
SWOOOOOOSSSHHHH!!!
Gelombang sacred milik Korrina mulai mengenai daratan dan gelombang sacred itu perlahan-lahan menipis hingga menuju Korrina bersama Methode yang sedang dalam kondisi pingsan. Mereka telah tiba di Planet Legendarius dalam waktu 1 detik. "... ..." Korrina berdiri tepat di depan rumah Shira.
Korrina menghampiri rumah itu dengan ekspresi yang terlihat tenang dan biasa saja seperti tidak ada sesuatu hal yang terjadi. Ia mulai berhenti di depan pintu rumah Shira lalu ia mengutuk pintu rumahnya. "Permisi..." Ucap Korrina.
Ketika Korrina mengetuk-ngetuk pintu rumah Shira, seorang laki-laki yang memiliki raut wajah kesal mulai membuka pintu itu lalu ia menatap wajah Korrina dengan rautan wajah kesalnya.
Seketika laki-laki itu menatap wajah Korrina, ia melihat senyumannya yang terlihat cukup menakutkan baginya karena laki-laki itu bisa merasakan aura-aura pembunuh di dalam dirinya. "Ahh~ Shou, apakah kau ingin menyambut nenek dengan perkataan yang sopan~?" Tanya Korrina dengan sebuah senyuman di wajahnya. Dan bahkan laki-laki itu tidak melihat Methode sedang berada di kedua lengan Korrina.
Laki-laki yang membuka pintu tadi adalah Shiratori Shou, ia secara reflek langsung menundukkan kepalanya kepada Korrina karena perkataan yang ia ucapkan. "S... Selamat datang... N... Nenek Korrina...!" Ucap Shou dengan nada yang tadinya terdengar kesal sekarang ketakutan.
"Apakah Shira dan Homura ada di rumah?" Tanya Korrina.
"A... A... Ada...!" Jawab Shou, ia mulai berkeringat dingin. Ia mulai memberi jalan masuk untuk Korrina, layaknya Shou seperti seorang bawahan milik Korrina dan Korrina menganggapnya seperti seorang anjing yang butuh elusan di kepalanya. "Anak pintar." Korrina mengelus kepalanya lalu ia berjalan masuk ke dalam rumah Shira.
Shou langsung menunjukkan ekspresi yang terlihat biasa dan ia langsung sadar bahwa dirinya sedang menundukkan kepalanya ke depan dan tidak ada siapapun di depannya. "Aku... Dari tadi ngapain...!?" Tanya Shou hingga ia langsung mengangkat kepalanya.
Korrina melihat Shira dan Homura sedang berada di dalam ruangan tamu, mereka berdua terlihat seperti membicarakan tentang sesuatu hal. "Permisi, Shira, Homura." Korrina mulai memanggil mereka berdua hingga mereka langsung melirik kepada Korrina.
"Loh? Nenek? Ada apa?" Tanya Homura. Shira langsung bangkit dari atas sofa dan ia mulai menundukkan kepalanya kepada Korrna. "Jangan terbiasa dengan menyembutku seperti itu, Shira." Ucap Korrina.
Korrina langsung memunculkan keberadaan Methode di depan mereka berdua, Methode tadinya sedang berada di dalam sihir Omni-Vision jadi yang hanya bisa melihat Methode adalah Korrina saja.
Ketika Methode menampakkan dirinya, Homura dan Shira langsung membulatkan kedua matanya karena ia melihat Methode sedang berada dikondisi yang terluka, banyak sekali lukas tebasan dan bahkan bekas batu dari panah-panah yang menusuk tubuhnya.
"Methode?!" Homura menghampiri Methode lalu ia mulai mencoba untuk menyembuhkannya dengan seluruh sihir penyembuhan yang ia miliki, seketika Homura mencoba untuk meraba dahi Methode, ia langsung terkena sengatan aura yang sangat menyengat bagi kulit-kulitnya. "Aghh!!!" Homura langsung memegang telapak tangan kanannya yang baru saja terkena sengatan.
"Apa...?" Shira tiba-tiba melihat semua luka-luka Methode mulai terhalangi oleh api-api sacred. "Api... Sacred...? Bukannya api-api itu sihir milikmu, Korrina?" Tanya Shira dengan rautan wajah yang terlihat serius.
