Yuusuatouri: The Beginning of a Legend

Yuusuatouri: The Beginning of a Legend
Chapter 116 - Arwah-Arwah yang Berkumpul


__ADS_3

5 bulan kemudian, Shou sedang duduk di bawah pohon yang sangat besar selagi menunggu Clare, hari ini adalah hari dimana Clare tidak akan melayani Shou lagi karena kontrak-nya bersama dirinya sudah habis. Shou mulai menatap cincin emas yang terdapat di jari manisnya, ia juga sempat menikah beberapa bulan yang lalu dan pernikahannya bisa bersamaan dengan Shin dan Sakura. "Waktu terus berlalu... Aku bahkan tidak bisa merasakan perubahan apapun..." Ucap Shou dengan ia menatap ke depan.


SWOOOSSHH!!!


Clare muncul di depan Shou selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat datar. "Shou, aku sudah mengumpulkan semua informasi tentang Xuusuatouri, ternyata benar... Semesta itu adalah semesta dengan teknologi yang sangat canggih. Bahkan teknologi yang aku lihat tidak bisa terbayangkan... Sepertinya sudah jelas bahwa Xuusuatouri adalah semesta yang paling maju." Ucap Clare selagi menunjukkan sebuah senyuman kecil di wajahnya.


Shou bangkit dari atas tanah lalu ia menatap wajah Clare. "Informasi yang cukup jelas, sepertinya aku akan pergi ke Xuusuatouri untuk melihat semua teknologi canggih itu." Ucap Shou, Clare mengangguk. "Sepertinya tugasku dalam melayani-mu sudah selesai, tuan." Ucap Clare, ia mulai menunjuk Shou hingga lambang mata dirinya yang ada di bahu Shou mulai menghilang.


"Apakah kontraknya sudah berakhir...?" Tanya Shou.


"Ya... Jika kau ingin membuat kontrak sementara denganku maka aku tidak bisa menerimanya. Ada batasan dalam menerima kontrak sementara, Shou." Ucap Clare.


"Apakah ada cara lain untuk bisa melakukan kontrak lagi bersamamu, Clare?"


"Kau masih membutuhkan diriku?"


Shou mengangguk. "Tentu saja, aku butuh rekan untuk pergi mengunjungi Xuusuatouri, siapa tahu aku akan bertemu dengan musuh baru atau masalah baru. Master's Bond sangatlah menguntungkan bagiku." Ucap Shou selagi menunjukkan senyumannya, Clare menatao wajah Shou dengan tatapan yang terlihat serius. "Kau memiliki istri yang sedang mengandung anakmu sendiri, Shou. Kenapa kau ingin pergi dan kenapa kau membutuhkan diriku?" Tanya Clare.


"Rigel menyuruhkan untuk pergi, ia ingin aku mencari uang di Xuusuatouri. Tenanglah, Rigel berada di dalam lindungan Dewi Korrina." Ucap Shou.


Clare hanya bisa diam karena cara untuk berkontrak dengannya adalah mengambil nyawa milik Shou. "Jadi?" Shou langsung melebarkan kedua lengannya seperti ia benar-benar bersedia untuk di ambil nyawa-nya oleh Clare, Clare langsung menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut. "Bodoh, apakah kau berencana untuk bunuh diri...?"


"Tidak ada pilihan lain, lakukanlah, Clare!" Ucap Shou dengan nada yang mulai terdengar keras, Clare langsung menunjukkan wajah yang terlihat seperti khawatir, ia terlihat seperti tidak ingin melakukannya. Clare masih bisa melihat Shou sebagai tuan-nya dan entah kenapa ia bisa menahan diri untuk mengambil nyawa milik Shou. "B-Baiklah... Aku akan melakukannya, Shou." Ucap Clare, Shou mengejamkan kedua matanya.


"Soul of Contract!!!" Teriak Clare hingga ia memunculkan sabitnya melalui tangan kanannya, sabit itu mulai dilumuri oleh kegelapan dan arwah Shou perlahan-lahan terserap oleh sabit itu. "Maafkan aku..." Ucap Clare, Shou mulai merasakan kesakitan ketika arwah-nya di cabut dari dalam tubuhnya.


ZWOOOSSSHHHH!!!


