Yuusuatouri: The Beginning of a Legend

Yuusuatouri: The Beginning of a Legend
Chapter 71 - Pemulaian Baru


__ADS_3

"Hah... Hahh... Hah..." Riziel tergeletak di atas air lahar selagi menatap wajah Alvin yang terlihat sangat kesal. Shuri yang lainnya langsung mendarat tepat di belakang Alvin selagi menatap mereka berdua, pertarungan ini telah resmi dimenangkan oleh Alvin dengan sangat mudah.


"Alvin, pilihan beresiko terdapat di kedua tanganmu... Apakah kau memilih untuk menghancurkannya, jika kau menghancurkannya maka aku juga akan hancur karena dia adalah penciptaku sedangkan jika kau memilih untuk membiarkannya hidup maka dia tidak akan bisa pernah menjadi sesosok yang berbeda." Ucap Shuri dengan wajah yang sangat terkejut, ia bisa melihat jelas bahwa pilihan untuk membiarkan Riziel hidup adalah pilihan yang salah karena Riziel pasti akan membalas dendam dan mulai berlatih hingga ia akan bertambah kuat lebih dari kekuatannya saat ini.


Shiro langsung terkejut hingga kedua matanya terbuka lebar karena ia tidak mau berpisah dengan ibunya, padahal ia baru saja bertemu dengannya dan bahkan ia juga belum menghabiskan waktu menyenangkan bersamanya. "A-Apa...? J-Jangan membunuh legenda bajingan itu, Alvin...! Aku mohon!!!" Ucap Shiro dengan wajah yang panik.


Alvin terdiam dan ia mulai berpikir sebentar lalu ia menghela nafasnya karena ia membenci pikirannya yang selalu memikirkan keseimbangan. "Menghidupkan seseorang yang sudah mati... Bermain dengan arwah atau nyawa yang sudah mati adalah tindakan buruk, terlalu berlebihan hingga menghancurkan keseimbangan dari Touri."


"Maafkan aku, Shiro, Shuri... Tetapi aku tidak memiliki pilihan lain selain menghapus Riziel..." Ucap Alvin dengan wajah yang sangat serius. Shiro tiba-tiba sudah tidak memiliki pilihan lain selain menyetujui hal yang Alvin katakan karena ia juga sudah mulai perlahan mengerti dengan keseimbangan yang Alvin impikan.


"Tapi... Ibuku..." Shiro mengepalkan kedua tinjunya dan ia mulai perlahan merasa sedikit kesal bahwa ia harus berpisah untuk selamanya bersama Ibunya yang baru saja bertemu, padahal satu hari belum terlewati dan mereka sekarang harus berpisah.


Shuri tiba-tiba mulai meraba kedua bahu Shiro selagi menunjukkan senyuman lebarnya. "Semua ini takdir, putraku... Kita harus menyetujui dengan pilihan Alvin karena dia adalah dewa segalanya... Dia yang menciptakan takdir terhadap semua makhluk hidup di semesta Touri." Ucap Shuri dengan wajah yang serius, ia tiba-tiba memegang tangan kanan lalu ia membawa Shiro bersamanya menuju tempat yang lebih jauh karena ia ingin mengucapkan ucapan selamat tinggal kepada putranya.


"Ini ucapan selamat tinggal sepertinya, putraku..." Shuri tersenyum.


Shiro mulai perlahan menahan tangisannya, ia masih tidak menerima takdir Shuri yang akan hancur juga bersama Riziel. "Ya... Sepertinya begitu ya, Mama..."


Shuri langsung memeluk Shiro dengan sangat erat lalu ia mulai mengusap rambut Shiro dengan sangat halus, ketika Shuri melakukan hal itu kepada Shiro. Shiro tiba-tiba merasakan perasaan yang baru karena ia baru pertama kalinya di usap oleh seorang ibu, ia merasakan perasaan yang sangat hangat hingga mampu membuat Shiro tiba-tiba meneteskan air matanya. "Maafkan aku, ibu... Aku sangat meminta maaf kepadamu... Aku tidak cukup untuk menjadi seseorang yang sangat kuat, aku ini lemah karena sebuah batasan yang selalu menghalangiku seperti tembok yang tebal dan juga besar..." Ucap Shiro selagi menangis.


