
Shira's POV
2 bulan yang lalu, sejak Saint tipe Zero yang bernama Shimatsu Arata, ia memiliki kekuatan Saint yang bernama Saint Tracer, bahkan ia memiliki kekuatan kuno yang bernama tujuh dosa besar, kekuatan itu ada di ke tujuh pedang yang ia miliki. Dia memiliki tujuan yang sangat besar yaitu membunuh semua Legenda sampah, Legenda yang hanya mementingkan keegoisan mereka dan juga mereka yang kehausan dalam kekuatan. Tujuan Arata menurutku cukup bagus karena ia membersihkan semua Legenda sampah dan pelarian, tetapi tujuannya itu terganggu karena putraku yang bernama Shou.
Shou memiliki bantuan yaitu Shin dan Clare, mereka bertiga berhasil mengalahkan Arata, tetapi mereka masih belum menang karena ketika Arata kalah maka pemilik asli dari kekuatan tujuh dosa besar itu akan muncul, dia bernama Kuro. Dia adalah mortal terkuat yang mampu menyetarai Dewa Alvin, Kuro tidak bisa di kalahkan oleh Shou dan dia hampir saja kehilangan nyawanya karena bertarung dengan Kuro.
Untungnya Dewi Korrina datang dan menyelamatkan nyawa Shou, di titik itulah Shou sadar bahwa hal yang ia lakukan itu adalah perbuatan yang sangat bodoh, jadi dia lebih memilih untuk menyerang dan membiarkan Arata melakukan tujuannya yaitu membasmi para Legenda sampah dan pelarian.
Bukan hanya itu saja, Methode akhirnya memiliki suami resmi yaitu Shimatsu Arata. Mereka sudah menikah dan pernikahan mereka di adakan di depan rumah Shira dimana semua Legenda yang kami kenal berkumpul dan merayakan pernikahan Arata. Hari itu adalah hari dimana aku bisa tersenyum lebar dan menunjukkan air mata kebanggaanku.
Pada saat hari pernikahan Arata dan Methode.
Alvin sedang menanam bunga-bunga di halamannya sendirian, Korrina dan Rina pergi meninggalkannya sendiri tanpa sebab dan memberitahunya bahwa mereka akan pergi ke pesta pernikahan Arata. Korrina menyuruh Alvin untuk tetap menanam bunga-bunga sampai ia kembali, jika Alvin membantah perintahnya maka ia siap untuk di hukum lagi. "Ahh... Aku ingin bertarung..."
"Agfi, apakah kamu mau menanam bunga-bunga ini sendirian?" Tanya Alvin selagi melirik ke arahnya balita yang berada di belakangnya, Agfi adalah putri Alvin yang baru saja lahir dan ia sekarang berusia 1 tahun, Korrina melahirkannya beberapa minggu yang lalu dan sekarang ia berusia 1 tahun karena kekuatan waktu Korrina yang mampu membuat makhluk hidup di maju-kan usianya. "Gwaaagghh..." Agfi memakan bunga mawar itu dan ia langsung berputar-putar di atas daratan hingga bajunya kotor, Alvin menghela nafasnya lalu ia menggendongnya.
"Bunga itu bukan makanan." Ucap Alvin hingga ia mencoba untuk mengeluarkan bunga yang di makan Agfi. "Gwaahhhhh!" Agfi membuka mulutnya lalu Alvin melihat bunga itu sudah tidak ada karena Agfi kemungkinan menelan bunga itu.
"Tubuhku mulai terasa kaku karena belum bertarung lagi... Sialan, si dewi tepos itu hanya menggunakanku sebagai alat kesenangannya...!" Ucap Alvin kesal. Agfi langsung memegang wajah Alvin karena ia masih belum bisa bicara, ia hanya bisa menjawab dengan pergerakan tubuhnya. "Hah...? Kamu menyuruh Papa untuk menanam bunga-bunga itu lagi...?" Tanya Alvin selagi menunjukkan ekspresi wajah yang terlihat terkejut, Agfi mengangguk lalu ia mulai mengisap jempolnya.
