
"Vanish...!" Ucap Korrina, ia menggunakan sihir Omni-nya yang bernama Vanish kepada Shin. Sihir yang menghapus siapapun termasuk dewa dan dewi, sihir ini singkatnya menghapus seseorang hingga tidak tersisa lagi atau bisa disingkat mereka dihapus dari kenyataan. "Ahhh...!!!" Kepala kanan Shin mulai perlahan-lahan terhapuskan dengan partikel-partikel biru.
"Ahh...!!! AHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!" Teriak Shin kesakitan hingga perlahan-lahan kepala kanannya mulai terhapuskan, tetapi setelah itu Rina menghentikan sihir Vanish dengan ilusinya. "Omni-Illusion: Magic Breaker!!!" Sihir ilusi Rina langsung menghancur sihir Vanish Korrina hingga itu membuat Korrina terdorong ke belakang. "Ahh...!?"
"Shin...!!!" Rina berlutut kepada Shin lalu ia mulai menunjuk kepala kanannya menggunakan telapak tangan kanannya. "Omni-Perfection Recovery...!" Rina langsung menyembuhkan kepala kanan Shin hingga perlahan-lahan kondisi Shin mulai sepenuhnya pulih karena sihir penyembuhan milik Rina.
Shin menatap wajah Rina lalu ia mendorongnya hingga Rina terjatuh. "Jangan membantuku...!!!" Shin langsung terbang jauh meninggalkan mereka bertiga sendirian. Rina hanya bisa diam melihat Shin pergi begitu saja tanpa mengucapkan selamat tinggal atau ucapan terima kasih.
Korrina menatap wajah Rina dengan tatapan yang terlihat khawatir. "Kenapa kau menghentikan Mama? Bukannya kamu tau bahwa melepaskannya itu sama saja seperti kita menciptakan masalah baru?"
"Maafkan aku, mama... Tapi dia putraku... Jika Mama mau, hukumlah diriku yang bodoh ini..." Ucap Rina, wajahnya terlihat pasrah bahkan ia mulai menangis lagi. Korrina menghela nafasnya lalu ia tersenyum kecil. "Kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri, anakku sayang." Korrina mengangkat tubuh Rina hingga ia berdiri kembali.
"Serahkan Shin nanti... Pokoknya kamu harus membiarkannya di pergi dulu." Korrina berlutut kepada Rina lalu ia memeluk Rina dengan sangat erat, setelah itu Korrina mulai mengelus-elus kepalanya. "Mama..." Rina mulai mengusap air matanya.
Korrina berhenti memeluknya lalu ia menghampiri Alvin, ia melihat seluruh tubuhnya sedang perlahan-lahan teregenerasi, Korrina langsung menunjuk Alvin menggunakan kedua telapak tangannya. "Omni-Healing." Seluruh tubuh Alvin langsung kembali pulih, ia mulai menatap Korrina dan Rina. "Ahh!? Apa yang terjadi...?"
"Sepertinya efek dari sihir crimson itu masih ada hingga sekarang ya? Hahhhh... Jangan pernah kau gunakan wujud Raging Crimson God lagi karena sirkuit sihirmu bisa-bisa hancur dan tubuhmu akan hancur juga!" Ucap Korrina.
"Jangan khawatirkan diriku, Korrina... Walaupun tubuhku hancur dan aku merasakan beberapa kesakitan yang mampu membuatku lebih kuat lagi, aku memiliki sihir regenerasi!" Ucap Alvin, eksperesinya terlihat sangat serius. Ia bangkit dari atas lalu ia mulai menepuk kedua bahu Korrina. "Apakah aku menang---"
"Apa?" Tanya Korrina dengan eksperesi yang terlihat menakutkan bagi Alvin. "Ahaha~ Iya~ Iya~ Aku akan lebih berhati-hati lagi!" Alvin mulai terkekeh ketakutan ketika melihat wajah Korrina yang mengerikan.
Rina mulai terkekeh melihat Alvin. "Pfftt.... Papa memang benar-benar takut sama Mama ya? Ahahaha!"
"Dia mengerikan..." Ucap Alvin pelan.
Di sisi lainnya, pada malam hari Shou diam-diam berlatih di planet yang tidak berpenghuni bernama Sandira, planet yang hanya memiliki cuaca panas sekali hingga setiap hari selalu saja ada badai pasir. Shou berdiri di atas gunung yang paling tinggi selagi menatap gerhana bulan.
