Yuusuatouri: The Beginning of a Legend

Yuusuatouri: The Beginning of a Legend
Chapter 88 - The God of Oath (III)


__ADS_3

°PART 3°


~15 Tahun Kemudian~


Shira's POV


Takdir... Takdir adalah suatu hal yang harus terjalani, disetiap hal yang kita alami pasti ada saja yang namanya Takdir. Takdir pasti akan terjadi dan terlaksanakan... Kita tidak bisa mengubah takdir dengan cara yang baik melainkan dengan cara yang paksa... Cara yang paksa mampu membawa kita ke takdir baru... Maupun itu baik dan buruk.


15 tahun lamanya telah terlewati, dan 15 tahun yang lalu adalah kehancuran dahsyat hingga mampu membuat semesta dimana para bangsa Legenda tinggal hancur. Kehancuran itu dibuat oleh Dewa yang berjulukan sebagai Dewa Oath, dia bernama Zoiru. Dia ini berdarah dingin, sadis, tidak memberikan siapapun sedikit ampunan, dan ia tidak memiliki keseganan apapun dalam melakukan kehancuran. Dia berbahaya, sangat-sangat berbahaya bagi semua penghuni Touri.


Pertarungan terhebat diantara kedua dewa yang sangat kuat. Pertarungan yang mampu membuat beberapa kehancuran disekitarnya. Pertarungan yang mampu menentukan takdir bagi seluruh semesta termasuk semesta terbesar yaitu Touri.


Pertarungan 15 tahun yang lalu itu memanglah pertarungan yang tidak dapat kami lupakan begitu saja karena kita baru saja kehilangan seorang dewa yang selalu melindungi Touri... Tiada Touri tanpa Dewa yang bernama Alvin Ghifari itu.


Ketika Alvin berhasil mengalahkannya, 15 tahun ini tidak ada ancaman apapun melainkan kedamaian yang telah menyelimuti semesta Touri. Masih ada sedikit kejahatan sih, tetapi tujuan kejahatan itu berbeda dari Zoiru yang mencoba untuk menghancurkan segalanya. Kejahatan itu masih bisa kita atasi dengan mudahnya.


Bangsa Legenda tidak boleh memiliki sikap yang bernama depresi dan tidak boleh mengingat masa lalu. Apapun yang terjadi harus kita lalui karena kita semua harus maju walaupun kita kehilangan seseorang yang kita anggap penting. Kita harus terus maju dan melihat masa depan apa yang akan dimiliki semesta Touri.



Normal's POV


Shira mulai melakukan beberapa push-up dengan menggunakan satu jari yaitu kelingking. Di berlatih di dimensi yang Homura ciptakan dimana dimensi itu hanya terdapat api-api yang sangat panas seperti nereka.


Ia melakukan push-up di atas gunung runcing dengan gravitasi yang 1000x lebih kuat dari Planet Legenia. Alvin telah menciptakan kembali seluruh planet yang ada di Yuusuatouri termasuk planet Legenia. "Hah... Hah... Hah... Tidak ada yang tahu kapan musuh yang lebih kuat dan menakutkan akan datang..."


"Aku harus berlatih dengan sangat giat..." Seluruh keringat yang terdapat diseluruh tubuh Shira mulai berjatuhan. Ia merasa sangat kelelahan karena ia telah berlatih selama 1 minggu penuh.


Beberapa jam kemudian, Shira telah memutuskan untuk beristirahat, ia sekarang sedang berada di dalam rumahnya. Ia mulai membuka kulkasnya lalu ia mengambil kaleng yang berisi jus wortel yang masih baru. "Hahhhh..." Shira membuka kaleng itu lalu ia meminum jus tersebut sampai habis.


"Gleg... Gleg... Gleg..."


Homura melirik kepada Shira yang baru saja beres berlatih. "Bagaimana? Apakah kau sudah selesai?" Tanya Homura selagi menunjukkan sebuah senyuman kecil.


"Ya..." Shira mengangguk lalu ia melempar kaleng bekas itu ke dalam tempat sampah. Ia mulai mengusap seluruh keringat yang terdapat diwajahnya menggunakan handuk yang ia pegang di tangan kirinya. "Sepertinya aku akan beristirahat beberapa hari..."


"Itu bagus... Istirahat juga penting bagi tubuhmu."


"Ngomong-ngomong... Dimana Shou?" Tanya Shira.


Homura langsung terkekeh dan ia mulai membuka sebuah portal kecil dimana menunjukkan seorang laki-laki remaja yang bernama Shou sedang berlatih berpedang di dimensi Homura juga. Ia berlatih pedang dengan sangat giat sekali hingga seluruh tubuhnya dipenuhi dengan beban berat agar ia bisa menjadi lebih kuat lagi. "Hebat... Ternyata dia masih berlatih."


"Mungkin karena dirimu, Shira. Kau 'kan yang menceritakan semuanya kepada Shou hingga ia ingin sekali menjadi bangsa Legenda yang lebih kuat dari seorang dewa oath." Homura terkekeh.


Shira's POV


15 tahun lamanya, terdapat beberapa kejadian indah terjadi contohnya seperti Homura yang sudah melahirkan anak laki-laki sejak 15 tahun yang lalu dan saat ini dia sudah berumur 15 tahun. Aku senang bahwa marga Shiratori sekarang memiliki generasi baru yaitu anak putra kami yang bernama Shiratori Shou.


Shiratori Shou adalah seorang Saint Legenda juga, sudah jelas sih karena dia ini adalah anakku. Dia adalah seorang Lunar Eclipse atau bisa disebut dengan nama Saint Gerhana Bulan, kekuatan dan sihirnya masih belum bisa aku ketahui cukup jelas karena aku yakin bahwa Shou pasti masih menyembunyikan potensi yang ia miliki... Ia tidak pernah menunjukkan kekuatan atau sihirnya kepadaku, sikapnya itu kadang ceroboh juga, ia pernah datang ke semesta Zuusuatouri hanya untuk melihat wujud iblis itu seperti apa.


Ngomong-ngomong tentang seorang putra. Rina Ghifari ternyata telah melahirkan seorang putra juga sejak 15 tahun yang lalu, putri itu bernama Kuroshin Ghifari atau bisa dipanggil dengan nama Shin.


Semesta Touri benar-benar terselimuti oleh kedamaian, tapi walaupun semesta ini sudah benar-benar damai, kami bangsa Legenda harus terus berlatih agar kami bisa bersiap jika musuh baru muncul. Shiratori Selvia meminta izin kepadaku tentang dirinya yang akan pergi ke semesta Zuusuatouri demi misi dan pengalaman lebih bertarung bersama iblis.


Di rumah besar ini, dimana keluarga bermarga Shiratori tinggal. Aku, Homura, Methode, Eclipse, Arisu, dan Shou akan selalu menjadi legenda pelindung bagi semesta yang bernama Yuusuatouri ini. Selalu!



Kamitouri


"Hahhhhhh..." Korrina mulai menghela nafasnya selagi duduk di atas kasur yang empuk sekali. Ia sedang menonton televisi selagi mengingat-ngingat tentang suaminya yaitu Alvin. "15 tahun lamanya sudah berlalu..." Korrina melirik ke jendelanya lalu ia mulai menunjukkan eksperesi wajah yang terlihat sangat khawatir.


Rina muncul tepat di sebelah Korrina selagi membawa Korrina beberapa makanan untuknya makan siang. "Mama... Apakah Mama baik-baik saja?" Tanya Rina.


"Hmmm... Mama butuh istirahat... Pikiran Mama selalu saja memikirkan Papa, papa, dan papa terus menerus..." Korrina mulai berbaring di atas kasurnya dan ia mulai mengejamkan kedua matanya karena ia butuh istirahat lebih.


Rina tersenyum lebar lalu ia menghampiri Korrina dan mulai mencium pipinya. "Semoga Mama sehat selalu ya... Jangan terus-menerus depresi karena itu akan membuat Papa sedih juga di alam sana." Rina meletakkan makan siang Korrina di atas meja yang terletak di sebelah rajangnya lalu ia perlahan-lahan berjalan menuju jendela kamar itu dan mulai membuka jendela kamar Korrina.


Rina mulai menatap langit-langit cerah. "Papa... Sudah 15 tahun kau tidak kembali... Apakah Papa benar-benar mati dan meninggalkan kami semua untuk selamanya...?"


"Bukannya Papa ini adalah dewa maha kuasa yang tidak akan bisa mati... Papa ini abadi bukan? Papa ini sama dengan semesta Touri, sama-sama abadi!!!"


"Kembalilah... Papa..." Rina mulai menangis.


...


...


SWOOOOOOOOOOOOOOSSHHH!!!


"Oi... Apakah kau baik-baik saja, pemuda?" Tanya seorang Legenda yang sedang mencoba untuk membangunkan seseorang, ia sedang menatap seseorang yang sedang berbaring di atas ranjangnya. Legenda itu tidak sendirian karena ia sedang bersama istri-nya.


Seseorang yang berbaring diatas ranjang itu adalah Alvin, entah kenapa ia bisa berada ditempat dimana Korrina dan yang lainnya tidak bisa merasakan keberadaan Alvin dengan sangat jelas. "Nrrggghhh..." Alvin perlahan-lahan membuka kedua matanya lalu ia menatap kedua Legenda yang sedang menatap dirinya sendiri dengan tatapan yang khawatir.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya gadis yang sedang menatap wajah Alvin dengan tatapan yang sangat khawatir.


"Huh...?"


...


...


"AHHHH!?" Alvin langsung terkejut ketika ia melihat kedua Legenda itu, ia terjatuh dari atas ranjang lalu ia mundur dan menyenderkan punggungnya di tembok yang terletak dibelakangnya.


Kedua Legenda itu langsung menatap wajah Alvin dengan tatapan yang kebingungan. "Ahhh... Apa 'kah kamu baik-baik saja, Legenda?" Tanya seorang Legenda yang perlahan-lahan menghampirinya.


"Tenanglah... Tenanglah... Tenanglah..." Alvin mulai bernafas dengan sangat berat sekali. Legenda yang menghampirinya langsung mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Alvin berdiri. "Apakah kau baik-baik saja, Legenda? Apakah kau bisa mendengar suaraku? Apakah kepalamu terbentur oleh sesuatu?"


Alvin mengangguk. "Ya... Sepertinya begitu..." Alvin langsung memegang erat tangan kanan Legenda itu dan Legenda tersebut langsung membantunya berdiri. "Aku senang kau bisa bangun dengan kondisi yang pulih, Legenda. Bisakah kau memberitahuku tentang namamu?" Tanya Legenda tersebut.


"... ..."


"Shira..." Alvin tiba-tiba memberikan nama palsu kepada Legenda itu karena sepertinya ada sesuatu hal yang cukup mencurigakan disini. Kenapa Alvin terkejut ketika melihat kedua Legenda itu dan kenapa ia merahasiakan namanya? Dan bagaimana ia bisa berada di tempat dimana Korrina dan yang lainnya tidak bisa mendeteksi sihirnya.


Jika Alvin masih berada di semesta Touri maka Korrina dan yang lainnya akan mudah melacak energi sihir milik Alvin, tetapi sekarang mereka tidak datang untuk menyelamatkan Alvin entah kenapa, mungkin mereka tidak bisa menemukan energi sihir milik Alvin. "Shiratori Shira... Itu adalah namaku..." Ucap Alvin.


"Shiratori Shira ya... Nama yang cukup bagus bagi seorang Legenda." Legenda itu langsung tersenyum lebar.


"Perkenalkan, Shira, namaku adalah Ariyaku Ghifari. Dan gadis yang berdiri disebelahku ini adalah istriku yang bernama Yuriko Ghifari." Jantung Alvin langsung berdetak dengan sangat cepat ketika mendengar kedua nama Legenda tersebut. Ariyaku Ghifari dan Yuriko Ghifari adalah nama dari ibu dan ayah-nya. Kedua orang tua Alvin sudah meninggal beberapa abad yang lalu dan lihatlah siapa yang sedang berada di depan Alvin. Itu sungguh menyakitkan baginya hingga jantungnya terus bergetar.


Alvin mencoba sekuat mungkin untuk tidak menunjukkan wajah yang bereksperesi sedih dan khawatir karena ia seperti sedang berada di masa lalu, bisa jadi. "Sudah kuduga... Mereka adalah Ayah dan Ibuku..." Alvin mencoba sekuat mungkin untuk tidak memeluknya dan memberitahunya bahwa dia ini adalah Alvin, anak kedua dari Yuriko dan Ariyaku yang berasal dari masa depan. Jika Alvin memberitahu mereka berdua tentang dirinya yang sudah menjadi dewa maha kuasa maka mereka pasti akan terkejut dan merasa senang.


Jika Alvin melakukan itu maka sejarah akan berubah dan mungkin efek dari paradoks bisa saja terjadi. Bisa saja Alvin di masa ini tidak akan bisa menjadi dewa karena ia sudah pasti akan terbunuh oleh seorang Legenda yang bernama Argusa Ghifari, atau semua musuh lainnya akan memburu Alvin karena mereka tahu rumor tentang dirinya akan menjadi seorang dewa maha kuasa di masa depan.


"Apa yang terjadi disini...? Kenapa aku bisa berada di masa lalu...? Masa-masa dimana aku masih belum lahir." Alvin mulai menatap perut milik Yuriko dimana perut itu sudah berukuran sangat besar sekali. "Touri's Hope... Sebuah sihir yang aku ciptakan hanya untuk dikondisi darurat mampu menyelamatkanku dan membawaku ke masa saat ini...? Tidak mungkin... Seharusnya harapan yang aku kumpulkan itu berjumlah jutaan atau lebih dari jutaan... Tubuhku dan tubuh Zoiru seharusnya sudah hancur. Walaupun tubuhku hancur, aku masih bisa meregenerasi dan memakan beberapa jam... Maksimal 15 jam..."