***
Alvin melihat Alvian dan Corni sedang berjalan keluar dari kastil-nya selagi memegang sebuah kotak yang besar. Alvin dan Agfi langsung menunjukkan ekspresi yang sama yaitu kebingungan, Alvin muncul di depan mereka berdua hingga Corni langsung menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut. "Ahh...!? Papa!" Ucap Corni, Alvian langsung menghalang Corni dari Alvin.
"Apa yang kau mau dari Corni, Legenda tua...?" Tanya Alvian.
"Aku hanya penasaran tentang kotak yang Corni pegang... Boleh aku lihat? Aku mencium aroma-aroma yang lezat." Alvin langsung melempar Alvian ke atas langit tanpa sadar karena perutnya sudah bersuara ketika Korrina dan Rina pergi ke suatu tempat. "E-Ehh...!?" Corni tidak bisa melakukan apapun, Alvin langsung membuka kotak itu dan ia melihat sebuah kue coklat yang besar.
"K-KUE!?" Alvin langsung membulatkan kedua matanya, ia mencoba untuk mencicipinya tetapi Agfi naik ke atas kepalanya lalu ia menarik rambutnya. "Gwaahhhhhh!" Agfi terus menarik rambut Alvin hingga ia langsung berjalan ke belakang karena merasakan kesakitan dari kedua tangan Agfi yang terus menarik rambutnya dengan cara yang kasar.
"A-Agfi! Jangan lukai, Papa!" Ucap Corni hingga mampu membuat Agfi berhenti menarik-narik rambutnya. "Ugghh..." Alvin langsung meraba-raba rambutnya, Corni langsung melarikan diri dengan melesat ke atas langit dan meninggalkan Alvin dan Agfi sendirian. Corni terbang dengan kecepatan maksimal hingga Alvin tidak sempat untuk mengikutinya dari belakang, tetapi ia melihat Alvian yang sedang menatapnya. "Weeeehhhh... Kau diam di sini dan jadi budak Mama saja!" Alvian mengeluarkan lidahnya seperti mengejeknya.
Di saat itulah kedua mata Alvin berubah menjadi crimson. "Crimson Lock..." Alvin menggunakan sihir yang mampu membuatnya bisa melacak Alvian kemanapun ia pergi, Alvian melesat ke atas langit dan meninggalkan Alvin dan Agfi berduaan. "Tepat waktu... Untung anak itu sama bodoh-nya dengan diriku..." Ucap batin Alvin.
***
Pemasangan cincin Arata dan Methode sudah berakhir, acara selanjutnya adalah makan bersama. Korrina mulai menepatinya banyak sekali makanan di atas meja yang lebar dan besar. "Hahhh... Banyak sekali." Ucap Korrina, ia mulai mengusap keringatnya. Tiba-tiba Arata menepati makanan lainnya di atas meja lebar itu dan Korrina langsung menunjukkan wajah yang terkejut melihat Arata ternyata ikut memasak juga. "E-Ehh? Arata, kau bisa memasak juga?" Tanya Korrina.
Arata mengangguk. "Tentu saja, aku juga bahkan memasak untuk Guild-ku dan mereka semuanya menyukainya. Mungkin kau harus mencobanya, Dewi Korrina." Ucap Arata dengan ia mulai mengambil sebuah piring yang terdapat sate mino di atasnya, Korrina tersenyum lalu ia mulai mencicipi sate yang Arata bakar. "Hmmmm~ Cukup enak juga! Methode sepertinya cukup beruntung untuk bisa memiliki suami yang bisa memasak." Ucap Korrina, Methode sedang berada di belakang Korrina dan ia mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Nenek! Lanjutkan pekerjaanmu...!" Ucap Methode, ia mulai mendorong Korrina dari belakang, Korrina berjalan menuju dapur. "Tenang saja kok, aku tidak akan merebut suamimu." Ucap Korrina selagi tersenyum. Arata langsung tersenyum, Shou menghampiri Arata selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal. "Oi." Panggil Arata.
