
Beberapa ratusan tahun yang lalu....
Terdapat beberapa ledakan dahsyat di seluruh desa yang bernama <>, desa dimana para Legenda tinggal juga karena desa itu memiliki panen yang sangat bagus setiap hari dan tidak ada satupun monster yang berani masuk ke dalam kawasan desa tersebut. Desa itu dipenuhi atau diselimuti dengan kedamaian, tetapi semuanya berubah ketika seorang Legenda yang sangat kejam menyerang desa Ralios.
BAMMMM!!! BAMMMM!!! BAMMMM!!!
Desa Ralios telah menjadi kekacauan yang dahsyat hingga desa itu sekarang dijuluki sebagai lautan api, semua rumah dan bahkan sawah-sawah terbakar karena sihir-sihir api yang Legenda kejam itu keluarkan. Seorang gadis yang sedang menggendong dua anak tiba-tiba menatap suami-nya yang sedang berbicara dengan Legenda yang kejam itu.
Gadis itu seharusnya lari karena itu adalah perintah dari suaminya, tetapi ia tidak mendengar apa yang suaminya katakan hingga ia terus menatap suaminya yang sedang membujuk Legenda itu. "Aku mohon...! Ampunilah semua Legenda-Legenda yang tinggal di desa ini, apakah kau tidak merasa kasihan...!?"
"Legenda yang berpenghuni di Ralios... Mereka semua mendapatkan kenikmatan yang besar karena desa ini cukup aman dan juga damai, tetapi... Bukannya itu terlalu berlebihan, Saoru?" Tanya Legenda itu dengan ia langsung menendang Saoru, tetapi Saoru dengan cepat langsung muncul tepat di belakangnya.
"Apakah kau memiliki masalah dengan berlebihan, hah...?! Tujuanmu dalam menyeimbangkan sesuatu dengan cara yang tercela membuatku kesal, kau bukanlah Dewa...! Kau hanyalah mortal yang sama seperti kami yang ditugaskan untuk hidup sesuai kehendakkan kita!"
"DIAMLAH!!!" Tiba-tiba Legenda itu langsung menendang wajah Saoru dengan sangat keras hingga wajahnya langsung memar berwarna ungu karena tendangan itu, Saoru langsung terpental ke depan hingga menyebabkan gadis yang menggendong kedua anaknya muncul tepat di sebelah Saoru. "S-Saoru...!!! Mari kita lari bersama...!"
"A-Apa yang kau lakukan, Shuri...!? Aku menyuruhmu untuk LARI!!! LEGENDA YANG BERNAMA ARGUSA ITU SANGATLAH BERBAHAYA!!!" Ucap Saoru dengan wajah yang kesal hingga Argusa langsung bergerak maju menujunya, tetapi Saoru langsung mengeluarkan sihir asap yang besar hingga membuat Argusa berhenti bergerak dan terjebak di dalam asap-asap tersebut.
"Nrghhh... Sial...!" Saoru langsung mengangkat seluruh tubuh Shuri, setelah itu ia langsung melompat ke arah timur dengan sangat tinggi karena Saoru merencanakan sesuatu untuk istrinya dan juga kedua anaknya yang kembar.
Argusa langsung menggerakan lengan kanannya secara horizontal untuk menghapus semua asap yang tebal itu, ia berencana untuk melakukan sihir teleportasi menujunya tetapi di dalam asap itu ia tidak bisa merasakan energi sihir mereka.
***
Saoru sedang melompati beberapa gunung-gunung yang besar karena ia memiliki ide yang sangat baik demi keluarganya. "Sayang... Apa yang kau rencanakan...?"
"Sepertinya rencana yang sangat pantas untuk kita ialah membuat kedua anak kita pergi ke suatu tempat yang lebih aman... Argusa tidak mengincar kita melainkan ia hanya mengincar anak-anak kita." Ucap Saoru dengan ia mendarat di atas gunung yang sangat tinggi lalu ia melepaskan Shuri di atas tanah.
"Cukup masuk akal... Kedua anak kita mewarisi sumber energi yang sangat besar di seluruh semesta Touri, bukan...? Warisan kekuatan keluarga kita memang selalu di incar oleh seseorang yang kehausan dalam kekuatan." Shuri melihat Saoru yang sedang membuat sebuah simbol lingkaran dan juga ia menulis sebuah huruf yang tidak bisa ia baca.
"Mereka belum bisa berbicara dan mengatakan sedikit katapun, Saoru... Aku tidak ingin membiarkan mereka pergi." Ucap Shuri dengan wajah yang khawatir.
"Shuri, ini demi generasi keluarga kita yang akan datang... Kita harus menyelamatkan generasi muda agar keluarga kita masih bisa tetap berjalan!" Ucap Saoru dengan ia berhenti menulis kalimat tersebut.
"Aku mohon, Shuri... Demi keselamatan mereka berdua." Ucap Saoru dengan wajah yang serius.
