
Shira dan Naoki muncul di pulau langit Yusouwa. "Wahhh..." Shira merasa terkesan melihat kota-kota besar itu.
Naoki melirik kepada Shira. "Shira, bagaimana kau bisa mencapai level Saint Observetion jiga aku selalu melatih diriku terus menerus? Bahkan akulah yang duluan menjadi Saint sebelum dirimu ini."
"Soal itu... Kau harus menenangkan pikiranmu dalam berlatih. Virra pernah bilang bahwa jika kau berlatih dengan pikiran penuh dengan masalah atau pertarungan... Kau tidak akan mencapai level Saint Observetion." Shira mulai berjalan pergi menghampiri Guild Hall dan Naoki mulai mengikutinya.
"Saint Observetion itu mementingkan ketenangan dipikiran..."
"Ohh iya... Benar juga. Aku terlalu memikirkan tentang bertarung dengan seorang ras yang kuat." Naoki merasa sangat terkejut.
"Ya, makanya, berlatihlah dengan pikiran kosong... Tenangkan pikiranmu, seperti contohku ini... Lakukanlah meditasi setiap hari tanpa henti." Shira tersenyum.
"Baiklah, akan aku coba, Shira. Terima kasih untuk sarannya." Naoki tersenyum.
"Beritahulah adikmu soal ini, dia juga membutuhkan Saint Observetion."
"Tentu saja."
"Mmmmmmm.... Hmmmmmmmmm...." Selvia mulai terbangun dari tidurnya yang sangat lama. Ia sadar bahwa ia berada di punggung Shira. "Papa...?"
"Ohh, Selvia. Kamu sudah bangun?" Shira melirik kepada Selvia dengan senyuman.
"Hmmmmmm!" Selvia mengangguk dengan senyuman di wajahnya. Selvia melirik kepada Naoki yang memiliki wajah seram. "Wahhhh!" Selvia memegang erat baju Shira.
"Kenapa, nak?" Tanya Shira.
"S-Seram..." Selvia menunjuk Naoki.
Shira melirik kepada Naoki yang terlihat seperti biasa saja, yah... Naoki memiliki wajah yang seram karena ia ini kuat dan memiliki tubuh yang sangar. "Ohh, Naoki ini tidak seram kok, dia baik hati."
Naoki tersenyum. "Iya. Kamu jangan takut olehku, Selvia!"
Naoki mulai berbisik kepada Shira untuk menanyakan suatu hal. "Kemana tanduknya...?"
"Dia hanya punya satu tanduk dan sekarang itu tidak terlihat karena sebuah pita menghalanginya untuk berjaga-jaga agar identitasnya sebagai iblis tidak diketahui." Jawab Shira dengan sangat serius.
"Begitu ya..." Naoki terkejut.
Shira dan Naoki tiba di depan Guild Hall, Shira merasa bahwa energi sihir Homura dan yang lain sedang berada di dalam. "Ayo." Shira dan Naoki menghampiri pintu besar itu.
"Tujuan kita kesini untuk apa?"
"Kita mencari sebuah Supporter dan Tanker untuk bertarung di dungeon, Naoki. Kita membutuhkan dua member lagi." Shira membuka pintu itu dengan wajah yang serius.
***
Disuatu tempat Alvian berada, ia muncul di atas lantai dengan wajah yang terluka. "Saint Observetion. Itu cukup menakjubkan..." Alvian melirik kepada adiknya dengan wajah yang serius.
"Ohh, yang kau maksud itu adalah Shiratori Alvin, ya?" Ucap adik Alvian yang bernama Rivin, ia mengenal Shira karena ialah Legenda Dewa yang telah mereinkarnasi Shira menjadi seorang Legenda di Yuusuatouri.
"Dia cukup kuat juga loh."
"Yah... Dia udah pernah melakukan seks sama Homura, jadi pantaslah dia memiliki kekuatan campuran dewa dan saint..." Rivin tersenyum.