Shou langsung tergeletak di atas tanah hingga lambang dari mata Clare muncul di kembali di bahunya, Clare hanya bisa terdiam dan merasakan sesuatu yang aneh yaitu arwah yang ia serap terasa menyengat bagi kedua lengannya. "Ughhh...!!!" Clare melepas sabitnya hingga sabit itu mulai bergetar dan dilumuri oleh listrik-listrik kegelapan. "A-Arwah macam apa ini...!?" Tanya Clare yang sedang memegang bahu kanannya yang baru saja terkena sengatan arwah Shou.


Clare menatap Shou yang kembali bangkit dari atas daratan, ia mulai menunjukkan wajah yang terlihat kebingungan. "Apa yang...? Kenapa aku masih hidup...? Seharusnya aku ini seorang mortal yang tidak memiliki arwah yang mengartikan aku ini akan mati jika kontrak kita berakhir, Clare." Ucap Shou selagi menatap kedua telapak tangannya.


Clare langsung menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut. "Ahh...!!! Itu artinya....!!!" Clare langsung mengerti ketika ia melihat Shou kembali bangkit dari atas daratan, ia bisa merasakan bahwa Shou masih memiliki arwah murni-nya. "Itu artinya sabit-ku membawa arah Eternalmu... Soul of Eternal! Itu artinya sekarang kau bukan lagi ras Eternal Legenda melainkan ras Legenda murni, Shou!" Ucap Clare selagi menunjukkan wajah yang terlihat senang bahwa Shou bebas dari arwah Eternal dan juga mereka berhasil membuat kontrak lagi.


"Itu artinya aku tidak memiliki darah Eternal..." Ucap Shou selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut, ia langsung mengepalkan kedua tinjunya. "Baguslah, itu artinya aku bisa mengontrol emosiku dan aku tidak lagi merasakan kesakitan ketika menggunakan sihir-sihir. Clare!!! Itu artinya kau masih seorang Dewi kematian milikku bukan?!" Tanya Shou selagi menunjuk Clare.


Clare tersenyum lalu ia mengangguk. "Tentu saja, tuan."


"Mari... Mari kita melaksanakan misi kita di Xuusuatouri!" Ucap Shou.


"Hm! Segera dilaksanakan!" Clare tersenyum, Shou dan Clare langsung melesat ke atas langit dan meninggalkan planet Legendarius, misa mereka selanjutnya adalah pergi ke semesta Xuusuatouri untuk melihat teknologi canggih yang ada di semesta itu.


***


Di dalam hutan yang dipenuhi dengan pohon-pohon hijau, tempat dimana kematian beristirahat dengan tenang. Seorang gadis yang memiliki warna rambut hitam dengan gaya pendek mulai jalan ke depan selagi memegang beberapa bunga, gadis itu melewati banyak sekali kuburan dimana para Legenda pejuang mati seperti Legenda yang layak. 


Gadis itu sudah melewati banyak sekali kuburan dan pohon-pohon yang hampir runtuh karena sudah tua, gadis itu terlihat seperti tenang dan mencoba untuk tidak mengganggu semua Legenda yang sedang tertidur di dalam kuburan mereka hingga beberapa menit kemudian gadis itu berdiri tepat di depan batu besar dimana terdapat sebuah panah yang tertancap di atas daratan itu. "... ..."


"Haruka, ini aku kakakmu Corni Ghifari, sepertinya kamu di kenang oleh banyak penghuni Touri ya...? Sampai-sampai kematianmu itu memberikan kami semua jawaban untuk terus melindungi semesta kejam ini." Ucap gadis yang bernama Corni. "Aku tidak percaya bahwa kau akan mati seperti seorang pahlawan... Aku sangat sedih ketika melihatmu mati tanpa memberiku sebuah pesan, jadi suatu hari aku ingin berjuang sama sepertimu...!" Ucap Corni dengan ia menepati bunga yang ia pegang di sebelah panah itu. Corni langsung berdoa agar Haruka bisa istirahat dengan tenang di dunia kematian.


SWIIINNNGGGG...