"Iya... Luka Methode saat ini tidak bisa disembuhkan dengan sihir penyembuhan apapun bahkan sihir penyembuhan yang berkaitan dengan maha segalanya... Omni-Healing!" Korrina mencoba untuk menyembuhkan luka-lukanya menggunakan Omni-Healing, ketika ia melakukannya api-api Methode mulai membesar dan memanas ruangan.
Dengan cepat Korrina langsung menciptakan sebuah barrier di sekitar tubuh Methode agar api sacred itu tidak membakar seisi rumah milik Shira. "Penyakitkan hanya bisa disembuhkan oleh sihir warisan Comi.", Ucap Korrina yang perlahan-lahan mencabut sehelai rambutnya.
"Apa maksudmu, Korrina?" Tanya Shira.
"Methode bisa saja berpotensi menjadi generasi baru dari keluarga Comi karena darah campuran antara darah Shiratori, Ghifari, dan Comi... Methode lebih dominan memiliki darah Comi." Ucap Korrina.
"Dia bisa saja mencalonkan dirinya menjadi Dewi api sacred."
Homura dan Shira langsung terkejut ketika mendengar perkataan itu karena Methode memiliki potensi keluarga Comi dan keluarga Comi itu memiliki sihir yang sangat rumit dan kuat karena ilusi mereka yang tidak terkalahkan. Bahkan Methode juga memiliki sihir api sacred, sihir api yang sangat sempurna. Tetapi cara untuk mahir dalam menggunakan sihir api sacred itu akan sulit bagi Methode yang bermarga Shiratori.
Korrina membuka barrier itu seperti membuat lubang di depannya lalu ia memasukkan tangan kanannya ke dalam barrier itu. "Makan ini... Methode..." Korrina mulai memasuki helai rambutnya ke dalam mulut Methode, ia langsung mengunyah rambut itu yang tiba-tiba meleleh di dalam mulutnya seperti permen gulali.
__ADS_1
JWWOOOOOSSSSHHHHHH!!!
Methode langsung bersinar cerah hingga perlahan-lahan seluruh luka-nya mulai sembuh bahkan Lenergy-nya yang habis langsung kembali menjadi penuh. Shira dan Homura menatap barrier itu hingga Methode langsung menghancurkan barrier milik Korrina hingga menjadi partikel-partikel biru.
Methode langsung menatap kedua telapak tangannya, ia bisa merasakan kembali tubuh yang terasa ringan. "Tubuh ini..." Methode langsung mencoba untuk mengepalkan kedua telapak tangannya hingga ia mengeluarkan api-api kecil dan sedikit dari api itu memiliki warna biru muda.
Methode mulai teringat tentang Legenia yang sedang dalam bahaya. "Legenia!!! Legenia sedang dalam masalah!!!" Ucap Methode hingga mencoba untuk melakukan sihir teleportasi menuju planet itu, tetapi ia tidak bisa merasakan keberadaan planet tersebut. "Loh...?"
"Legenia sudah hancur oleh seorang Saint yang bernama Shimatsu Arata." Ucap Korrina, berita itu membuat Shira dan Homura terkejut, tetapi Methode memiliki eksperesi lebih terkejut lagi karena planet yang ia selalu lindungi telah hancur oleh seorang Saint yang menyelamatkannya dari sihir pencuci otak. "Ti-Tidak mungkin..."
"Kenapa Saint itu menghancurkan planet Legenia?" Tanya Shira.
"Sejak insiden dewa oath itu, kehancuran Yuusuatouri mampu menghabiskan semua kehidupan yang ada di dalam semesta itu. Alvin mampu memiliki hati untuk bisa mengembalikan semesta Yuusuatouri kembali dengan resiko semua kehidupan yang pernah mati di Yuusuatouri akan bangkit kembali juga... Termasuk Rionald, sesosok raja yang pernah Shiro kalahkan!" Ucap Korrina.
"Keseimbangan adalah kuncinya ya...?" Tanya Shira, Korrina langsung mengangguk karena jika Alvin menciptakan kembali Yuusuatouri menjadi semesta yang baru maka ia tidak bisa tanpa harus menghidupkan kehidupan yang sudah mati, jika ia melakukannya secara paksa maka Yuusuatouri yang baru tidak akan memiliki penghuninya dan secara otomatis Alvin harus menciptakan ras baru.
"Tunggu... Kenapa...? Kenapa Saint yang bernama Arata itu menghancurkan planet Legenia?" Tanya Methode dengan ekspresi yang terlihat serius.