"HAH!? DIA MENYETUBUHI HOMURA!? Apa Ayah marah soal itu!?" Tanya Alvian dengan sangat kaget dan tidak percaya bahwa anak dari Mortem telah bersetubuh dengan Legenda biasa.
"Dia sudah tau kok, bahkan... Kakak Mortem juga malah senang soal itu."
"Dia ini gila. Dia ingin sebuah cucu jadi, Yahhhh... Lihatlah sekarang Homura, dasar gadis gila... Udah gila goblok lagi. "
Rivin tersenyum, lalu ia menunjuk Mortem yang berada di belakang Alvian sedang tersenyum seperti ingin membunuh Alvian. "Kamu kenapa, Rivin?" Tanya Alvian.
Alvian langsung terkejut bahwa ia merasakan energi sihir milik Mortem di belakangnya.
Mortem memegang bahu kanan Alvian, hingga Alvian langsung terkejut dan seluruh tubuhnya bergetar. "Ahhhhhh!!!"
"Kau bilang apa tadi, Alvian? Goblok ya...?" Mortem tersenyum.
"Maafkan--"
***
Di dalam guild hall, Shira melihat banyak sekali legenda yang ingin sekali masuk ke dalam sebuah guild. Percuma jika mereka ingin masuk guild milik Shira, Shira ingin mencari member baru yang sangat layak.
"Shira, aku akan mencari di pintu barat." Naoki jalan menghampiri pintu barat. Shira mengangguk. "Hati-hati."
BAMMMM...
Tiba-tiba Shira merasakan sebuah api di dalam hatinya. Itu seperti bahwa hatinya telah terbakar. "Ahhh... Perasaan... Apa ini?" Kedua mata Shira tiba-tiba berubah menjadi emas hitam.
Selvia menyadari kedua mata Shira dan bahkan api yang gejolak di hati miliknya. "P-Papa...?"
Shira tiba-tiba berjalan ke arah yang tidak ia inginkan selagi mengabaikan perkataan Selvia. Ia merasa tidak enak karena api yang menyala di dalam hatinya. "Seluruh tubuhku... Berat..."
__ADS_1
"Papa..." Selvia tiba-tiba menghilang karena kedua mata Shira yang berada sinar. Ia merasa ada sesuatu yang akan menyerangnya. Shira tidak menyadari soal Selvia menghilang, tenang... Dia menghilang kembali ke rumahnya.
Beberapa saat, Shira terus berjalan, hingga ia berhenti di depan seorang gadis berambut pirang yang terlihat seperti Korrina yang sedang tertidur. Shira menyadari gadis itu dan ternyata gadis itu adalah anak ke dua dari Alvin dan Korrina. "Korin Ghifari...?"
Korin membuka kedua matanya, lalu ia melirik kepada Shira dengan wajah lelahnya. "Hmm? Siapa kau...?"
"Kamu tidak mengenalku ya? Aku Shiratori Alvin, seorang Saint Legenda yang masih dilatih oleh Virra Ghifari." Ucap Shira dengan sangat serius.
Korin langsung kaget mendengarnya. "J-Jangan!? Kau Shira yang Virra selalu ceritakan ya!? Ohhh... Ternyata itu kau." Korin tersenyum melihat Shira dengan kedua matanya.
"Duduklah."
"Terima kasih." Shira duduk di depan Korin. "Korin, kenapa aku tiba-tiba berjalan ke sini karena sebuah api yang mirip dengan Homura di dalam hatiku?"
"Ohh... Itu bukan api Homura kok. Itu adalah api yang kau miliki di hatimu." Korin tersenyum.
"Apakah itu semacam sihir buff?"
"Bukan-bukan... Itu artinya kau sedang dekat bersama Homura. Homura memanggilmu dengan api itu." Korin terkekeh. Shira langsung terkejut mendengar itu, api yang berada di hatinya ternyata hanya sebuah panggilan dari Homura.
"Homura!? Aku tidak melihatnya loh..."
"Dia sedang berada dekat dengan kita. Homura sedang melakukan latihan di dalam ilusiku yang kubuat, dan sebentar lagi dia akan keluar."