Planet Sandira sekarang selalu berada di malam hari karena Shou menciptakan gerhana bulan di atasnya, gerhana bulan itu menghalang matahari hingga membuat planet Sandira selalu malam. "... ..."
Ia berdiri di gunung yang paling tinggi selagi menahan gravitasi yang memiliki berat 100 juta kali lebih berat dari planet Legendarius, gravitasi terus menambah karena Shou memberikan efek gerhana bulannya untuk bisa menaikan gravitasi. Seluruh tubuh Shou dipenuhi dengan keringat dan bahkan kedua kakinya terasa keram menahan gravitasi yang terasa sangat berat.
Sudah 3 hari lebih Shou berlatih di planet itu sendirian, ia tidak pulang karena ia sudah membawa persedian seperti makanan dan minuman. Wajahnya mulai berurat karena ia sudah tidak tahan untuk menahan gravitasi berat itu selama 72 jam penuh-nya. "Ggrrrrrgghhh...!!! HAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH....!!!" Seluruh aura ungu Shou mulai muncul diseluruh tubuhnya lalu ia mulai membesarkan aura itu hingga aura tersebut mulai meluncurkan gelombang ungu ke arah langit-langit.
"JYAAAAHHHHH!!!" Teriak Shou hingga ia langsung berubah menjadi Saint Revolution, auranya mulai menciptakan gelombang ungu yang melesat menuju arah gerhana bulan itu lalu gelombang tersebut menghancurkan bulan itu hingga meledak menjadi batu-batu kecil. Shou mulai terbang ke atas lalu ia menghantam semua batu-batu itu, setelah ia menghancurkan semuanya Shou langsung tergeletak di atas tanah dengan kondisi tubuh yang lemah. "Ugghh..."
__ADS_1
Shou merangkak menuju arah tas-nya lalu ia mengambil sebuah air suci yang mampu memulihkan Lenergy dan tenaganya sampai pulih. Air suci itu berasal dari Kamitouri dan ia diam-diam mengambil air itu sejak ia bermain Defensively Ball. "Air suci... Haragane..." Shou membuka seleting tasnya lalu ia mengambil botol kecil yang berisi air suci.
Ia membuka penutup botol itu lalu ia meminum air suci itu sampai habis hingga seluruh tenaga dan Lenergy-nya kembali pulih. Shou bangkit dari atas tanah lalu ia melempar botol kosong itu ke belakang. "Mari mulai lagi...!!!" Ucap Shou dengan ia terbang ke depan menjauh dari tas miliknya agar ia tidak menghancurkan tasnya dengan sengaja.
Shou mulai mendarat di atas daratan yang sangat luas, ia mulai menunjuk ke atas. "Lunar Eclipse Creation: Lunar Planet of Energy!" Shou menciptakan beberapa planet yang mirip seperti gerhana bulan tetapi planet itu dilingkari oleh bola-bola energi berwarna ungu.
"Lunar Eclipse Creation: Lunar Gravitation!!!" Shou mulai menciptakan gerhana bulan yang mampu mengontrol gravitasi ketika bulan itu berada dekat dengan sebuah planet, jika gerhana bulan itu mendekati satu planet maka gravitasi planet itu akan membesar hingga 1 milliar. "Baiklah...!!! Mari kita mulai lagi...!!!" Seluruh tubuh Shou terasa sangat berat.
"Lunar Spread...!!!" Teriak Shou hingga semua gerhana bulan yang dilingkari oleh bola energi itu langsung melesatkan semua bola energinya menuju arah Shou, Shou langsung menghindari semua bola energi itu dengan melakukan beberapa backflip ke belakang lalu setelah itu ia mulai bermunculan di mana-mana.
Shou mulai muncul di bawah tanah selagi menghindari semua serangan dari gerhana bulan itu. Seluruh tubuhnya mulai berkeringat banyak sekali, pikiran Shou tidak terasa tertekan karena ia sudah mulai terbiasa di gravitasi ini, tetapi ia masih bisa merasakan kelelahan dan tekanan besar diseluruh tubuhnya. "Hah... Hah... Hah..." Shou tiba-tiba terjatuh di atas daratan karena gravitasi terus memberat. Shou mulai kelelahan. "Hah... Hah... Hah...!!!" Shou melihat dua bola energi melesat menuju arahnya, tetapi ia langsung menghilang dan muncul di daratan lainnya selagi menghindari semua bola energi itu dengan melompat-lompat.