"Untuk apa kau mempertahankan planet yang sudah dipenuhi dengan sampah, Methode? Semua Legenda yang tidak berdosa sudah mati karena pasukan Rionald, jadi Arata tidak memiliki pilihan lain selain menghabisi semua pasukan Rionald termasuk Rionald sendiri, ia juga membunuh mereka semua sendirian."
"Dia mengalahkan Rionald sendirian!?" mereka bertiga langsung membulatkan mata mereka karena sepertinya Saint yang bernama Arata ini memiliki kekuatan yang cukup kuat hingga mampu mengalahkan Rionald sendirian. Shou diam-diam menguping pembicaraan mereka dari belakang Korrina. "Arata...?" Ucap batin Shou.
"Korrina, apakah kau tahu Saint tipe apa Arata ini hingga ia bisa mengalahkan Rio---"
"Ahh...! Ah iya, dia waktu itu kuat karena ia mencuri semua jantung elemental saints, aku mengerti sekarang..." Ucap Homura yang tiba-tiba teringat kembali tentang kekuatan Rionald.
"Walaupun dia lemah... Aku ingin tahu Saint tipe apa dia hingga ia bisa sampai menghancurkan planet Legenia dan juga membantai habis semua pasukan super elite yang ada di planet Legenia." Ucap Shira, eksperesinya terlihat sangat penasaran terhadap kekuatan Saint milik Arata.
"Aku melihat dengan kedua mataku sendiri... Arata mampu meniru sihir dengan aura yang ia miliki, bahkan ia memiliki pedang yang terlihat aneh." Ucap Methode. Korrina langsung memegang dagunya. "Saint tipe Arata adalah Saint Zero... Shimatsu Arata adalah seorang Legenda yang memiliki kekuatan Saint Tracer."
"Saint Tracer?" Mereka semua mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat kebingungan. "Tracer... Itu artinya menirukah...?" Tanya Homura.
"Ya, Saint Tracer mampu meniru sihir, peralatan, senjata, dan bahkan kekuatan. Tetapi sihir yang memiliki level setara dengan dewa, bisa saja sirkuit sihir Arata akan hancur atau tubuhnya akan bergetar penuh dengan kesakitan." Ucap Korrina.
"Apakah dia bisa meniru Vanish?" Tanya Shira.
"Tentu saja tidak bisa, sihir Vanish adalah sihir yang cocok hanya untuk para dewa dan dewi maha kuasa." Jawab Korrina.
"Tapi... Arata tidak hanya mengandalkan sihir Saint-nya, tetapi ia memiliki senjata yang dijuluki sebagai pedang tujuh dosa besar." Ucap Korrina hingga kedua matanya langsung bersinar dan mulai menunjukkan replika dari pedang tujuh dosa besar itu.
"Arata sepertinya memiliki takdir dalam menggunakan pedang tujuh dosa besar itu... Ia bahkan memiliki semuanya mulai dari Gluttony, Lust, Envy, Wrath, Greed, Pride, dan Sloth"
"Setiap pedang memiliki kemampuannya masing-masing seperti Sword of Gluttony atau bisa disebut dengan nama pedang kerakusan memiliki kemampuan untuk menyerap kekuatan seseorang hingga membuat pedang kerakusan menjadi lebih kuat lagi."
__ADS_1
"Sword of Greed atau bisa disebut dengan pedang keserakahan memiliki kemampuan untuk mengambil kekuatan musuh dan menjadikan kekuatan musuh itu kepada penggunanya."
"Sword of Lust atau bisa disebut dengan pedang hawa nafsu memiliki kemampuan dalam memberikan ilusi mimpi ketika tertebas oleh pedang ini, mimpi yang akan dialami adalah mimpi memperkosa seseorang bahkan ketika mereka bangun... Hawa nafsu mereka akan meningkat dan yang hanya mereka pedulikan adalah melakukan hubungan intim." Korrina mengejamkan kedua matanya karena pedang itu sangat berbahaya bagi seseorang.
"Uhhh... Aneh! Pedang apa itu!?" Tanya Shira dengan rautan wajah yang terlihat sangat kesal karena jijik. "Sword of Envy atau bisa disebut dengan nama pedang iri hati memiliki kemampuan meniru bentuk senjata musuh dan kekuatannya akan dua kali lipat lebih besar, bahkan pedang iri hati ini berpotensi untuk memanggil monster yang bernama Leviathan."
