu bertahan melawan Zoiru karena ilusinya sendiri yang membuat seluruh tubuhnya meningkat setiap ia bertarung melawan seseorang yang lebih kuat darinya. Jika Zoiru menggunakan sihir tingkat dewa kepada Arisu maka itu sia-sia karena Arisu bisa menggagalkannya menggunakan ilusi-nya juga, tetapi semua itu terbayar dengan tenaga dan energi sihir Arisu yang akan terus terkuras. Arisu mulai memukul Zoiru, tetapi ia mundur ke belakang, lalu Arisu bertindak cepat dengan berputar 360° lalu menendang wajahnya dengan sangat keras hingga Zoiru terdorong mundur.
Arisu berputar 360° lagi lalu ia menendang wajahnya di bagian kanan hingga ia terpental menuju arah kanan dengan sangat cepat. Arisu melompat ke depan lalu ia terbang menghampiri Zoiru. Mereka berdua langsung saling memukul satu sama lain hingga mampu membuat beberapa lubang di daratan, Arisu dengan cepat menciptakan sebuah barrier di sekitar teman-temannya agar mereka tidak terluka karena pertarungan mereka yang dahsyat sekali, Arisu terbang ke atas dan tiba-tiba Zoiru muncul tepat di depannya hingga membuatnya terkejut. "Dia cepat juga... Aku cukup meremehkan dewa yang berjulukan Oath ini..."
Zoiru langsung memukul Arisu menggunakan tinju kanannya, tetapi Arisu langsung memegang tinju kanannya dengan sangat cepat dan tepat sebelum ia terpukul. "Sepertinya Dewa Oath ini mampu memiliki sihir yang membuat seluruh atributnya meningkat setiap ia bertarung. Bukan hanya kemampuannya saja.... Aku harus berhati-hati dengan sihir berjulukan Oath itu." Mereka berdua langsung saling memukul satu sama lain dengan kedua tinju dan kedua kaki mereka yang teradu terus menerus.
"Tidak kusangka bahwa seorang mortal sepertimu mampu membuatku semangat seperti ini. Sepertinya kau bukanlah Saint biasa, pemuda."
"Aku senang kau memujiku karena kau tahu bahwa aku ini hanyalah seorang Saint yang setara dengan Saint Multiversal? Tetapi... Tubuh kecilku ini adalah hambatan bagiku untuk menjadi yang terkuat...!"
Pukulan mereka langsung teradu dengan bersamaan hingga mereka berdua langsung mengeluarkan dorongan yang kuat di sekitar mereka. Arisu memukul wajah Zoiru dengan tinju satunya lagi, tetapi Zoiru berhasil menahan pukulan itu. Zoiru tidak berdiam diri, ia langsung menyerangnya balik dengan memukul Arisu, tetapi Arisu berhasil menghindari serangan itu dengan melompat ke atas lalu ia menghantam wajah Zoiru dengan kedua tinjunya.
BAMMMMMM!!!
Zoiru terpental menuju daratan karena serangan Arisu yang mengenai tepat di wajahnya. Zoiru tiba-tiba muncul tepat di belakang Arisu hingga Arisu tidak bisa melihat kecepatannya, Zoiru langsung memukul wajah Arisu hingga ia terpental ke arah kanan. Arisu berputar lalu ia terbang menuju Zoiru, kedua tinju mereka langsung teradu lagi.
BAAAMMM!!!
Tiba-tiba kedua tinju Arisu langsung terbakar dengan api berwarna merah tua. "GRRRR...!!!" Arisu mulai merasa kesal karena Zoiru yang sedang ia lawan mampu membuatnya cukup kesal dan kewalahan. Arisu langsung memegang kedua tangan Zoiru dengan sangat erat hingga kedua tangan Zoiru langsung terbakar. "Sekarang kau sudah membuatku kesal...!!!"
BAAAMMM!!! Arisu memukul wajah Zoiru dengan sangat keras hingga ia terpental menuju gunung merah yang berada di belakangnya. Zoiru yang terpental cukup jauh mampu menghancurkan gunung merah itu hingga ia langsung mendarat di atas tanah dengan wajah yang sangat amat kesal. "GRRRR...!!!"
Zoiru menatap Arisu yang sedang berada di atas langit, seluruh tubuhnya perlahan di lindungi oleh aura api-nya. "GRRR...!!! HAAAAAAAAAAAHHHH...!!! HYAAAAAAAAAAAAAAAGGHHH!!!" Aura-nya langsung muncul hingga membesar, auranya juga mampu membuat awan-awan yang berada di atas langit menghilang karena dorongan dari aura tersebut.
Zoiru bergerak maju menuju Arisu lalu ia berputar dan tiba-tiba muncul tepat di belakangnya, Arisu bertindak cepat dengan menghantam wajah Zoiru dengan menggunakan tinju kirinya selagi tidak menatapnya, hantaman itu dapat membuat Zoiru terpental ke belakang. Arisu muncul di sebelahnya lalu ia menendang wajahnya dengan sangat kuat hingga ia terpental menuju daratan.
BAMMMMMM!!!
Arisu menembak beberapa meteor yang sangat besar menuju Zoiru, tetapi Zoiru melompat menuju Arisu lalu memukulnya, dengan cepat Arisu melompat ke atas melewatinya. Zoiru melirik ke belakang dan tinju kanan Arisu sudah terbakar oleh api berwarna merah tua. "BLAZING LOTUS STRIKE...!!!" Arisu memukul perutnya dengan sangat kuat hingga ia terdorong mundur.
Perut Zoiru langsung terbakar, tetapi Zoiru tidak berhenti menyerang Arisu. Ia bergerak maju menuju Arisu lagi, tetapi wajahnya terus terkena pukul oleh tinjunya yang terbakar itu. "Sebenarnya Dewa Oath ini memiliki kelemahan apa...!? Apakah kau ink abadi?!" Teriak Arisu hingga kedua mata Zoiru langsung bersinar dengan sangat cerah, ia mampu membuat Arisu terdorong ke belakang.
Zoiru langsung memukul perut Arisu dengan sangat keras hingga ia terpental menuju gunung yang berada di belakangnya. Zoiru muncul tepat di depan Arisu lalu ia memukul perutnya lagi, tetapi Arisu berhasil menahan serangan itu. Walaupun dia berhasil menahan serangan itu, dorongan yang Zoiru berikan kepadanya mampu membuat punggungnya masih terkena beberapa gunung merah di belakangnya itu. "Sialan...!!! Kemampuannya terus meningkat lebih tinggi lagi...!!!"
Arisu dan Zoiru mulai saling memukul satu sama lain, pukulan Zoiru terasa sangat berat dan kuat bagi Arisu hingga setiap ia bertahan, ia merasakan getaran di kedua lengannya. Zoiru langsung mencekik leher Arisu, tetapi Arisu menendangnya mundur lalu memukul perutnya dengan sangat keras hingga mereka berdua langsung terdorong mundur.
"OATH'S ENERGY BARRAGES!!!" Zoiru meluncurkan beberapa sihir bola-bola kegelapan yang berjumlah banyak menuju arah Arisu, Arisu terbang ke atas langit selagi mengejamkan kedua matanya.
Seluruh tubuh Arisu langsung terlindungi oleh aura emas dan api, ia mengejamkan kedua matanya dengan tenang lalu ia membuka kedua matanya hingga kedua matanya langsung berubah warna menjadi merah dan terbakar. "Arisu Flames...!" Arisu langsung menggunakan wujud Flaming Form di gabung dengan wujud Saint God tanpa segan karena ia tidak mau membiarkan Zoiru pergi menuju tempat dimana Shiro berada.