Keringat-keringat Shou berjatuh lalu setelah itu ia berhenti sekejap karena lelah, dadanya langsung terkena oleh bola energi miliknya sendiri hingga itu membuatnya terpelanting ke belakang lalu tergeletak di atas tanah. "Hah... Hah... Lunar... Cancel..." Seluruh gerhana bulan itu berhenti meluncurkan bola energi ungu itu.
"Terserahlah, Arata... Aku akan terus berlatih hingga bisa menempuh wujud para dewa dan dewi, jika aku mampu berlatih dengan giat maka aku bisa mengontrol semuanya..." Shou bangkit dari atas tanah dengan otot-otot yang pegal. "Aku tidak akan pernah menyerah..." Shou mengusap darah yang berada di mulutnya.
Beberapa minggu lamanya telah terlewati hingga Shou berlatih mati-matian sampai 2 bulan penuh tanpa pulang, ia beristirahat sebentar yaitu meminum air suci, tetapi jumlah botol yang berisi air suci itu sangat banyak hingga Shou tidak memiliki tujuan pulang melainkan terus berlatih di planet Sandira.
Shou melompat-lompat ke belakang selagi menghindari banyak sekali bola energi miliknya, seluruh tubuhnya terasa lebih berat lagi karena ia menggunakan beban yang memiliki berat yang sama dengan lima planet matahari, dua bulan ini ia sudah terbiasa dengan beban dan tekanan gravitasi saat ini. Otot-otot Shou mulai tumbuh lebih besar dan bahkan wajahnya sekarang terlihat tenang sekali. "... ...!"
Beberapa menit kemudian Shou mulai mengayunkan pedang Eclipse Breaker-nya ke arah rantai-rantai miliknya yang menyerangnya dengan kecepatan suara. Shou terus mengayunkan pedang itu hingga rantai-rantai yang mengepungnya lamgsung hancur menjadi kepingan-kepingan kecil. "Hah... Hah... Masih belum...!!!"
Keesokan harinya Shou telah kehabisan botol berisi air suci, di saat itulah ia berencana untuk menyelesaikan pelatihannya dan beristirahat beberapa hari karena tubuh Legenda juga membutuhkan istirahat penuh ketika selesai berlatih.
Shou berdiri di atas gunung selagi berteriak keras karena seluruh tubuhnya terasa pegal. "GAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!" Teriak Shou hingga seluruh tubuhnya mulai bergetar dan muncullah aura ungu yang sangat besar di sekitar tubuhnya.
"AAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!" Kedua lengan Shou mulai terlumuri oleh kegelapan yang berwarna ungu tua seperti warna dari gerhana bulan, ia langsung berubah menjadi wujud Saint Revolution. Ketika ia berada di wujud itu, kedua mata pupilnya mulai menghilang karena ia berencana untuk mencapai wujud selanjutnya yaitu Saint God.
"NRRRGGGHHH...!!!! GRRRRRR...!!!! GUAAAAAHHHHHHH!!!" Teriak Shou dengan sangat keras hingga tiba-tiba sebuah simbol atau sebuah kata yang mengatakan <> muncul tepat di dahi milik Shou. Ia berteriak untuk terakhir kalinya hingga ia langsung meledakkan dirinya sendiri lalu membuat planet Sandira menjadi planet lautan yang dipenuhi dengan api-api panas karena guncangan yang Shou ciptakan.
BAMMMMMMMMMM!!!
Shou sekarant terlihat sangat berbeda. Ia telah mencapai wujud barunya, wujud yang menjuluki bahwa dirinya telah resmi menjadi seorang Dewa. Rambutnya yang pendek mulai berubah menjadi warna merah ungu tua dan juga rambut Shou terlumuri oleh kegelapan yang diciptakan oleh gerhana bulan.
Terdapat sebuah kata <> di dahi milik Shou, kedua lengannya telah terlumuri oleh aura kegalapan yang berwarna ungu tua, kedua matanya juga telah berubah menjadi warna ungu tua hingga kedua pupilnya mulai terlumuri oleh kegelapan. "... ..."
"Aku akan menghentikanmu, ARATAAAAAGGGGHHHHHHH!!!" Shou langsung terbang meninggalkan planet itu bersama dengan tasnya juga hingga seketika ia terbang, ia langsung menghilang.
__ADS_1
SWOOOOOSSSHHH!!!