__ADS_1
Arata menatap wajah Shou. "Jaga kakakku, jika dia tidak senang bersamamu maka aku akan mengganggu tujuanmu...!" Ucap Shou selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal. "Apakah kau tidak pernah sadar bahwa kau tidak akan bisa mengalahkanku lagi, Shou. Tenang saja, aku akan menjaga kakakmu karena aku mencintainya." Ucap Arata, Shou menyilangkan kedua lengannya lalu ia berjalan pergi meninggalkan Arata sendirian. "Terserah... Aku sudah tidak akan berurusan dengan dirimu lagi." Ucap Shou, ia mulai melambaikan tangannya kepada Arata.
Shira sedang berdiri tepat di atas atap rumahnya lalu ia mulai menatap langit-langit. Ia bertanya-tanya kenapa Alvin tidak datang ke pesta mereka. "Dewa Alvin kemana ya...? Kok dia tidak datang ke pernikahan Arata dan Methode..." Shira menghela nafasnya lalu ia melompat ke depan dan mendarat di atas tanah. Ia melihat Corni dan Alvian sedang memegang sebuah kotak besar. "Ohh, apakah kue-nya sudah datang?" Tanya Shira.
"Hmph, ya, tapi kita ketahuan oleh si tua tolol itu, ia melihat kami sedang memegang sebuah kue besar ini. Dia hampir mencicipi tapi aku dan Corni sempat melarikan diri dari Kamitouri. Untungnya kami datang dengan selamat dan kue yang masih sempurna." Ucap Alvian, ia mulai membuka kotak itu dan di dalam kotak itu adalah kue yang sangat besar dengan tulisan Selamat Menikah untuk Arata dan Methode.
Shira langsung tersenyum ketika melihat itu. "Kue yang bagus, dengan melihat teksturnya aku tahu pasti Dewi Korrina yang membuat kue sempurna ini." Ucap Shira, Corni mengangguk. "Hm~ Buatan Mama memanglah yang terbaik, sayangnya ia tidak berpikiran untuk menjadi seorang koki." Ucap Corni, ia menghampiri meja yang sangat besar lalu ia menepati kue itu di atas tengah-tengah meja lebar itu.
Korrina melihat kue itu. "Apakah kalian selamat dari Papa?" Tanya Korrina, Corni dan Alvian mengacungkan jempolnya. "Baguslah, akhirnya pesta pernikahan yang ini tidak ada gangguan dari si ***** tarung itu. Sudah banyak sekali pernikahan hancur karena Papa kalian mulai dari pernikahan Mama bersama dengan Papa." Korrina menghela nafasnya, ia tidak akan pernah mengijinkan Alvin untuk pergi ke sebuah pesta. Bahkan di pesta pernikahan ini terdapat Arata yang mampu membuat Alvin tertarik untuk bertarung dengan lagi dan lagi.
"Apakah semua sudah berkumpul?" Tanya Korrina, ia menatap Rina yang sedang melihat kertas yang berisi tulisan beberapa Legenda yang belum datang. "Sepertinya masih terdapat beberapa Legenda yang belum datang..." Aiko yang berada di sebelah Rina mulai mengambil kertas itu lalu ia menatapnya. "Siapa lagi sih yang belum datang?!" Tanya Aiko. Aiko sekarang berumur 4 tahun sama seperti Rina.