Wujud Arisu langsung melepaskan api-api yang kuat hingga mampu membuat Zoiru berhenti bergerak karena ia merasakan energi sihir yang sangat besar di dalam tubuh Arisu. "H-Huh...? Tekanan apa ini...?"
Zoiru tiba-tiba langsung muncul di belakang Arisu dan ia langsung memukul seluruh tubuhnya tanpa henti, tetapi Arisu dengan cepat menghindari semua serangan itu tanpa harus mencoba karena kedua matanya melihat pergerakan Zoiru yang terlihat sangat amat lambat karena bantuan dari api-api disekitar-nya mampu membuat insting bertarungnya meningkat. Arisu langsung memegang tinju kanan Zoiru. "Tunjukan semua kemampuanmu itu...!!! SEMUA HAL INI TIDAK MUNGKIN BAGIKU JIKA AKU MENANG MELAWANMU...!!!" Arisu langsung memukul wajahnya dengan sangat keras hingga Zoiru terpental ke belakang dan mengenai beberapa gunung merah yang sangat besar.
BAAMMMMMMM!!!
Zoiru langsung bangkit dari atas tanah selagi menghalang mata kirinya, Arisu bisa melihat hal itu dan ia tiba-tiba langsung menunjuknya seperti ingin mengakhirinya dengan cepat. "Jika kau tidak menggunakan kekuatan dewa-mu maka aku akan mengakhirinya. Sihir Oath itu sepertinya benar-benar berbahaya dan mematikan... Lebih dari sihir Necromancer dan Secret Magic temanku." Tangan kanan Arisu langsung terbakar oleh api-apinya.
"BLAZING HEAT WAVE!" Arisu langsung meluncurkan gelombang api berwarna merah tua menuju Zoiru, gelombang itu bergerak menuju Zoiru yang sedang menatap daratan dengan wajah yang sangat kesal.
BAAAAAAMMMMMM!!!
Sihir itu mampu menghancurkan daratan hingga Zoiru langsung terjatuh ke dalam lautan merah yang sangat panas jadi itu terasa seperti air lahar.
__ADS_1
Tiba-tiba setengah tubuh Zoiru yaitu tubuh kirinya langsung dilumuri oleh kegelapan hingga mampu membuat lautan merah itu berputar seperti membuat sebuah ombak lingkaran besar, Arisu langsung bisa merasakan energi sihir Zoiru yang meningkat. "Sepertinya cukup mustahil."
Zoiru membuka mata kiri-nya dengan sangat lebar hingga terdapat sebuah simbol yang mengatakan OATH di mata kirinya itu. Arisu langsung mulai merasakan tekanan yang berat melihat Zoiru yang meningkatkan seluruh kekuatannya. "Cih...!"
"AHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!" Teriak Zoiru dengan sangat keras hingga seluruh tubuhnya langsung berotot dengan sangat besar dan bahkan seluruh tubuhnya juga mulai bersinar warna kegelapan. Zoiru perlahan-lahan melayang keluar dari dalam lautan merah itu hingga lautan merah itu langsung meluncurkan sebuah gelombang kegelapan yang meluncur menuju atas langit.
"Ahhh...?" Arisu cukup terkejut melihat itu. Zoiru mulai menampakan dirinya di hadapan Arisu dan yang lainnya, wajahnya terlihat sangat kesal sekali hingga mampu membuat kedua kaki Arisu bergetar.
"GWAAAAAGGGGGGGHHHH!!!" Teriak Zoiru dengan sangat keras hingga mampu membuat dorongan yang besar menuju Arisu dan yang lainnya, mereka berdua langsung menahan dorongan tersebut dengan kedua lengan mereka.
"HUAAAAAAAGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGRRRRRRHHHHHHHHHH!!!" Tiba-tiba Zoiru langsung mengisi sebuah energi di dalam mulutnya hingga mereka berdua bisa melihat mulut Zoiru yang dilumuri oleh kegelapan "RAGING OATH!!!" Zyreon langsung meluncurkan gelombang kegelapan menuju arah Arisu hingga itu membuatnya langsung terkejut dan hampir saja terkena oleh gelombang sihir itu. "WANJER..!!!"
Arisu langsung terbang ke arah lain dan berhasil menghindari sihir itu dengan sangat beruntung. Gelombang itu bergerak menuju atas langit lalu meledak dengan sangat dahsyat seperti ledakan nuklir.
BAAAAMMMMM!!!
"Sihir tadi sama kuatnya dengan sihir Family-Shiromura Eclipse...!" Ucap Arisu dengan wajah yang sangat terkejut karena ia hampir terkena oleh sihir tadi. Arisu mulai mengelus keringatnya yang terdapat di seluruh wajahnya.
Arisu mulai menatap Zoiru dengan tatapan yang serius karena kesempatannya untuk menang mulai menurun hingga ke persentase 9%. "Aku tidak mau mati... Aku harus menahannya terus agar Papa bisa kembali dengan sebuah rencana."
Arisu dan Zoiru mulai saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang sangat serius. Arisu mulai meregangkan kedua lengan-nya lalu ia mulai tersenyum sedikit. "Tadi hanyalah sebuah pemanasan ya...?"
Seluruh tubuh Zoiru mulai bertambah sedikit besar hingga seluruh otot-ototnya juga mulai membesar.
"GGGRRRRAAAAAAAAAAGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!" Teriak Zoiru dengan sangat keras hingga auranya mulai membesar. Mereka berdua langsung melompat menuju satu sama lain dengan sangat cepat.
Mereka mulai saling memukul satu sama lain, Arisu bisa merasakan bahwa di setiap pukulan dan tendangan Zoiru berikan kepadanya mampu membuat seluruh tubuhnya merasakan sedikit kesakitan dari kekuatan murni miliknya. Zoiru dengan cepat langsung menendang perut Arisu dengan sangat keras hingga ia terpental ke belakang. "Nrrgghh...!" Arisu mulai memuntahkan sedikit darah melalui mulutnya.
Zoiru muncul di depannya lalu ia memukul dadanya hingga Arisu terpental mundur. "SHIROMURA... ECLIPSEEEEEE!!!" Arisu langsung meluncurkan sihir warisannya menuju arah Zoiru. Zoiru dengan cepat langsung terbang ke arah kiri untuk menghindari gelombang sihir tadi, Arisu tiba-tiba menembak beberapa meteor besar menuju arah Zoiru.
Zoiru terbang menghampirinya selagi menahan semua meteor yang mengenai seluruh tubuhnya, dengan cepat Zoiru langsung memukul wajah Arisu dengan sangat kencang. Zoiru terbang menghampiri Arisu lagi dan Arisu sudah siap menahan pukulan yang akan Zoiru lakukan, tetapi ia salah karena Zoiru tiba-tiba menendang perutnya dengan sangat keras hingga ia terpental ke belakang lagi.
"HYAAAAARRGGGH!!!" Teriak Arisu hingga Zoiru tidak berhenti menyerangnya, ia terbang menghampiri Arisu selagi mengepalkan tinju kanannya lalu ia dengan seluruh tenaganya memukul wajah Arisu hingga ia terpental ke atas langit karena pukulan yang Zoiru kerahkan. "Nggghhh...! Persetan...!" Arisu mulai menyeimbangkan seluruh tubuhnya karena ia masih terbang mundur karena dorongan yang diberikan Zoiru.
BAMMMMMM!!!
Tubuh kiri Zoiru mulai dilumuri oleh aura kegelapan yang sangat menyengat bagi Arisu, wilayah dimensi milik Mortem mulai berguncangan dengan sangat dahsyat. "GRRAAAAHHHH!!! SAINT...!!! AAAAAGGGGHHHHHHHHHHHHHHH!!!" Teriak Zoiru dengan sangat keras. Arisu merasakan bahwa kekuatan murninya telah meningkat cukup besar lagi. "Cih... Aku tidak memiliki pilihan lain selain meningkatkan kekuatanku lebih...!!!"