Corni mendengar suara yang cukup jelas di kedua telinganya, ia melirik ke arah kanan dimana ia mendengar suara itu. Ia perlahan-lahan merangkak dan bersembunyi di balik semak-semak ketika Corni melihat ke depan, ia melihat sebuah buku yang terlihat seperti Grimoire yang sedang melayang di tengah mereka semua, Corni bisa melihat enam Legenda yang sedang melingkari Grimoire itu dan ia mulai bertanya-tanya kenapa mereka melakukan hal seperti itu. "Apa yang mereka lakukan dengan Grimoire aneh itu...?"


"Bagaimana bisa aku merasakan energi sihir yang kuno sekali dari Grimoire itu..." Ucap Corni, ia mulai berkeringat karena ketika ia melakukan sedikit pergerakan saja maka mereka semua bisa merasakan keberadaannya. Seorang Legenda yang memiliki dua pedang di punggungnya menghampiri Grimoire itu dan Corni langsung membulatkan kedua matanya ketika melihat Legenda itu. "Saint Heroes...? Bagaimana bisa Saint tipe Heroes berada di tempat seperti ini...!?"


"Mereka semua ini merencanakan apa sih... Saint Dual-Sword itu... Kalau tidak salah namanya adalah... Haru... Haru... Apa lagi...? Aku lupa..."

__ADS_1


"Oh jiwa makhluk hidup... Aku menyulapmu atas kekuatan ini... Aku adalah penerima... Kau adalah pemberi... Seperti yang saya inginkan, maka terjadilah itu..." Ucap seseorang yang sedang menunjuk buku itu.


ZWOOOSSHHH!!!


Tiba-tiba Saint yang Corni panggil dengan nama Saint Dual-Sword itu mulai membuka Grimoire tersebut hingga Grimoire itu langsung melepaskan arwah-arwah yang ada di dalam buku tersebut. Corni langsung menunjukkan wajah yang terkejut ketika ia melihat arwah-arwah itu mulai berkumpul di atas langit dan mulai menampakkan wujud mereka. "T-Tidak mungkin..."


Saint Dual-Sword itu menghampiri semua arwah itu satu-satu dan mulai berbicara dengan mereka semua menggunakan nada yang terdengar pelan, Corni tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan. Setelah Saint itu selesai berbicara dengan mereka, arwah-arwah itu bersinar dan menghilang. "Apakah dia seorang Necromancer...?" Corni melirik sebentar dan tiba-tiba kedua matanya langsung berkaca-kaca ketika melihat Haruka dan dua arwah lainnya. "Ahh---" Corni langsung menghalang mulutnya.


"H-H-Haruka...!? Luni...! Laikin...!?" Pikiran Corni mulai membawanya ke insiden masa lalu dimana ia mengingat kematian terhadap ketiga Legenda yang sangat ia cintai termasuk suami dan putrinya yang sudah mati karena terbunuh oleh ras Elf. "T-Tidak...!" Kedua lengan Corni mulai bergetar dengan sendirinya karena ia merasa ingin menghampiri mereka dan memeluk mereka semua.


Saint Dual-Sword itu menghampiri arwah Laikin lalu ia mulai tersenyum. "Laikin... Apakah kau masih ingat dimana kau menyimpan kedua Gauntlet itu...?"


"Apakah yang kau maksud itu Gauntlet dari Weapons of Ancient Heroes? Kalau tidak salah namanya adalah Grips of Ancient Souls. Gauntlet ini sangatlah sakral hingga jika Saint Gauntlet mati yaitu aku maka penggantinya akan muncul jika Gauntlet itu diwariskan kepada seseorang, untung aku sempat mewariskan Gauntlet itu kepada seseorang..." Seketika Laikin mengatakan hal itu, Corni tanpa sengaja menginjak ranting yang mampu membuat suara yang lumayang kencang, suara itu bisa terdengar jelas oleh mereka semua. "... ...!!!"


JREETTT!!! DAAAARRRR!!!


Sebuah petir muncul di depan Corni dan menghampir menyengat seluruh tubuhnya, Corni merasakannya ia langsung melompat ke belakang dan terjatuh di atas tanah. "Sial...!" Corni langsung melarikan diri dengan lari meninggalkan mereka semua. "Siapapun...!!! TANGKAP LEGENDA ITU DAN EKSEKUSI DIA!!!" Ucap salah satu dari Legenda itu.