"Tapi ketika aku selesai meregenerasi, kenapa aku tiba di masa lalu? Kenapa Korrina dan yang lainnya tidak bisa mendeteksiku?" Alvin mulai memegang dagunya selagi berpikir.


"Zoiru... Ah iya... Aku harus waspada terhadap dewa oath yang selalu memiliki sihir kebangkitan itu..." Alvin mulai menatap wajah Ariyaku dan Yuriko dengan tatapan yang sangat serius.


"Senang bertemu dengan kalian... Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa menemukanku?" Tanya Alvin.


"15 hari yang lalu kami menemukanmu di depan halaman kami. Kau sedang berbaring di atas tanah selagi menunjukkan wajah yang terlihat sedikit... Putus asa..." Ucap Yuriko.


"Kedua penglihatan Ibu sangat sensitif sekali... Aku hanya harus bertahan dan tetap kuat bersama... Ayah... Ibu..."


"Ehh...? 15 hari yang lalu...? Tidak mungkin, bagaimana bisa aku tiba di tempat seperti ini---"


BRRRRRRRHHHH....!!! suara perut lapar yang bersuara


Perut Alvin tiba-tiba mulai bersuara dengan sangat keras karena ia belum mengisi perutnya dengan sebuah makanan yang lezat. "Ahaha... Untuk sekarang mari kita makan dulu, Shira." Ariyaku terkekeh.


Alvin tersipu malu lalu ia mengangguk. "Ya... Dan maaf karena bersikap tidak sopan..."



Yuriko mulai menyediakan makan siang yang berjumlah banyak sekali di atas meja makan. Alvin mulai menunjukkan wajah yang kelaparan ketika melihat makanan-makanan yang lezat itu. "Terlihat enak...!!!" Alvin mulai mengambil sumpit-nya.


"SELAMAT MAKAAAAAAN...!!!" Ucap Alvin dan Ariyaku bersama, mereka langsung memakan semua makanan yang terdapat di meja makan tersebut. Yuriko terkekeh lalu ia duduk disebelah Ariyaku selagi memegang perutnya yang terasa sakit.


Ariyaku menyadarinya. "Kenapa...?" Ariyaku mulai mengelus perut Yuriko dengan sangat pelan-pelan. "Sepertinya anak kedua kita sudah lelah tinggal di dalam perut Mama-nya." Yuriko terkekeh.


Ariyaku mulai menunduk kepada perut Yuriko dan ia mulai berbicara kepada perut Yuriko. "Hei, nak. Kamu tidak boleh menyusahkan Mama-mu loh, nanti tenaga Mama-mu untuk melahirkanmu sudah habis karena kamu tidak bisa diam di dalam perutnya." Ariyaku terus berbicara beberapa hal kepada perut Yuriko hingga mampu membuat Alvin terasa cukup canggung.


"Aneh..." Kedua mata Alvin tiba-tiba berkaca-kaca ketika ia melihat kedua tingkah laku orang tua-nya yang terlihat sangat tidak berdosa. Melihat itu mengingatkannya terhadap sesuatu yaitu takdir mereka yang cukup pedih di masa depan. "... ..." Alvin bangkit dari atas kursi lalu ia mengusap mulutnya dengan sebuah tisu.


"Terima kasih atas makanannya dan semua hal yang telah kau lakukan 15 hari yang lalu, aku sangat berterima kasih." Alvin menunduk kepada mereka berdua. "Sekarang, aku ingin pulang ke planet yang bernama Lamia." Alvin berjalan keluar rumah Ariyaku.


"T-Tunggu, Shira. Kamu tidak boleh pergi dulu!" Ariyaku berjalan menghampiri pintu keluar lalu ia membuka pintu yang baru saja di tutup oleh Alvin beberapa detik yang lalu. Ketika Ariyaku melihat keluar, dia tidak melihat Alvin sama sekali bahwa sejak Alvin bangun, ia sama sekali tidak bisa merasakan energi sihirnya.


"Legenda yang sangat aneh. Aku sama sekali tidak bisa merasakan keberadaan atau energi sihirnya." Ucap Ariyaku yang perlahan-lahan menutup pintu kembali. Ia berjalan menghampiri Yuriko dengan eksperesi wajah yang lelah. "Dia bahkan tidak memberi kita imbalan."


"Jangan begitu ahh! Bukannya kau bisa melihat jelas kondisi yang Shira alami? Kau juga bahkan bisa melihat jelas seluruh tubuhnya bukan?" Tanya Yuriko.


"Ya... Kondisinya seperti sedang buruk, dia terlihat menyedihkan seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu yang berharga bagi dirinya."


"Kau benar... Seluruh luka yang ia miliki itu... Pasti dia sudah mengalami banyak sekali sejarah pedih yang selalu ia alami." Ucap Yuriko selagi menunjukkan wajah yang terlihat sangat khawatir.


Ketika Alvin meninggalkan rumah Ariyaku, sebenarnya ia tidak terbang atau melarikan diri dari rumah itu melainkan ia mengaktifkan Omni-Vision, sebuah sihir maha kuasa yang mampu membuat Alvin tidak bisa terlihat sama sekali oleh mortal biasa atau oleh dewa sekalipun, tapi dia dengan mudahnya akan terlihat oleh anggota keluarga Ghifari. Alvin sekarang tidak akan bisa dilihat oleh siapapun.


Alvin masih berada di dalam ruang makan selagi berdiri menyenderkan punggungnya di belakang tembok. "... ..." Alvin mulai mengambil sebuah kubus yang terletak di dalam punggungnya, ia mengambil kubus tersebut lalu ia menatap kubus yang berwarna hijau tersebut.


"...Sungguh mengejutkan, aku tidak percaya bahwa Haruka diam-diam akan memasukkan sebuah kubus yang bernama Block of Time, sebuah kubus yang mampu membawaku ke masa apapun yang telah tercipta..." Kubus itu bisa berada di dalam punggung Alvin karena Haruka pernah menepuk punggung Alvin hanya untuk memasukkan sebuah kubus. Alvin melempar kubus itu ke bawah lantai lalu tiba-tiba munculah sebuah hologram yang menunjukkan Haruka.


Haruka melirik kepada Alvin lalu ia langsung menunjukkan wajah yang terkejut ketika ia melihat Alvin yang benar-benar telah tiba di masa lalu. "Papa...! K-Kau benar-benar berhasil tiba di masa lalu." Haruka tersenyum dengan sangat lebar, sepertinya semua yang terjadi ini Harukalah yang merencanakannya dari awal.


"Sudah kuduga... Kenapa harus aku yang berkaitan dengan masa lalu ini, Haruka?" Tanya Alvin.


Haruka terkekeh lalu ia menunduk kepada Alvin. "Maafkan diriku ini, Papa! Maaf jika aku bersikap tidak sopan seperti---"


"Sstt... Sudah, kau tidak boleh mengatakan kata maaf lagi kepada, Papa. Kau tidak bersalah, Haruka."


"Ngomong-ngomong, kenapa kau membawaku ke masa lalu...? Ke masa-masa dimana Papa masih belum lahir? Apakah ini berkaitan dengan Zoiru lagi? Masa depan atau takdir apa yang kau lihat ini, Haruka?" Tanya Alvin selagi menunjukkan wajah yang kebingungan.


"Begini Papa... Walaupun kau sudah mengalahkan Zoiru dan mencuri kekuatannya di masa yang asli ini menggunakan Touri's Hope, dewa Oath itu masih tidak menyerah. Kau bilang bahwa kita para penghuni Touri tidak boleh meremehkan Dewa Oath sedikitpun." Ucap Haruka dengan wajah yang sangat serius.


"Sihir dewa oath tidak akan pernah bisa dicuri karena sihirnya sudah ditakdir untuk selalu bersama dengan para dewa dan dewi oath... Cara untuk membunuh para dewa oath cukup sulit juga..."


"Omni-Vision... Aku akan datang ke tempat itu, Papa."


BAAAAAAAMMMMMMM!!!


Haruka melompat keluar dari dalam kubus hijau itu lalu ia mengambil kubus tersebut dan mulai menatap wajah Alvin dengan eksperesi wajah yang mencoba untuk tidak menangis. "Yo, Haruka..."


"P-PAPA...!!!" Haruka mulai memeluk Alvin dengan sangat erat. Ia mulai menangis dengan sangat terharu karena ia akhirnya bisa bertemu dengan Alvin yang meninggalkan dirinya selama 15 tahun lamanya. Walaupun Haruka sudah tahu bahwa Alvin sedang berada di masa lalu, ia masih merasa sangat merindukan Ayah-nya. "Ahaha... Aku juga merindukanmu, Haruka." Alvin memeluk kembali.


Haruka mulai mengangguk lalu ia berhenti memeluknya. "Ngomong-ngomong, Papa sudah meninggalkan kami semua selama 15 tahun lamanya."


"Ehh...?"


...


...


"HAHHHHHHH!? 15 TAHUUUUN!?" Alvin langsung membuka mulutnya dengan sangat lebar. Dia menghabiskan waktu 15 hari di masa lalu dengan meregenerasi semua tubuhnya hingga sepenuhnya kembali pulih dan ternyata ia sudah hilang selama 15 tahun di masanya. Haruka mengangguk dan terkekeh. "Hahaha, iya... Aku mengendalikan waktu di masa lalu dengan menggunakan kubus ini agar waktu berjalan lebih cepat disini." Haruka menunjukkan kubus itu.


"Intinya, Papa. Zoiru masih hidup dan berkeliaran di masa lalu... Ia mencoba untuk mengubah masa depan dengan membunuhmu ketika Papa masih bayi. Zoiru memiliki sihir oath yang bernama Oath's Reincarnation, dimana ia akan tereinkarnasi kembali ke masa lalu." Ucap Haruka selagi menciptakan sebuah hologram informasi di depannya, hologram itu menunjukkan beberapa informasi penting tentang Dewa Oath.


"Sepertinya dewa Oath memiliki beberapa sihir kebangkitan yang cukup banyak sekali. Oath's Last Stand, sebuah sihir yang mampu membuat dewa itu bangkit dan memiliki kekuatan yang lebih kuat dari sebelumnya..."


"Dia menggunakan sihir ini sebanyak 2 kali... Dia benar-benar tidak bisa mati, Papa. Kau bahkan sudah menggunakan Touri's Hope demi mengalahkannya." Ucap Haruka selagi menunjukkan wajah yang sangat serius.


"Oath's Last Stand, Oath's Reincarnation, dan Oath's Immortality. Ketiga sihir itu adalah sihir yang sangat berbahaya dan menyebalkan jika kita mencoba untuk membunuhnya, Papa sendiri juga tau 'kan bahwa dewa oath ini memiliki sihir kebangkitan yang sama dengan dewa maha kuasa dan pencipta sepertimu, Papa!" Ucap Haruka selagi menunjukkan wajah yang terlihat sangat panik. Alvin mulai memegang kedua bahu Haruka. "Tenanglah, Haruka!"


"... ..." Haruka mengangguk.


"Tidak ada yang tidak mungkin bagiku. Walaupun Touri's Hope dan Vanish tidak bisa mengalahkannya... Masih ada cara lain yang bisa mengakhiri Zoiru." Ucap Alvin dengan wajah yang sangat serius.


"Apakah Omni-Vanish...?" Tanya Haruka.


"Jika Papa menggunakan Omni-Vanish maka dia akan terus bangkit dan bangkit lagi menggunakan Omni's Immortality... Sihir itu tidak akan mempan baginya..." Ucap Alvin yang perlahan-lahan mulai duduk di atas angin-angin selagi memikirkan sebuah kelemahan bagi para dewa oath, sebenarnya dewa oath memiliki kelemahan yang pernah Alvin ketahui.


"Apakah Papa memiliki informasi tentang kelemahan dewa oath?" Tanya Haruka.


Alvin menunjuk seorang gadis yang sedang cuci piring. Haruka langsung menoleh kepada gadis yang sedang cuci piring itu dan gadis tersebut adalah Yuriko Ghifari. "N-Nenek...?" Haruka langsung terkejut karena ia tidak menyangka bahwa Alvin menunjuk Yuriko. "Sebenarnya kelemahan apa yang dimiliki oleh dewa oath sampai-sampai kau menunjuk nenek, papa?" Tanya Haruka.


"Pedang Ibu... Pedang-nya adalah pedang yang sangat kuat sekali hingga mampu memotong apapun di segala semesta... Pedang itu mengandung semua energi sihir yang ada di semesta Touri, bahkan pedang ini sudah ditakdirkan untuk bisa membasmi dewa oath sekalipun... Pedang itu hanya bisa diangkat oleh seseorang yang memiliki marga Ghifari saja atau yang terkait dengan keluarga ghifari akan bisa mengangkat dan menggunakannya." Alvin mulai menyilangkan kedua lengannya.


"Pedang itu dimasa saat ini sudah hancur... Oleh... Oleh... Ku..." Ucap Alvin selagi menunjukkan wajah yang sangat kecewa.


"Oleh Papa? Pedang yang nenek gunakan?" Tanya Haruka.


"Ya... Haruka, masih banyak sekali cerita yang tidak pernah kau ketahui tentang Papa, hanya Mama-mu saja yang tahu tetapi ia tidak sepenuhnya tau tentang cerita Papa."


"Oh iya, kembali ke topik pedang yang Ibu gunakan. Pedang itu berjuluki sebagai pedang bermarga ghifari, pedang pembasmi apapun, jadi sebenarnya pedang itu adalah pedang ciptaan para dewa dan dewi, tetapi generasi yang lalu berhasil mencuri pedang itu dan meresmikan kepemilikan pedang itu. Marga Ghifari telah resmi menjadi pemiliki pedang itu dan Ibu-lah yang terakhir untuk bisa menggunakan pedang tersebut."