"HAHHHHHHH!!!" Arisu mulai membesarkan aura-auranya dengan sangat besar juga auranya mulai mengepung seluruh tubuhnya layaknya seperti kompor api yang menyala. Arisu bergerak cepat menuju arah Zoiru
Arisu memukul Zoiru, tetapi Zoiru berhasil menghindari pukulan itu hingga ia langsung memukul perut Arisu dengan sangat keras, beruntungnya Arisu menahan pukulan itu dengan kaki kanannya. Mereka berdua mulai bergerak dengan sangat cepat di atas langit hingga saling mencoba untuk melukai satu sama lain.
BAMMMM!!! BAMMMM!!! BAMMMM!!!
Arisu memukul Zoiru, tetapi ia menahan pukulan tersebut dengan lengan kirinya, Zoiru menyerang balik dengan memukul wajah Arisu menggunakan tinju kanannya. Zoiru menendang perutnya dengan sangat keras lalu ia memegang wajahnya dengan sangat keras lalu menggusurnya dengan seluruh tenaganya hingga Arisu tidak bisa bergerak karena cengkraman tangan di wajahnya yang sangat erat.
Tetapi, beruntungnya Arisu masih memiliki tenaga yang besar hingga ia muncul tepat di belakang Zoiru "Apa...!?" Zoiru melirik ke belakang dan ia melihat Arisu sedang mengeluarkan sihir Shiromura Eclipse-nya, tetapi Arisu tidak sempat karena Zoiru menendang dagunya hingga ia terpental ke atas langit. Arisu berputar lalu terbang kembali menujunya.
Mereka berdua langsung mulai saling memukul satu sama lain tanpa henti. "HAAAAGGGHHH!!!" Arisu memukul Zoiru, tetapi ia berhasil menahan semua pukulan itu dengan mudah. Zoiru menyerangnya balik dengan memukul wajahnya, tetapi Arisu berhasil menunduk. Mereka berdua langsung saling memukul satu sama lain tanpa henti.
"MAATIII!!!" Zoiru memukul dada Arisu dengan sangat kencang sekali. "UUUOOOCKKKK...!!!" Arisu memuntahkan darahnya dengan jumlah yang sangat banyak melalui mulutnya. "Oath's Blaster...!" Zoiru tiba-tiba memegang sebuah bola energi kegelapan di tangan kanannya, lalu ia bergerak maju menuju arah Arisu.
Arisu memukul wajahnya dengan cepat, tetapi seluruh tubuhnya yang besar mampu menahan Zoiru dari dorongan yang tinju Arisu miliki, Zoiru langsung menyerang balik dengan menghantam Oath's Blaster itu tepat di perut Arisu.
BAMMMM!!! "UAHHHH!!!" Arisu langsung terpental ke atas langit karena dorongan sihir yang sangat kuat itu, Zoiru tiba-tiba muncul tepat di atas Arisu lalu ia menghantam punggungnya menggunakan kedua tinjunya. BAMMMM!!! Arisu terpental menuju daratan dan seketika ia terjatuh di atas daratan, ia mampu membuat sebuah lubang yang besar di daratan karena seluruh tubuhnya yang terjatuh dari atas langit seperti meteor
Arisu melirik ke atas dan ia melihat Zoiru yang sedang bergerak menujunya, Arisu tiba-tiba melompat lalu berputar hingga kedua lengannya menyentuh tanah yang berwarna merah itu, dan setelah itu ia langsung melompat lalu menendang wajah Zoiru dengan kedua kakinya hingga Zoiru terdorong ke arah kanan dan mendarat di atas daratan.
Arisu mendarat di atas tanah selagi menatap Zoiru dengan wajahnya yang mulai terlihat serius, sepertinya ia sudah tidak bisa meremehkan Zoiru lagi. "GUUUOOGGHHH!!!" Teriak Zoiru dengan sangat keras, Arisu mulai menatap seluruh tubuhnya dengan kedua matanya, ia tiba-tiba langsung tersenyum dengan sangat kesal. "Heh... Kenapa? Kau tidak mau menyerang lagi 'kah?" Tanya Arisu.
Zoiru tiba-tiba langsung bergerak maju menuju Arisu, seluruh aura Arisu yang terbuat dari api-api panas langsung perlahan-lahan terserap oleh tubuhnya hingga menggantikan aura yang lebih tenang seperti api besar yang bisa di kendalikan, kedua mata Arisu langsung berubah menjadi warna merah cerah. Arisu telah meningkatkan Flaming Form-nya menjadi Blazing Form.
Zoiru mengepalkan kedua tinjunya dan tiba-tiba Arisu mundur beberapa langkah. "Blazing's Pressure..." Arisu menunjuk Zoiru dengan kedua telapak tangannya hingga api-api milik Arisu langsung merasuki tubuh Zoiru hingga seluruh tubuhnya langsung dikepung oleh aura api-api itu. Pergerakan Zoiru tiba-tiba berhenti karena aura milik Arisu yang sedang mengendalikan seluruh tubuhnya.
Zoiru mencoba untuk bergerak, tetapi ia tidak bisa karena seluruh tubuhnya terasa mati rasa bagi Zoiru, ia bahkan tidak bisa bergerak sedikitpun. "Aku akan menahan-mu sampai titik ini saja. Kau tidak bisa bergerak karena aura-auraku yang mengendalikan seluruh tubuhmu ini."
Zoiru tiba-tiba langsung mengamuk, sihir Oath-nya mulai mempengaruhi seluruh tubuhnya hingga ia sudah benar-benar meningkatkan seluruh kekuatannya.
"GRRRAAAAAAAGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGG...!!!" Arisu langsung terkejut melihat itu, ia langsung melebarkan kelima jarinya agar sihir miliknya bisa bertahan untuk membuat Zoiru tidak bisa bergerak, Arisu berencana untuk menahan Zoiru terus hingga Shiro kembali.
Aura yang mengepung Zoiru langsung hancur hingga Zoiru bergerak dengan sangat cepat sampai-sampai Arisu tidak sempat untuk menghindar, Zoiru memukul wajahnya dengan sangat keras, tetapi seluruh tubuh Arisu tidak terdorong mundur karena aura-auranya yang telah membantu keseimbangannya. "Nngghhh...!!!"
Arisu tiba-tiba berputar lalu ia memegang lengan kanan Zoiru dengan sangat erat, Arisu langsung menghantam seluruh tubuhnya ke atas daratan.
BAAMMMMM!!!
Daratan yang terhantam oleh seluruh tubuh Zoiru langsung retak hingga seluruh daratan di wilayah itu langsung berguncangan dengan sangat dahsyat seperti gempa bumi.
"GRRRRAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!" Teriak Zoiru dengan sangat kesal hingga auranya mulai membesar lagi dan lagi. Zoiru bangkit dari atas tanah lalu ia mulai meningkatkan seluruh atributnya hingga auranya mengeluarkan sebuah gelombang yang besar menuju atas langit. "Dia masih bisa meningkatkan seluruh atributnya lagi ya...?!" Arisu langsung terbang menuju arah Zoiru dengan sangat cepat.
Mereka dengan kecepatan yang sudah melampui suara mulai saling memukul satu sama lain hingga mampu membuat semua gunung di wilayah itu runtuh dan terbelah menjadi dua bagian. Arisu memukul seluruh tubuh Zoiru tanpa henti, tetapi semua pukulan itu tidak mempan bagi Zoiru karena ia terasa seperti di pukul dengan sangat kertas, Zoiru menyerang balik dengan menghantam wajahnya hingga ia terdorong mundur.