Corni melompat ke atas lalu ia melesat ke depan, ia berencana untuk melaporkan Grimoire itu kepada Shira dan yang lainnya, jika ia melarikan diri menuju Kamitouri maka Lenergy dan God Lenergy-nya tidak akan cukup karena semua Legenda itu sedang menyerangnya sekarang. Tiga Legenda sedang mengejarnya dari belakang lalu Corni mulai berkeringat karena ia bisa saja tertangkap. "Block Movement!!!" Ucap seorang Legenda yang berada di tengah ketiga Legenda itu.


Seluruh pergerakan Corni langsung terhentikan karena sihir yang Legenda itu gunakan, Corni langsung terjatuh di atas tanah dan ia mulai tergeletak di atas tanah. Ketiga Legenda itu mendarat di belakangnya lalu ia menunjuk Corni dan siap untuk membunuhnya demi menutup mulutnya tentang Grimoire yang mereka gunakan tadi. Ketika mereka menunjuk mereka, Corni tiba-tiba berubah menjadi uap kecil. "A-Apa...!? Sebuah ilusi...!?"


Corni muncul di luar hutan pemakaman itu. "... ..." Ketika ia melirik ke kanan ia langsung melihat Saint-Dual Sword itu. "Kau mau kemana, istri dari Laikin?" Tanya Saint itu hingga Corni langsung melompat ke atas dan melesat pergi meninggalkan Saint itu. "BLOCK MOVEMENT!" Saint itu menghentikkan pergerakkan Corni hingga ia langsung terjatuh di atas tanah.


"Cihh... Sialan..."


"Kau tadi melarikan diri menggunakan Gauntlet dari Weapon of Ancient Heroes bukan...? Itu artinya Laikin mewariskan Gauntlet itu kepada dirimu, istri Lai---"


"FINAL SHINE...!!! ATTTAAACCKKK!!!" Teriak Corni hingga ia meluncurkan gelombang Final Shine Attack ke arah Saint itu. Saint itu menghindari gelombang tersebut selagi berjalan mendekat menuju Corni. "Full Force...!!! FINAL SHINE ATTACK!!!" Teriak Corni dengan ia meluncurkan Final Shine Attack ke depan hingga seluruh tubuhnya langsung terdorong ke belakang karena bantuan dari Final Shine Attack itu.


SWOOOSSHH!!!


"Apakah mereka ini ilusi...!? Apakah mereka ini palsu...!?" Tanya Corni selagi menangis.


"... ..." Saint Dual-Sword itu hanya bisa diam selagi menahan pegangannya. "BERITAHU AKU, HARUKI!!!" Teriak Corni keras hingga ia memanggil nama dari Saint Dual-Sword itu, ia mengenalnya karena suaminya pernah membawa Haruki pulang untuk makan malam bersama. "Aku turut berduka cita atas kematian adikmu, suamimu, dan anakmu, Corni. Tapi, aku tidak memiliki niat jahat untuk berbicara dengan arwah-arwah itu." Ucap Haruki.


Haruki mendorong Corni hingga ia terjatuh di depannya lalu ia duduk sila di atas tanah. "KENAPA KAU BISA BERBICARA DENGAN LAIKIN!? APAKAH DIA ASLI!?" Tanya Corni selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal. "Tenanglah..."


"AKU BUTUH PENJELASAN!!! JELASKAN ATAU AKU PERGI DAN MELAPORKAN APA YANG BARU SAJA AKU LIHAT!!!" Teriak Corni.


"Aku tidak akan memberi tahumu jika kau tidak menenangkan dirimu."


"BAGAIMANA AKU BISA JIKA AKU BARA SAJA MELIHAT SUAMI KESAYANGANKU!?"


"Kau tidak tenang, kau tidak akan aku beritahu."


Corni langsung mencoba untuk bergerak. "ILLUSION BREAK!!!" Teriak Corni hingga ia merusak sihir milik Haruki, Corni kembali bisa bergerak lagi lalu ia menatap wajah Haruki yang terlihat tenang dengan kedua matanya yang terlihat mengancam. "Grrrrrgggghhh...!!!" Corni langsung memukul daratan tanpa henti, ia lebih memilih daratan daripada Haruki karena ia bisa mengontrol kemarahannya berbeda dari Shou.