"Pedang itu bernama Omni-Slayer..." Alvin mulai meletakkan kedua kakinya di atas lantai. Yuriko mulai berjalan menuju lantai kedua untuk beristirahat. "Apakah Papa tau dimana pedang Omni-slayar itu?" Tanya Haruka.


Alvin mulai memejamkan kedua matanya untuk mencari pedang Omni-slayer dan ia langsung menemukan energi sihir pedang tersebut. "Di gudang." Alvin menunjuk sebuah foto keluarga besar yang terletak di ruang tamu. Alvin dan Haruka menghampiri foto keluarga itu lalu Haruka menatap foto tersebut selagi menunjukkan ekspresi wajah yang senang. "Wahhh... Foto keluarga Ghifari..."


"Tapi, sayangnya Papa tidak ada..." Haruka terkekeh.


Haruka menatap foto keluarga itu dengan sangat teliti lalu ia melihat seorang laki-laki yang sedang berdiri di tengah selagi menunjukkan ekspresi wajah yang kesal. "Papa, anak laki-laki itu siapa?" Tanya Haruka.


"Itu kakak-ku..." Alvin langsung menembus masuk ke dalam foto keluarga itu seperti hantu yang tembus pandang. "Aku tidak tahu bahwa Papa akan memiliki saudara." Haruka juga mulai menembus masuk ke dalam foto keluarga tersebut.


Ketika mereka menembus masuk foto keluarga itu, mereka tiba di ruangan rahasia yang sepertinya hanya Yuriko tahu tentang ruangan rahasia itu. "Ruangan rahasia...?"


Alvin dan Haruka langsung maju ke depan selagi melihat sekitar, perlahan-lahan mereka melihat sebuah pintu yang terbuat dari besi. "Ya, hanya Ibu yang tahu tentang ruangan rahasia ini karena ia menciptakannya... Sebenarnya Ibu-ku itu dipenuhi dengan misteri hingga Ayah-ku sendiri tidak terlalu banyak tahu tentang sisi misterius Ibu-ku."


"Apakah Papa tahu?"


"Tidak. Papa tahu karena di kematiannya, ia pernah memberitahuku bahwa ia melihat semuanya... Ibu mengetahui semuanya, aku tidak mengerti apa yang coba ia katakan hingga ia pernah memberitahuku tentang ruangan rahasia yang berada di rumah Ayah, sejak itu aku tidak tahu dimana letak rumah Ayah... Rumornya rumah itu sudah hancur bersama planet-nya juga..."


"Aku tidak tahu bagaimana Kakek dan Nenek bisa mati...? Bisakah Papa memberitahuku tentang kematian---"


"Aku tidak mau membahas hal itu..." Jawab Alvin. Haruka langsung terdiam seperti merasa bersalah karena menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak ditanyakan. Haruka mulai menatap wajah Alvin yang terlihat seperti menahan rasa kesakitan. "Maaf..."


Alvin langsung menatap wajah Haruka dan ia langsung tersenyum. "Tidak apa-apa." Alvin mulai mengelus puncak rambut Haruka. Alvin dan Haruka tiba di depan pintu besi itu, mereka mulai menonaktifkan sihir Omni-Vision karena mereka tidak akan bisa mengambil pedang Omni-Slayer jika mereka masih menggunakan sihir Omni-Vision.


"Apakah pedang ini benar bisa diangkat hanya oleh keluarga Ghifari?" Tanya Haruka.


"Mungkin... Kita harus mencoba dulu." Alvin langsung meraba pintu besi dan ia perlahan-lahan mulai menghilangkan semua sihir yang terdapat di pintu besi itu, perlahan-lahan pintu besi itu langsung terbuka lebar karena Alvin sudah merusakan semua kunci dan penghalang sihir yang dimiliki pintu itu. "Baiklah... Ayo..."


Alvin dan Haruka mulai memasuki ruangan yang dihalangi oleh pintu besi. Ketika mereka memasuki ruangan itu, mereka langsung melihat pedang merah yang dilumuri oleh berbagai sihir yang dimiliki semesta Touri. "Energi sihir yang sangat menyengat sekali..." Ucap Haruka karena ia bisa merasakan semua energi sihir yang terdapat di pedang iu.


Pedang itu tertancap di atas batu yang berwarna merah, Alvin mulai memegang batu itu dan batu itu bukanlah batu biasa melainkan batu yang terbuat dari sihir Crimson. "Bagaimana Ibu bisa memiliki batu yang seperti ini...?"


Alvin mulai menunjuk pedang yang tertancap di atas batu crimson itu. "Crimson Analyze..." Pedang itu langsung terlumuri oleh aura milik Alvin. Ia mencoba untuk membuat pedang Omni-Slayer lainnya agar ia tidak menyebabkan sebuah paradoks karena hanya mencuri Omni-Slayer. Dia sekarang sedang berada di wujud maha kuasa-nya, ia pasti bisa membuat pedang Omni-Slayer lainnya.


"Omni-Slayer - Recreation and Improved." Alvin langsung menciptakan pedang Omni-Slayer lainnya, pedang itu muncul tepat di depan Alvin dan ia langsung mengambil pedang tersebut. "Ini dia..." Alvin langsung menatap pedang itu dengan kedua matanya, pedang itu sudah ditambah beberapa kelebihan oleh Alvin.


Alvin langsung menatap Haruka selagi memegang pedang tersebut. "Haruka, sepertinya diriku ini tidak layak untuk memiliki pedang ini. Sejujur-nya, aku tidak mau menggunakan pedang atau senjata dalam bertarung... Bahkan jika itu pertarungan untuk menentukan masa depan Touri." Alvin langsung menawarkan pedang itu kepada Haruka.


"Haruka, maukah kau mengakhiri semua ini dengan memegang pedang ini dan mengalahkan lawanmu itu demi Touri...?"


"K-Kenapa harus aku segala sih, Papa... Kenapa tidak Papa mengakhirinya?" Tanya Haruka.


"Papa sudah memutuskannya bahwa kau akan mengalahkannya." Alvin langsung memberikan pedang itu kepada Haruka dan Haruka langsung menerimanya. Ia menatap pedang itu dengan tatapan yang serius, ini pertama kalinya bagi dirinya untuk bisa dipercayai oleh Alvin. Haruka langsung tersenyum lebar ketika Alvin memilih Haruka untuk menghabiskan musuhnya.


"Papa..." Haruka langsung memeluk Alvin dengan sangat erat. "Terima kasih..."


"Ya... Kau berhak mengalahkan Zoiru demi waktu... Dia mencoba untuk melakukan paradoks karena ia tidak bisa mengalahkan Papa---"


"Tidak kusangka bahwa takdir itu terus dan terus terjadi." Tiba-tiba suara gadis dewasa mulai muncul, suara itu berasal dari belakang mereka berdua. Alvin langsung membulatkan kedua matanya karena suara gadis itu adalah suara ibu-nya.


Haruka dan Alvin melirik ke belakang, mereka tiba-tiba melihat Yuriko yang sedang tersenyum lebar selagi berkaca-kaca. "Alvin... Kau datang..."


"S-Siapa itu Alvin...? Aku tidak kenal." Jawab Alvin selagi mengalihkan pandangannya dari Yuriko. Haruka mulai menatap mereka berdua dengan tatapan yang kebingungan.


Yuriko hanya bisa tersenyum selagi meneteskan air matanya. "Akhirnya kau bisa datang ke tempat rahasia ibu, nak... Ternyata takdir dirimu memang selalu benar dan terlaksanakan." Yuriko tersenyum dan ia perlahan-lahan mulai mendekati Alvin, ia mencoba untuk meraba kedua pipi Alvin.


"Ahh...!!!" Kedua mata Alvin mulai berubah menjadi warna merah.


"GAAAAAAAGGGGGGGGHHHHHHHHHHH...!!!" Teriak Alvin dengan sangat keras selagi menahan logam pedang Omni-Slayer menggunakan kedua lengannya. Yuriko mulai menambahkan beberapa tenaga lagi di dorongannya karena ia berencana untuk menusuk jantung Alvin menggunakan pedang Omni-Slayer.


Alvin mulai menangis ketika ia melihat wajah Yuriko yang terlihat sangat kesal. Ayah dan Ibu-nya telah benar-benar terpengaruhi oleh rumor Alvin yang telah membasmi beberapa ras hingga habis dan tersisa. Yuriko berencana untuk mengakhiri semua kehancuran itu dengan membunuh anak-nya, ia sudah tidak menganggap Alvin sebagai anaknya.


Alvin hanya bisa menangis selagi menahan pedang milik Yuriko. "Tidak... Kau harus dengarkan aku, ibu..."


"DIAMLAH!!! ANAK HARAAAAM!!!" Teriak Yuriko dengan sangat keras, ia mulai mengerahkan seluruh tenaganya hingga habis. Alvin mengejamkan kedua matanya lalu ia mulai mengatakan sesuatu dengan nada yang halus. "Maafkan... Aku..." Alvin langsung memegang logam pedang itu menggunakan kedua telapak tangannya lalu ia membalik pedang itu menuju dada Yuriko. Ujung pedang tersebut langsung menancap dada Yuriko dengan sangat dalam hingga ia langsung menunjukkan wajah yang kesakitan.


Alvin langsung menusuk dada-nya lebih dalam lagi selagi menangis. "Ughh... Maafkan... Aku..." Ucap Alvin selagi menunjukkan ekspresi wajah yang sangat menyedihkan.


"MENJAUHLAH!!!" Teriak Alvin dengan sangat keras hingga mampu membuat mereka berdua terdorong ke belakang.


"Alvin..."


"Hah... Hah... Hah..." Alvin mulai menghalang kedua matanya selagi bernafas dengan sangat berat sekali. Haruka mulai menunjukkan ekspresi yang sangat terkejut melihat Alvin yang tiba-tiba marah kepada Ibu-nya sendiri.


"Sepertinya kamu sudah mengalami banyak sejarah ya, Alvin... Lihatlah dirimu, kau dipenuhi dengan kesakitan, keputusasaan, kau memaksa dirimu sendiri untuk menjadi seorang dewa yang maha kuasa... Kau seperti melakukan sesuatu yang kau bisa dan tidak bisa hanya demi keselamatan keluargamu dan semesta yang kau sayangi." Yuriko tersenyum lebar.


"Hentikan, ibu..." Jawab Alvin selagi mencoba untuk tidak menangis, ia mencoba sekuat mungkin untuk tidak menunjukkan rasa keputusasaannya dan rasa kesedihannya.


"Ibu bisa melihat semuanya loh, nak... Ibu bisa melihat masa depan anakku sendiri, ibu bisa melihat rasa kesakitan yang selalu kau alami. Itu sakit bukan, kau berusaha sekuat mungkin untuk mengubah sesuatu dan akhirnya kau dibenci oleh semua orang karena perbuatan yang mereka lihat buruk tapi kau melakukannya demi kebaikan apapun..."

__ADS_1


Yuriko mulai mendekati Alvin dan ia tiba-tiba terlihat seperti terdiam begitu saja. "... ..."


Yuriko mulai meraba pipi kiri Alvin, ia mulai menatap wajahnya dengan tatapan yang terlihat sangat bangga melihat anaknya telah menjadi dewa maha kuasa. "Kau selalu memaksakan dirimu sendiri... Ibu pikir bahwa anak kedua ibu akan menjadi legenda dengan penuh semangat untuk menjadi yang terkuat, tetapi tidak... Sepertinya Argusa telah merubahmu... Semua yang kau lihat telah perlahan-lahan mempengaruhi menjadi Alvin yang selalu memaksakan dirinya sendiri... Berlaga sok kuat juga, kau termasuk." Yuriko terkekeh.


"... ..."


"Ibu tidak percaya bahwa takdir yangku lihat akan benar-benar terjadi... Sepertinya kalian datang kesini untuk mengalahkan Zoiru yang mencoba untuk membuat sebuah paradoks terhadap Alvin bukan? Dewa Oath memanglah menyebalkan karena mereka selalu mencari cara agar bisa menjadi dewa maha kuasa selanjutnya." Yuriko terkekeh.


"Bagaimana nenek bisa tahu bahwa kita datang hanya untuk mengincar Zoiru?" Tanya Haruka selagi menunjukkan ekspresi wajah yang terkejut.


"Kalian berdua tidak tahu siapa sebenarnya diriku ini... Haha, sepertinya aku akan menunjukkannya kepada kalian semua siapa sebenarnya diriku ini" Yuriko mundur beberapa langkah lalu ia tiba-tiba mulai bersinar dengan sangat cerah.


"Aku ini sebenarnya adalah dewi takdir... Goddess of Fate, seorang dewi yang mampu membaca takdir dengan sepenuhnya." Yuriko tersenyum hingga kedua matanya langsung berubah menjadi warna ungu.


"Dewi takdir...? Bukannya dewi takdir hanyalah sebuah mitos?!" Tanya Haruka selagi menunjukkan ekspresi wajah yang terkejut.


"Ya, mitos karena diriku adalah dewi takdir terakhir yang tidak akan pernah bisa diketahui oleh siapa-siapa lagi. Aku menyembunyikan identitasku sebagai dewi takdir karena... Aku tahu bahwa Dewa Oath akan mengincarku dan membunuhku."