Zoiru muncul tepat di depan Arisu lalu ia mulai memukulnya beberapa kali, tetapi Arisu dengan mudah berhasil menahan seluruh pukulan Zoiru. "GRAAHHH!!!" Zoiru memukul wajahnya hingga Arisu terdorong mundur.
"HAHHHHHHHH!!!" Zoiru langsung memperbesar auranya lagi hingga itu membuat Arisu cukup berkeringat dingin sedikit. "Jadi ini 'kah kekuatan sebenarnya dari seorang Dewa Oath...!?"
Zoiru muncul di depan Arisu hingga Arisu langsung terkejut melihat kecepatannya, Zoiru langsung memukul perut Arisu dengan sangat keras hingga ia terpental ke belakang. Arisu berputar lalu ia mendarat di atas tanah selagi mengangkat tangan kanannya. "BLAZING POWER BALL!!!" Arisu melompat menuju arah Zoiru dan mencoba untuk menghantam perutnya menggunakan sihir yang berada di telapak tangan kanannya itu.
Zoiru tiba-tiba menahan sihir itu dengan memegangnya menggunakan tangan kanannya, Zoiru langsung menghancurkan sihir Arisu lalu ia dengan cepat menghantam seluruh tubuh Arisu menuju daratan dengan seluruh tenaganya agar seluruh tulang di tubuh Arisu mulai retak karena hantamannya itu.
BAMMMMMM!!!
Zoiru terus menghantam seluruh tubuh Arisu di atas tanah-tanah yang berwarna merah itu. "UAAAAGGGGGHHHHH...!!!" Teriak Arisu dengan sangat keras karena seluruh tubuhnya mulai perlahan-lahan bisa merasakan kesakitan yang dahsyat dari hantaman itu.
Zoiru masih belum berhenti, ia terus melakukannya hingga seluruh tubuh Arisu benar-benar remuk, Arisu tidak bisa melakukan apapun kecuali berteriak dengan penuh kesakitan. "AHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!" Kedua pupilnya langsung menghilang dan penglihatannya mulai perlahan buram.
Zoiru melempar Arisu ke atas dan ia langsung melompat ke atas lalu Zoiru memegang seluruh kepala Arisu menggunakan tangan kanannya. Zoiru langsung terbang menuju semua gunung yang ada di depannya selagi menghantam wajah Arisu dengan semua gunung-gunung itu. Semua gunung-gunung itu langsung hancur menjadi kepingan-kepingan kecil karena hantaman Zoiru yang sangat amat kuat.
BAMMMMMM!!! BAAAMMMM!!! BAMMMM!!!
Zoiru melempar Arisu menuju ke depan hingga seluruh tubuh Arisu tergeletak di atas tanah dengan kondisinya yang perlahan-lahan hampir pingsan. "A-Agghh...."
Zoiru menatap Arisu yang sudah tidak bisa bertarung lagi karena seluruh aura-nya mulai mengecil dan bahkan energi sihirnya mulai perlahan menghilang.
"GRAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!" Teriak kemenangan Zoiru
"Nngghhh..." Arisu mulai mencoba untuk bangkit kembali, tetapi pikirannya tiba-tiba mulai berbicara dengan suara Arika yang sedang mencoba untuk menyemangatkan dirinya. "Bangun, Arisu! Apa yang sedang kau lakukan?! Bukannya tugasmu adalah menahannya di sini?!" Tanya Arika.
"Ahaha... Entahlah, dia sangatlah kuat... Perlahan demi perlahan ia terus meningkatkan kekuatanya hingga aku sekarang sudah tidak bisa menandinginya lagi..." Jawab Arisu.
"Apakah itu batasanmu...?"
Arisu membuka kedua matanya dengan sangat lebar karena ia sangat kesal ketika seseorang mengatakan batasan kepada dirinya. Arisu perlahan-lahan langsung bangun dengan kedua lengannya yang terasa sangat lemas. "Aku... Aku tidak memiliki batasan... Aku bukanlah seorang Saint yang jatuh karena sebuah BATASAN!!! AKU ADALAH ANAK DARI KELUARGA SHIRATORI...!!!" Jawab Arisu dengan wajahnya yang terlihat serius.
"Zoiru, jika kau dapat menghancurkan batasanmu itu, maka aku tidak takut untuk terus mencoba menghancurkan batasanku juga..." Seluruh tubuh Arisu mulai bersinar dan terbakar oleh api-api yang sangat panas. Aura api-nya tiba-tiba langsung membesar dan terbakar seperti api kompor yang sangat besar atau seperti air lahar yang meledak. "GRRRRRHHHHGG.....!!!"
Arisu langsung mencoba untuk melampui wujud Blazing Form dengan mencoba untuk berubah menjadi wujud baru dari sihir api-nya sendiri, seluruh tubuhnya mulai bergetar karena ia memaksakan tubuhnya untuk meningkat dan melampui tembok batasannya. "AHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!" Langit-langit mulai berubah menjadi warna emas hingga wilayah itu mulai berguncangan lebih dahsyat lagi dari sebelumnya.
Arisu mengepalkan kedua tinjunya lalu ia menatap ke bawah selagi berteriak dan meningkatkan seluruh kekuatan murninya, perlahan demi perlahan auranya mulai membesar hingga lebih besar dari aura milik Zoiru. Dalam waktu yang sangat singkat terdapat sebuah simbol OMNI di dahi Arisu dan simbol itu langsung menghilang seketika ia menatap ke atas langit.
"AHHHHHHHHHHHH!!!" Rambut Arisu perlahan-lahan berubah menjadi warna emas yang terbakar oleh api emas. Arisu mulai menunjukkan wajah kesalnya hingga itu membuat Zoiru langsung terdorong mundur. "GRAAAAAGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!" Teriak Arisu dengan sangat keras hingga ia melepaskan seluruh aura yang berada di tubuhnya, aura miliknya langsung mengeluarkan gelombang yang sangat besar menuju arah langit hingga langit-langit mulai berubah kembali menjadi warna biasa yaitu merah.
BAMMMMMMMMMM!!!
Arisu telah mencapai wujud baru dan evolusi dari Blazing form yaitu BLAZING ECLIPSE dan ini pertama kalinya bagi Arisu karena ia telah mencapai wujud baru dari sihir warisan api yang Homura berikan. Arisu membuka kedua matanya lalu ia menatap Zoiru dengan tatapan yang sangat amat tajam. "... ..."
"...Blazing Eclipse." Arisu langsung membelit kedua lengan Zoiru dengan rantai-rantai emas yang bermunculan di bawah tanah. "Aku tidak akan membiarkanmu menang..."
"Ternyata kau adalah mortal yang memiliki potensi yang sama dengan dewa, anak muda... Kau cukup membuatku terkesan."
"Aku tidak butuh pujian darimu." Arisu langsung menciptakan meteor yang sangat besar tepat di atas kepalanya lalu ia melemparnya menuju arah Zoiru.
BAMMMMMMM!!!
Zoiru berhasil menangkis meteor itu dengan kedua lengannya yang baru saja menghancurkan rantai-rantai yang membelit kedua lengannya. Arisu bergerak ke depan lalu ia menendang dada Zoiru dengan kedua kakinya hingga ia terdorong ke belakang. Arisu muncul tepat di depan Zoiru lalu ia memukul perutnya dengan sangat kencang menggunakan kedua tinjunya.
Zoiru menyerangnya balik dengan memegang wajahnya, tetapi Arisu langsung mendorongnya mundur hingga ia terdorong ke belakang. Zoiru muncul tepat di depannya lalu ia menendang wajah Arisu dengan sangat keras hingga ia terjatuh di atas tanah.