"KAU TIDAK AKAN PERNAH MENGETAHUI PERASAANKU DI TINGGAL OLEH SUAMIKU TANPA SEBUAH AKHIR BAGIKU....!!! DIA MATI BEGITU SAJA TANPA MEMBERIKU PESAN-PESAN TERAKHIR...!!!" Ucap Corni.


"Aku tahu. Aku hanya meminta informasi sedikit darinya dan sepertinya informasi yang aku butuhkan sudah aku dapatkan ketika aku bertemu denganmu, Corni."


"Informasi tentang apa...!?"


"Informasi tentang cara melipat pakaian dengan benar!"


Kedua mata Corni langsung berubah menjadi warna Crimson. "Bercanda." Jawab Haruki selagi terkekeh, Corni langsung menampar wajah Haruki tetapi ia berhasil menghindari tamparan itu. "Baiklah, informasi itu adalah... Aku ingin menanyakan dimana suamimu menyimpan Weapon of Ancient Heroes-nya dan ternyata aku tidak membutuhkan informasi milik suamimu karena aku tahu kau memiliki Gauntlet itu, Corni."

__ADS_1


"Heroes..." Ucap Corni hingga muncullah Gauntlet milik suaminya di kedua lengannya. "Ini... Kau mencari Gauntlet ini bukan...!? Ambillah! Dengan syarat... Biarkan aku berbicara dengan mereka semua, aku mohon!!!" Ucap Corni selagi menunjukkan ekspresi wajah yang terlihat sedih.


"Tidak bisa, jika kau melakukannya maka Grimoire itu akan menghapusmu, Corni." Jawab Haruki.


Corni langsung mengelus-elus air matanya. "... ..." Corni terbang ke atas lalu ia melesat pergi meninggalkan planet Legendarius. "Hmph, jika kau memberitahu Grimoire yang kau lihat tadi, itu sama saja dengan menggali kuburanmu lebih dalam."  Ucap Haruki, ia mulai terbang pergi juga meninggalkan hutan pemakaman itu.


***


Di restauran moci, Alvin, Aiko dan Agfi sedang membelikan oleh-oleh untuk Methode dan Korrina. Mereka masih berpikir-pikir dimana mereka akan membeli oleh-oleh jadi Alvin memilih moci untuk hadiah kehamilan Korrina dan juga Methode. Alvin mencicipi satu moci kecil yang disediakan untuk tes percobaan. "Hmmm... Uhhh... Nikmat." Alvin tersenyum ketika ia menelan moci itu.


"Moci rasa kotoran naga ini memang terbaik...!!! Terasa seperti coklat yang meleleh di dalam mulutku." Ucap Alvin dengan ia mencoba yang kedua kalinya. Ia langsung menunjuk moci rasa kotoran naga itu. "Paman, tolong bungkus 10 moci rasa kotoran naga itu." Ucap Alvin selagi menunjukkan senyuman lebarnya.


"Apa Papa yakin mereka semua akan menyukai moci rasa kotoran naga...? Bukannya itu terdengar menjijikan?"


"Ehh...? Jangan melihat makanan dari nama dan bentuknya dong, pas di coba enak tahu." Ucap Alvin yang sedang menyuapi Agfi dengan moci kecil itu. "Gwaaaa..." Agfi mengunyah moci itu.


"Beli rasa kacang dan coklat yang original 50 ya, paman." Ucap Aiko, pemilik toko itu langsung membungkus 10 moci rasa kotoran naga dan 50 moci rasa kacang dan coklat. "Tapi Shira, Arata, dan Papa adalah sahabat loh, mereka pasti akan menerima moci rasa baru ini. Apalagi Mama." Jawab Alvin.


"Bukannya kak Shira tidak suka makanan seperti ini dan bahkan kak Arata membencimu Papa... Dia tidak akan menerima hadiah apapun darimu." Jawab Aiko.


"Ehh..."


Beberapa menit kemudian, Alvin, Agfi, dan Aiko muncul tepat di depan rumah Arata. Ia mulai mengetuk-ngetuk pintunya hingga Homura membuka pintu itu. "Ahh, kakek, senang kakek bisa datang di hari kelahiran Methode dan nenek~" Ucap Homura selagi menunjukkan senyuman lebarnya. "Ehh?! Hari kelahiran...?"