"Menyembunyikan identitasmu...? Walaupun kau melakukan hal itu, para dewa oath sudah pasti akan mudah menemukanmu bukan?! Mereka ini berandalan yang sangat berbahaya, dewa yang tidak akan pernah menyerah hingga tujuan mereka tercapai... Dewa yang melakukan sesuatu tanpa keseganan, bahkan ia membunuh lawannya tanpa memberikan ampun sedikitpun." Ucap Haruka selagi menunjukkan ekspresi wajah yang kesal, ia memegang erat pedangnya selagi mengingat betapa berbahayanya dewa oath itu.


"Ada cara lain, Haruka. Aku mengorbankan semua kekuatanku kepada satu sihir yang bernama The Last Fate, aku sudah menggunakan sihir ini lama sekali hingga aku sudah tidak berjulukan lagi sebagai dewi takdir... The Last Fate hanya bisa digunakan kepada satu orang, dan aku menggunakan sihir itu kepadamu, Alvin." Yuriko menatap wajah Alvin.


"The Last Fate mampu membaca segala takdir yang dimiliki seseorang tanpa batasnya hingga mereka mati dan sepertinya takdir anakku akan terus berjalan tak terhingga... Aku sudah melihat semua takdir yang dimilikimu, nak. Aku tahu bahwa suatu saat anak ini..." Yuriko mulai meraba perutnya yang sangat besar. "...akan membunuhku suatu saat..."


Haruka langsung terkejut mendengar itu. "Ja-Jadi... Kematian Kakek dan Nenek... Itu semua..." Haruka langsung menolah kepada Alvin dengan ekspresi yang terkejut.


"Ke-Kenapa Papa tidak memberitahu kami...!? Apakah Mama dan Mortem tahu tentang semua ini?!? " Tanya Haruka.


"Ya... Aku merahasiakan semuanya agar kalian tidak membenciku." Ucap Alvin dengan wajah yang serius. Yuriko hanya bisa tersenyum karena takdir yang Alvin miliki itu dipenuhi dengan kesakitan dan kesedihan hingga ia juga pernah mengamuk dan membasmi habis semua penghuni Touri termasuk keluarganya, mereka semua bisa hidup kembali karena Alvin telah memiliki kekuatan maha kuasanya dengan mengalahkan dewa maha kuasa yang pertama.


"P-Papa..." Haruka langsung terkejut ketika mendengar itu.


"Kau dan saudara-saudaramu pernah 'kan membenci Papa karena perbuatan egois Papa? Aku sudah mengalaminya beberapa kali, Haruka. Aku melakukan sesuatu yang menyakitkan dan benar bagi diriku tetapi kalian melihat perbuatanku seperti seseorang yang jahat." Jawab Alvin.


"Tapi kata egois itu tidak bisa disingkirkan dariku karena aku ini memanglah egois... Egois untuk menyelamatkan apapun dan membuat sesuatu menjadi hal yang baik."


"Aku tidak percaya ini... Papa ternyata menyembunyikan banyak sekali rahasia dari semua orang..." Ucap Haruka selagi menunjukkan wajah yang terkejut.


Yuriko mulai menatap wajah Alvin yang terlihat sangat kesal. "Ibu, kau seharusnya membunuh anak yang kau akan lahiri beberapa hari lagi... Lihatlah apa yang terjadi dengan semesta touri bukan?! Kau bisa lihat zaman berubah dengan sangat mengerikan bukan?! Semua semesta Touri perlahan-lahan mengalami evolusi dan revolusi secara bersamaan karena diriku!!! LEBIH BAIK KAU BUNUH SAJA ALVIN SEBELUM KAU TERBUNUH OLEH DIA!!!" Teriak Alvin dengan sangat kesal.


"Ibu tidak bisa..." Yuriko tersenyum.


"... ..."


"Jika ibu melakukannya maka kau akan terhapuskan, Alvin."


"Aku tidak akan pernah bisa terhapuskan karena sebuah paradoks ibu, jika seseorang mencoba untuk membunuh diriku dari masa lalu maka masa itu akan mengalami masa perubah seperti pohon yang menembuhkan batang yang baru. Aku adalah inti dari semuanya, aku tidak akan bisa diubah atau dikalahkan oleh cara apapun."


Alvin mulai meneteskan air matanya, di saat itulah sisi lemah Alvin keluar dan sisi kuatnya pevah. "Aku ingin istirahat...!!! AKU INGIN MATI...!!! AKU INGIN MENINGGALKAN DUNIA KEJAM INI...!!!!" Alvin mulai menangis dengan sangat terharu, ia mulai memegang rambutnya sendiri karena ia tidak bisa mati oleh cara apapun karena dia adalah dewa maha kuasa. Dia harus terus menjaga Touri. "Aku sudah muak...!!! Aku ingin beristirahat untuk selamanya...!!! Aku hanya ingin diam dan hidup bahagia dengan keluargaku...!!! JIKA AKU TIDAK BISA MELAKUKAN ITU SEMUA LEBIH BAIK AKU INGIN MATI...!!!" Alvin mulai jongkok dan mulai memegang kepalanya.


"AKU SUDAH MUAK.... AKU BENCI DIRIKU SENDIRI... AKU TIDAK MEMPERCAYAI PIKIRANKU SAMA SEKALI KETIKA AKU MENJADI SEORANG DEWA YANG MAHA KUASA... KENAPA...!? KENAPA BISA AKU MENJADI SESOSOK DEWA MAHA KUASA...?! KENAPA IBU LEBIH MEMILIHKU SEBAGAI ANAK YANG AKAN MENGUBAH TOURI...!?" Alvin menangis dengan sangat terharu, wajahnya terlihat seorang anak kecil yang sedang menangis dan tidak bisa dihentikan. Haruka merasa sangat terkejut melihat Alvin yang menangis terus menerus, ini pertama kalinya ia melihat sisi lemah Alvin.


Yuriko mulai meneteskan air matanya juga melihat Alvin menangis karena sebuah alasan, hal terakhir yang ia inginkan adalah istirahat dan hidup damai selamanya. Ia ingin Touri untuk berada di situasi yang damai untuk selamanya agar ia bisa beristirahat. "Sudah ditakdirkan untukmu seperti ini, nak... Ibu tidak bisa mengubahnya, maafkan ibu..."


"Ugghh... Aku mencoba sekuat dan sebisa mungkin untuk bisa menyelamatkan sesuatu... Menyelamatkan sesuatu yang sangat aku cintai, tetapi aku malah terjatuh ke dalam jurang kebencian dan kesalahan... Aku hanya melakukannya dengan cara dimana mereka melihatku seperti seseorang yang jahat dan egois... Tapi mereka semua pantas membenciku karena aku adalah seorang Legenda yang bodoh dan lahir dari keluarga yang sangat dibenci..."


Yuriko mulai mendekati Alvin lalu ia memeluknya dengan sangat erat selagi duduk di sebelahnya. Ia memeluk Alvin dengan sangat erat, ia mulai mengelus rambutnya pelan-pelan untuk menenangkan Alvin yang terus menangis dan menangis tanpa henti. "Ibu tahu rasa kesakitanmu, nak... Ibu tahu..."


"Walaupun kau dibenci, terluka, dan tersakiti... Setidaknya kau mencoba... Kau mencoba untuk melakukan sesuatu yang kau bisa, kau memikirkan suatu cara untuk bisa melakukan sesuatu hal yang baik melainkan hanya berdiam diri saja..."


"Legenda sepertimu membuat ibu bangga dan sedih bahwa ibu tidak bisa menemanimu di sisimu... Kau sudah difitnah oleh beberapa orang... Kau dipengaruhi oleh pamanmu Argusa... Kau sudah terluka dan tersakiti karena eksperimen crimson itu... Walaupun kau mengalami banyak rasa kesakitan dan kesedihan, kau masih tetap ingin hidup... Lihatlah dirimu dan sadarlah betapa jauhnya kamu berjuang, nak..." Yuriko ikut menangis selagi mengusap-ngusap rambut Alvin.


Haruka juga ikut menangis ketika mendengar semua perkataan Alvin dan Yuriko. Ia baru saja mengetahui rahasia Alvin dan perjuangan Alvin dari nol hingga sekarang. "Papa..."


"Perjuanganmu dari nol hingga saat ini juga... Kau terkadang nendapatkan hasil yang baik dan buruk, tetapi setidaknya kau suatu hari akan puas terhadap percapaianmu, nak... Dari seorang bayi yang dijadikan percobaan sihir crimson hingga menjadi seorang dewa maha kuasa yang memiliki keluarga disisinya..." Yuriko tersenyum selagi mengelus rambutnya.


"Ahhhhhhhhhhhh....!!! IBUU...!!!! AHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH....!!!" Alvin menangis dengan sangat keras, ia memeluk Yuriko dengan sangat erat selagi menangis cukup keras.


Yuriko hanya bisa tersenyum lebar selagi melihat anaknya menangis dan jujur karena ia benar-benar telah melepaskan tangisan yang ia selalu tahan. Ini pertama kalinya Alvin bisa merasakan kasih sayang dari ibunya. Yuriko hanya bisa tersenyum dan mengelus-elus rambut Alvin. "Kamu ini anak baik, Alvin..."


"Beberapa abad lamanya aku berjuang demi kedamaian bagi semesta Touri... Semua cara aku lakukan agar semuanya bisa terselesaikan dengan cepat... Tapi aku... Tapi aku.... Tapi aku akhirnya... Hanya akan dibenci..." Ucap Alvin yang terus menangis.


"Itu terasa sangat menyakitkan... Menakutkan... Aku mencoba sekuat mungkin untuk menahan semua rasa kesedihan ini... Aku merasa sangat sedih setiap harinya... Kenapa...? Kenapa Legenda eksperimen sepertiku harus hidup dengan waktu yang cukup lama...!!!"


"Mm-hmm..." Yuriko mengangguk pelan, ia terus mendengarkan curhatan Alvin. Alvin ingin sekali berbicara dengan ibunya tentang dirinya hingga sekarang tujuannya telah tercapai.


"Aku sangat putus asa... Putus asa untuk melakukan sesuatu yang mampu melindungi keluargaku dan semesta yang sangat aku sayangi..."


"Semua yang aku katakan itu kebenarannya, ibu... Aku tidak mau hidup... Aku hanya ingin beristirahat untuk selamanya..."


"Aku selalu saja melindungi semuanya... Walaupun aku ingin beristirahat untuk selamanya, aku tidak mau melihat semesta kejam ini dilumuri oleh kegelapan..."


"Aku sangat mencintai semesta ini... Semesta ini sangat penting bagiku jadi aku tidak bisa berdiam diri...! Aku dengan sangat keras mencoba untuk melindunginya demi para penghuni touri dan keluargaku..."


"Ibu... Aku takut... Aku takut bahwa suatu hari semesta ini benar-benar akan hancur dan aku tidak bisa menciptakannya kembali...!"


"Aku tidak mau melihat penghuni Touri teriak ketakutan ketika Touri hancur menjadi partikel-partikel yang tidak akan bisa kembali seperti semula...!!! Aku sangat membenci diriku sendiri karena telah melindungi Touri dengan cara dimana mereka akan membenciku...!!!"



Alvin jatuh tertidur ketika ia berbicara jujur kepada Yuriko selagi menangis. "Putra kecilku... Betapa kerasnya kamu berjuang demi semesta Touri ini..." Yuriko mengelus rambut Alvin.


"Apakah dia jatuh tertidur...?" Tanya Haruka.


Yuriko mengangguk. "Ya, dia seperti seorang anak kecil saja." Yuriko merasa sangat senang sekali bisa melihat Alvin yang telah menyelesaikan beberapa tujuannya. Sebenarnya, tujuan Alvin dan Yuriko itu sama, tetapi Yuriko tidak bisa mencapai tujuan itu karena takdir tidak membiarkannya.


Haruka mulai duduk di sebelah Yuriko selagi menatap wajah Alvin yang terlihat damai. "Nenek, beritahu aku... Sebenarnya kenapa Papa bisa jadi seperti ini...?"


"Papamu sudah berjuang dari nol hingga sekarang ini. Dia adalah seorang Legenda eksperimen yang mempercayai kepada jiwa legendanya sendiri... Ia tidak akan pernah menyerah jika musuhnya kuat atau jika ia tidak menemukan cara untuk menang... Dia akan terus berjuang hingga ia benar-benar selesai..."


"Tetapi tujuannya tidak batasnya, ia terus berjuang dan berjuang walaupun tujuannya sudah beberapa kali tercapai..." Haruka mengelus rambutnya.


"Haruka, dulu kau tidak tahu kebenaran dari keluarga bermarga Ghifari. Marga Ghifari sangatlah kejam dan hanya memperdulikan terhadap kuasa untuk menguasai apapun menggunakan sihir kuno yang bernama Crimson..."


"Jika Papa adalah seorang Legenda eksperimen... Bagaimana dengan paman? Apakah dia termasuk seorang Legenda yang menjadi kelinci percobaan Crimson juga?" Tanya Haruka selagi menunjukkan ekspresi wajah yang kesal.


"Divra Ghifari, dia juga termasuk kelinci percobaan sihir kuno... Takdirnya sama dengan Alvin, ia selamat dalam eksperimen itu dan berhasil untuk memyempurnakan sihir kuno yang bernama Scarlet. Divra sekarang sudah pergi entah kemana tapi di masa depan dia benar-benar terkalahkan oleh Alvin..." Ucap Yuriko dengan rautan wajah seriusnya.


"Biarkan aku menjelaskanmu tentang sejarah yang Alvin alami, Haruka..."


"Semua anak bermarga Ghifari yang baru saja lahir diwajibkan untuk mengalami percobaan eksperimen terhadap sihir crimson, jika ada seseorang yang menyembunyikan anak bermarga ghifari untuk tidak melakukan eksperimen maka mereka akan dibunuh... Nenek juga tidak ada pilihan lain selagi menyerahkan Alvin dan Divra, tetapi eksperimen itu berakhir seketika penyerangan datang karena pasukan Argusa."