"Raging Oath!!!" Zoiru langsung meluncurkan gelombang yang sangat besar melalui mulutnya, Arisu bangkit dari atas tanah lalu ia menciptakan sebuah rantai yang mulai membentuk seperti tembok di depannya.
"Chains of Blazing Reclipse!" Arisu langsung membelit kedua lengan Zoiru menggunakan rantai-rantainya yang telah terbakar. Arisu muncul tepat di sebelah kanannya lalu ia menendang wajahnya hingga ia terjatuh ke atas tanah.
"Kau membuatku kesal...!!! Dasar bocah tengik!!!" Zoiru bangkit dari atas tanah lalu ia mencekik leher Arisu dan menghantamnya tepat di atas tanah. Dengan cepat Zoiru langsung memukul wajah Arisu tanpa henti, tetapi ia berhasil menahan semua serangannya.
Zoiru mulai memegang wajah Arisu lalu ia memukul perutnya dengan sangat kencang hingga ia terpental ke belakang. Arisu mulai meluncurkan Shiromura Eclipse melalui kedua lengannya hingga Zoiru menahan sihir itu dengan hanya menggunakan telapak tangan kanannya. Zoiru mulai perlahan-lahan berjalan menuju Arisu selagi menahan kedua sihirnya, setelah ia berada di depan Zoiru, Zoiru langsung menghantam wajah Arisu dan mencoba untuk memukul wajahnya lagi, tetapi Arisu langsung menahan serangan keduanya. "Nrrrgghg..."
Arisu mulai memukul wajah Zoiru menggunakan tinju kanannya, tetapi ia berhasil menahan pukulan itu. Lengan kiri Arisu mulai mencoba untuk menghantam dadanya, tetapi Zoiru langsung muncul tepat di belakang Arisu.
Zoiru dengan cepat memukul punggungnya dengan sangat kencang hingga mampu menembus dada Arisu milik Arisu.
BAMMMMMMMMM!!!
"Urrrggghh...!" Arisu dan yang lainnya langsung terkejut melihat hal itu terjadi karena dada-nya mulai terdapat sebuah lubang besar karena pukulan Zoiru. "A-Ahhh... Nrrrggghhh...!" Arisu langsung memuntahkan banyak sekali melalui mulutnya dan dada juga mulai mengeluarkan banyak sekali darah. Arisu berubah kembali menjadi wujud biasanya dan seluruh tenaga dan kekuatannya mulai perlahan-lahan menghilang. Zoiru menarik kembali lengan kirinya dari dalam dada Arisu lalu setelah itu terjadi Arisu langsung berlutut di atas tanah selagi memegang dada-nya.
Zoiru muncul tepat di depannya lalu ia mulai memegang puncak kepala Arisu. "Urrgghh..." Arisu mulai mencoba untuk menahan rasa kesakitan yang sangat menyakitkan itu, tetapi ia tidak bisa. Mulutnya mulai mengeluarkan banyak sekali darah hingga lubang yang ada di dadanya mulai mengeluarkan banyak darah juga. "Uggh..." Arisu mulai mengeluarkan beberapa tetesan air mata melalui kedua matanya karena rasa kesakitan yang ia alami sekarang. "Papa... Mama...."
"Kau memiliki rasa kehormatanku, nak. Kau memanglah bukan sekedar mortal biasa." Zoiru tersenyum lalu ia menunjuk wajah Arisu dengan telapak tangan kanannya. "Vanis---"
...
...
"Hentikan...!!!" Teriak Yahiko dengan sangat keras, Zoiru langsung melirik ke arah Yahiko yang sedang berdiri tepat di depannya. "Jika kau ingin membunuhnya dulu... Kau harus membunuh kami dulu...!"
"T-Tidak... Hentikan..." Arisu langsung terjatuh di atas tanah dengan kondisi sekarat. "Sakit...! Sakit sekali...!!!" Arisu mulai menatap Zoiru yang perlahan-lahan berjalan maju menuju arah Yahiko dan yang lainnya.
"Hentikan..." Ucap Arisu. Zoiru langsung menunjuk mereka semua dengan kedua telapak tangannya. "Kalian semua memiliki keberanian yang tinggi untuk menyelamatkan mortal satu ini. Sekarang, kalian berhak menghilang bersama semesta Yuusuatouri."
"...Vanish!" Zoiru langsung menghapus Yahiko, Satia, dan Welly dari kenyataan hingga mereka semua perlahan-lahan mulai menghilang dan berubah menjadi partikel-partikel kecil yang berwarna emas.
SWOOOOSSSHHH...!
"... ...!" Zoiru tiba-tiba merasakan sebuah energi sihir yang sangat besar tepat di belakangnya, ketika ia melirik ke belakang ia tiba-tiba tidak melihat Arisu, ia menghilang entah kemana. "A-Apa...!? T-Tidak mungkin...!!!"
Haruka, Mortem, dan Shiro muncul tepat di dalam sebuah ruangan dimana di sekitarnya hanya terdapat beberapa tembok-tembok yang terbuat dari baja. Mortem mulai menepuk bahu kiri Shiro. "Kau baik-baik saja?" Tanya Mortem.
"Tidak, aku mengkhawatirkan dia... Arisu... Dia ini sama bodohnya dengan diriku, bersikap gegabah seperti itu...! Sialan!!!" Ucap Shiro dengan rautan wajah yang sangat amat kesal. Mereka menghabiskan beberapa jam untuk tiba di tempat yang mereka harus kunjungi ini karena portal yang Haruka buat itu tidak langsung membawa mereka ke tempat yang mereka inginkan dalam sekejap.
Tiba-tiba sebuah pintu yang berada di depan mereka mulai terbuka. Ketika pintu itu terbuka, terdapat seorang gadis yang sedang menatap wajah Shiro dengan wajah yang sangat khawatir.
Shiro langsung merasa sangat terkejut juga ketika melihat gadis itu. "H-Homuze...!?" Homuze langsung lari menghampiri Shiro dan memeluknya dengan sangat erat. Ia langsung menangis histeris. "Shiro....!!! Shirooooooo...!!!" Teriaknya dengan sangat histeris.
"H-Homuze...? A-Apa yang terjadi?" Tanya Shiro dengan menunjukkan eksperesi wajah yang kebingungan. Ia sebenarnya ingin menanyakan sesuatu tentang kenapa ia bisa berada di sini tetapi pertanyaan itu tergantikan karena telah melihat wajah Homuze yang terlihat sedih dan ketakutan. "A... Arisu...! Arisu telah tiada...!" Ucap Homuze dengan wajah yang serius hingga membuat Shiro langsung terkejut.
"A-Apa...?!"
...
...
Beberapa menit kemudian, mereka bergegas menuju ruangan dimana Arisu berada. Ketika Shiro melihat Arisu, ia melihat dirinya seperti seseorang yang terluka parah karena bertarung melawan seseorang yang seharusnya ia tidak lawan. "Arisu...!!! Bangun...!!!" Shiro mulai memegang lengan kanannya dan mencoba untuk merasakan detakan nadi-nya, ia merasakan detakan nadi yang sangat pelan sekali.
"Bagaimana Arisu bisa ada di sini? Siapa yang membawanya?" Tanya Mortem kepada Homuze.
"Dia datang bersama seorang malaikat." Homuze menunjuk malaikat yang sedang berdiri tepat di sebelah Haruka. "Kau... Kau ini malaikat, bagaimana kau bisa mengetahui dimensi yang aku buat itu!" Tanya Mortem.
"Berterima kasihlah kepada Syna. Ia mampu melacak sumber energi sihir Arisu yang sangat besar, ia tidak bisa mendatangi dimensi itu karena ia tidak memiliki sihir teleportasi... Ia menyuruhku untuk menyelamatkan adiknya, sepertinya aku terlambat untuk menyelamatkannya." Ucap malaikat itu selagi menatap Arisu yang masih berada di kondisi yang sekarat.