"Apakah kita... Tidak bisa melarikan diri bersamaan saja...?" Tanya Shuri dengan ia meneteskan air matanya, hal itu membuat salah satu dari bayi yang ia gendong menangis karena tetesan air matanya mengenai wajahnya. "Maafkan aku... Shiro..." Ucap Shuri dengan wajah yang tidak ingin berpisah dengan anak-anaknya.
__ADS_1
"Jika kita melarikan diri bersama maka Argusa akan terus mencari kita hingga ia berhasil membunuh Shiro dan juga Shira." Saoru langsung berlutut. Shuri sudah tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan mereka berdua pergi.
"Sepertinya Shiro lebih pantas tinggal di dunia yang sangat aman yaitu dunia dimana ras Eternal tinggal, ia bisa saja menjadi salah satu dari mereka." Shuri langsung melontarkan kedua lengannya untuk mengangkat Shiro.
"Sebentar..." Shuri langsung menatap wajah Shiro yang sedang menangis. Ia tiba-tiba tersenyum melihat Shiro yang akhirnya menangis karena dia adalah bayi yang kuat, sejak ia lahir juga Shiro tidak pernah menangis. Dan hari inilah hari dimana Shiro menangis untuk pertama kalinya.
"Shiratori Shiro... Kau harus tetap hidup untuk selamanya ya...? Kau harus mencapai apa yang sebenarnya kau inginkan dan jangalah kau menyerah terhadap sesuatu yang belum bisa kau capai... Aku sangat mencintaimu, nak... Jangan melupai kami." Shuri memberi ciuman hangat di pipi kanannya lalu ia memberi Shiro kepada Saoru.
"Apapun yang terjadi dan apapun yang akan terjadi, kau harus tetap hidup demi mewariskan keluarga Shiratori!" Saoru mencium pipi kanan Shiro lalu ia meletakkannya di atas lingkaran yang gambar.
Saoru bangkit lalu ia mengejamkan kedua matanya. "Datanglah dewa Eternal dan kabulkanlah janjiku yang mutlak ini! Aku ingin mengirim anakku yang bernama Shiratori Shiro ke dalam dunia dimana kau berada, latihlah dia dan juga ajarkanlah dia tentang segala hal dalam kehidupan...! Aku mengorbankan kedua penglihatanku demi anakku yang bisa diselamatkan oleh kau...! Dewa Terio!!!" Simbol itu langsung bersinar hingga membuat gelombang yang berwarna merah menuju atas langit, Shiro langsung terlindungi oleh gelombang tersebut hingga ia menangis dengan sangat keras.
"S-Saoru...!? Apa yang kau lakukan...!?" Shuri langsung terkejut mendengar perkataan Saoru karena ia sekarang telah kehilangan kedua penglihatannya. Saoru tiba-tiba tersenyum seperti seseorang yang tidak merasakan penyesalan sedikitpun. "Ini semua... demi keselamatan mereka---"
SWOOOOOSSSHHH!!!
Tiba-tiba dada Saoru langsung terbuka cukup lebar seperti lingkaran karena Argusa telah tiba dan ia sekarang berada di atas langit, ia berhasil menggunakan sihirnya yang mematikan untuk membuat sebuah lubang di dada Saoru. "A-Aggghhh..." Saoru langsung memuntahkan darah yang banyak setelah itu ia terjatuh di atas tanah.
Hal itu membuat Shuri langsung terkejut. "SAORU!!!" Shuri langsung berlutut dan mencoba untuk mengangkatnya, tetapi ia tidak bisa mengangkatnya karena ia terasa sangat berat. Argusa menatap gelombang mereka itu lalu ia menunjuk gelombang tersebut dengan jari telunjuknya. "Mati..."
Saoru menatap wajah Shuri dengan tatapan yang kosong. "Aku mohon... Lari... Lari...! Selamatkanlah anak kita yang belum selamat... Shiratori Shira......." Saoru langsung kehilangan nyawanya karena ia telah kehabisan darah.
"S-SAA... SAORUUUUU!!!" Teriak Shuri dengan wajah yang sedih karena dua orang yang sangat ia cintai telah meninggalinya. Argusa tiba-tiba langsung tersenyum dengan sangat jahat. "Yang benar saja... Ternyata aku cukup beruntung dalam membunuhnya..."
Shuri tiba-tiba langsung terbang menuju arah barat dengan kecepatan suara hingga itu membuat Argusa langsung terkejut. "Tidak akan aku biarkan kau lari...!!!" Argusa langsung mengejarnya dari belakang.
Shuri terbang dengan kecepatan penuh selagi meneteskan beberapa air mata hingga tiba-tiba ia menabrak seseorang yang sedang melayang secara tidak sengaja.
BAAGGGGG!!!
Mereka berdua langsung terkejut karena tabrakan tersebut, Shuri mendarat di atas tanah menggunakan pantatnya lalu ia menatap Shira yang sedang menangis. "Cup... Cup... Maafkan, Mama..." Shuri mencoba untuk menenangkannya selagi menatap waspada ke seluruh tempat karena ia sadar bahwa ia menabrak seseorang.