"B-Begitu ya--- I-ILUSI!?" Shira terkejut mendengar itu bahwa dunia ini juga memiliki sebuah Ilusi.
"Iya."
"Bisakah kau melatihku dalam hal ilusi!?" Tanya Shira dengan bersemangat.
"Tidak bisa. Kau hanyalah Saint Light... Bukan, Saint Illusion." Ucap Korin dengan sangat serius. Masih terdapat banyak saint legenda yang hidup di dunia Yuusuatouri.
"Sial..." Jawab Shira dengan sangat kecewa. Ia ingin sekali memiliki sihir ilusi agar ia bisa melawan musuhnya lebih mudah.
"Ngomong-ngomong, Kak Mortem pernah memberitahuku bahwa aku harus menjelaskan tentang dunia luar Yuusuatouri. Apa kau tau, Shira?"
"Aku tahu semuanya... Dewa Alvin membuat seluruh semesta ini dengan kekuatannya yang maha Dewa dari segala. Ia membuat 3 semesta, Xuusuatouri, Yuusuatouri, dan Zuusuatouri. Atau bisa kita sebut ketiga dunia itu adalah Touri." Ucap Shira dengan sangat mengetahui soal itu, ia sering sekali membaca buku jadi ia mengetahui semuanya.
"Kau benar..." Korin mengangguk.
Tiba-tiba suara api mulai terdengar di telinga kiri Shira. Suara api itu lama-lama mulai membesar dan bahkan memperlihatkan wujudnya, api itu muncul dan mulai membesar hingga itu berubah menjadi Homura.
Shira merasa terkejut bahwa ia melihat Homura dekat dengannya. "Ahh?!"
"Dia sedang berada di dalam ilusi milikku, Shira." Korin tersenyum.
"Ilusi?! Kau apakan Homura?" Tanya Shira dengan sangat serius.
"Ugghh... Uhhh..." Homura tiba-tiba mulai menangis, sepertinya hal yang ia lihat di dalam sana pasti menyedihkan dan menyakitkan. Kedua lengannya bergetar dengan sangat cepat seperti terlihat histeris.
"Homura!!! Sadarkan dirimu!!!" Shira menggerakan kedua bahu Homura dengan sangat cepat, tetapi Homura masih terus meneteskan air mata yang banyak. Shira mulai panik dan ia terus menggerakan kedua bahunya.
"Kau tidak akan bisa merusak sihir ilusi itu! Hanya akulah yang bisa." Ucap Korin dengan sangat serius.
Shira melirik kepada Korin dengan tatapan yang serius dan sedikit marah. "Bangunkan dia!!! Sekarang juga...!!!"
"Tidak bisa. Ini semua adalah permintaan dia yang telah mencariku ke sini... Ia ingin sekali mencari kebenaran dalam dunia Eternal." Korin menyilangkan kedua lengannya dengan sangat serius.
"Dunia Eternal...?" Shira melirik kepada Homura yang terlihat sangat kaku.
"Apakah aku bisa melihat apa yang sedang ia alami?" Tanya Shira.
"Ya... Remaslah kedua payudaranya." Korin tersenyum dengan sangat jahat, ia mencoba untuk bercanda dengan Shira.
"Dengan senang hati--- Tunggu apa!?" Shira menoleh kepada Korin dengan wajah yang sangat kaget dan merah.
***
Disuatu tempat, dimana Homura sedang berada di tempat yang ia sangat inginkan, ilusi yang Korin kirim kepada Homura itu sangat kuat. Ia bisa melihat seluruh dunia gelap dan semesta gelap dengan penglihatnya saat ini.
Tempat Homura berada sangat sepi, ia hanya bisa melihat sebuah rumput berwarna hitam dan putih. Semua yang ia lihat itu adalah hitam dan putih.
Rumput hitam dan putih dengan sebuah perang kematian dan kesakitan di depan kedua mata Homura.
==========Homura's POV==========
Homura berada di dunia itu dengan seluruh tubuhnya yang terlihat seperti anak kecil. Karena ilusi yang ia alami adalah masa-masa dimana ia pernah mengalaminya.