Homuze tiba-tiba langsung bersujud kepada malaikat itu karena ia merasa sangat bersyukur bisa melihat Arisu terselamatkan dan berada di tempat dimana mereka berada. "Terima kasih... Terima kasih banyak karena telah menyelamatkan anakku, beritahu aku... Bisa aku mengetahui namamu, wahai malaikat?" Tanya Homuze.
"Chiara. Yumesa Chiara. Aku adalah teman Shiratori Syna yang datang untuk menyelamatkan Yuusuatouri dan Arisu." Chiara tiba-tiba mulai mengeluarkan sebuah bola energi kecil di dalam saku celananya. Mereka semua langsung kebingungan melihat hal itu, kecuali Mortem. Mereka semua merasa sangat terkejut melihat bola energi kecil itu.
"K-Kau... Kau memiliki bola energi kecil yang bernama Life Source? Sebuah barang yang hanya terdapat di Xuusuatouri yang mampu menyembuhkan segala penyakit dan bahkan bisa menyelamatkan seseorang yang sekarat...?" Mortem merasa sangat terkejut bahwa ia bisa melihatnya melalui kedua matanya.
"Ya, di kondisi Arisu seperti ini... Aku bisa menyelamatkannya sebelum ia benar-benar kehilangan nyawa-nya sendiri." Chiara maju ke depan dan mulai mendekati Arisu lalu ia memberikan Life Source itu dengan memasukannya ke dalam mulut Arisu, perlahan-lahan Arisu langsung mengunyah bola energi itu hingga seluruh tubuhnya langsung bersinar cerah seperti lampu yang baru saja di nyalakan.
"Ya... Sepertinya berhasil." Chiara tersenyum lebar. Shiro dan yang lainnya langsung terkejut karena mereka bisa merasakan sumber energi Arisu yang meningkat dan kembali pulih karena Life Source itu.
Seluruh luka-luka Arisu mulai perlahan-lahan pulih hingga seluruh tubuhnya kembali ke wujud biasanya. "Papa... Mama..." Arisu perlahan-lahan membuka kedua matanya lalu ia menatap wajah Shiro dan Homuze yang terlihat senang. "ARISUUUUUUUU!!!" Teriak Homuze dengan ia langsung memeluk Arisu dengan sangat erat. "Syukurlah...!!! Syukurlah...!!!" Ucap Homuze selagi meneteskan beberapa air mata kesenangan.
Shiro mulai menatap wajah Chiara dengan sebuah senyuman lebar di wajahnya. "Aku sebagai ayah dari Shiratori Arisu sangat berterima kasih atas semua perbuatanmu ini." Shiro menunduk kepada Chiara hingga itu langsung membuatnya terkejut, Chiara yang tadinya bereksperesi datar sekarang mulai menunjukkan eksperesi yang canggung. "Yahhh... Jangan dipikirkan karena aku hanya membalas budi anakmu yang bernama Shiratori Syna."
"Ehh? Syna pernah melakukan apa saja kepadamu?" Tanya Shiro.
"Semua hal yang baik. Dia merubah diriku dan juga kehidupanku saat ini juga!" Chiara langsung tersenyum lebar hingga membuat Shiro terkekeh karena Syna memanglah tidak menyia-nyiakan hidupnya di semesta Xuusuatouri.
Mereka semua mulai berdiskusi tentang Zoiru, Arisu merasa cukup kewalahan dan sama sekali tidak bisa membuatnya terluka dan bahkan Zoiru tidak bisa merasakan kesakitan yang Arisu pernah alami. "Dia benar-benar dewa yang sangat kuat... Bukan seorang dewa yang mudah untuk diremehkan dan dikalahkan begitu saja."
"Arisu ada benar-nya, seseorang yang bisa mengalahkan Zoiru hanyalah Papaku dan Mamaku bersama. Tetapi, aku kehilangan jejak terhadap mereka berdua...!" Ucap Mortem
"Jika aku menghubungi adik-adikku juga itu sama saja tidak berguna karena korban kematiannya pasti akan bertambah dan bertambah... Arisu juga bahkan hampir saja mati oleh dewa brengsek itu." Ucap Mortem dengan wajah yang serius hingga Shiro mulai menyilangkan kedua lengannya lalu ia mulai melihat ke segala arah. "Kita urus Zoiru nanti ketika aku mengetahui tempat dimana kita sedang berada saat ini." Ucap Shiro dengan eksperesi wajah yang terlihat sangat serius sekali.
"Kita berada di tempat dimana Shira dan Homura masih hidup, Shiro." Ucap Homuze hingga membuat kedua mata Shiro langsung terbuka dengan sangat lebar. "Hah...?!" Shiro langsung melirik kepada Haruka, ia langsung mengangguk karena perkataan yang Homuze katakan itu benar.
"Homuze benar, kita sekarang berada di masa depan atau bisa disebut dengan... Masa alternatif Shira ketika ia mengalahkan Rionald dengan caranya sendiri. Shiro dan Homuze tidak pernah ada di dimensi ini bahkan Shira dan Homura juga belum memiliki anak disini. Di masa ini Shiro benar-benar terbunuh oleh Alvin dan beruntungnya Shira bisa selamat... Beda dari masa-mu kau selamat karena kau memiliki kesempatan untuk menjadi ras Astral, sedangkan di masa ini Shiralah yang sangat beruntung untuk bisa menjadi ras Astral." Haruka mulai berjalan keluar dimana ia langsung membuka sebuah jendela yang sangat besar, tiba-tiba mereka sedang berada di kota Legenia.
"Masa depan...? Masa alternatif? Apa yang kau coba untuk jelaskan kepadaku? Aku sama sekali tidak mengerti." Shiro mulai menyilangkan kedua lengannya.
"Tentu saja kau tidak akan mengerti karena dimensi ini adalah dimensi yang aku buat melalui arwah Shira yang sudah mati sejak Papa membunuhnya. Dan semua arwah-arwah itu tidak pergi menuju dunia dimana para kematian hidup melainkan menuju tempat ini, masa alternatif." Haruka mulai mengeluarkan sebuah balok yang mengandung sebuah warna galaksi di sekitarnya.
"Dengan menggunakan Time Alternate Reactor, atau bisa disebut dengan inti dari dimensi alternatif ini. Aku mampu membuat masa alternatif yang berbeda dengan menggunakan kekuatan Saint of Time. Tapi, aku hanya bisa menciptakan satu saja, jika aku menciptakan dua maka masa alternatif ini akan terhapuskan..." Haruka mulai berjalan maju menuju jendela yang sangat besar itu lalu ia melempar balok itu menuju arah pohon yang sangat besar, pohon itu berada di tempat dimana kastil Rionald berada, kastil itu telah tergantikan menjadi pohon emas yang sangat besar, di pohon emas itu terdapat beberapa partikel emas yang melingkarinya.
"Pohon itu adalah jalan bagi kita keluar dan kembali ke masa yang asli. Semua Legenda yang tinggal disini tidak akan bisa masuk ke dalam pohon emas itu, jika mereka berhasil maka mereka akan terhapuskan sesuai dengan perintahku. Kita tidak mau paradox terjadi di dimensi yang asli bukan? Waktu itu sangatlah mutlak dan berbahaya jika kita menggunakannya dengan cara yang salah"
"Kenapa kau melakulan semua ini, Haruka?" Tanya Shiro.
"Demi Yuusuatouri. Demi Papa dan Mama!" Haruka tersenyum.
"Sebenarnya Haruka bisa membaca masa depan, Shiro. Tetapi ia bisa membaca masa depan hanya sekali saja, sepertinya ia memprediksi masalah yang sedang kita alami saat ini." Ucap Mortem.