"Ya. Nenek bilang bahwa ia akan menggunakan sihir waktu untuk mempercepat kelahirannya agar Methode bisa kembali bekerja bersama Arata dalam membasmi para Legenda sampah sedangkan nenek Korrina... Ia ingin kakek sibuk agar kakek tidak kebagian waktu untuk bertarung dan berlatih." Ucap Homura.


"EHHHH...!?" Alvin langsung terkejut mendengarnya bahwa ia akan mengurus Rina, Aiko, Agfi, dan anak barunya jika Korrina mengatakan itu sedangkan Korrina, ia akan bersenang-senang dengan mengunjungi anak-anak dan cucu-cucunya sedangkan Alvin hanya bisa mengurus keempat anaknya yang manja itu. "Dia hanya ingin enaknya saja bukan susahnya...!"


Beberapa menit kemudian, Alvin sedang duduk di sebelah Korrina selagi melihat perut istrinya dan Methode yang sudah membesar. "Wahh... Korrina, kenapa kamu tidak pernah sabar dalam mengandung anak sih? Lihat, bahkan perut Methode-pun kau percepat." Ucap Alvin.


"Yahhh, Methode punya alasan yang cukup bagus sih." Ucap Korrina.


"Apa kau punya?" Tanya Alvin selagi menunjukkan senyuman mengejaknya. "Tentu saja, membuatmu sibuk dari masalah bertarung dan berlatih." Korrina langsung tersenyum lebar. "Lagian juga, aku ingin anak lagi~" Ucap Korrian dengan nada halusnya.


"Cih... Tidak mau! Kau hanya ingin enaknya!!!" Teriak Alvin hingga membuat Shira dan yang lainnya tertawa bahkan Korrina-pun tertawa terbahak-bahak. Alvin langsung melirik ke kotak yang berisi moci yang ia pesan tadi. "Ahh, iya. Kalian harus mencoba rasa baru dari restauran moci terbaik loh."


"Ohh?! Rasa baru...!?" Tanya Korrina selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut.


"Ya, rasa kotoran nag---"


Korrina langsung memukul Alvin, tetapi ia berhasil menghindari serangan itu. "Loh? Kenapa coba untuk memukulku!? Aku salah apa, hah!?" Tanya Alvin.


"Emang-nya itu bagus untuk kita berdua, kau tawarlah kepada yang lainnya." Ucap Korrina, Alvin mengangguk lalu ia mengambil kotak itu dan menawarkannya kepada semua dan mereka semua tidak menerimanya. Alvin menghampiri Shira lalu ia menepuk punggungnya beberapa kali. "Yo, Shira! Bagaimana kalau kau coba moci rasa baru ini~? Lezat loh~" Ucap Alvin hingga Shira langsung mengangguk dan terpaksa karena ia merasa bersalah melihat Alvin yang baru saja membeli moci itu dan tidak ada satupun yang ingin mencobanya.


Shira mengambil moci itu lalu ia memakannya dengan pelan. Shira langsung membulatkan kedua matanya. "Hmm!!! ENAK!!!" Shira langsung mengambil dua moci itu dan memakannya lagi. "Ternyata rasanya enak dan tidak membuatku kecewa...!"


"'Kan!?" Alvin tersenyum lalu ia mencoba untuk mencari Arata. "Loh? Arata kemana?" Tanya Alvin.


"Dia sedang keluar." Jawab Methode.


"Huh? Kenapa...? Bukannya sebentar lagi kamu akan melahirkan anak barumu, Methode."


"Dia mencoba untuk menghidarimu tau, dia 'kan membenci dirimu. Dia bilang bahwa kau adalah kekacauan bagi segalanya dan kau bisa saja mengacaukan kelahiran anaknya... Itu yang dia katakan." Methode terkekeh.


"Grrrgghhh... Bajingan itu, memangnya aku ini penghancur pesta apa?!" Tanya Alvin.


"Iya." Jawab mereka semua termasuk Shira, Rina, Mortem, dan Korrina. Semua orang secara bersaaman menjawab iya karena Alvin memanglah Legenda yang suka menghancurkan pesta. "EHH!? KEJAM!!!" Teriak Alvin selagi menunjukkan ekspresi terkejutnya.

__ADS_1


__ADS_2