Dunia apa yang sedang aku lihat dengan kedua mata ini... Ya tentu, ini adalah dunia Eternal, dunia warisan Ghifari yang memiliki darah Eternal... Apa itu Eternal? Eternal itu seperti dua sikap yang berbeda... Satu baik yaitu diriku dan satu jahat atau bisaku sebut tidak memiliki sifat dan sikap... Itu adalah Homura Blaze (Homuze). Homuze adalah ras Eternal diriku
Dengan kedua mataku ini... Aku bisa melihat Homuze dan bahkan sosok pria dengan rantai-rantai diseluruh tubuhnya sedang bertarung bersama membasmi seluruh ras tanpa memberi mereka ampunan.
"AGGGGGGHHHHHHHHHHH!!!" Seluruh ras yang kulihat terbelit hancur oleh rantai-rantai abadi berwarna emas. Wajah dan tubuh Homuze dan pria itu dipenuhi dengan darah yang sangat banyak, mereka tidak merasakan kesakitan karena... Kesakitan hanya akan membuat mereka lebih kuat...
__ADS_1
Mereka memiliki kesempatan tinggi yaitu ketika mereka mati... Mereka memiliki 80% mempunyai kehidupan kedua yaitu ras Astral. Ras dimana ketika seorang ras mati, mereka memiliki kesempatan untuk hidup kembali menjadi ras Astral.
Seluruh legenda yang terbelit itu mulai perlahan terserap oleh kekuatan api Homuze dan mereka mulai berubah menjadi tengkorak yang tidak memiliki nyawa apapun.
Homuze menatap wajahku dengan wajah penuh dengan kebencian. "HAHAHAHA... LIHATLAH, DIRIKU YANG BAIK HATI!!! Seorang ras Eternal bisa melakukan apapun kepada semua ras yang tidak berguna ini.
"BUNUHLAH MEREKA... MEREKA SEMUA ITU TIDAK BERGUNA JIKA MEREKA TIDAK HORMAT KEPADAMU DAN DIRIKU."
"Aku tidak mau...! Itu sama saja bertindak seperti legenda jahat!" Jawabku dengan meneteskan air mataku, aku menangis dengan sangat kencang melihat wajah Homuze yang sangat seram. Aku tidak mau membunuh seseorang karena dia tidak hormat kepadaku, Homuze adalah sisi jahatku dan dia bisa saja mengambil alih tubuhku kapan saja.
Homuze melepaskan tengkorak itu dengan wajah yang kesal. Ia langsung menghampiriku dengan wajah yang seram dan marah. Dia berlutut didepanku, lalu mulai mengusap rambutku dan air mataku. "Perbuatan ini sebenarnya perbuatan yang baik, diriku... Hanya saja kau melakukannya seperti orang jahat... Membunuh dan menyiksa mereka..."
"Jika kau tidak menjadi seperti diriku ini, semua legenda yang membenci keluarga Ghifari akan memburu kita semua... Dan apa yang terjadi jika kau lemah?" Homuze tersenyum, ia sedang mencoba menenangkanku dan menasehatiku.
"Hmm...?"
Homuze menunjuk tengkorak-tengkorak itu dengan wajah yang sangat marah. "Kau akan berakhir seperti mereka!!! Kesakitan karena kelemahan... DAN TIDAK BERDAYA DALAM PERTARUNGAN!!!"
Aku memeluk kaki kanan Homuze dengan sangat ketakutan. Kedua lenganku bergetar. "Takut..."
Homuze mengusap rambutku dengan senyuman yang indah. "Jangan takut... Kau adalah dewi, calon dari pengguna elemen api yang terkuat... Kau harus menjadi lebih kuat untuk mengalahkan musuhmu... Gunakanlah aku sebanyak mungkin, aku akan membantumu, Homura" Ucap Homuze.
SWOOOOOOOOSSSHHHHH!!!
Aku terbawa pergi oleh angin ilusi untuk melihat masa-masaku yang akan datang kesana... atau bisaku sebut dengan masa yang sangat aku ingin seumur hidup.