"Sword of Wrath atau bisa disebut dengan nama pedang kemarahan memiliki kemampuan dalam membakar musuh dengan cepat hingga hanya menyisakan tulang-tulang mereka, pedang ini akan semakin bertambah kuat jika si pengguna menggunakan wujud perubahan."
"Sword of pride, bisa disebut dengan pedang kesombongan memiliki kemampuan yang mampu membuat pedang ini semakin kuat ketika musuh meremehkan penggunanya." Ucap Korrina. Mereka bertiga dan Shou mulai mengangguk hingga Shou mencatat semua perkataan yang Korrina jelaskan.
"Pedang tujuh dosa besar... Cukup hebat dan menarik..." Ucap batin Shou.
"Ada efek yang sangat berbahaya... Jika pedang tujuh dosa besar itu digunakan secara bersamaan maka kekuatan dari ketujuh dosa besar itu memiliki potensi dalam menghancurkan semesta Touri dan bahkan mampu membelah dimensi dunia sebelah... Dunia parrarel yang disebut dengan nama Dunia Asli."
Shira langsung terkejut mendengar itu. "Dunia tempatku berasal...?" Tanya Shira, Korrina langsung mengangguk. "H... Hebat..."
"Jangan-jangan kau ingin kembali ke tempat asalmu...?" Tanya Homura dengan rautan wajah yang terlihat khawatir, ia tidak mau Shira kembali ke dunia asalnya. "Tentu saja tidak... Takdir sudah memilihku untuk tetap disini dan untuk selalu melindungi Yuusuatouri... Bahkan Touri!"
Homura mengangguk dengan sebuah senyuman di wajahnya. "Mulai sekarang juga, Methode." Korrina mulai menepuk rambutnya lalu ia menatap wajah Shira dan Homura. "Bolehkah aku meminjam Methode untuk beberapa minggu?" Tanya Korrina.
"Loh? Untuk apa?" Tanya Shira.
Kedua mata Korrina bersinar hingga baju dan celana Methode yang sudah robek langsung berubah menjadi kimono berwarna biru muda dan terdapat sebuah simbol di punggungnya yaitu CG yang mengartikan Comi Ghifari. "Aku ingin melatih Methode hingga ia benar benar bisa menggunakan sihir api sacred sampai mencapai potensi penuh!"
"Ehh!? MELATIH METHODE!?" Teriak mereka bersamaan hingga mampu membuat Shou terkejut juga. "EHH!? BERLATIH DENGAN SEORANG DEWI!?"
"Ehh...? Aku? Dilatih oleh Nenek?" Methode menunjuk Korrina lalu ia mulai mengangguk. "Tentu saja, aku akan melatihmu cara menggunakan sihir api Sacred dengan benar!"
"Ehhhhhh!?" Methode langsung membuka mulutnya selebar mungkin. "B-Baiklah... Pa-Padahal aku tidak membutuhkan latihan dirimu, nenek Korrina... Tapi karena kamu menawarinya, aku akan menerimanya!!!"
"Baiklah!" Korrina mengangguk. Methode melirik kepada Shira dam Homura. "Mama! Papa! Aku pergi berlatih bersama nenek Korrina ya~"
Homura terasa sangat terharu bahwa anak pertamanya akan bisa dilatih oleh seorang dewi yang sangat kuat. "Ya... Hati-hati...!" Homura dan Shira menghampiri Methode lalu ia mencium dahinya, Shira dan Homura juga tidak lupa untuk memeluk Methode. "Berlatih dengan benar, Methode! Jangan sia-siakan waktu berlatihmu bersama, Korrina!" Ucap Shira.
"Papa... Mama... Aku bukan anak kecil lagi loh... Tenang saja, aku pasti akan berlatih dengan serius!"
"Hmm!"
"Sampai jumpa lagi semuanya!" Ucap Methode. Shira dan Homura mengangguk, seluruh tubuh Korrina dan Methode mulai dilindungi oleh gelombang sacred, gelombang itu langsung terbang ke atas langit dan menembus atap rumah Shira. Untungnya gelombang itu tidak menghancurkan apapun karena Korrina mampu mengontrolnya dengan sempurna.
"Berlatihlah hingga kamu bisa menjadi dewi yang kuat... Methode..." Homura tersenyum.
__ADS_1