Shuri mengelus rambutnya dengan sangat halus mencoba untuk menenangkannya. "Jangan mengatakan sesuatu yang tidak terjadi karena... Kau sudah menunjukkan dirimu ini bahwa kau ini sangatlah kuat, aku sangat terkejut melihat kekuatanmu yang sangat kuat itu... Aku sangatlah bangga kepadamu, nak..." Shuri juga mulai ikut menangis.


"Ibu merasa sangat senang untuk bisa bertemu denganmu... Sungguh, aku kira aku bertemu denganmu itu semuanya hanyalah mimpi, tetapi aku salah karena... Shiro-ku yang masih bayi sekarang telah tumbuh menjadi Legenda yang sangat layak hingga memiliki keluarganya sendiri." Shuri menatap Homuze dan Rysu, mereka berdua tersenyum lalu Homuze memegang lengan kiri Rysu lalu mereka berdua berjalan menghampiri Shuri dan Shiro.


Mereka berdua langsung memeluk Shuri dan Shiro. "Terima kasih, Homuze... Terima kasih atas semuanya karena telah menikahi pria sepertinya, menjaganya, dan membuat generasi baru bersamanya... Aku sangat senang sekali."


"Tidak perlu berterima kasih, Mama... Seharusnya akulah yang harus berterima kasih kepadamu karena telah mengirim Shiro ke dunia Astral, aku sangat senang sekali bisa bertemu dengan pria seperti Shiro ini." Homuze mulai terasa terharu hingga ia menangis.


"Dan... Rysu... Kalian harus menjadi anak yang baik ya, jangan nakal karena kalian berdua adalah generasi baru Shiratori, kalian harus mencemari nama itu dengan kebaikan!" Shuri tersenyum hingga membuat Rysu tersenyum kembali lalu ia mulai perlahan meneteskan air matanya.


Alvin dan Korrina mulai melihat mereka menangis dengan sangat terharu, Korrina mulai perlahan menetaskan air matanya hingga ia mulai menangis karena merasa terharu melihat perpisahan keluarga Shiratori. "Mmmmm... Ini mengingatkanku ke masa lalu kita, Alvin..."

__ADS_1


"Kau tidak perlu menangis, Korrina..." Alvin menyilangkan kedua lengannya lalu ia melirik ke arah lain selagi meneteskan sedikit air matanya, Korrina mulai terkekeh melihat Alvin yang menyembunyikan rasa sedihnya.


...


...


"AKU TIDAK AKAN KALAH DI TEMPAT SEPERTI INI!!!" Riziel tiba-tiba melompat menuju arah Shuri dan yang lainnya, Alvin tiba-tiba langsung berubah menjadi wujud dewa maha kuasanya. Alvin muncul tepat di depan Riziel lalu ia memegang wajahnya dan setelah itu Alvin langsung menghantam seluruh tubuhnya menuju atas batu lahar yang sangat panas.


BAMMMMMM!!!


"Nrrghhh...!!!" Riziel mulai merasakan kesakitan yang dahsyat di hantaman tersebut, ia lalu menatap wajah Alvin yang terlihat sangat menakutkan. Itu bagaikan tatapan seperti serigala yang baru saja melihat makan malamnya. "Kau sudah membuatku kesal... Jangan sombong dulu..."


"Sudah saatnya...", Shuri melirik kepada Alvin yang perlahan mulai menunjuk dahi Riziel dengan wajah yang kejam seperti seorang penjahat.