"Ia menyerang lab perusahaan Ghifari demi merebut Alvin yang benar-benar telah menyempurnakan sihir Crimson, sihir ini tidak bisa diremehkan begitu saja karena setiap Alvin terluka maka ia akan bertambah kuat dan kuat terus menerus tanpa ada batasnya... Bahkan jika ia bangkit dari kematiannya, ia akan bertambah lebih kuat lagi."


"Alvin bertemu dengan banyak sekali orang yang ia sangat percayai mulai dari Korrina, teman-temannya, sahabatnya, guru-nya, semua yang ia temui pasti Alvin akan selalu percayai dan lindungi. Tetapi semua itu berubah ketika Argusa mulai mempengaruhi semua orang yang berada di sekitarnya, bahkan Alvin-pun dipengaruhi oleh Argusa."


"Argusa Ghifari adalah seorang anggota marga Ghifari yang sangat jahat... Dia hanya peduli terhadap kekuasaan yang ia punya dan bahkan ia berencana untuk menguasai semuanya demi kesenangannya. Ketika ia berhasil menguasai semuanya maka ia akan menghancurkan dan menciptakan dunia yang baru... Dunia dimana hanya Argusa yang mencintainya, dia melakukan tujuannya tidak sendirian. Ia memiliki bantuan dari Alvin Ghifari..."


"Alvin Ghifari mempercayainya karena Argusa mengaku dirinya sendirisl sebagai Ayah kandungnya. Sebenarnya Alvin sejak itu tidak pernah mengetahui Ayah dan Ibu kandungnya, seseorang yang sangat ia percayai dan pasti ia turuti adalah Argusa Ghifari. Ia menceritakan tujuannya kepada Alvin, tujuannya cukup masuk akal bagi Alvin hingga ia cukup tertarik juga."


"Tujuan yang diceritakan kepada Alvin adalah keseimbangan..."


"Disisi lainnya, Argusa juga mencoba segala cara untuk membunuh Alvin agar ia bisa memiliki sihir Crimson Alvin sepenuhnya, jika ia memiliki sihir kuno itu maka Argusa sudah pasti akan menguasai Touri dalam sekajap... Tetapi, rencana untuk mengambil sihir itu cukup menyulitkan bagi Alvin."


"Semua orang yang Alvin percayai mulai mencoba untuk membunuhnya karena Argusa, mereka semua mengatakan sesuatu buruk tentang Alvin dan sebagiannya ia mengendalikan pikiran mereka, Alvin saat itulah putus asa dan merasa sangat sakit hati melihat semua orang yang ia percayai terbunuh olehnya karena jika ia mencoba untuk menyadari mereka, maka ia sudah pasti akan mati..."


"Mulai dari teman-temannya dan sahabatnya... Mereka mati terbantai oleh Alvin... guru yang sangat ia sayangi juga, dia mati terbunuh oleh Alvin. Kakak yang baru saja ia temui terbunuh juga oleh Alvin..."


"Bahkan Korrina dan anak-anak Alvin terbunuh olehnya... Itu semua karena ia mengamuk ketika melawan Argusa yang telah menggunakannya sebagai alat pembunuh. Alvin merasa sangat hampa dan kosong melihat istri yang sangat ia sayangi terbunuh, bahkan... Kemarahan dan kesedihannya mampu membawanya ke potensi dewa maha kuasa, Alvin telah dipilih menjadi seorang Dewa maha kuasa selanjutnya karena ia telah mengorbankan SEMUA yang ia sangat cintai dan percayai."


"Ia berhasil membunuh Argusa menggunakan kekuatan maha kuasanya... Dan apa yang ia harapkan adalah kedamaian, tetapi ia salah karena musuh yang lebih kuat datang menghampirinya yaitu dewa maha kuasa pertama yang telah menciptakan Touri. Alvin dan dewa maha kuasa pertama itu bertarung, pertarungan itu sangat sengit sekali hingga tidak ada satupun dewa dan mortal yang bisa melihat pertarungan sengit mereka..."


"Di akhir-akhir Alvin memenangkan pertarungan... Walaupun dia telah menang, semua kehilangan yang ia alami tidak akan bisa kembali. Ia sendirian, tidak bisa melakukan apapun kecuali menangis, mengamuk, dan teriak."


"Tetapi, semua itu berubah ketika sebuah kristal pengabul apapun muncul tepat di depannya. Alvin merasa sangat terkejut melihat itu, ia menyerap semua kekuatan yang dimiliki kristal itu. Kristal itu bernama Ommi-Crystal. Dengan Alvin yang sudah menyerap semua kekuatan Omni-Crystal."


"Omni-Crystal akan muncul jika seseorang mengorbankan sesuatu yang SANGAT ia cintai dan sayangi dengan membunuh mereka sebanyak 100 kali. Jika itu terjadi maka Omni-Crystal akan muncul tepat di depanmu dan akan mengabulkan permintaan apapun bahkan menjadi seorang dewa maha kuasa juga bisa."


"Ia mampu menggunakan kekuatan itu dengan membuat sebuau alam semesta baru, jika ia menciptakan alam semesta yang pernah ia alami maka semuanya akan terulangi lagi seperti semula. Alvin sudah memutuskan untuk terus maju dan tidak melihat belakang, masa yang sudah terjalani biarkanlah terlalu... Ia ingin maju dan melihat masa depan yang terus berubah disetiap waktunya."


"Ia menciptakan semesta Touri lebih besar dari Touri saat ini. Ia menciptakan empat semesta yang bernama Kamitouri, Xuusuatouri, Yuusuatouri, dan Zuusuatouri. Semua semesta itu memiliki penghuni ras yang berbeda. Ia sudah berhasil menciptakan semuanya kembali, ia bahkan menghidupkan kembali keluarganya... Korrina dan semua anak-anaknya, termasuk kau Haruka."


"Ketika Alvin melakukan itu, pikirannya mulai mempengaruhi seluruh tubuhnya termasuk pikiran sehatnya... Seorang dewa yang mencoba untuk menyerap kekuatan dari Omni-Crystal maka mereka harus menanggung resikonya yaitu mengontrol diri mereka sendiri terhadap kekuasaan dan keegoisan mereka."


Haruka langsung terkejut mendengar itu karena Alvin pernah bersikap seperti itu, mulai dari menjadikan Mortem sebagai alat perang dan membunuh Shira melainkan menyelamatkannya dari sisi Eternal Shira yaitu Shiratori Shiro. "J-Jadi... Begitu..."


"Aku sudah tahu alasan jelas kenapa ia bertingkah semaunya... Papa... Maafkan aku jika aku pernah membencimu dan tidak memilih pihakmu, ternyata kau benar-benar adalah seorang Legenda yang hebat dan pantang menyerah. Kau melindungi semuanya demi kenyamanan penghuni Touri, walaupun para penghuni kebanyakan membencimu setidaknya masih terdapat beberapa penghuni yang mempercayaimu dan memberimu harapan mereka..."


"Nenek, apakah kamu tau semua itu karena takdir papa yang kau lihat?" Tanya Haruka.


"Tentu saja. Aku juga bisa melihat takdir yang dimiliki Alvin, takdirnya masih banyak sekali hingga tidak ada batasnya. Maafkan aku, Haruka, aku tidak akan memberitahumu---"


"Aku juga bisa membaca sedikit takdir milik Alvin, jadi terima kasih, nenek. Aku hanya membutuhkan satu bantuan lagi darimu." Ucap Haruka yang perlahan-lahan menunjukkan Omni-Slayer.


"Kau ingin mengalahkan Zoiru menggunakan Omni-Slayer ya?" Tanya Yuriko selagi menunjukkan sebuah senyuman kecil di wajahnya.


"Tidak semudah itu, Haruka... Pedang Omni-Slayer sangatlah kuat dan berbahaya bagimu. Ketika pedang itu menghancurkan atau mengalahkan seorang dewa maka pedang itu juga akan ikut hancur jika si pengguna tidak bisa menahan kekuatan asli dari Omni-Slayer..."


"...Pedang itu akan merusak anggota tubuhmu jika kau mencoba untuk mengalahkan seorang dewa yang sangat kuat sekali, contohnya Zoiru. Dia berada di level yang berbeda dengan dirimu! Pedang itu akan hancur bersamamu jika kau gagal." Ucap Yuriko dengan wajah yang sangat serius.


"Kalau begitu, bagaimana kau bisa menggunakan pedang ini?"


"Pedang ini... Pedang ini lahir bersamaku ketika aku masih kecil. Pedang ini hanya akan bertahan bagi pengguna aslinya yaitu aku." Ucap Yuriko.


Haruka langsung terkejut ketika mendengar itu. Ia mulai menatap pedang itu dengan tatapan serius-nya. "Ini sama saja... Aku sama saja seperti ingin mengorbankan seluruh tubuhku demi keselamatan touri..."


"Pilihan terbaik terkadang akan memiliki hasil yang menyakitkan."


"Ahh... Papa..." Haruka langsung mengingat perkataan Alvin kepadanya beberapa hari yang lalu. Haruka langsung tersenyum mendengar itu. "Baiklah, aku tidak takut... Jiwa Legendaku mengatakan sesuatu kepadaku dan aku mendengar jelas dan padat... Legends Never Dies."


Yuriko langsung tersenyum ketika mendengar itu. "Hebat... Kau memang terlihat seperti Alvin."


"Aku adalah anaknya... Aku pasti akan memiliki jiwa yang sama dengannya." Haruka menepatkan pedangnya di belakang punggungnya lalu ia menciptakan dua kubus yang berwarna hijau dan hitam. "Cage of Memories... Selamat tinggal, Papa. Aku akan menemuimu nanti di sisi lainnya..." Haruka mencium dahi Alvin lalu ia memasukan kubus hijau itu ke dalam hati Alvin hingga ia langsung bersinar warna hijau dan menghilang dalam sekejap.


Haruka langsung menatap wajah Yuriko. "Semoga beruntung, cucuku. Jiwa Legenda tidak akan pernah mengecewakan siapapun... Kau harus menang, demi touri dan ayahmu..." Yuriko langsung memeluknya dengan sangat erat.


Haruka langsung menangis. "Hmm... Terima kasih, Nenek..."


Haruka langsung mengejamkan kedua matanya dan ia mulai memegang kubus hitam itu dengan sangat erat. "Mama... Papa... Saudara-saudaraku... Doakanlah aku... Doakanlah aku memenangkan pertarungan ini..."


"Cage of Time Destruction!" Haruka langsung memasukkan kubus itu ke dalam hatinya hingga ia bersinar gelap lalu menghilang dalam sekajap.


"Semoga beruntung... Haruka..." Yuriko tersenyum.



SWOOOOOOSSSHHH!!!


...


...


...


"HWEEEHHHH!!! HWEEEEHHHH!!! HWEEEEEHHHH!!!" Tiba-tiba suara tangisan bayi laki-laki mulai muncul. Alvin yang sedang tertidur langsung mendengar suara itu dengan sangat jelas sekali. Ia mulai menatap atap dan mulai perlahan bangkit dari atas lantai, ia langsung melirik ke belakang dimana ia melihat Yuriko dan Ariyaku. "Ibu... Ayah..."


Alvin melirik ke segala arah dan ia bisa sadar bahwa ia sedang berada di Cage of Memories. "Omni-Communication: Haruka Ghifari..."


"Haruka, kau sedang dimana?"


"Aku sedang berada di rumah nenek. Sepertinya Papa membutuhkan banyak sekali waktu untuk beristirahat, jadi aku memasukkan Cage of Memories ke dalam tubuhmu agar kau bisa beristirahat sebentar." Ucap Haruka. Alvin hanya bisa terdiam selagi menunjukkan ekspresi yang lelah, ia baru saja beres menangis jadi pikirannya terasa cukup kosong. "Ahh... Baiklah..."


"Sampai jumpa disisi lain, Papa."


"Hm..."


Alvin langsung berhenti menggunakan Omni-Communication. Ia tidak sadar bahwa Haruka sekarang sedang melawan Zoiru selagi memegang Omni-Slayer, Alvin mulai menatap Yuriko yang sedang menggendong bayi Alvin. "Ini saat-saat aku lahir 'kah...?" Alvin mulai berjalan menuju kursi yang terletak disebelahnya, ketika ia sampai Alvin langsung duduk di atas kursi itu.


Cage of Memories adalah sebuah sihir khusus Saint of Time milik Haruka, sihir itu mampu membawa seseorang ke kenangan yang mereka pikirkan, cage of memories juga mampu membuat si pengguna tidak terlihat semua orang yang mereka kenang. Seperti Yuriko dan Ariyaku sekarang tidak bisa melihat Alvin yang sedang duduk disebelahnya.


"Lihatlah, Ariyaku... Anak kedua kita telah terlahir sehat dengan kekuatan murni di atas bayi Divra..." Yuriko tersenyum lalu ia mencium pipi bayi Alvin, ia mulai memeluk bayi tersebut dengan penuh kasih sayang.


"Selamat datang ke Touri, putra keduaku..." Ariyaku mencium dahi bayi Alvin hingga bayi tersebut langsung tertidur. Alvin hanya bisa terdiam melihat Ariyaku dan Yuriko yang memberinya dirinya ketika bayi banyak kasih sayang, melihat itu membuat Alvin merasa lebih bersalah karena telah membunuh Ayah dan Ibu-nya.


Yuriko mulai menangis ketika ia melihat wajah tertidur bayi Alvin karena ia tahu Alvin akan menjadi kelinci percobaan sihir Crimson. Ariyaku dan Yuriko hanya bisa memberinya kasih sayang hari ini saja dan bahkan merawat bayi Alvin hanya untuk hari ini saja sebelum Argusa datang dan membawa Alvin ke tabung percobaan. "Ariyaku... Aku tidak bisa... Aku tidak mau Alvin menjadi seperti Divra..."