Di rumah Shira, Alvin sedang menatap hologram peta Yuusuatouri, ia melihat 5 planet hancur karena perbuatan Arata dan juga Kuroshin. Ia mulai menepuk wajahnya sendiri melihat aksi mereka yang bertingkah sangat bodoh, tetapi Alvin masih bisa memaklumi Arata karena ia membunuh sampah Legenda jadi itu cukup membantunya, sedangkan Kuroshin menghancurkan segalanya karena ia memberontak.
"Apakah tidak ada yang mencoba untuk menghentikan perbuatan Shin itu 'kah?" Tanya Alvin.
"Seseorang yang bisa menghentikan Shin saat ini adalah Shou, begitu juga dengan Arata. Jika kalian berdua ikut campur maka kalian akan memperburuk masalah ini." Ucap Korrina.
"Menghentikan Shin dan Arata?" Tanya Shou yang sedang berada di belakang mereka semua. Homura melirik kepada Shou lalu ia merasa bersyukur melihat Shou pulang dengan selamat. "Shou, apakah kau baru saja beres berlatih?" Tanya Homura.
"Iya..." Shou mengangguk lalu ia berjalan ke depan dan melihat hologram peta itu, ia melihat 5 planet hancur oleh Arata dan Kuroshin. Kuroshin menghancurkan 3 planet sedangkan Arata menghancurkan 2 planet, ternyata Arata masih terus membakar beberapa sampah sedangkan Shin atau Kuroshin, Shou mulai merasa kebingungan kenapa Shin melakukan semua itu.
"Dua bulan ini... Masih tetap ada yang mencoba untuk mengurangi populasi Legenda!? Dasar bajingan...!!!" Shou mengepalkan kedua tinjunya. "Apa yang terjadi kepada Shin sekarang!?" Tanya Shou kepada Korrina.
"Kuroshin sepertinya sudah terpengaruh oleh suasana sekitarnya yang mengatakan semua keburukan tentang keluarga Ghifari, Shin sepertinya sudah muak berada di dalam keluarga durhaka ini, jadi ia memutuskan untuk bebas dan melakukan apapun yang ia inginkan termasuk memberontak dan membunuh semua Legenda yang menganggapnya dari anggota keluarga Ghifari."
"Sungguh bodoh sekali jaman saat ini... Apakah aku harus mengurus pantat busuk mereka begitu?" Tanya Shou.
"Hanya kau yang bisa, Shou. Ini juga termasuk latihan bagimu." Jawab Korrina.
"Aku sudah muak melihat Arata mencoba untuk mengurangi populasi bangsa Legenda dan sekarang aku mulai merasa lebih muak melihat Shin yang seenaknya mencoba untuk mengurangi populasi Legenda..." Kedua mata Shou mulai bersinar kegelapan.
Shou menghela nafasnya berat. "Papa, Mama, Dewi Korrina, Dewa Alvin, nenek Rina... Biarkanlah aku mengurus masalah Arata dan Kuroshin, aku janji akan mencoba sebisa mungkin untuk membuat mereka sadar." Shou menundukkan kepalanya kepada mereka.
Korrina mengangguk. "Hmph, kamu diizinkan oleh kami kok, Shou." Jawab Homura. Shira menghampiri Shou lalu ia menepuk kedua bahunya. "Aku mempercayaimu, Shou, tetapi jika kau kembali dengan kondisi yang sekarat dan terluka maka... Papa tidak akan memaafkanku." Jawab Shira.
"Terserah kau, pak tua."
"Shou, kau pasti bisa menyadarkan Kuroshin, aku mohon kepadamu, Shou. Jangan coba untuk membunuh putraku." Ucap Rina yang terlihat khawatir, Shou menganguk lalu ia melirik kepada Alvin. "Apakah kau akan bertarung sendiri?"
"Hmph." Shou tersenyum lalu ia berjalan pergi meninggalkan mereka. "Aku memiliki rekan kok..." Shou mulai membuka pintu keluar. "Sampai jumpa lagi, kalian semua. Lihatlah diriku Shiratori Shou akan menyadarkan kedua Legenda tolol itu." Shoh berjalan keluar lalu ia menutup pintu rumahnya.
"Semoga Shou bisa menyelesaikan tujuannya." Ucap Korrina.
"Aku tahu dia pasti berhasil karena dia ini anak kita." Jawab Shira.
__ADS_1
Shou mulai terbang meninggalkan rumahnya, ia berencana untuk pergi menuju perpustakaan. "Aku membutuhkan rekan... Rekan yang setara denganku yaitu seorang dewa atau dewi..."
"...aku akan mencoba untuk memanggil dewa kematian! Shinigami!!!" Shou melesat jauh menuju perpustakaan.