"Vanish..." Alvin langsung menghapus Riziel dari kenyataan, seluruh tubuh Riziel langsung bersinar dengan sangat cerah hingga perlahan seluruh tubuhnya mulai terhapus bagaikan garis yang dihapus oleh penghapus. "UWAAAAAAAHHHHHHHH!!!" Riziel mulai berteriak kesakitan hingga seluruh tubuhnya sudah benar-benar terhapus.


Di sisi lainnya, seluruh tubuh Shuri juga mulai perlahan terhapus dari kenyataan. "Aku akan melihat seluruh perjuanganmu di dunia kematian, Shiro... Pilihlah jalanmu sendiri karena aku pasti akan mendukungmu dan aku selalu mencintaimu..." Shuri langsung menghilang seperti matahari yang terbenam.


Shiro menatap ke atas langit lalu ia mulai perlahan mengusap kedua air matanya yang terus berjatuhan. "Lihatlah aku, Ibu... Aku akan menjadi lebih kuat lagi!!!" Shiro mengepalkan kedua tinjunya.



Beberapa hari telah terlewati, itu sekitar 3 hari lamanya. Shiro dan yang lainnya telah kembali pulang menuju semesta Yuusuatouri, semuanya berjalan dengan damai lagi hingga Alvin dan Korrina mulai berencana untuk pergi meninggalkan Yuusuatouri lalu menghabiskan waktu di Kamitouri karena mereka berdua telah lamanya menghabiskan waktu di semesta Yuusuatouri.


Shiro telah membuat sebuah janji dengan Alvin untuk bertemu di gunung tertinggi yang berada di planet Legendarius, gunung itu tidak jauh terletak di dekat tempatnya mengajar. Shiro menghampiri Alvin dengan wajah yang serius, ia melihat Alvin tempat di ujung batu yang sangat besar selagi menatap pemandangan kota <>


"Sebentar lagi aku akan pergi meninggalkan Yuusuatouri, Shiro. Karena aku masih memiliki banyak waktu, kau butuh apa dariku?" Tanya Alvin dengan ia menoleh kepada Shiro yang sedang berdiri tepat di belakangnya.


"Sebelum kau pergi, aku ingin menanyakan tentang sesuatu hal yang sangat amat penting, walaupun aku pernah mengatakannya beberapa kali tapi aku masih tidak mengerti." Ucap Shiro dengan wajah yang sangat serius.


"Hmph, apakah kau ingin menanyakan tentang tujuanku lagi? Keseimbangan di antara semua kehidupan yang ada atau disingkat dengan keseimbangan Touri... Semesta, ras, kekuatan, dan hal lainnya yang nyata di semesta Touri ini." Alvin tiba-tiba menebak pertanyaan Shiro dengan sangat mudah karena Alvin sudah sering mendengar Shiro bertanya tentang keseimbangan Touri.

__ADS_1


"Ya, jelaskan semuanya dengan sangat teliti, aku mohon, dewa Alvin!" Shiro mulai menunduk kepadanya, hal itu membuat Alvin cukup merasa bersalah karena ia tiba-tiba menunduk kepadanya tanpa sebuah alasan. "Kau tidak harus bersikap formal seperti itu, bodoh."


"Yahh... Tidak ada pilihan lain selain menjelaskannya lagi, semesta yang kita tinggali ini adalah Yuusuatouri, semesta dimana terdapat sebuah keseimbangan yang sangag amat tinggi, kita semua hidup pasti akan memiliki sebuah tujuan yang harus kita capai sesuai kehendakkan kita sendiri, terkadang tujuan kita dengan orang lain terkadang berbeda dan terkadang tidak."


"Aku memilih tujuanku dari Ayahku... Dia memiliki tujuan yang tidak masuk akal pertamanya hingga semua orang membenci dan mencoba untuk tidak mendukung tujuannya itu, tujuan untuk menyeimbangkan segalanya termasuk Touri. Tapi ketika dia memberitahuku tentang kebenaran dari keseimbangan, aku merasa bahwa tujuan untuk menyeimbangkan sesuatu itu memanglah hal yang sangat baik."