Ariyaku menghela nafasnya. Sejujurnya Ariyaku dan Argusa telah menyetujui bahwa Alvin adalah kunci untuk menjadi seorang Legenda bermarga Ghifari yang sangat kuat, tidak ada siapapun yang akan bisa mengalahkannya. Ariyaku memeluk Yuriko dengan sangat erat.


"Aku juga sama, Yuriko... Kita tidak memiliki pilihan lain bukan...? Mereka akan menemukan kita jika kita melarikan diri..." Ariyaku mencium dahi Yuriko.


"Hmm... Bisakah... Aku memberikan sebuah nama untuk putra kedua kita...?" Tanya Yuriko.


"Tentu saja..."


"Namanya Alvin... Alvin Ghifari..." Yuriko tersenyum. "Seorang Legenda bermarga Ghifari yang akan melindungi seseorang yang sangat ia percayai dan layak untuk dilindungi... Anak ini adalah takdir... Takdir yang diberikan kepada kita semua, Ariyaku. Aku yakin dia pasti akan menjadi seseorang yang bisa diingat terhadap keburukan dan kebaikannya."


"Aku harap Alvin akan selalu hidup selamanya dan bisa menjalani keluarga Ghifari menjadi keluarga yang lebih baik... Aku percaya itu karena dia adalah putra kedua kita yang akan... Menjadi sesosok Legenda terkuat di Touri..." Yuriko tersenyum lebar.


"Aku percaya terhadap semua perkataanmu, sayang..." Ariyaku memeluk Yuriko erat lalu ia mencium bibirnya.


"Ibu... Ayah... Maafkan aku..." Alvin meneteskan beberapa air mata di kedua matanya.


...


...


Argusa langsung membuka pintu ruangan menuju kamar Yuriko dan Ariyaku. Argusa langsung menghampiri mereka berdua dengan ekspresi yang serius. "Aku memberi kalian waktu 5 jam... Jika 5 jam itu habis maka kalian HARUS memasukkan putra itu ke dalam tabung yang sudah disediakan... Jangan telat---"


"GRRRRRGGGGHHHH....!!!" Alvin membuka kedua matanya dengan sangat lebar hingga kedua pupil matanya bersinar merah. "JANGAN MENGGANGGU MEREKAAAARRGGGGGGGGGHHHHHHHHH!!!!" Teriak Alvin dengan sangat keras selagi lari menujunya dengan tinju kanannya yang terkepalkan.


"HAHHHHHH!!!" Alvin memukul wajah Argusa dengan sangat keras hingga ia tiba-tiba merusak kenangan itu, contohnya seperti kaca jendela yang pecah.


KRAAAAACKKKKK!!!!


"Hah... Hah... Hah..." Kedua penglihatan Alvin langsung memperlihatkan ruangan gelap karena ia baru saja menghancurkan dimensi tadi. Alvin bernafas dengan sangat berat dan masih merasa sangat kesal ketika melihat Argusa lagi.



Di sisi lainnya, Haruka sedang bertarung dengan Zoiru di luar semesta Touri. "Kau... Kau cukup mengganggu juga, kau memang tidak pernah menyerah dalam membunuhku, hah!?" Tanya Zoiru selagi menunjukkan wajah yang sangat kesal.


Haruka mulai melakukan kuda-kuda berpedangnya, ia mulai memegang pegangan pedang itu dengan sangat erat. "Legenda sepertiku bukanlah legenda yang mudah menyerah... Aku adalah anak adopsi dari keluarga Ghifari...!!! HARUKA GHIFARI!!!" Teriak Haruka dengan sangat keras, ia terbang menuju arah Zoiru.


SWOOOOOOOOOOSSSSHHHH!!!


Alvin mulai memegang kepalanya yang terasa sangat menyakitkan. "Sialan..." Alvin mulai mencoba untuk tidak mengingat kembali Argusa, seseorang yang telah merebut semuanya dari kehidupannya sendiri. "Aku memanglah bodoh karena mendengarkan dia...!!!"


"AHHHHHHHGGGGG....!!! SAAAKIIIITTTT...!!!" Teriak seorang gadis dengan sangat kesakitan. Alvin langsung membulatkan kedua matanya hingga beberapa air mata mulai menetes melalui kedua matanya, suara teriakan tadi adalah suara teriakan milik Korrina.


"Ko... rrina...?" Alvin langsung terkejut ketika mendengar suara teriakan Korrina. Kedua penglihatannya tiba-tiba mulai menunjukkan sebuah ruangan kamar rumah sakit dan di depan Alvin terdapat sebuah ranjang dimana Korrina sedang berbaring di atas kasur selagi mencoba untuk melahirkan seorang bayi. "SAKIIITTTTTT!!!! HENTIKAAAAAAN!!!" Teriak Korrina dengan sangat keras, kedua matanya mulai mengeluarkan banyak sekali air mata.


Korrina menghancurkan semua mesin yang berada di sekitarnya karena auranya yang tidak bisa ia kontrol. Alvin langsung mengingat kembali, momen yang ia lihat sekarang adalah momen dimana Rina akan lahir. "Korrina..." Alvin langsung mendekat dan menatap Korrina yang sedang kesakitan.


"Terus dorong! Terus dorong, dewi Korrina!!!" Ucap seorang suster yang mencoba untuk menyemangati Korrina. "AHHHHHHHHHHHH...!!!! SAAAKIITTTTT!!!!!!!!!" Kedua mata Korrina langsung terbakar oleh api suci, ia teriak dengan sangat keras hingga mampu mendorong semua barang dan bahkan kedua suster yang mencoba untuk membantu Korrina melahirkan.


Alvin mulai menatap pintu keluar dimana ia melihat dirinya sedang menunggu. Alvin langsung lari menghampiri dirinya. "Astral Form - Body Control!" Alvin langsung merasuki tubuh dirinya yang berada di masa saat ini.


SWOOOOSSSHHH!!!


Alvin langsung lari menghampiri Korrina dan mulai memegang tangan kanannya dengan sangat erat. "Korrina... Tenanglah... Tenanglah..."


Korrina langsung melirik kepada Alvin. "Al... Vin... Ini... Menyakitkan... Aku bisa mati..." Ucap Korrina yang terdengar lemas, nada suaranya juga hampir tidak bisa di dengar oleh Alvin.


"Kau harus kuat... Kau harus percaya... Apakah ini batasanmu?! Bukannya kamu ingin menjadi seorang ibu yang baik?!" Tanya Alvin.


Alvin langsung melirik kedua dua suster tersebut. "Suster, aku mohon... Selamatkanlah istriku... Aku ingin istriku dan anakku berada dikondisi sehat dan hidup!"


Kedua suster itu mengangguk lalu mereka bergegas kembali menuju posisi. "Sekarang, Korrina... Percaya kepada dirimu sendiri bahwa kau pasti berhasil..." Alvin memegang tangannya dengan sangat erat lalu ia mencium tangan kanannya. "Aku mencintaimu..."


Korrina langsung menambahkan tenaga terakhirnya untuk mencoba melahirkan Rina.


"AHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH....!!!!! AAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHH!!!!! SAAAAAKIITTT....!!!! AWWWWWWWHHHHHHHHHHH?!!!!!!"


...


...


"Ahh...! Berhasil" Ucap salah satu suster itu.


"HWEEEEEEEHHHH....!!! HWEEEEEEEHHH....!!!" Suara tangisan Rina muncul dengan sangat jelas di kedua telinga Alvin. Ia langsung tersenyum dengan sangat lebar ketika Rina telah lahir, ia baru saja mengulangi momen yang tidak akan pernah ia lupakan ketiga kalinya.



Alvin langsung menatap Korrina yang sedang tertidur. Alvin tersenyum melihat Korrina berhasil melahirkan Rina dengan kondisi yang selamat, sepertinya ia benar-benar percaya bahwa ia bisa melahirkan Rina. "Kau memang hebat, istriku..." Alvin langsung mencium bibir Korrina.


Korrina tersenyum dan Alvin berhenti menciumnya. Korrina membuka kedua matanya lalu ia menatap wajah Alvin dengan tatapan senangnya. "Apakah aku berhasil...?"


"100% berhasil, dewi Korrina." Ucap seorang suster yang sedang berdiri di sebelah Alvin selagi menggendong bayi Rina. Korrina langsung tersenyum lebar dan menangis terharu ketika melihat bayi pertamanya. "Putri... Kecilku..."


Korrina mulai perlahan-lahan duduk di atas kasur selagi tersenyum lebar. "Bisakah... Aku menggendong anakku?" Tanya Korrina.


"Tentu saja..." Suster itu langsung memberi bayi Rina kepada Korrina. Korrina langsung tersenyum lebar melihat wajah tertidur Rina, ia menggendongnya dan mulai mencium pipinya. "Harapanku... Adalah dirimu..." Ucap Korrina.


"Lihatlah, Alvin... Warna rambutnya, hitam... Seperti dirimu." Korrina tersenyum lebar. "Kedua matanya juga hampir terlihat sepertimu sedangkan alisnya terlihat sepertiku... Bayi semungil ini... Aku senang bisa memilikinya..." Korrina memeluk Rina dengan sangat erat.


"Mari kita beri bayi kecil ini sebuah nama yang bagus, Alvin..."

__ADS_1


"Aku yang pilih atau kau...?" Tanya Alvin.


"Kau saja... Karena dia mirip sepertimu..."


Alvin mulai meneteskan beberapa aie mata melihat bayi Rina yang sedang tertidur. "B-Bagaimana... ya..." Ucap nada Alvin yang mencoba sekuat mungkin untuk tidak menangis seperti anak kecil. Korrina menyadari hal itu dan ia langsung tersenyum.


"Rina..."


"Rina... Rina Ghifari." Jawab Alvin dengan kedua matanya yang berkaca-kaca dan sudah mengeluarkan beberapa air mata. Korrina tersenyum lebar mendengar nama itu. "Rina Ghifari ya... Nama yang sangat indah bagi bayi sekecil ini~" Korrina terkekeh lalu ia menatap wajah Alvin yang terlihat jelas seperti mencoba untuk tidak menangis. "... ..."


"Apakah kamu ingin menggendongnya juga?" Tanya Korrina dengan sebuah senyuman kecil di wajahnya.


"Tentu..." Alvin mengulurkan kedua tangannya lalu Korrina langsung memberikan bayi Rina kepadanya. Alvin langsung menatap wajah Rina yang masih berada di kondisi tertidur. "Rina... Ghifari... Rina Ghifari..." Alvin langsung meneteskan beberapa air mata ketika melihat wajah Rina. Ia baru saja teringat bahwa Mortem dan bisa jadi Rina membencinya di masa yang asli.


"Selamat datang ke Touri... Rina Ghifari..." Alvin mencium dahi Rina. Ketika ia mencium dahinya, Alvin langsung kehilangan semua pertahanannya dalam mengontrol tangisannya. Ia menangis dan mengeluarkan suara tangisannya. "Ugghhh.... Nrrrrghhh..."


Alvin terus menangis melihat wajah bayi Rina, ia meneteskan air mata tersebut kepada wajah Rina hingga Rina langsung terbangun dari tidurnya dan ia mulai menatap wajahnya. "Dahhhhh..." Rina tersenyum lalu ia memegang erat jari kanan Alvin. "Tehehe..."


"Aku... Aku..." Ucap Alvin yang mencoba untuk sekuat mungkin berbicara. "Ada apa, sayang...? Bicaralah." Korrina tersenyum.


"Dahhhhh... Dadah..." Rina tersenyum, ia terlihat seperti mencoba untuk menenangkan Alvin. "Aku tidak bisa melindungi kalian semua..." Alvin duduk di sebelah Korrina selagi menangis dengan sangat kencang. "Ugggghhhh......" Alvin terus menangis tiada hentinya hingga Korrina sendiri merasa sangat terharu melihat wajah Alvin yang selalu dipenuhi dengan pertahanan emosi sekarang hancur karena kesedihan. Wajah sedihnya itu menjelaskan banyak hal bagi Korrina bahwa ia telah mengalami banyak kesakitan di dalam hati-nya.


"Aku tidak bisa melindungi kalian semua..."


Korrina tersenyum lalu ia mulai meneteskan beberapa air mata, Korrina mulai membuka lebar kedua tangannya seperti ingin sekali memeluk Alvin, tetapi ia tidak bisa karena ia masih belum sempurnanya bisa bergerak. "Peluk aku..." Tawaran Korrina membuat Alvin langsung mendekat, Korrina langsung memeluknya dengan sangat erat.


Korrina mulai berbisik kepada Alvin. "Setidaknya kau tidak pernah menyerah dalam melindungi mereka..."



CLAAAAAANG!!!


Haruka menahan pedang energi Zoiru yang hampir saja membelah kepalanya menjadi dua. "Kau sadar bahwa semua perilaku yang kau lakukan itu meniru seseorang yang sangat pengecut...?! Kenapa kau mencoba untuk mengubah sesuatu dari masa lalu...? Kenapa tidak ubah masa depan saja?!" Tanya Haruka.


"DIAMLAH, DASAR WANITA BUSUK!!! KAU TIDAK AKAN PERNAH MENGERTI DENGAN TUJUANKU SEBENARNYA!!!", Zoiru menambah dorongan lebih di dorongan pedangnya hingga Haruka langsung terdorong ke belakang.