"Jadi sekarang...? Apa yang harus kita lakukan...?" Tanya Shiro dengan wajah yang sangat serius hingga tiba-tiba dua Legenda lainnya mulai memasuki ruangan yang mereka berada saat ini. Shiro dan yang lainnya langsung melirik kepada kedua legenda itu. "Haruka, sumber energi sihir apa yang aku rasakan saat ini---" Tiba-tiba kedua legenda itu langsung terkejut ketika melihat Homuze dan Shiro yang sedang berdiri selagi menunjukkan wajah terkejut juga.
"Shira...?" Shiro langsung memanggil Legenda itu dengan nama Shira karena Legenda itu memanglah Shira sedangkan satunya lagi adalah Homura. "Homura...?" Homuze menatap wajah Homura dengan wajah yang terkejut.
"H-Homuze...?"
"Ka-Kakak...?" Homura langsung menaikan kedua alis-nya ketika melihat Homuze.
Mereka berempat mulai saling menatap satu sama lain seperti menatap diri mereka sendiri di sebuah cermin yang besar. Suasana mulai menghening dan kecanggungan mulai muncul karena keempat mereka bertemu di tempat yang sama. "Hmmm... Suasana saat ini cukup canggung juga." Tiba-tiba Chiara memulai pembicaraan hingga membuat Haruka dan Mortem tertawa. "Hahahahaha!"
"Baiklah, semua! Kita harus membuat rencana secepatnya sebelum Zoiru datang dan menyerang!" Ucap Haruka dengan wajah yang sangat serius.
"Ehh!? Semesta Yuusuatouri hancur!?" Homura merasa sangat terkejut mendengar berita Yuusuatouri yang telah hancur oleh dewa yang bernama Zoiru. Shira merasa cukup terkejut juga karena ketika ia sudah tiada di Yuusuatouri, ia tidak menyangka bahwa Yuusuatouri akan selalu mengalami masalah yang berat setiap saat-nya dan ia tidak menyangkan bahwa musuh saat ini mampu menghancurkan Yuusuatouri tanpa segan.
"Tunggu, apakah mereka benar-benar Shira dan Homura?! Haruka, kau memanglah Saint yang menurutku cukup aneh bisa menciptakan mereka." Ucap Homuze dengan rautan wajah yang terlihat sangat serius.
"Ya, semuanya hancur... Tidak ada lagi yang tersisa melainkan partikel-partikel kecil yang ada... Zoiru bukanlah dewa yang lemah atau apapun itu. Dia termasuk sebagai dewa yang sangat berbahaya!" Shiro mengepalkan kedua tinjunya karena ia merasa sangat kesal sekali bahwa kekuatannya ini masih tidak cukup untuk melawan Zoiru.
"Jika kau mengatakan itu kepada kami maka kita tidak bisa membantu." Ucap Shira dengan wajah yang sangat serius.
"Itu benar. Shira dan aku ini berada di level dimana kita baru saja selesai mengalahkan Rionald, Shiro, Sedangkan dirimu ini...? Bukannya kau sudah mengalami masa evolusi mortal yang bisa melampui para dewa dengan hanya wujud yang kau buat itu?" Tanya Homura.
"Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" Tanya Shiro.
"Aku dan Shira sudah pasti akan melihat perkembangan kalian... Kita tidak akan pernah melewatinya sedikitpun."
"Super Eclipse Blaze hanyalah wujud kebetulan dan hanya bisa dibangkitkan ketika aku cukup beruntung... Aku tidak bisa melakukannya sendiri! Arisu sendiri mengatakan bahwa jika kita semua bekerja sama melawan Zoiru maka kita masih tidak memiliki peluang untuk menang, ia hampir sama seperti Alvin...! Memiliki sihir yang bernama Vanish itu." Ucap Shiro dengan wajah yang sangat serius.
"Arisu melawannya!?" Homura melirik kepada Arisu yang sedang berdiri di sebelah Homuze. Arisu hanya mengangguk. "Haruka benar-benar seperti dewi yang mampu menghidupkan seseorang yang sudah mati, tetapi dia berada di dimensi atau masa yang berbeda... Ingatan mereka juga terus berjalan hingga bisa mengenal Arisu. Ternyata mereka bukanlah ilusi atau hayalan... Mereka ini asli." Ucap batin Shiro.
"Zoiru hanya bisa kalah oleh Alvin Ghifari, Shiro. Walaupun kita semua bekerja sama... Kita masih tidak akan bisa mengalahkan Zoiru, dewa Oath itu sangatlah maniak... Dia akan membunuh apapun dengan cara yang sangat sadis tanpa memberikan sedikit pengampunan!" Ucap Haruka dengan wajah yang sangat serius.
"Aku tahu itu, bagaimana cara kita menemukan dewa sialan itu!?" Tanya Shiro.
"Aku mengetahui dimana mereka berada sekarang..." Ucap Haruka yang tiba-tiba membuat semua orang langsung menatap wajahnya dengan tatapan yang sangat serius sekali. "DIMANA?!" Jawab mereka semua.
...
...
Haruka menghela nafasnya. "Papa dan Mama... Mereka sedang berada di kondisi yang telah sepenuhnya di kendalikan oleh adik-adikku yang bernama Ren Ghifari dan Rin Ghifari. Mereka telah terkendalikan sepenuhnya karena mereka saat ini sedang berada di wujud mortal mereka, Zoiru pernah bertemu dengan mereka hingga ia mampu menyegel kekuatan Omni-of-all-creature milik Papa dan Mama, ia mampu menyegelnya karena mereka bertarung dengan Zoiru di wujud mortal mereka. Ketika Zoiru mengeyel perubahan maha kuasa mereka, Papa dan Mama jadi tidak bisa berubah menjadi wujud dewa maha kuasa. Mereka terlalu meremehkan hingga terlambat untuk mengalahkan Ren, Rin, dan Zoiru." Haruka mengetahui semua informasi itu karena ia bisa membaca masa depan karena dia adalah seorang Saint Time.
Shiro dan semua Legenda lainnya langsung terkejut ketika mendengar perkataan itu. Mereka sudah pasti akan percaya karena Haruka tiba-tiba menunjukkan sebuah hologram melalui telapak tangan kanannya, di telapak tangan kanannya terdapat sebuah bola merah yang sangat kecil sekali, bola mereka itu mulai menunjukkan sebuah hologram dimana Alvin sedang berdiri diam dan tidak bisa kemana-mana karena ia sepenuhnya dkendalikan oleh Ren. Korrina di sisi lainnya, ia telah sepenuhnya dikendalikan oleh Rin. "Tidak mungkin...!!! SEMUA INI MUSTAHILL!!!" Teriak Shiro yang sudah muak dengan semua yang ia lihat. Ia rasa bahwa hari ini adalah hari terburuk-nya, Yuusuatouri sudah hancur oleh dewa yang sangat kuat dan sekarang kunci untuk mengalahkan Zoiru telah hilang. Mereka memiliki masalah lainnya yaitu Alvin dan Korrina.
"Dia terkendalikan olen Ren dan Rin melalui sihir yang bernama Oath's Command. Sihir yang mampu membuat seseorang menurut kepada si pengguna, hampir sama dengan Brainwashed, tetapi sihir ini berbeda... Oath's Command tidak akan bisa hancur sama sekali." Ucap Haruka dengan wajah yang sangat serius. Shiro dan Homuze langsung merasa terkejut karena Alvin dan Korrina bukanlah sekedar lawan yang biasa saja, mereka sangatlah kuat di wujud mortal mereka. "Tidak ada cara lain 'kah agar mereka bisa kembali sadar?" Tanya Haruka.