"Apa yang kamu lakukan, Aiko!? Tugasmu adalah mencuci piring, jangan rebut kerjaan, kakakmu!" Ucap Rina dengan ia merebut kertas itu, mereka berdua mulai saling merebut kertas itu hingga mereka tanpa sengaja merobek kertas itu menjadi dua. "Tuhkan robek! Dasar kakak bodoh!" Ucap Aiko, Rina langsung menunjukkan wajah yang terlihat kesal. Ia mulai mengembungkan kedua pipinya. "Uhhh...!!! Aiko yang mulai!!!"
Mereka berdua mulai menatap satu sama lain dengan tatapan yang terlihat tajam, Korrina muncul di sebelah mereka lalu ia mulai menggendong mereka berdua. "Sudah, sudah, ayo, kalian berdua duduk di tempat yang sudah Mama sediakan." Ucap Korrina, ia berhasil memisahkan mereka berdua dan mencegah mereka berkelahi. Shira dan Homura melihat itu lalu mereka tertawa kecil melihat kedua saudara itu tidak akur.
"Yo!" Tiba-tiba seorang gadis mulai menepuk bahu kanannya, Shira melirik ke belakang lalu ia membulatkan kedua matanya ketika ia melihat gadis itu menepuk bahunya. "M-Megumi...!? Kau juga di undang!?" Ucap Homura. Megumi terkekeh dan ia datang bersama anak Alvin yang lainnya yaitu Vinna. "Yo, Shira, Homura!" Ucap Vinna.
"Ehh...?" Shira langsung menunjukkan ekspresi yang terlihat kebingungan.
"Kau siapa?" Tanya Shira dengan wajah yang terlihat polos. "Ehhhh...!?" Vinna langsung terjatuh karena Shira tidak mengenalnya sama sekali. Vinna bangkit dari atas tanah lalu ia mulai mengelus rambut Megumi. "Aku adalah nenek-nya Megumi! Vinna Ghifari!" Ucap Vinna selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal. Vinna adalah Neko Legenda sama seperti Megumi, Korrina juga ternyata bisa melahirkan seorang Legenda yang memiliki tipe berbeda. "Ehh...!? Anak Alvin...!? Alvin memiliki putri Neko Legend!?" Shira menunjukkan wajah yang terlihat terkejut.
"Dan kau seperti biasanya, Megumi! Muncul secara tiba-tiba dan menghilang secara tiba-tiba, kau darimana saja sih!?" Tanya Shira.
"NENEK!!!" Megumi langsung membawa Vinna pergi dari Shira dan Homura. "Suatu saat aku akan datang ke planet Nekoramiya. Apakah planet itu adalah planet yang dihuni oleh para Neko Legenda?" Tanya Shira.
Megumi mengangguk. "Ya, tempatnya cukup bagus dan khas bagi ras Neko Legenda." Megumi tersenyum, Methode menghampiri Megumi lalu ia tersenyum. "Ahhh~ Megumi sudah datang ya?" Tanya Methode. Megumi menatap Methode lalu ia mulai memeluknya dengan sangat erat karena ia merasa bangga melihat Methode bisa menikah. "Wahhh~ Methode, selamat ya~ Aku tidak percaya kau sudah menikah saja, dulu aku ingat kamu ini masih kecil!" Megumi terkekeh.
"Hmm... Terima kasih, Megumi!" Ucap Methode, ia mulai memeluk Megumi erat. Shira dan Homura langsung tersenyum karena Methodelah yang mengundang Megumi untuk datang ke pesta pernikahannya. Tiba-tiba sebuah gelombang kegelapan muncul tepat di depan mereka berempat, Shira langsung bisa merasakan Lenergy milik seseorang. Gelombang kegelapan itu menghilang dan menunjukkan Selvia yang sedang tersenyum. "Sepertinya aku terlambat ya." Selvia tersenyum.
"Selvia...!" Homura menghalang mulutnya ketika ia melihat Selvia yang datang dan terlihat berbeda, Homura melihat sebuah luka tebasan di mata kirinya dan di lihat dari mata kirinya yang terus tertutup. Sepertinya Selvia sudah tidak bisa melihat melalui mata kirinya, ia mendapatkan luka itu ketika ia melakukan misi di Zuusuatouri. Homura menghampiri Selvia lalu ia memeluknya erat.