"Aku menciptakan tiga semesta... Xuusuatouri, Yuusuatouri, dan Zuusuatouri. Ketiga semesta itu memiliki keseimbangan yang sangat pas seperti Xuusuatouri dimana para ras malaikat tinggal, tetapi malaikat-malaikat itu bisa jadi jahat dan buruk karena teknologi yang maju di semesta tersebut, sedangkan Zuusuatouri dimana para iblis tinggal dan semesta itu pasti akan selalu berperang demi darah karena ras iblis kebanyakannya jahat sampai-sampai mereka terus bertarung hanya demi darah."


"Yusuuatouri di sisi lainnya dimana ras Legenda tinggal, semesta ini sangatlah seimbang terhadap kebaikan dan kejahatan karena semesta ini terkadang berperang, damai, dan hal-hal lainnya. Sangat seimbang hingga aku sangat menyukai dengan semesta ini."


"Jika Yuusuatouri sangatlah seimbang, kenapa kau tidak menghancurkan Xuusuatouri dan Zuusuatouri?" Tanya Shiro.


"Itu pergerakan yang salah karena Yuusuatouri adalah semesta yang berada di tengah-tengah dari kedua semesta yang dipenuhi dengan kebaikan juga keburukan... Contohnya Xuusuatouri kebaikan dan Zuusuatouri keburukan... Jadi Yuusuatouri pantas untuk berada tepat di tengah kedua semesta itu karena semesta itu sangatlah seimbang dengan kedua sisi itu."


Shiro perlahan mulai mengerti dengan tujuannya. "Aku memiliki alasan untuk membunuh Riziel yaitu menghentikannya untuk menghancurkan Xuusuatouri, jika ia berhasil menghancurkan semesta itu maka Yuusuatouri akan menjadi semesta yang tidak seimbang, semesta ini akan pasti dipenuhi dengan kejahatan yang berjumlah berlebihan dan aku tidak suka itu."


"Yang terpenting adalah aku tidak suka dengan hal-hal yang melebihkan sesuatu tanpa sebuah alasan. Aku berkemungkinan akan bertindak jika seseorang berencana untuk menghancurkan ketiga semesta yang aku buat itu..." Ucap Alvin dengan wajah yang sangat serius.


"Jadi begitu ya...? Hmph, entah kenapa aku mulai mengerti ketika mendengarmu berbicara dengan nada yang serius itu. Aku merasa terinspirasi." Ucap Shiro dengan ia menunjukkan senyumannya, Alvin mulai tertawa.


"Hahaha! Jadi, apakah kau tertarik untuk menjadi seorang dewa, Shiro?" Tanya Alvin.


"Tidak, aku siap ketika aku berhasil mengalahkanmu, Alvin. Kau harus menunggu waktu dimana aku akhirnya bisa mengalahkanmu!"


"Hmph, kita lihat saja nanti, Shiro... Untuk sekarang ini aku serahkan keamanan Yuusuatouri kepada dirimu." Alvin mulai berbalik arah lalu ia menatap ke atas langit.


"Ingatlah hari itu, Alvin. Suatu hari aku akan mengalahkanmu dan menjadi sesosok Legenda yang bisa setara dengan dirimu ini!" Ucap Shiro dengan wajah yang sangat serius.


"Hmph, aku akan mengingatnya... Semoga beruntung, pejuang!" Alvin langsung terbang jauh menuju atas langit. Shiro tersenyum lebar melihat Alvin yang terlihat sangat sombong dan dipenuhi gaya baginya. "Dasar sialan..."


Shiro berjalan pergi meninggalkan gunung itu. "Kau pasti akan selalu memiliki gaya keren, huh, Alvin? Melihatmu bertarung dengan sangat serius mampu membuatku termotivasi bahwa aku ini belum cukup kuat!!!"

__ADS_1


"Tunggu saja... Aku akan bertambah kuat lagi."


__ADS_2