"Kalian ini ras Eternal bukan? Bagaimana jika kalian mencoba untuk menggunakan energi negatif yang diwarisi hanya oleh ras eternal...?"
Shiro dan Homuze langsung mendadak diam ketika mendengar energi negatif itu. "Shiro dan Shira kalian berdua bisa mengalahkan Alvin jika melakukan mantra pergabungan, kita fokus kepada Alvin dan Korrina dulu agar mereka berdua bisa kembali sadar untuk membantu kita semua melawan Zoiru. Kalian berdua adalah Legenda yang sama dan jika kalian bergabung menggunakan mantra pergabungan maka kalian akan menjadi seorang bangsa Legenda gabungan yang tidak akan bisa terpisah untuk selamanya." Ucap Haruka dengan wajah yang serius.
Shiro langsung terkejut mendengar ide milik Haruka, sepertinya hal itu bisa ia lakukan bersama Shira. "Haruka, salah-satu dari mereka ini tetaplah Shira. Dan jika mereka bergabung maka hasilnya akan gagal... Mereka bisa bergabung jika salah satu dari mereka telah tiada." Ucap Mortem dengan wajah yang sangat serius.
"Apa yang kau maksud, Mortem...?" Tanya Shiro.
"Salah satu dari kalian harus melawan Papa. Tapi aku lebih memiliki kau, Shiro, untuk melawan Papa. Kekuatan dan pengalaman-mu saat ini sepertinya mampu membuat Papa-ku kewalahan." Ucap Mortem dengan wajah yang sangat serius. "Sedangkan, Mama... Homura atau Homuze, salah satu dari kalian harus mengurus Korrina."
Haruka mulai terkejut mendengar hal itu. "Kenapa tidak kau saja yang melawan mereka? Kau memiliki kesempatan besar untuk menang melawan mereka bukan?"
"Yahh... Aku akan mengurus si Rin itu. Jika aku melawan Papa dan Mama maka Rina akan menghentikanku... Dia bilang bahwa menyerang Rin adalah pilihan yang tepat." Ucap Mortem dengan wajah yang sangat serius. Ia mengepalkan kedua tinjunya dengan sangat kasar sekali.
Shiro sedang berbaring di atas ranjang selagi menatap atap-atap dengan wajahnya yang terlihat khawatir. Ia masih tidak yakin dan percaya diri untuk bisa meraih kemenangan melawan Alvin, ia sudah yakin sejak itu. Masalah ini sepertinya Alvin tidak akan menahan diri. Semua ini bukanlah latihan melainkan bertarung hingga mati. "... ..." Shiro mulai meneteskan kedua air matanya karena sepertinya hal yang ia akan alami saat ini adalah hal terakhir baginya. Ia melirik ke kiri dimana Homuze sedang tertidur.
Shiro perlahan-lahan bangkit dari atas ranjang hingga membuat Homuze terbangun. "S... Shiro...?" Homuze mulai menatap wajah Shiro yang terlihat sedang sedih. Hal itu membuatnya langsung terkejut dan Homuze bergegas bangkit dari atas ranjang lalu mulai memegang kedua pipi-nya. "A-Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?"
"Sepertinya kita sebagai ras Eternal yang sudah hidup menggantikan sesosok kebenaran kita akan segera berakhir.... Kita sudah hidup tenang cukup lamanya, Homuze. Kita harus melawan seseorang yang jauh lebih kuat dari kita saat ini." Ucapnya selagi menangis, wajahnya terlihat sangat sedih hingga membuat Homuze terkejut bahwa ia bisa melihat Shiro menangis karena sebuah ketakutan.
Homuze mulai ikut menangis karena ia mengerti apa yang Shiro maksud, satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan untuk menang adalah menggunakan sihir yang dimiliki ras Eternal. Homuze mulai menangis, ia langsung memeluk Shiro dengan sangat erat. Shiro memeluknya kembali lalu ia mengelus puncak kepala Homuze. "Kita harus tetap kuat... Kita ini adalah bangsa Legenda, kita harus terus berjuang hingga meraih kemenangan."
"Hmm..." Jawab Homuze. Shiro terus menunjukkan wajah yang terlihat sangat bersedih. "... ..." Homuze mulai menatap Shiro dan Shiro mulai menatapnya kembali dengan kedua matanya yang sudah dipenuhi dengan air mata. "Aku mencintaimu." Jawab mereka bersama hingga mereka langsung berciuman di daerah bibir dan mereka mengakhiri malam mereka dengan bercinta untuk terakhir kalinya.
Satu hari telah terlewati, Homuze dan Shiro sedang berdiri tepat di depan dimana Mortem sedang mencari sumber energi sihir Alvin dan Korrina. "Sebentar lagi... Kalian harus benar-benar siap untuk melawan Papa dan Mama, mereka ini adalah sesosok Legenda yang tidak boleh kalian remehkan."
Shiro dan Shira mulai berpelukan. "Kau harus menang, kak. Demi Yuusuatouri dan demi mengakhiri Zoiru!" Ucap Shira dengan wajah yang sangat serius, Shiro langsung mengangguk lalu ia menepuk bahu kirinya dengan sangat eras. "Dan kau... Kau juga harus bertambah kuat, Shira!"
"Berhati-hatilah, Homuze. Aku tidak mau kehilangan dirimu lagi..." Ucap Homura selagi meneteskan beberapa air mata di kedua matanya, Homuze hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Homuze mundur beberapa langkah lalu ia mulai meraba perutnya hingga ia mengeluarkan seorang bayi yang ia kandung, bayi yang ia kandung itu terlindungi oleh api-api berwarna merah. "Ternyata seorang bayi laki-laki... Jagalah dia dengan baik, Homura." Homuze memberikan bayi yang berada di dalam bola api itu kepada Homura.
"Bayi... Baru...?" Homura langsung terkejut melihat itu, ia mengangguk kepada Homuze selagi menunjukkan senyuman lebar. "Beri nama anak itu dengan nama Shiratori Shou. Aku yakin dia akan menjadi seorang Saint Legenda yang bisa melampui Shiro!" Homuze tersenyum lebar.
Shiro dan Homuze mulai menatap Arisu dan Eclipse yang sedang menangis tanpa henti. Mereka berdua mulai memeluk mereka dengan sangat amat eratnya dan mulai menangis. "Selamat tinggal... Kita harap kalian berdua bisa menjadi lebih kuat lagi, Arisu, Eclipse... Kesempatan kita menang dan hidup hanyalah 50%, jadi jagalah diri kalian masing-masing."
"Papa...!!! Mama...!!!" Teriak mereka berdua dengan sangat terharu hingga membuat Shira dan Homura ikut menangis juga. Haruka mulai berbalik arah karena ia juga mulai diam-diam menangis bersama Chiara.
Mortem menyilangkan kedua lengannya lalu ia meneteskan sedikit air matanya. "... ..."
Beberapa menit kemudian, mereka memberi Arisu dan Eclipse sebuah ciuman kecil di pipi mereka lalu mereka berdua bergerak maju menuju Mortem yang sudah menemukan sumber energi sihir Alvin dan Korrina. Homuze dan Shiro mulai menatap satu sama lain lalu mereka mulai bergandengan tangan. "Mari kita mulai, kalian berdua adalah Touri's Hope. Satu-satunya harapan untuk bisa menyelamatkan Touri!"
"Sampai bertemu lagi, Homuze."
"Ya... Sampai bertemu lagi..."
"Legends Never Dies!" Ucap mereka bersamaan. Kedua lengan Mortem langsung bersinar merah, ia langsung meraba kedua punggung mereka hingga mereka langsung menghilang dengan sangat cepat.
SWOOOOOSSSHHHH!!!
__ADS_1
°•°CONTINUED IN PART 2 OF SPESIAL CHAPTER II°•°