"Aduh... Aduh... Apakah kau tidak punya mata apa untuk terbang dengan kecepatan penuh...?" Tanya seorang pria yang menghampirinya selagi memegang kepalanya yang terasa cukup menyakitkan. Shuri tiba-tiba langsung terkejut melihat sosok yang sangat ia kenal karena ia pernah bertemu dengannya sebelumnya.
"K-Kau...!? A-Alvin Ghifari?!" Shuri langsung terkejut melihat pria itu ternyata pria itu adalah Alvin. Alvin menatapnya kembali lalu ia merasa sangat terkejut karena telah melihat Shuri kembali. "Shuri...?! Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini!?"
__ADS_1
Masa sekarang...
Tiba-tiba Shiro membuka kedua matanya dengan sangat lebar karena ia baru saja terbangun dari tidur siangnya, seketika Shiro terbangun ia sadar bahwa kedua matanya terdapat sebuah air matanya yang mengalir ke bawah. "Apa...? Kenapa aku tiba-tiba merasa sedih lagi...? Apakah karena Homura lagi...?"
Shiro bangkit dari tempat tidurnya lalu ia mulai meraba kepalanya yang terasa sedikit pusing. "Aku mengalami mimpi aneh lagi ya...? Sosok gadis itu... Sebenarnya dia ini siapa...?" Seketika ia bangkit dari tempat tidurnya, ia mulai menatap sekitar tempat untuk mencari Homuze yang lainnya, setelah itu ia sadar bahwa mereka telah meninggalkan Shiro sendirian di dalam penginapan yang sangat mewah.
"Yang benar saja..." Shiro mulai mencoba untuk mencari sumber energi sihir mereka agar ia bisa mengikuti mereka dari belakang dengan merasakan energi sihir mereka.
Shiro tidak bisa merasakan energi mereka karena ia tiba-tiba merasakan energi yang lebih kuat layaknya seperti angin topan yang besar. Shiro langsung berkeringat hingga ia melompat dari keluar jendela lalu ia terbang menuju ke atas langit untuk mencari seseorang yang memiliki energi sihir besar itu.
Seketika ia melayang di atas langit selagi melirik ke segala arah, ia merasa bahwa energi sihir yang besar itu langsung menghilang. "Aneh... Tadi aku merasakan energi sihir yang lebih besar dari Alvin...? Jangan-jangan dia ini lebih kuat dari dewa itu...?" Shiro mulai melirik ke segala arah untuk mencari orang yang ia cari.
"... ...!!!"
NJIINNGGG!!!
Shiro langsung melompat ke depan lalu ia menembak Solar Shot ke arah belakangnya karena ia merasakan keberadaan seseorang yang kuat di belakangnya. Ternyata Shiro benar karena sihir yang ia luncurkan ke arah belakang langsung di tangkis menuju atas langit dengan hanya tangan kirinya. "... ..."
Shiro merasa sangat terkejut bahwa ia bergerak cukup cepat juga untuk bisa berada di belakangnya tanpa ia sendiri menyadarinya. Shiro menatap orang itu dan ternyata dia adalah seorang malaikat yang sedang menatap wajah Shiro dengan wajah yang sangat senang. "Ohohoho...! Ternyata aku menemukanmu, Shiratori Shiro!"
"Seorang malaikat...?! Bagaimana dia bisa mengetahui namaku...? Ini pertama kalinya bagiku untuk bertemu dengan seorang malaikat..."
"Tidak perlu ketakutan, Shiro. Aku bukanlah malaikat jahat dan tujuanku bukanlah untuk melawan dirimu..." Ucap malaikat itu.
"Apa...? Kenapa kau kesini, hah?" Tanya Shiro dengan wajah yang sangat serius.
"Sebenarnya... Aku sangat-sangat membutuhkanmu. Aku memiliki berita yang sangat bagus dan buruk bagimu, jadi kau harus ikut denganku menuju sesuatu tempat yang aman." Malaikat itu langsung muncul di sebelah Shiro hingga membuatnya terdiam karena kecepatan dari malaikat itu membuatnya terkesan.
"... ..." Shiro tiba-tiba mengejamkan kedua matanya untuk memikirkan apa yang harus ia lakukan.
***
Ralios, tempat dimana Alvin dan yang lainnya berada. Mereka sedang berada di desa yang terbuat dari besi karena semesta Xuusuatouri adalah semesta yang maju hingga semuanya terlihat seperti masa depan.
Mereka semua sedang berada di tempat dimana terdapat sebuah pohon yang sangat amat besar terletak. Alvin menggali sebuah lubang yang besar di sebelah pohon itu hingga ia tiba-tiba menemukan sebuah buku yang sangat kuno dan bahkan tu. "Ketemu..." Ucap Alvin dengan wajah yang sangat serius.
__ADS_1