"Selvia!? Apa kau baik-baik saja...!? Apa yang terjadi dengan mata kirimu...?" Tanya Homura panik. Selvia tersenyum tulus. "Luka ini adalah tanda perjuanganku ketika aku melindungi semesta Zuusuatouri, jangan khawatir Mama, luka ini tidak akan menghentikanku." Ucap Selvia.
"Selvia, aku senang kamu bisa melindungi Zuusuatouri... sampai-sampai kau mendapatkan luka yang menandakan perjuanganmu." Shira tersenyum lebar. Selvia langsung mengangguk, Methode dan Megumi menghampiri Selvia lalu mereka memeluknya dengan sangat erat. "Selviaaaaa!!! Aku senang kamu datang ke pernikahanku!!!" Ucap Methode.
"Hehe~ Methode, selamat atas pernikahanmu ya... Aku senang kamu bisa memiliki suami sekarang." Ucap Selvia.
"Selvia, kau ternyata masih hidup..." Ucap Megumi, ia mulai menangis. Selvia tersenyum lalu ia memeluk mereka bertiga. "Megumi... Aku senang bisa bertemu denganmu lagi." Ucap Selvia selagi menunjukkan senyuman tulusnya.
Arata menghampiri Shira lalu ia mulai tersenyum melihat Selvia, Methode, Homura, dan Megumi berpelukkan bersama. "Sepertinya pernikahanku mampu membuat mereka berkumpul di satu tempat ya?" Tanya Arata, Shira tersenyum lalu ia mengangguk. "Ya..." Shira melirik kepada Arata lalu ia memegang kedua bahunya. "Arata, berjanjilah. Kau akan melindungi Methode sampai akhir dari hidupmu, kau akan terus bersamanya sampai akhir dari semesta Touri... Aku sudah mempercayaimu untuk menikahi Methode." Ucap Shira.
__ADS_1
Arata tersenyum. "Shira..."
"Semoga aku di berkahi dengan cucu yang kuat darimu." Ucap Shira.
"Dan selamat berjuang di malam pertama ya." Tiba-tiba Korrina mulai mengikuti pembicaraan mereka berdua. Shira dan Arata langsung menatap Korrina dengan tatapan yang terkejut karena ia muncul secara tiba-tiba. "Arata, ingatloh... Methode juga memiliki garis keturunan Comi yang mengartikan... Malam pertama kalian akan berjalan cukup lama!!!" Ucap Korrina selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat serius.
"Cih, dasar mesum." Jawab Arata.
"Jangan lupa untuk menggunakan Sword of Lust----"
"Mama!!! Kapan kita akan memulai makan bersamanya?!" Tanya Aiko, Korrina melirik kepada Aiko. "Baiklah!" Korrina melirik kepada Shira dan yang lainnya lalu ia tersenyum. "Ayo! Mari kita makan-makan sambil merayakan pernikahan Arata dan Methode!"
"YAAAAA!!!" Teriak mereka bersama.
***
Semua Legenda yang di undang mulai memakan makanan yang Korrina dan Arata siapkan, mereka semua menikmati makanan itu, mereka bahkan memakan semua makanan itu seperti seseorang yang belum makan selama berbulan-bulan. Shira merasa cukup kecewa bahwa Alvin tidak datang ke pesta pernikahan putrinya, yang ia pikirkan saat ini adalah kekecewaan terhadap Alvin yang tidak datang. "Kenapa Alvin tidak datang ya...?" Ucap Shira.
Korrina mendengarnya lalu ia mulai mengambil pisau besar untuk memotong kue coklat itu. "Lupakan tentang Alvin si penghancur pesta itu, ia sedang sibuk dengan tugasnya sendiri." Ucap Korrina.