Haruka melompat ke belakang dengan pedang yang ia pegang mulai terlumuri oleh aura Crimson. "AKU... AKU AKAN MENYELAMATKAN TOURI...!!! OMNI-SLAYER...!!! UNLEASHED POWER!!!" Teriak Haruka dengan sangat keras hingga pedangnya mulai bersinar dengan sangat cerah. Kedua lengan Haruka langsung memerah. "Nrrghh...!!!"


"Aku bisa merasakannya..." Haruka mengejamkan kedua matanya hingga beberapa darah merah mulai keluar melalui kedua matanya. Haruka membuka kedua matanya dengan sangat lebar hingga Zoiru terpental ke belakang. Kedua mata Haruka bersinar merah dengan sangat cerah. "Satu tebasan... Satu tebasan takdir bagi Touri..."


Haruka muncul tepat di depan Zoiru lalu ia mengayunkan pedangnya tepat di atas kepala Zoiru, dengan cepat Zoiru langsung menahan pedang itu menggunakan kedua telapak tangannya. "TIDAK MUNGKIN...!!! KAU HANYALAH DEWI SAMPAH YANG BERADA DI LEVEL LEBIH RENDAH DARI ALVIN...!!!"


"Walaupun aku dewi rendahan... Setidaknya pedang ini, Omni-Slayer adalah akhir bagimu...!!!"


"Omni-Slayer!?" Zoiru langsung terkejut ketika mendengar nama itu.  "Pedang ini adalah pedang kematian bagi dewi bejat seperti kalian...!!! Walaupun kalian ini lebih kuat dariku dan selalu saja bangkit dari kematian maka... BIARKANLAH PEDANG INI MELAKUKAN PEKERJAANNYA SENDIRI DENGAN MEMUSNAHKANMU TANPA SISA-SISA LAINNYA...!!!"


Zoiru mendorong Haruka mundur lalu ia mengayunkan pedang energinya ke arah leher Haruka, tetapi Haruka langsung menebas hancur pedang milik Zoiru.


BAMMMMMMM!!!


Haruka memutar pedangnya lalu ia menusuk perutnya dengan sangat dalam sekali. SWOOOSH "AHGGHHG...!!! K-KEKUATAN APA INI...!? AKU BISA MERASAKAN KESAKITAN YANG MELAMPUI KESAKITAN VANISH!!!!"


"Inilah kekuatan jiwa legendaku dalam mencoba untuk mengakhiri kegilaan yang kau buat...!!! PENGORBANAN UNTUK SEMESTA YANG SANGAT AKU CINTAI...!!!"


"OMONG KOSONG!!!!!!" Teriak Zoiru hingga mampu mendorong Haruka dan pedangnya mundur. "Beraninya kau mencoba untuk menghancurkan harga diriku sebagai dewa oa---"


"BODO AMAAAAAAT!!!" Haruka langsung mengayunkan pedangnya ke arah puncak kepala Zoiru hingga pedangnya langsung mengenai puncak kepalanya dan perlahan-lahan mulai membelahnya menjadi dua.


SWOOOOSSSHH!!!


"UAAAAAGGGGGGGGGHHHHH!!!" Teriak Zoiru yang terasa sangat kesakitan.


"SEKARANG KAU BISA MERASAKAN KEMATIAAAAAAN...!!!" Haruka langsung tanpa basa-basi membelah Zoiru menjadi dua menggunakan pedang itu. SWOOOOSSH!!!


Dengan kesempatan terakhir hidup Haruka, ia mengambil sebuah panah hijau yang berada di punggungnya. "Keberuntungan..." Haruka melempar panah itu ke belakang hingga panah tersebut mulai menghilang dalam sekejap.


"Sampai jumpa... Mama... Papa... Rina... Saudara-saudariku..."



Ketika Alvin memberikan Rina kembali kepada Korrina, kedua penglihatannya langsung berubah dan menunjukkan Haruka yang masih kecil sedang menangis di depan Alvin. "H... Haruka...?" Alvin mulai jongkok lalu ia mengelus rambut Haruka.


"Apakah kau baik-baik saja...?" Tanya Alvin, Haruka langsung memeluknya dengan sangat erat. "Cage of Memories - Ending..." Ucap Haruka kecil itu hingga membuat Alvin mengkerutkan alis kanannya. "Apa...?"


Haruka kecil itu langsung menunjuk ke depan, Alvin langsung menatap ke depan dan tiba-tiba ia melihat... Haruka yang telah membelah Zoiru menjadi dua dengan menggunakan Omni-Slayer... "Haruka---"


Haruka kecil yang memeluk Alvin langsung menghilang, Haruka yang berada tepat di depan Alvin melirik ke belakang dan mulai tersenyum. "Sayounara..."


"TIDAAAAAK---"


BAAAAAAMMMMMMMMM!!!


Pedang Omni-Slayer itu langsung meledak dan membuat ledakan yang sangat besar sekali hingga mampu menghancurkan segalanya yang ada di sekitarnya. Alvin langsung terpental ke belakang karen ledakan itu, beberapa detik kemudian sebuah portal muncul tepat di belakang Alvin. Alvin langsung terhisap masuk oleh portal tersebut.


SWOOOOOOOOSSSHHHH!!!


...


...


Shira langsung membulatkan kedua matanya, ia merasakan energi sihir milik Alvin dengan sangat jelas sekali. Energi sihirnya sedang bergerak menuju arah rumah Korrina, Shira dan yang lainnya merasakan juga.


"Itu Alvin...!!! Kalian merasakannya!?" Tanya Shira.


"YAAAAAA!!!" Teriak mereka semua.


SWOOOOOSSSHHH!!!


Shira melihat meteor besar yang jatuh menuju arah taman milik Korrina. Shira langsung melompat ke arah meteor itu dan mulai menangkap Alvin. "Hup...!"


Shira langsung mendarat di atas tanah selagi memegang Alvin di kedua lengannya. Korrina langsung lari menghampiri Shira dan mulai menatap Alvin, ternyata hal yang Korrina lihat memang benar. Alvin masih hidup. "Alvin...!" Shira langsung meletakkannya di atas tanah, Korrina mulai meraba kedua pipinya.


"Alvin...! Bangun...!" Panggil Korrina yang mencoba untuk membanguninya. Shira dan yang lainnya datang dengan waktu yang pas, mereka sedang berada di rumah Korrina karena mereka ingin memberi rasa kehormatan lagi kepada kuburan Alvin, tetapi mereka malah menemukan fakta tentang Alvin yang masih hidup.


Alvin meneteskan beberapa air mata melalui kedua matanya, ia langsung membuka kedua matanya. "Alvin...!!!" Korrina langsung tersenyum lebar selagi menangis tangisan bahagia. "KAU KEMBALI...!!!" Korrina langsung memeluknya dengan sangat erat sekali.


"YAAAAA!!! ALVIN TELAH PULANG...!!!" Teriak Shira dan yang lainnya, mereka merasa sangat lega bisa melihat Alvin masih hidup.


"Huh..." Alvin langsung membuka kedua matanya dengan sangat lebar. "AHHH...!? DIMANA HARUKA...!?" Tanya Alvin, ia langsung bangkit dari atas tanah selagi melirik ke segala arah.


"Haruka...?" Korrina langsung mencoba untuk mencari energi sihir Haruka dan ia tidak bisa menemukannya. "Loh... Kok dia menghilang...?"


Semua orang tiba-tiba terdiam ketika mencoba untuk mencari energi sihir milik Haruka. Mereka sama sekali tidak bisa merasakan keberadaannya. Alvin langsung berlutut dan memukul daratan dengan sangat keras. "SIALAAAAAAANNNNN!!!" Teriak Alvin dengan sangat keras.


Korrina dan yang lainnya langsung menatap Alvin dengan tatapan kebingungan melihatnya tiba-tiba marah. "HARUKA...!!! HARUKA...!!! DIA MENGORBANKAN DIRINYA DENGAN MELEDAK BERSAMA OMNI-SLAYER...!!!"


"DIA MENGORBANKAN NYAWA HANYA DEMI MENGALAHKAN ZOIRU... SIALAN...!!!" Teriak Alvin selagi menangis. Semua orang langsung terkejut mendengar itu. "Haruka... Mati...?" Korrina langsung terkejut ketika mendengar itu.


SWOOSSHH!!! JRATTT!!!


Tiba-tiba sebuah panah hijau mulai menancap di sebelah Alvin, ia langsung melirik kepada panah hijau tersebut. "P-panah...?" Alvin mengambil panah itu lalu ia bangkit dari atas tanah selagi melihat panah tersebut. Ia melihat sebuah tulisan yang mengatakan Message of Time.


"Message of Time." Panah itu langsung berputar dan mulai menancap di daratan yang berada di depan Alvin dan yang lainnya. Tiba-tiba sebuah hologram mulai muncul dan hologram itu menunjukkan Haruka yang sedang tersenyum. "Haruka..."


"Halo, Papa... Semuanya... Jika pesan ini telah terbuka maka kalian sudah tahu bahwa aku sudah mati. Yahhh, bagaimana menjelaskannya ya..." Haruka mulai menggaruk-garuk rambutnya.


"Sejujurnya... Aku tidak pernah membenci Papa, aku hanya diam-diam selalu berada di pihak Papa karena aku bisa melihat jelas wajah Papa yang dipenuhi dengan kekuatan dalam menahan emosi tangisan apapun... Papa selalu saja benar, walaupun papa tidak pernah dipercayai siapapun..."


"Jika aku mempercayai Papa dari awal, semua ini pasti masih akan tetap terjadi... Aku pasti akan mati mengorbankan diriku demi Touri. Hal itu adalah hal yang seharusnya bukan untuk menyalahkan seseorang. Bahkan tidak boleh ada yang menyalahkan kematianku karena Papa, tidak boleh. Aku sudah berkehendak untuk mengorbankan diri..."


"Sejujurnya rencanaku dari awal adalah untuk mengorbankan diriku sendiri karena aku tahu papa pasti akan mencoba untuk membunuh dirinya sendiri... Aku sudah melihat masa depan bahwa akulah yang ditakdirkan untuk mengalahkan Zoiru."


"Papa sudah melindungiku kok... Selalu... Papa selalu mengatakan bahwa tidak ada siapapun yang bisa mati jika Papa berkeliaran."


"Sepertinya ideku dalam membuat message of time cukup berguna juga agar papa dan kalian semua bisa mengetahui kebenarannya... Aku tahu kalian di dalam hati masih membenci papa karena sikap egois, kekuasaannya, dan semua hal buruk yang Papa miliki."


"Nenek Yuriko menceritakan semuanya tentang Papa... Aku mendapatkan semuanya dengan sangat detail ke dalam Cage of Memories, kalian bisa melihat sejarah papa di dalam kubus hijau itu..."


"Ketika aku mendengar sejarah yang pernah papa alami, aku merasa terharu dan sedih bahwa papa memiliki semangat yang tinggi hingga tidak pernah menyerah... Walaupun menyakitkan, kamu terus maju hingga selesaikan, papa?"


"Jadi... Jika aku mati, papa dan yang lainnya harus terus maju, ya? Kalian harus lindungi semesta yang kalian sangat cintai yaitu Touri!"


"Hiduplah hingga bisa selalu melihat masa depan yang dimiliki oleh semesta ini. Cari alasan kenapa Touri adalah semesta yang selalu kalian cintai dan lindungi."


"Pesan terakhir... Terima kasih karena sudah menerimaku sebagai anak adopsimu, Papa. Hidup dengan keluarga Ghifari memang menyenangkan hingga aku bisa menjadi kuat seperti ini... Aku tidak percaya bahwa Papa akan menerimaku menjadi salah satu anggota dari keluarga Ghifari..." Haruka tersenyum.


"Selamat tinggal, semuanya. Semoga kalian tidak memiliki rasa benci terhadap diriku ya~ Aku tidak merasa menyesal sama sekali mengorbankan diri demi Touri. Aku menyayangi kalian semua hingga akhir dari semesta Touri~" Hologram Haruka langsung menghilang dan panah yang tadinya berwarna hijau langsung berubah menjadi warna hitam.


Alvin berdiri tegak selagi meneteskan beberapa air mata. Mortem dan saudara-saudaranya sedang berada di belakang Alvin selagi menunjukkan wajah yang bersalah. "Papa..." Panggil Vinna. Alvin melirik ke belakang lalu ia menghampiri Mortem dengan tatapan kosongnya.


"Kau boleh membenciku setiap hari, Mortem. Kalian mau dengar!? Mau dengar!? Aku sudah muak, aku menyerah dalam melindungi semesta busuk ini...!!! Kalian boleh dan dipersilahkan untuk tidak menganggapku sebagai ayah kalian lagi!!!" Ucap Alvin selagi menunjukkan wajah yang terlihat kesal dan hampa.


"Tapi, papa, tunggu---" Perkataan Mortem langsung terpotong. "SHHH...!!! Biarkan, aku yang berbicara hanya untuk hari ini saja. 10 abad lamanya aku dihianati, difitnah, dibenci, diburu, dan tidak dipercayai... Kalian bisa merasakan apa yang aku rasakan tidak...?! Tidak di percaya...!!! Oleh siapapun...!!! Tidak ada yang percaya...!!!"


"Banyak sekali orang yang sangat aku cintai dan sayangi mati karena perbuatanku TERMASUK KALIAN SEMUA, dan sebagiannya mati karena aku berada di sekitar mereka! Padahal aku sudah melakukan semua yang aku bisa demi melindungi TOURI dan SEMUA YANG AKU PERCAYAI...!!!" Korrina langsung mendekati Alvin dan mulai menenangkannya. "Alvin, alvin, sayang, hentikan..."