Aku mendarat di atas tanah yang berwarna hitam putih itu. Aku merasakan angin sepoi-sepoi yang sangat kuat bagaikan seperti usapan oleh Mama dan kedua anak-anakku.
Tiba-tiba sosok bayangan besar muncul dan aku melihatnya dengan kedua mataku. "Hah...?"
Perlahan-lahan Selvia muncul di atas sosok bayangan itu dengan kondisi tertusuk oleh panah bayangan yang sangat besar. Aku merasa sangat terkejut melihatnya "S-SELVIA!? SELVIAAAAA!!!"
BAAAMMMM!!!
Homura bisa melihat simbol yang menunjukan nama Demon Bloodes di dahi Selvia. "Aku... Adalah... Pembasmi... Peperangan..."
=== =======Normal's Pov===========
Kedua mata Homura kembali menjadi semula. "AHHHH!!!" Homura mulai sadar kembali.
"Homura?! Apa yang terjadi dengan Selvia!?" Tanya Shira yang juga melihat Selvia tertusuk oleh panah bayangan itu. "Dan apa itu Demon Bloodes!?" Homura melirik kepada Shira dengan wajah yang ketakutan.
"Shira..." Homura meneteskan air matanya, ia langsung mencoba untuk menenangkan pikirannya. "Sepertinya latihan Homura gagal..." Korin bangkit dari kursi dengan wajah yang kecewa dan tidak percaya bahwa Homura bisa memiliki ilusinya sendiri.
Shira melirik kepada Korin dengan wajah yang kesal. "Woi! Ini bukan latihan!!! Apakah tadi itu sebuah tanda-tanda masa depan!? Dan ras apa mereka ini...!? Mereka terlihat seperti tidak memiliki hati."
"Mungkin saja..."
"Lakukan sesuatu!!!" Shira mencoba untuk memegang bahu kanan Korin, tetapi dia langsung menghilang seperti bayangan yang terkena matahari.
"Sial... Dia melarikan diri!!!"
"Shira... Shira... Shira..." Ucap Homura dengan wajah histeris dan ketakutan. Ia rasa bahwa Selvia akan mati sesuatu saat. Homura mulai trauma melihatnya.
"Sadarkan dirimu! Homura!" Shira memegang kedua bahu Homura dengan wajah yang serius. Homura menatap wajah Shira. "Dimana...? Dimana Selvia?"
"Selvia...?!" Shira langsung terkejut mendengar nama itu, ia sadar bahwa Selvia telah menghilang di punggungnya. "Astaga!!!"
***
Selvia's POV
Aku muncul di kota Legenia berencana untuk berjalan pulang ke rumahku untuk bertemu kakak yang sangat aku cintai. Aku meninggalkan Papa sendirian karena aku tahu bahwa dia memiliki masalah sendiri, jadi aku tidak mau mengganggunya.
TUDDD!!!
Tiba-tiba seorang Legenda besar menabrakku hingga aku terjatuh, bukan hanya aku yang terjatuh tetapi pita di rambutku terjatuh dan memperlihatkan tanduk kananku.
Legenda itu langsung sangat terkejut melihat tandukku, ia melihatkan wajah seram dan marahnya kepadaku. "KENAPA BARANG MENJIJIKAN SEPERTIMU BERADA DI KOTA LEGENIA INI, IBLISSS!?" Legenda itu memegang tandukku dengan sangat kasar hingga aku merasakan kesakitan.
"Awww...! B-Barang...?" Jawabku dengan kesakitan karena dia menarik tandukku.
Semua Legenda yang berada di sekitarku dan legenda yang menarik tandukku melihat ke arah sini dengan wajah mereka yang seperti melihat sebuah sampah yang sangat jelek. "Wahhh... Berani sekali..."
"Seorang iblis nekad juga kesini."
Semua legenda mulai mengejekku dan melempariku tomat-tomat yang baru mereka beli. Semua itu mengenai tubuh dan wajahku. Itu membuat hatiku terasa tidak enak, dan merasa bersedih. "... ..."
__ADS_1