"Hmmm..."
"Baiklah, mari kita potong kue---"
BAAAAMMMMM!!!
Sebuah aura crimson datang dari atas langit dan mengenai kue itu, semua Legenda yang sedang makan langsung terpental ke belakang karena mereka semua langsung lengah ketika aura crimson itu datang. Hanya Korrina, Mortem, Arata, dan Shira yang berhasil menahan dorongan itu. Shira menatap ke depan lalu ia melihat Alvin yang sedang berdiri di atas meja makan, semua makanan yang berada di atas meja itu terpelanting ke mana-mana hingga sudah tidak bisa di makan lagi, bahkan Alvin sekarang sedang menginjak kue itu. "YOOOOOO!!! KENAPA AKU TIDAK DI UNDANG DI PESTA MERIAH INI!? "Tanya Alvin selagi menunjukkan wajah yang terlihat bersemangat, Alvin datang bersama Agfi yang sedang duduk di atas kepalanya.
Alvin menatap semua Legenda itu yang terlihat kesal kepadanya. "Loh?! Padahal hari ini adalah hari pernikahan Methode, kok kalian terlihat kesal begitu---" Alvin sadar bahwa ia sedang menginjak-injak kue pernikahan itu. "Waduh..." Alvin langsung turun dari atas meja itu dan ia mulai menatap kue yang sudah hancur itu. Arata merasa sangat kesal melihat Alvin lalu ia menghampirinya, tetapi Methode menghentikannya. "Sudah... sudah... Ini bukan salah Alvin karena ia datang tanpa di undang." Ucap Methode.
"Seperti mantan." Ucap Shira, ia tanpa tidak sengaja mulai berbicara seperti orang yang berasal dari dunia asli. "Datang tak di undang." Ucap Shira.
"Ahh, maaf-maaf... Tenang kok, kue ini rasanya tidak berubah." Ucap Alvin, ia mulai mengambil kue itu lalu memakannya. "UGGHHH...!!! HOEK!!! GAK ENAK!!!" Alvin langsung memuntahkan kue itu lagi di depan Korrina, Korrina hanya bisa terdiam selagi menunjukkan senyuman mematikannya, Alvin langsung melirik ke arah Arata dan mengabaikan kematian yang ada di depannya. "AHH!!! Ini dia suami dari Methode!" Alvin melesat menuju arah Arata.
"Sparring yuk!!! Sudah 2 bulan aku tidak bertarung, aku ingin sparring bersamamu, Arata!" Ucap Alvin.
Arata langsung mundur beberapa langkah. "Kau siapa ya?" Tanya Arata.
"Ini aku loh, Alvin Ghifari! Seorang mortal yang sama kuatnya denganmu."
"Khawatirkan tentang nyawa-mu dulu lalu kita akan bertarung." Ucap Arata hingga Alvin langsung merasakan hawa-hawa mematikan yang berada di belakangnya, ia melirik ke belakang lalu ia melihat seluruh tubuh Korrina yang sudah terlumuri oleh api-api sacred, Korrina menatap wajah Alvin dengan tatapan yang mematikan. "KAU SUDAH MELAMPUI BATAS...!!!" Ucap Korrina, Alvin langsung menunjukkan wajah yang ketakutan. "K-KORRINA!?" Semua Legenda langsung menjauh dari Alvin dan Korrina.
__ADS_1
"KAU AKAN AKU HUKUM HABIS-HABISAN!!!" Teriak Korrina keras hingga ia langsung meledakkan dirinya. "O-Oi... J-Jangan memper--- UAGGHHHH!!!" Alvin langsung terpental ke atas langit karena ledakan itu.
Pesta pernikahan Arata dan Methode berjalan dengan lancar di awal hingga pertengahan, tetapi pesta itu akhiri dengan kehancuran karena perbuatan Alvin yang datang secara tiba-tiba seperti meteor yang jatuh menuju planet.