"Kalian tahu apa...!? Susah dan sangat menyakitkan bagiku karena tidak ada yang mempercayaiku!!! Setiap hal yang aku lakukan pasti mereka akan melihatnya seperti hal yang negatif...!!!" Alvin mulai kehilangan kendalinya terhadap kemarahannya, ia mulai muak terhadap segalanya. Semua kematian pasti akan terkait terhadapnya. "Shiro, Homuze, dan Haruka mati karena aku berada di sini...!!! AKU IKUT CAMPUR DI SEMESTA INI BUKAAAAAN!!?" Teriak Alvin.


"Papa, dengarkan kita---"


"Ahh, kau tahu apa?! Setidaknya kau bawa ini...! Bawa peninggalan terakhir Haruka!!!" Alvin mencabut keluar kubus hijau yang berada di dalam jantungnya lalu ia memberikannya kepada Mortem. "Sekarang ini... Kalian bebas melakukan apapun, termasuk tidak menganggapku sebagai ayah..."


Alvin jalan melewati Mortem selagi menunjukkan wajah yang terlihat kesakitan. Otaknya mulai berdenyut dengan sangat cepat karena ia mulai terasa sakit di bagian kepalanya. "Ugh..." Alvin terjatuh di atas tanah dan pingsan.


"Alvin...!!!"



Mortem: "Kau yang terburuk, Papa..."


Korin: "Perbuatanmu memang lebih buruk dari sifat egois..."


Alvian: "Kau hanya bisa mengandalkan kekuatan melainkan hatimu..."


Corni: "Sadarlah bahwa mereka... Mereka membutuh pertolongan yang sebenarnya, bukan pertolongan yang hanya butuh imbalan"


Vinna: "Papa tersayangku ternyata mulai berubah menjadi papa termenyebalkan"


Rivin: "Kau hanya datang ketika kau tertarik terhadap masalah yang berbahaya."


Vivin: "Apakah kau tidak akan pernah sadar bahwa dirimu itu lebih buruk dari sampah berserakan?"


Haruka: "Papa hanya memperdulikan pertarungan yang melibatkan dirinya terluka parah."


Rianna: "Sejarah Papa hanyalah sejarah yang cocok... Dipenuhi dengan kebencian dan kesakitan."


Virra: "Papa memang peduli terhadap Saint yang papa tertarik untuk bunuh ya...?"



"Kau yang terburuk, Papa..." Ucap Rina, suara itu berasal dari belakang Alvin yang sedang berdiri selagi mendengar semua ejekan, fitnahan, dan kebencian yang selalu ia alami.


Alvin mulai duduk di atas tanah selagi menunjukkan wajah yang hampa dan lelah. "Aku hanya ingin istirahat......" Alvin tersenyum kecil.


"Beberapa abad yang kau alami ini, kenapa kau bisa memiliki perasaan kuat dalam menahan semuanya, Papa...? Kenapa sekarang jadi hancur?"


"Lebih dari jutaan kesakitan, fitnahan, kebencian, dan tidak dapat dipercayai... Papa menahannya hingga sekarang dan kamu pikir Papa lemah gitu... Papa sudah mencapai batas... Papa sudah tidak bisa menahannya lagi..."


"Dasar lemah... Bodoh... Rendahan..."


Alvin melirik kepada Rina selagi menunjukkan wajah yang kebingungan. Tiba-tiba ia melihat wajah Rina yang terlihat sangat sedih sekali, ia sedang menangis tanpa henti. "Rina...?"


"Suatu saat nanti terdapat hari dimana Papa untuk terakhir kalinya melindungiku..."


BAMMMMM!!!


"HAHHHHHH...!!!" Alvin langsung terbangun dari mimpinya. Ia mulai menatap atap-atap dan mulai melirik ke segala arah. Tiba-tiba ia melihat Rina dan saudara-saudaranya sedang tertidur selagi menjaga Alvin. "Anak-anak..." Alvin langsung menunjukkan ekspresi yang terkejut melihatnya.


"Mereka dari pagi hingga tengah malam ini menjagamu loh... Mereka sampe menangis karena menyesal pernah membenci Papa." Korrina menghampiri Alvin selagi memegang sebuah selimut yang besar untuk menghalangi seluruh tubuh anaknya agar tidak masuk angin.


"Korrina..."


"Kenapa?"


"Menurutmu pilihan terbaikku sekarang ini bagaimana?" Tanya Alvin.


"Bagaimana kalau kamu beristirahat dan menghabiskan waktu dengan keluarga... Kali-kali refreshing agar otakmu tenang..."


"Korrina... Aku ingin anak baru..."


Wajah Korrina langsung memerah dan terdapat asap keluar. "S-Seriusan...!?"


"Hm... Bolehkah?"


"T-T-Terserah sih... 15 tahun meninggalkan aku dan kau berbicara denganku hanya untuk membuat anak, dasar... Mesum! Bodoh! Rendahan!" Korrina mulai duduk di sebelah Alvin dan Alvin langsung memeluknya dengan sangat erat. "Kok aku merasa kangen ya... Sama istri rataku..."


"ENGGAK RATAAAA---" Alvin langsung mencium bibirnya hingga membuat Korrina terkejut. Mereka langsung memegang tangan mereka dengan sangat erat selagi berciuman. Beberapa menit kemudian mereka berhenti dan membangunkan Rina dan yang lainnya.


"Papa...?" Rina melirik kepada Alvin.


"Yo... Anakku---"


"PAPAAAAAAA!!!" Teriak anak-anak Alvin yang melompat menuju arahnya, mereka memeluk Alvin dengan sangat erat hingga ia tidak bisa bernafas. "Guugghh...!!! Aku... Tidak... Bisa bernafas...!!!"



Alvin dan anak-anaknya mulai tertidur demgan sangat damai. Korrina melirik kepada mereka semua dan ia mulai tersenyum lebar. "Setidaknya hari ini... Semuanya berakhir..." Korrina mencium pipi Alvin lalu ia mematikan lampu kamar.


"Aku..."


Tiba-tiba Korrina mendengar Alvin yang sedang berbicara selagi tertidur. "Aku tidak bisa... Melindungi mereka semua..." Alvin mulai menangis selagi tidur nyenyak. Korrina tersenyum lebar karena ia mengingat kata kata itu. Korrina mulai mendekat dan berbisik. "Setidaknya kau tidak pernah menyerah dalam melindungi mereka semua..." Korrina langsung memeluk Alvin dengan sangat erat selagi mengejamkan kedua matanya.



Keesokan harinya semua para Legenda yang mengenal Haruka mulai berkumpul di satu tempat yaitu pemakaman Haruka. Semua legenda mencoba untuk menahan tangisan mereka, tetapi tidak bisa. Alvin juga bahkan sedang menangis selagi memegang tisu di tangan kanannya. "... ..."


Alvin dan Korrina berada di paling depan, ia menatap kuburan yang terdapat panah di atasnya dan juga terdapat sebuah batu yang bertulisan "Haruka Ghifari - Pahlawan Legenda bagi Touri"


Beberapa menit kemudian, semua legenda sudah meninggalkan pemakaman itu kecuali Alvin, Korrina, dan Mortem. Mereka masih menatap kuburan itu dengan tatapan sedih mereka. "Sudah saatnya..." Alvin menarik nafas dalam-dalam, Korrina dan Mortem mulai menatap Alvin dengan tatapan yang kebingungan.


Alvin mulai menatap Mortem dengan tatapan yang sangat serius. "Mortem... Sepertinya sudah saatnya Papa memutuskan siapa yang akan menjadi Dewa maha kuasa selanjutnya..." Tiba-tiba Alvin bersinar dengan sangat cerah hingga sinar itu langsung pindah menuju kedua tangannya.


Korrina langsung terkejut melihatnya. "Alvin?! Apa yang kau lakukan!? Kau mencoba untuk..."


"Korrina, aku sudah memutuskannya semuanya hingga akhir. Aku ingin menjadi seorang dewa atau mortal biasa saja, aku sudah tidak bisa dijuluki sebagai dewa maha kuasa lag karena aku ingin pensiun menjadi dewa maha kuasa..." Ucap Alvin yang mampu membuat mereka membulatkan mata mereka. "Pensiun...?! Papa, jangan harap kau memberikan kekuatan berbahaya itu kepadaku...!!!" Ucap Mortem selagi menunjukkan wajah yang terkejut.


"Mortem... Kau sudah siap untuk menggantikan, Papa... Papa ingin mewariakan kekuatan maha kuasa ini kepadamu... Kau mampu menyeimbangkan Touri demi papa bukan? Semua penghuni Touri akan suka dan senang jika kamu adalah dewi maha kuasa dari semesta Touri!" Ucap Alvin dengan sebuah senyumannya. Korrina menatap Alvin dengan tatapan khawatir lalu Alvin mengangguk. "Touri membutuhkan seorang dewa maha kuasa yang layak... Yaitu kau, Mortem."


"Papa..." Mortem mulai menatap Korrina dan ia langsung mengangguk lalu mulai menunjukkan jari jempolnya. "Mama juga setuju dengan Papa-mu, kau layak menjadi dewa maha kuasa selanjutnya..."


"Mama... Papa..." Mortem tersenyum lalu ia mulai meneteskan air mata. "Aku akan mencoba untuk menggantikan Papa, Mortem akan membanggakan kalian berdua." Mortem langsung memeluk mereka dengan sangat erat. Alvin tersenyum. "Ubahlah Touri semaumu..."


"Tidak mau... Aku masih ingin menyeimbangkannya sama seperti Mama~" Mortem langsung melepaskan pelukannya dan Alvin mula mengangguk lalu tersenyum. "Papa bangga sama kamu... Bangga sekali."


Mortem mengangguk lalu ia berlutut kepada Alvin. "Aku siap.. "


"Mortem... Aku Alvin Ghifari, seorang Dewa maha kuasa yang kedua dari alam semesta Touri mengangkatmu menjadi dewi maha kuasa yang pertama... Dewi maha kuasa Touri!" Alvin mulai meraba kepala Mortem dan Mortem langsung bersinar hingga sebuah simbol Omni muncul tepat di dahinya, Mortem langsung bersinar dengan sangat cerah hingga melepaskan gelombang emas ke atas langit.


SWWWOOOOOOOOSSSSHHHH!!!


Rambut poni Alvin yang memiliki rambut merah langsung menghilang dan berubah menjadi warna hitam, tanda dewa maha kuasanya telah hilang dan ia telah kembali menjadi sesosok dewa biasa. Alvin tersenyum dan mulai melemah, Korrina langsung memeluknya dan membantunya berdiri. "Kau kembali, Alvin...?"


"Hm..." Alvin mengangguk dan ia mulai menatap ke depan dimana ia melihat Mortem yang berhenti bersinar. Kedua matanya masih tetap bersinar layaknya seorang dewi yang maha kuasa dan rambutnya juga telah berubah menjadi warna putih, itu menandakan bahwa Mortem adalah dewi maha kuasa pertama di semesta Touri.


"Aku janji akan menyeimbangkan Touri... Papa... Mama...!" Mortem langsung memeluk Alvin dan Korrina dengan sangat erat. "Ya... Papa tidak sabar melihat masa depan touri..." Alvin tersenyum lebar.


~7 tahun kemudian~


Shira's POV


Setidaknya semesta Touri berakhir dengan kedamaian lagi bukan? Yah... Walaupun semesta ini damai, kita para Legenda tidak boleh terus bersantai, kita harus terus berlatih hingga akhir. Tidak ada yang tahu, suatu saat musuh yang lebih kuat dari Zoiru akan muncul entah kapan...


Aku menantikannya... Aku dan Homura telah kembali hidup, kita tidak sabar untuk menikmati kehidupan kita dengan sebuah kesenangan yang lama karena kita tidak pernah melakukannya. Kita selalu saja bertarung hingga membuat seseorang bosen, eh? Siapa ya?


NORMAL'S POV



Seorang Legenda yang dihalangi oleh jubah hitam sedang berdiri di atas mayat-mayat Legenda yang sudah terbantai habis olehnya, Legenda itu melapas jubah yang menghalangi kepalanya. "Semua Legenda yang tidak layak akan aku habisi satu persatu... Parasit seperti mereka itu berbeda dengan Legenda layak, mereka parasit menjijikan..."


"Waktunya diriku, Shimatsu Arata... Melakukan tujuannya..." Arata langsung menepatkan pedangnya di belakang punggungnya.


~TAMAT~


Terima kasih kalian para pembaca setia yang sudah membaca sejauh ini... Aku tidak percaya bahwa kalian akan menamatkan Spesial Chapter II sampai titik ini, bagaimana!? Seru 'kan!?


Apakah Spesial Chapter ini menemani kalian di bulan puasa!? Haha...


Yahhh, jangan lupa untuk Vote, Comment, dan nantikan update lainnya dari TOURI SERIES!


Sekali lagi Author sangat berterima kasih kepada kalian semua pembaca terbaik... Kalian semua memanglah legenda dan legenda memiliki kata kata bermakna yaitu... LEGENDS NEVER DIES!


~SAMPAI JUMPA LAGI NANTI~


Shiratori Shou yang dirumorkan telah menjadi anak dari Shira dan Homura, ia adalah ras Eternal murni atau bisa disebut 100% semua darahnya adalah darah Eternal karena dia sebenarnya adalah anak Shiro dan Homuze. Shou berjalan ke depan selagi ditemani oleh seorang Dewi Kematian (Shinigami) di belakangnya.

__ADS_1


Shou berhenti ketika ia melihat seseorang yang sedang menunggunya dari tadi. "Kau datang juga, Shou... Aku kira kau akan lari ketakutan..."


"Jaga perkataan busukmu itu, Kuroshin. Aku datang untuk menyadarimu, bukan untuk membunuhmu!" Kedua mata Shou langsung dilumuri oleh kegelapan yang lebih gelap dari bulan.


__ADS_2